
Mama Aqeela mengurai pelukannya dari tubuh Annisa, lalu menghapus air mata putrinya itu. Mama Aqeela tersenyum, kemudian mengecup kening Annisa dengan penuh perasaan.
"Putri Mama ternyata sudah besar dan dewasa. Sebentar lagi akan menyusul Mama menjadi istri" ucap Mama Aqeela terharu.
Annisa mengulas senyumnya.
**
Di tempat lain
Ibu Drabia terlihat sangat sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang harus di bawa besok ke acara pernikahan Shaka dan Annisa. Jangan sampai ada yang ketinggalan, bisa gawat.
"Shaka! cincin kawinnya simpan baik baik!. Jangan sampai besok mau berangkat cincinnya gak nampak!" seru Ibu Drabia dari lantai bawah rumah itu.
"Iya Ma!" seru Shaka kesal. Dari semalam entah sudah berapa kali Mama nya itu mengingatkannya. Membuyarkan lamunan Shaka aja itu Mama nya.
"Seperangkat alat shalatnya tadi mana ya?." Ibu Drabia yang sibuk di sofa ruang keluarga memutar tubuhnya ke arah tumpukan barang di sampingnya." Ah! ini" monolog nya lagi setelah menemukan yang di carinya.
Bu Drabia pun membungkus sendiri semua bingkisan yang akan dibawa besok untuk Annisa calon menantunya.
Sedangkan Shaka yang berada di dalam kamarnya, terus memandangi cincin yang ada di tangannya. Shaka terus tersenyum membayangkan besok hari ia kan menyematkan cincin itu di jari manis Annisa.
"Shaka! sudah hapal belum ikrar akat nya!" teriak wanita paru bawah itu lagi dari lantai bawah rumah itu.
"Mama suaranya kencang banget sih, mirip seperti siamang aja" gerutu Shaka, kesal.
Padahal Shaka menutup pintu kamarnya rapat rapat, masih aja suara Ibunya bisa menembus dinding dan pintu kamar itu.
"Udah hapal Ma!" seru Shaka lagi tidak kalah kencang dari Bu Drabia
"Awas kalau besok sampai gak lancar!" ancam Bu Drabia, gemas seolah olah Shaka ada di depan nya.
"Ikh! Mama ribut banget sih!." Salwa yang terganggu pendengarannya dari tadi mendudukkan tubuhnya kasar di sofa kosong di samping Bu Drabia.
"Coba lihat Shaka di kamarnya, lagi ngapain dia?" suruh Bu Drabia.
"Malas, paling dia lagi ngayal" balas Salwa.
"Kamu itu ya, selalu bawaannya malas."Bu Drabia menjewer gemas telinga Salwa.
"Papa!" adu Salwa melihat Pak Ansel sudah pulang kerja.
__ADS_1
"Mau ngadu?, ngadu aja." Bu Drabia semakin gemas menarik telinga putrinya itu. Salwa mengerucutkan bibirnya.
Salwa adalah putri kesayangan Papa Ansel, tidak ada yang boleh memarahi putrinya itu, selain dia.
"Sayang!" tegur Pak Ansel mendudukkan tubuhnya di samping Drabia sampai tubuh Salwa bergeser.
"Putrimu itu dasar pemalas" ketus Bu Drabia, Pak Ansel tersenyum.
"Salwa!" tegur Pak Ansel mengarahkan pandangannya ke arah Salwa.
"Iya Pa" patuh Salwa langsung, tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya.
"Nyuruh Salwa itu jangan ketus, sayang" ucap Pak Ansel. Selain galak, istrinya itu sangat cerewet pada anak anak, dan juga suka menjewer telinga.
"Habis anak anak selalu saja bikin aku gemas" balas Bu Drabia.
"Kamu juga slalu menggemaskan." Pak Ansel mengedipkan mata ke arah istrinya itu.
"Ish! kau ini, sudah tua juga" cibir Bu Drabia.
**
Di rumah Abu Munzir
"Furqon, selesai makan antar Umi ke butik ya sebentar. Mama lupa mengambil baju untuk kado buat Annisa" ujar Umi Fadilah meletakkan semangkok sayur bening di atas meja makan.
"Iya, Umi" patuh Furqon.
"Besok juga temani Umi ke pernikahan. Abi kamu besok gak bisa nemani Umi" ucap Umi Fadilah lagi.
