Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Rasa cinta ini


__ADS_3

Ibu Drabia pun melanjutkan masakan Annisa tadi supaya bisa meraka makan. Sayang juga kalau gak di makan, lagian tinggal goreng ayamnya dan numis sambalnya.


"Lihat ini sayang, gimana cara goreng ayam" ucap Ibu Drabia pada Annisa dan Salwa yang menemaninya di dapur. Annisa dan Salwa pun mengarahkan pandangan mereka ke arah kuali."Pastikan minya nya panas, tapi jangan terlalu panas, kemudian masukkan ayamnya pelan, jangan melemparnya."


"Tapi tadi Annisa memasukkan ayam nya pelan, Ma. Tapi tiba tiba apinya masuk ke dalam kuali" sela Annisa.


"Berarti itu karena minyaknya kepanasan, dan apinya juga kebesaran" jelas Ibu Drabia.


"Iya kah, Ma?."


"Iya, sayang" Ibu Drabia menyentuh lembut bahu Annisa sembari mengulas senyum khas keibuannya.


"Sepertinya begitu, tadi minyaknya sampai berasap"ucap Annisa.


"Lagian, kamu itu gak bisa masak. Kok berani beraninya belajar masak sendirian" timpal Salwa.


Selesai memasak, Ibu Drabia pun menghidangkannya ke meja makan dan mengajak kedua gadis remaja itu untuk makan siang.


"Shaka mana?" tanya wanita paru baya itu tidak mencium aroma anaknya itu lagi di dalam rumah.


"Katanya pergi sebentar, Ma. Mengecek usahanya katanya" jawab Annisa. Tadi setelah mendapat telephon dari seseorang, Shaka pamit padanya untuk mengurus usahanya. Ya, meski Annisa berfikir Shaka akan mengurus bisnis tato nya. Tetap saja Annisa mengijinkan Shaka pergi. Mungkin Shaka akan menutup bisnis tato itu.


"Oo, ayo kita makan duluan, Mama sudah lapar" Ibu Drabia mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, di ikuti Annisa dan Salwa. Ketiga wanita beda generasi itu pun menyantap masakan yang di resep Annisa tadi.


"Bagaimana rasanya, Ma?" tanya Annisa melihat Ibu mertuanya itu sudah mengunyah ayam goreng bumbu yang di resepnya tadi.


"Kurang garam" jawab Ibu Drabia jujur.


"Masa sih, Ma?" Annisa pun mencubit ayam goreng di piringnya dan menyuapkannya ke mulutnya.


"Sedikit lagi baru pas" ucap Ibu Drabia.


"Menurutku ini udah pas. Mama aja yang sering garamnya keasinan" ujar Salwa sambil mengunyah ayam goreng di mulutnya.

__ADS_1


"Tadi aku nyicip bumbu ayam gorengnya udah terasa asin, jadi aku gak tambahin garam lagi saat mengungkap ayamnya" jelas Annisa, dia juga merasa ayamnya kurang garam sedikit lagi.


"Pas mengungkapnya, harus dirasain dong sayang garamnya, udah pas atau belum. Karena kita kasih air banyak pas mengungkapnya."


"Sambalnya gimana, Ma?" tanya Annisa lagi, supaya Ibu mertuanya itu mengoreksi masakannya.


"Kalau sambalnya, kan Mama yang kasih garam. Jadi rasanya pas lah" jawab Ibu Drabia. Tadi Annisa hanya merebusnya saja dan mengulek nya tanpa di kasih bumbu apa apa.


"Kalau rebusan daun singkongnya terlalu matang sepertinya, sampai berubah warna kekuningan" timpal Salwa ikut berkomentar.


Annisa mendengus, berpikir kalau Salwa juga tidak bisa memasak, tapi pintar berkomentar.


**


Shaka yang baru sampai di tempat usahanya dan bergegas turun dari atas motor melihat kekacauan di barbershop miliknya.


"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Shaka langsung pada karyawan yang wajahnya terlihat babak belur.


"Tadi ada seorang pria yang tiba tiba memukuli semua kaca cermin di tempat ini. Dia juga menghancurkan semua peralatan di salon ini" jelas pria yang dipercaya Shaka mengelola usahanya.


"Ya sudah, tolong kalian bereskan semua" pasrah Shaka mencoba sabar dan ikhlas. Mengingat semua berasal dari kesalahannya, dan mungkin sudah seharusnya ia menutup usaha itu, karena di bagian belakang ruang pangkas rambut itu adalah ruangan pasien untuk tato.


