Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Mengacaukan acara


__ADS_3

"Ini rumah Calix?" tanya Annisa pada Shaka sembari memperhatikan gerbang rumah yang menjulang tinggi di depan mobil mereka.


"Iya" jawab Shaka membunyikan klakson mobilnya supaya satpam yang berjaga membuka gerbang berwarna hitam itu untuk mereka.


Setelah gerbangnya di buka, Shaka melajukan kembali kendaraannya dengan kecepatan lambat.


"Wah! rumahnya besar sekali. Ck! ck! ck!...." Annisa berdecak decak mengagumi besar dan mewahnya rumah keluarga Kurniawan itu.


"Mama dan Papanya Calix masing masing memiliki perusahaan, di tambah perusahaan peninggalan Kakeknya. Jadi mereka memiliki tiga nama perusahaan, semua berkembang dan maju" jelas Shaka yang sudah sangat mengenal Calix.


"Pantas aja" ucap Annisa.


"Kalau Hasna berjodoh dengan Calix. Mantap tuh Hasna, menjadi Nyonya tajir melintir" sambung Salwa yang duduk di kursi penumpang belakang mobil Shaka.


"Amin! semoga aja mereka berjodoh" balas Annisa.


Shaka pun memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu masuk rumah itu. Dan di sana, Ferel, Dzaki, Dafi dan Hasna sudah berdiri menunggu mereka.


**


Di dalam rumah besar itu, Calix yang mendapat kabar dari security yang berjaga, kalau teman temannya sudah datang, langsung keluar dari dalam kamarnya masuk ke dalam lif untuk turun ke lantai bawah rumah itu untuk menyambut kedatangan para sahabatnya.


"Itu Calix sudah keluar" tunjuk Dafi dengan dagunya ke arah Calix yang berjalan ke arah mereka.


Shaka, Annisa, Salwa, Hasna, Ferel, Dzaki refleks menoleh ke arah Calix.


"Assalamu alaikum" Safa Calix menyalam satu persatu sahabatnya itu.


"Walaikum salam" balas mereka semua.


"Kok sepi?, jadi kan acaranya?" tanya Dzaki.


"Jadi, acaranya akan di mulai jam delapan malam. Aku menyuruh kalian cepat datang, untuk mempersiapkan semuanya" jawab Calix.


"Mempersiapkan semuanya?. Emang acaranya belum di persiapkan?." Dzaki menaikan kedua alisnya ke atas.


Calix berdecak, kok jadi lemot sih sahabatnya itu?.

__ADS_1


"Sebelum tamu undangan datang, kalian sudah harus memutar musiknya. Dan sesekali bernyanyi langsung" jelas Calix.


"Oo!" Dzaki membulatkan bibirnya.


"Ayo ke sana" Calix mengajak para sahabatnya itu ke arah ruangan besar di lantai bawah rumah itu, tepatnya ke atas panggung yang telah di sediakan di dalam rumah itu.


"Kalian udah sering main ke sini?" tanya Annisa kepada Shaka yang dari tadi tidak melepaskan tangannya.


"Sudah" jawab Shaka.


"Habis berapa uang ya bangun rumah Segede dan semewah ini?" tanya Annisa memutar pandangannya ke setiap sudut ruangan itu yang sudah didekorasi dengan berbagai bunga bunga dan lampu hias. Di ruangan itu juga sudah tersusun rapi meja dan kursi. Di setiap sudut ruangan juga sudah terhidang berbagai makanan dan minuman. "Ini namanya bukan rumah lagi, tapi istana" ucap Annisa lagi.


Meski mereka termasuk keluarga berada, tapi rumah orang taunya itu tidak sampai sebagus dan semewah itu. Rumah mewah dengan luas bangunan hampir setengah hektar, di bangun di atas tanah seluas dua hektar.


"Aku gak tau sayang. Semoga nanti aku bisa membangun sebuah istana cinta yang lebih indah dari rumah ini untukmu" jawab Shaka mengulas senyumnya ke arah Annisa.


"Seorang istri itu akan merasa seperti di istana, jika suaminya selalu menjadikannya seorang ratu" balas Annisa tersenyum." Bukan dijadikan pembantu."


Annisa masih sedikit kesal, karena pembantu yang dijanjikan Shaka sebelum menikah belum juga datang, membuat Annisa harus membersihkan sendiri rumah mereka setiap hari.


"Kalian membicarakan apa sih?" celetuk Salwa yang berjalan bersama Hasna di belakang mereka.