"Besok Abi mau kemana?" Furqon mengarahkan pandanganya ke arah Abi Munzir.
"Ternyata besok juga ada putri kawan Abi yang nikahan. Jadi Abi sama Umi berbagi tugas" jawab Abi Munzir.
Furqon mengangguk anggukkan kepalanya, paham.
Setelah Umi Fadilah mendudukkan tubuhnya di samping Abi Munzir. Abi Munzir pun langsung membacakan doa makan.
"Amin!" ucap Umi Fadilah dan Furqon bersamaan setelah selesai membaca doa.
Dan mereka bertiga pun mulai menyantap makanan di piring masing masing.
__ADS_1
Seperti permintaan Umi Fadilah tadi. Furqon pun mengantar Umi nya ke butik untuk mengambil beberapa lembar pakaian, untuk di jadikan kado pernikahan untuk Annisa dan putri dari teman mereka yang lain yang menikah esok hari juga.
"Tambah lagi yang ini ya Umi" ujar Furqon saat melihat salah satu gamis yang di pajang di manekin baju.
"Kamu mau memberikannya untuk siapa?." Umi Fadilah mengerutkan keningnya ke arah Furqon.
"Untuk Umi" jawab Furqon mengulas senyumnya." Umi pikir aku akan memberi kado untuk Annisa?. Untuk apa? kurasa jika aku memberikannya hadiah kado, suaminya nanti tidak akan mengijinkannya memakainya. Dan kalau aku melihat Annisa memakainya, mungkin aku akan senang. Tapi itu akan membuatku tidak bisa move on darinya" jelas Furqon.
"Ibu yakin, Allah telah menyiapkan wanita yang lebih baik untuk Mu di luar sana. Bisa saja lebih baik dari Annisa, ya! bisa juga lebih buruk" balas Umi Fadilah membalas senyuman Furqon.
"Siapa pun wanita itu, pasti aku beruntung mendapatkannya" ucap Furqon lagi masih mempertahankan senyumnya dari tadi. Meski sebenarnya hati kecilnya masih berharap wanita itu adalah Annisa.
"Ayo bantu Umi membungkus kado kado ini. Biar cepat, sebentar lagi mall ini akan tutup" ucap Umi Fadilah, meletakkan baju baju di tangannya di atas meja, lalu mengambil bungkus kado dan dua sebuah box berukuran kecil. Setelah melipat baju bajunya, Umi Fadilah pun memasukkannya ke dalam box khusus pembungkus kado itu. Sedangkan Furqon bertugas membungkus box itu dengan bungkus kado.
Setelah selesai, Furqon pun membantu Uminya dan karyawan butik itu menutup kios, baru mereka pulang. Dan kini, Furqon dan Uminya sudah berada di perjalanan pulang.
Wiu wiu wiu.....!!
Furqon yang mendengar suara sirene dari belakang, langsung meminggirkan mobilnya ke jalur lambat.
"Dimana ada kebakaran?" tanya Umi Fadilah melihat dua mobil kendaraan melintas di samping mobil mereka.
"Gak tau, Umi" Jawab Furqon yang sibuk menyetir. Setelah kedua mobil pemadam kebakaran itu jauh di depan mereka, baru Furqon menambah laju kendaraannya.
'Kenapa tiba tiba perasaanku gak enak ya?' batin Furqon, tiba tiba merasa was-was.
'Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada MU dari siksa kubur, dari bisikan buruk hati, dan dari banyaknya masalah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada MU dari kejahatan apa yang di bawa oleh angin, amin!.'
Furqon berdoa dalam hati sembari sibuk mengendalikan setir mobilnya. Sampai di halaman rumah mereka, setelah memarkirkan kendaraannya dengan sempurna, Furqon dan Umi Fadilah sama sama keluar dari dalam mobil, dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Assalamu alaikum!" seru Umi Fadilah saat melangkah masuk ke dalam rumah.
"Walaikum salam" balas Abi Munzir yang menunggu di sofa ruang tamu dari tadi.
"Belum tidur, Abi ?" tanya Umi Fadilah, biasanya jam segini suaminya itu sudah terlelap.
"Barusan Abi mendapat kabar, rumah Ustadz Bilal kebakaran."
Duarr!
Furqon yang baru masuk membawa barang barang Umi Fadilah langsung membeku.
__ADS_1
'Annisa'
*Bersambung