Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Naluri seorang istri


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Nurul Annisa Alfarizqi dengan mahar tersebut di bayar tunai!."


"Bagaimana para saksi?."


"Sah!"


"Alhamdulillah robbil Alamin."


"Selamat sayang, kamu sudah sah menikah hari ini. Mulai hari ini, Annisa sudah menjadi tanggung jawab mu sepenuhnya." Ibu Drabia yang duduk di samping Shaka dari tadi, memeluk putranya itu sambil menangis terharu.


"Doakan Shaka supaya bisa menjadi suami yang amanah, Ma" balas Shaka lebih terharu dari Ibunya.


"Pasti sayang" balas Ibu Drabia.


Tak lama kemudian, Annisa pun muncul, berjalan di tuntun Mama Aqeela dan Yasmin ke tempat acara ijab kabul di rumah itu. Annisa terlihat sangat cantik berkali kali lipat, sampai Shaka lupa untuk berkedip melihatnya.


'Ya Tuhan, sanggupkah aku untuk tidak menyentuhnya?' batin Shaka sambil menelan air ludahnya bersusah payah.


Annisa yang merasa menjadi pusat perhatian, menundukkan kepalanya. Apa lagi melihat Shaka memandangnya seperti itu, Annisa tambah malu.


Setelah Annisa duduk di samping Shaka, acara doa pun di mulai. Doa di pimpin oleh pihak KUA yang menikahkan yang memimpin jalannya akad nikah.


Setelah selesai doa, Annisa pun di suruh Mama Aqeela untuk menyalam tangan Shaka. Shaka langsung menyambutnya dengan penuh rasa haru, sampai Shaka meneteskan air matanya saat menempelkan bibirnya di kening Annisa. Berhasil membuat Annisa membeku dan memejamkan kelopak matanya, menikmati hangatnya benda kenyal milik Shaka menempel di keningnya.


"Trimakasih Annisa, kamu sudah bersedia menjadi pendampingku" ucap Shaka setelah melepas kecupannya dari kening Annisa.


Annisa mengangguk sambil mengulas senyum malu malunya.


**


Di belahan Dunia lain, seorang pria menghapus air matanya yang mengalir tanpa sebab yang pasti. Furqon yang pasrah dalam doanya, hanya bisa berserah diri kepada Allah atas takdir yang sudah di tetapkan kepadanya, jika Annisa bukan jodohnya.


"Astaqfirullohal 'azim. Ampuni hamba yang lemah ini ya Allah" gumam Furqon.


Selama ini Furqon sudah berdoa, dan udah melakukan usahanya untuk mendapatkan Annisa. Tapi jika memang takdir tidak berjodoh, Furqon hanya bisa pasrah. Meski ikhlas, tapi bukan berarti cinta itu hilang begitu saja dari hatinya. Itu sebabnya Furqon pergi menjauh, untuk menata hatinya kembali. Mungkin, di tempat baru, Furqon bisa mengalihkan pikirannya dengan orang orang baru yang ditemuainya di sana.

__ADS_1


**


Empat Bulan sudah usia pernikahan Annisa dan Shaka, keduanya terlihat hidup rukun dan bahagia menjalani pernikahan mereka. Meski Shaka tau Annisa belum mencintainya, namun Shaka tidak mempermasalahkan itu. Dan itu artinya Shaka harus berusaha lebih keras untuk meluluhkan hati istrinya itu.


"Shaka, udah matang belum sarapannya?, Daha lapar benget nih!" seru Annisa yang duduk di kursi meja makan.


Semenjak menikah mereka memang sudah tinggal berdua. Pak Ansel membelikan sebuah rumah minimalis untuk mereka. Dan hampir setiap hari, Shaka yang bertugas memasak untuk membuat sarapan untuk mereka. Karena Annisa tidak bisa memasak sama sekali. Ingin belajar masak, Annisa masih takut berhadapan dengan kompor.


"Sebentar lagi" sahut Shaka yang sibuk membalik telor dadar di kuali.


"Kenapa gak nyewa pembantu aja?" tanya Annisa mendekati Shaka.


Shaka menoleh sebentar ke arah Annisa, kemudian sibuk dengan kuali penggorengannya." Gak ah!, gak seru kalau ada orang lain di rumah ini" jawab Shaka.


"Tapi aku capek setiap pulang sekolah harus bersihin rumah ini" keluh Annisa, berbicara mengerucutkan bibirnya.


"Aku gak menyuruhmu membersihkannya" ucap Shaka mengulas senyumnya.


