
"Ya ampun, Annisa ! kamu belum bangun!" teriak Mama Aqeela melihat Annisa ngorok di atas sajadahnya.
Annisa yang mendengar teriakan Mama nya, langsung terbangun dan mendudukkan tubuhnya.
"Sudah jam berapa?" tanya Annisa mengarahkan pandangannya ke arah dinding kaca kamar nya itu, ternyata matahari sudah terik.
"Jam tujuh lewat" jawab Mama Aqeela, melangkahkan kakinya ke arah kasur, untuk merapikan tempat tidur putrinya itu.
"Ha! jam tujuh lewat?."
"Cepat bersiap siap, biar Mama yang mengantarmu. Kalau kamu nanti di antar Pak supir, jangan harap kamu bisa masuk" ujar Mama Aqeela.
Annisa yang masih memakai mukena nya, langsung membukanya dan meletakkannya begitu saja di atas sajadah. Dan Annisa pun langsung mengganti pakaiannya dengan cepat. Gak perlu mandi atau cuci muka lagi, karena tadi subuh Annisa sudah mandi sebelum shalat.
"Ayo, Ma. Jam pertama aku ada ujian" ujar Annisa buru buru meraih tas dan buku dari atas meja belajarnya.
Mama Aqeela yang sudah selesai merapikan kasur, melangkahkan kakinya mengikuti Annisa keluar kamar. Sampai di lantai bawah, tidak lupa Annisa berpamitan kepada Ustadz Bilal dan Umi Hani, dan langsung bergegas keluar rumah karena sudah terlambat.
Setelah Annisa masuk ke dalam mobil, tak lama kemudian Mama Aqeela datang menyusul dan duduk di kursi kemudi, dan langsung melajukan kendaraannya.
Sampai di sekolah, dan benar saja Annisa sudah terlambat, gerbang sekolah sudah di tutup. Mama Aqeela yang membawa mobil, pun membunyikan klaksonnya, supaya security yang berjaga membuka gerbangnya.
Setelah Mama Aqeela memarkirkan mobilnya, Annisa langsung membuka pintu di sampingnya.
"Trimakasih, Ma. Sudah mengantar Annisa. Mama hati hati nanti pulang nya" pamit Annisa sambil menyalam tangan Mama Aqeela.
"Iya, sayang, kamu juga baik baik di sekolah. Jangan mudah terpancing emosi. Dan jangan sampai brantam lagi, okeh!." Balas Mama Aqeela setelah mengecup kening putrinya itu.
Annisa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, lalu keluar dari dalam mobil, berlari ke arah kelasnya.
'Semenjak ku tinggal, dia semakin cepat dewasa' batin Mama Aqeela memperhatikan Annisa yang semakin menjauh. Kemudian melajukan kendaraannya keluar dari pekarangan sekolah.
Annisa yang sudah sampai di depan pintu kelasnya. Menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan. Lalu menggigit bibir bawahnya sebelum mengetok pintu kelas itu.
Tok tok tok!
__ADS_1
"Masuk!" sahut dari dalam
Mendengar suara bariton itu, Annisa menarik napasnya lagi, kemudian mendorong pintu di depannya sampai terbuka.
"Assalamu alaikum" ucap Annisa berjalan dengan sedikit menunduk.
"Walaikum salam" balas guru pria di dalam kelasi bersamaan dengan semua siswi.
"Kumpulkan PR nya dan kerjakan ujiannya dengan berdiri di depan kelas."
Refleks Annisa menghentikan langkahnya dan langsung memutar tubuhnya ke arah Furqon yang duduk di kursi meja guru, sibuk memeriksa tugas murid di kelas itu.
"Saya baru terlambat sekali selama sekolah di sini. Masa langsung di hukum?" ucap Annisa tidak terima. Dia adalah murid yang baik, pintar dan teladan. Baru kali ini melakukan kesalahan. Itu pun gara gara Ustadz tampan itu menghantuinya semalaman.
"Ustadz Furqon!" panggil Annisa, karna Furqon diam saja tidak mendengarkannya bicara.
Furqon yang di panggil langsung menoleh ke arah Annisa sebentar." Silahkan keluar" ucap Furqon malah.
Annisa terdiam, mendengar Furqon malah menyuruhnya keluar kelas. Itu artinya Annisa tidak boleh ikut ulangan.