"Yang belum berumah tangga, kita gak akan paham itu" sambung Ferel mensejajarkan langkahnya dengan Salwa.


Jangan dekat dekat." Shaka yang melihat Ferel berjalan di dekat Salwa, langsung menarik Ferel duluan menjauhi Salwa.


Ferel mendengus kesal, melihat Shaka yang benar benar lupa balas Budi.


"Salwa, kita nikah juga ,yuk!" ajak Ferel.


"Gak Ah!" tolak Salwa.


"Biar kita bisa bermesraan" ujar Ferel.


"Emang menikah itu hanya perkara bermesraan?" tanya Salwa.


"Gak juga sih" jawab Ferel.

__ADS_1


"Tempat kalian di sini ya, kalian hidupkan musiknya, dan tugas kalian hanya mengganti ganti lagunya" ujar Calix setelah mereka di atas panggung yang di sediakan". Dan oh ya Annisa, Salwa dan Hasna. Nanti akan ada rombongan anak anak yatim dan anak anak dari panti asuhan. Nanti kalian tolong mengatur tempat duduk mereka ya. Di bagian kursi paling depan."


"Okeh!" ucap Annisa mengulas senyumnya.


"Apa musiknya sudah boleh dihidupin?" tanya Dafi melangkahkan kakinya ke arah sound sistem yang berada di atas panggung itu.


"Hidupkan aja, sepertinya sebentar lagi para tamu undangan akan mulai berdatangan" jawab Calix.


Bunyi dengung pun langsung terdengar di dalam ruangan itu saat Dafi menghidupkan sound sistem nya. Dan sebuah musik dan lagu pun mulai terdengar.


**


"Itu suara musik qasidah dari mana?" tanya seorang wanita berwajah cantik dari kursi meja riasnya di dalam sebuah kamar.


"Gak tau sayang" jawab pria bertubuh tinggi yang kepalanya sudah di tumbuhi banyak uban, sembari pria itu memasang jam tangan berwarna silver ke tangannya.


"Perasaan musik qasidah itu berasal dari bawah" ucap wanita berusia 37 Tahun itu berdiri dari tempat duduknya setelah selesai merias wajahnya dengan menggunakan make up.


"Mungkin itu kerjaan Calix." Pria berusia berusia 57 Tahun itu pun merangkul pinggang istrinya itu, mengiringnya keluar dari dalam kamar mereka. Suara musik qasidah itu pun semakin jelas terdengar ke telinga mereka.


"Ya Tuhan, anak itu!. Ini acara ulang Tahun pernikahan kita. Kenapa anak itu malah memutar musik religi?" ucap wanita yang memakai dress pas body dengan model dada terbuka itu."Apa kata para tamu undangan nanti?."


"Tidak ada yang salah dengan musiknya, sayang, biarkan saja" ujar pria yang masih terlihat tampan dan gagah itu.


"Nanti orang berpikir kita sedang mengadakan acara khitanan di sini. Junior siapa yang ingin di khitan?" oceh wanita itu itu lagi.


Sampai di lantai bawah rumah itu, wanita melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah Calix yang masih berada di atas panggung musik.


"Calix, lagu apa ini?. Kenapa musiknya menjadi irama qasidah. Bukankah Mama sudah mengatakan supaya kamu mengundang penyayi terkenal. Ya Tuhan, apa kata orang nanti, kalau acara ini hanya di hibur dengan lagi yang diputar lewat speaker?" omel wanita itu pada Calix.


Shaka, Annisa dan teman teman mereka pun hanya bisa diam. Menunggu Calix menjawab pertanyaan Ibunya.


"Semua penyanyi terkenal pesanan Mama, lagi full job, Ma. Jadi penyanyi nya akan di gantikan teman teman Calix. Mama gak perlu khawatir, suara mereka juga tidak kalah merdunya dengan penyanyi luar Negri" jawab Calix.


"Dan itu minuman, kenapa berwarna warni?. Kemana semua minuman botol yang Mama pesan?. Kenapa gak ada yang di siapkan di atas meja?. Ya ampun Calix, kamu sudah mengacaukan acara ini. Kenapa kamu buat gak sesuai konsep yang Mama katakan?" oceh wanita yang ternyata Ibunya Calix.


"Shaka, ayo kita pulang. Mama nya Calix marah, aku takut" bisik Annisa ke telinga Shaka.

__ADS_1


"Mama nya Calix memang begitu, cerewet kaya kamu, sayang" balas Shaka berbisik ke telinga Annisa.


*Bersambung


__ADS_2