"Ya udah, nanti pulang sekolah aku gak mau lagi bersihin rumah ini." Annisa melangkahkan kakinya kembali ke meja makan.


"Terserah kamu saja, kalau kamu nyaman menempati rumah yang berantakan, aku oke oke aja. Kalau mengharapkan aku, jelas aku gak punya waktu membersihkannya. Kamu tau sendiri, pulang sekolah aku harus bekerja lagi."


Setelah telor dadarnya masak, Shaka pun membawanya ke meja makan dan meletakkannya di depan Annisa.


"Iya, nanti aku akan minta tolong sama Mama untuk di carikan pembantu. Ayo cepat makan, jangan merajuk lagi" ucap Shaka mengusap lembut kepala Annisa.


"Lihat tubuh ku udah kurusan, gara gara kerja rodi setiap pulang sekolah. Nyuci baju, nyusci piring, nyapu, ngepel, jemur kain, nyetrika, semua aku yang kerjain" oceh Annisa kemudian menyuapkan nasi dan telor dadar ke mulutnya.


"Katanya pengen kurus biar bisa ku gendong. Bagus dong kalau kamu berhasil kurus karena mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi gak perlu harus olah raga keluar rumah lagi" balas Shaka.


"Iya juga sih, tapi kan aku pengen bisa nyatai pulang sekolah" ucap Annisa lagi.


"Annisa" panggil Shaka.


Annisa yang mengunyah makanan di mulutnya langsung menoleh ke arah Shaka yang menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Annisa.


"Aku..." Shaka bingung harus mulai bicara dari mana.


Annisa pun mengerutkan keningnya.


"Aku mendapat bea siswa kuliah ke luar Negri" ucap Shaka bernada ragu.


Annisa semakin menajamkan pandangannya ke wajah Shaka, diam menunggu Shaka melanjutkan kalimatnya. Memang Usia Shaka lebih tua setahun dari Annisa. Dan kelasnya pun berada satu tingkatan di atas Annisa. Shaka kelas tiga, dan Annisa masih kelas dua SMA. Dan tinggal satu Bulan lagi, Shaka sudah lulus SMA.


"Kalau kamu ijinkan, aku akan menerima bea siswa itu" ucap Shaka lagi.


"Kita baru menikah, masa kamu udah mau ninggalin aku?." Raut wajah Annisa berubah menjadi sedih."Aku takut tinggal sendirian di rumah ini." Annisa memutar pandangannya ke setiap sudut dapur itu.


"Aku pikir, setelah kamu lulus. Kita bisa sama sama kuliah di sana" ujar Shaka.


"Itu setahun lagi, masih lama. Masa aku harus menjanda sebelum buka segel, ops!" Annisa langsung menutup mulutnya yang keceplosan.


"Mari kita ke kamar" Shaka langsung berdiri dari tempat duduknya, dan menarik tangan Annisa ke arah tangga rumah itu.


"Gak mau Shaka. Aku belum siap" tolak Annisa menahan tubuhnya membuat langkah Shaka terhenti.


"Katanya tadi pengen buka segel" Shaka berdecak.


"Kamu sudah janji untuk tidak meminta hak mu sebelum aku lulus SMA. Buktikan kalau kamu mencintaiku, Shaka" ujar Annisa mengedipkan sebelah matanya ke arah Shaka sambil tersenyum manis.


"Tapi kamu jangan menggodaku, gak lihat nih, si budiman sudah ngamuk. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk menenangkannya?." Shaka menghela napas frustasi.


Annisa pun mendekati Shaka. Shaka tidak menyangka, apa yang di lakukan Annisa padanya. Sehingga berhasil membuat si budiman menjadi tenang.


"Ya Tuhan, kita sudah terlambat ke sekolah" desah Shaka melihat jam dinding di ruangan itu sudah menunjukkan setengah delapan. Shaka pun berdiri dari anak tangga tempatnya duduk tadi sambil memperbaiki celananya.


"Paling besok kita kena hukum" ujar Annisa dengan santai. Berpikir, melayani suami itu lebih penting dari pada sekolah.


"Siapa yang mengajarimu? Hm!. Dari mana kamu tau adegan yang barusan kamu lakukan?. Aku belum ada loh ngajarin kamu" gemas Shaka menjepit hidung mancung Annisa. Tentu Shaka senang dan bahagia mendapat pelayanan mendadak dari istrinya, meski adegannya masih setengah setengah, yang penting kan si budiman menjadi tenang, tidak ngamuk lagi minta di lepas.

__ADS_1


"Naluri seorang istri" jawab Annisa.


*Bersambung


__ADS_2