"Baik, Bos" patuh pria itu.


Shaka pun melangkahkan kakinya ke ruangan belakang salon itu. Mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi. Shaka memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan itu, lalu tersenyum miris. Berpikir sudah berapa banyak orang yang diajaknya berdosa?. Mampukah Shaka mempertanggung jawabkan dosa dosa orang yang sudah di tato nya.


'Astaqfirullohal azim' batin Shaka.


Terlalu mencintai Annisa, seolah olah Annisa adalah poros hidupnya. Menentukannya berputar ke arah mana. Sampai Shaka lupa tujuan hidupnya bukan untuk Annisa saja, melainkan untuk beribadah kepada sang pencipta dan menjaga alam ini supaya tidak di kuasai iblis.


'Ya Allah, rasa cinta ini Engkau yang ciptakan, maka aku kembalikan rasa ini pada Mu yang rob. Jika cintaku kepada Annisa berpengaruh buruk terhadapku, aku mohon cabut saja rasa ini ya Allah. Aku sudah jauh tersesat karena rasa cinta ini. Aku sudah melupakan Mu karena rasa cinta ini pada Annis, YA Allah.'


**

__ADS_1


Hari sudah sore, Ibu Drabia dan Salwa pun berpamitan untuk pulang dari rumah Shaka dan Annisa.


"Mama pulang dulu ya. Datanglah ke rumah, Mama masih kangen sama kamu. Tapi Mama gak bisa berlama lama di sini, nanti Mama ada acara dengan teman teman Mama" pamit Ibu Drabia kemudian mengecup kedua pipi menantunya itu.


"Iya, Ma. Nanti kalau Shaka sudah pulang kami akan kesana" balas Annisa mengulas senyum manisnya.


"Iya, Annisa. Kami pulang dulu. Aku tunggu di rumah, nanti aku akan menyuruh Hasna datang juga" sambung Salwa berpamitan.


Mereka sudah libur sekolah, jadi mereka bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk bersantai sebelum melanjutkan pendidikan mereka ke perguruan tinggi.


"Iya, tunggu Shaka datang dulu" balas Annisa. Meski sebenarnya Annisa bisa ikut bersama Salwa dan Ibu mertuanya. Tapi Annisa memilih untuk menunggu Shaka pulang, baru mereka sama sama pergi ke rumah mertuanya.


"Ya udah, kamu pergi dulu. Assalamu alaikum."


"Walaikum salam."


Sampai malam hari menunggu, Shaka yang pergi dari tadi siang belum juga datang. Entah kemana pria itu pergi, berkali kali Annisa menghubunginya namun Shaka tidak pernah mengangkat telephonnya.


'Kenapa dia gak mengangkat telephon ku?, Dimana dia? Apa yang sedang ia lakukan di luaran sana? Apa dia sedang mentato orang?. Astaqfirullohal azim.'


Annisa menjadi tidak tenang, khawatir terjadi sesuatu pada Shaka. Khawatir apa yang dilakukan Shaka di luaran sana.


Malam sudah mulai larut, Annisa yang menunggu Shaka di ruang tamu, terus mondar mandir ke arah kaca jendela rumah itu. Terus mengintip Shaka apakah sudah pulang atau belum. Padahal kalau Shaka sudah pulang, pasti suara motornya kedengaran. Tapi yang namanya khawatir, Annisa tetap ingin memastikannya.


'Jangan jangan Shaka ke rumah Inara?.'


Dugdugdug!


Seketika jantung Annisa berdetak kencang, karena apa yang terlintas di benaknya. Benarkah Shaka saat ini di rumah Inara?. Berarti benar, Shaka sudah menikahi Ibu muda itu.


'Gak!' Annisa membantah sendiri pemikirannya itu.


Shaka sangat mencintainya, tidak mungkin Shaka bisa menduakannya. Lantas kemana pria itu dari tadi?.

__ADS_1


Annisa sudah mulai ngantuk, gadis itu pun memilih membaringkan tubuhnya di sofa, menunggu Shaka pulang di sana. Namun Annisa yang kepikiran Shaka terus tidak bisa tertidur, meski matanya sudah mengantuk. Annisa terus memikirkan Shaka yang belum pulang.


*Bersambung


__ADS_2