Mata Annisa berkaca kaca, setelah meletakkan tasnya di atas meja, Annisa pun melangkahkan kakinya ke luar kelas tanpa mengatakan apa apa. Sampai di luar kelas, Annisa menyandarkan tubuhnya di dinding kelas dengan pandangan lurus ke depan.
'Apa aku pindah ke kelas lain aja ya?. Sepertinya tidak bagus untuk kesehatan jantung dan hatiku jika harus sering sering bertemu dengan Ustadz Furqon' batin Annisa. Jujur, jangankan melihat Furqon, mendengar suara Furqon saja, hati Annisa bergetar di buatnya.
'Tapi ke kelas mana ya?. Hampir semua kelas dua di masuki Ustadz Furqon. Kalau aku pindah ke kelas tiga, rasanya gak mungkin' batin Annisa lagi.
Ceklek!
Refleks Annisa menoleh ke arah pintu kelas yang terbuka. Furqon keluar dari dalam kelas, melangkah mendekatinya.
"Kerjakan soal ulangan mu di sini" ujar Furqon memberikan Annisa dua lembar kertas.
Tanpa menjawab, Annisa pun mengambil kertas itu dari tangan Furqon, dan langsung membaca soalnya.
"Kau mengambil keputusan dalam keadaan putus asa, Annisa."
__ADS_1
Annisa langsung menoleh ke arah Furqon yang masih berdiri di sampingnya, dengan memandang lurus ke arah halaman sekolah.
"Kau baru merasakannya, tapi kau sudah menyerah. Bagaimana denganku, merasakan cinta bertahun tahun. Tapi aku tidak putus berdoa dan berzikir kepada Allah sampai detik ini."
Annisa semakin menajamkan pandangannya ke wajah Furqon dengan kening mengerut, tidak paham dengan apa yang di katakan Furqon.
"Tapi sudahlah, mungkin kita tidak di takdirkan untuk berjodoh. Karena zikir cinta kita yang sudah sempat tersambung, sudah kamu putuskan." Setelah mengatakan itu, Furqon kembali masuk ke dalam kelas, meninggalkan Annisa yang sedang kebingungan.
'Apa maksudnya merasakan cinta bertahun tahun?' batin Annisa.
Annisa pun menjadi tidak fokus untuk mengerjakan soal ulangannya, karena memikirkan kata kata Furqon barusan.
Mendengar bel pertanda istirahat berbunyi, baru Annisa masuk ke dalam kelas untuk mengumpulkan kertas ulangannya. Namun belum sempat Annisa sampai di meja guru, tubuhnya terdorong oleh kerumunan teman sekelasnya yang rebutan keluar, sampai membuatnya terjatuh.
"Awo!" ringis Annisa berusaha berdiri dari lantai.
"Annisa!." sontak Hasna dan Salwa sama sama berseru dan berlari ke arah Annisa.
"Ya ampun Annisa, tangan kamu berdarah" ucap Hasna, melihat ujung jari Annisa mengeluarkan cairan berwarna merah.
Annisa mengibas-ibaskan tangannya yang kesakitan, sepertinya terpijak orang saat terjatuh. Dan tanpa sadar Annisa meneteskan air matanya, menahan rasa sakit di ujung jarinya.
Furqon yang melihat Annisa kesakitan, pun mendekatinya. Langsung meraih tangan Annisa, membuat Annisa refleks menoleh ke arahnya.
Kemudian Furqon menekan ujung jarinya yang berdarah dan meniup niupnya, sampai Annisa tidak merasa sakit lagi. Kemudian Furqon mengeluarkan sapu tangannya dari saku celananya, lalu mengikatkannya ke ujung jari Annisa yang terluka.
"Hasna, Salwa, tolong bawa Annisa ke ruang UKS, supaya lukanya di beri plaster" suruh Furqon setelah melepas tangan Annisa dari genggamannya.
"Iya, Ustadz" patuh Hasna dan Salwa, lalu menuntun Annisa berjalan keluar kelas.
Furqon yang masih berdiri di depan kelas, menghela napasnya kasar sambil memperhatikan punggung ketiga gadis remaja itu dari belakang. Untuk pertama kalinya, Furqon menyentuh jemari gadis yang di cintai nya itu.
'Jika bukan jodohku, jauhkan ya Allah' batin Furqon.
*Bersambung
__ADS_1