
Ustadz Bilal meraih tubuh Annisa, supaya putrinya itu berdiri dari lantai, lalu memeluknya.
"Kenapa kamu begitu cepat dewasa, Nak?. Ayah belum siap jika harus melepasmu kepada laki laki lain. Ayah belum siap jika cinta putri Ayah berpaling ke laki laki lain, Nak. Tapi jika itu membuat putri Ayah ini bahagia, Ayah akan bersedia menikahkan, sayang." Tangis Ustadz Bilal pecah di akhir kalimatnya.
Baru rasanya Ustadz Bilal menimang putrinya itu di dekapannya. Ternyata kini sudah besar dan siap untuk menikah. Rasanya Ustadz Bilal belum siap jika harus melepas putri manjanya itu.
"Aku akan tetap mencintai Ayah selamanya. Karna Ayah adalah cinta pertamaku. Laki laki pertama yang memberikanku cinta. Cinta Ayah tidak akan tergantikan di hatiku" balas Annisa membalas pelukan sang Ayah.
Yasmin yang mendengar pembicaraan dan tangisan Ayah dan Adiknya di balik telepon, pun ikut menangis terisak Isak, merasa sedih dan terharu. Sedih mendengar ucapan sang Ayah yang berat akan melepas putri putrinya. Terharu mendengar kedewasaan Annisa saat berbicara. Yasmin tidak menyangka, Annisa yang selama ini terkenal manja, memiliki pemikiran yang dewasa.
"Baiklah, Nak. Ayah akan menikahkan mu dengan Shaka" ucap Ustadz Bilal.
**
Setelah sabungan teleponnya terputus, Yasmin yang berada di kamarnya, langsung melakukan panggilan kepada Furqon.
"Assalamu alaikum" ucap seorang pria dari balik telepon.
"Walaikum salam" balas Yasmin suaranya terdengar kaku dan serat.
"Ada apa, Yasmin?" tanya Furqon.
"Apa kita bisa bertemu?. Ada yang ingin ku bicarakan" tanya Yasmin.
"Saya rasa kita tidak perlu bertemu untuk membicarakannya. Apa lagi kita akan bertemu berdua saja, itu tidak bagus" jawab Furqon.
"Baiklah" Yasmin menghela napasnya dalam sebelum mengatakan maksudnya yang sebenarnya menghubungi pria itu." Annisa?" ucap Yasmin bermakna akan isyarat banyak pertanyaan.
Furqon yang berada di balik telepon, terdiam sejenak.
"Apa yang ingin Ukhti dengar?" tanya balik Furqon.
"Perasaan mu kepada Annisa" jawab Yasmin.
"Saya tidak pernah menjalin hubungan dengan Annisa. Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu. yang ku tau selama ini, aku akan menikahi mu" jawab Furqon.
Yasmin terdiam dan diam diam meneteskan air matanya.
"Apa kamu tidak memiliki perasaan sedikit pun untuk Annisa?. Aku sudah tau, jika dia sering mengganggumu di sekolah" tanya Yasmin lagi.
"Maksud mu, setelah membatalkan perjodohan kita. Kamu ingin memintaku menikahi Annisa? Begitu?."
"Annisa sangat mencintaimu. Aku mohon menikahlah dengan Annisa" lirih Yasmin terisak.
Yasmin tidak mau, jika Annisa sampai memaksakan diri untuk menikah dengan Shaka, demi kebahagiaannya. Selain akan menyakiti diri Annisa sendiri, Annisa nanti bisa saja menyakiti perasaan Shaka.
__ADS_1
"Kalau perjodohan itu sudah batal, ya batal saja. Tidak ada perjodohan berikutnya lagi, Yasmin. Aku juga manusia, punya hati dan perasaan. Kalau kamu hanya memikirkan perasaan Annisa. Bagaimana dengan perasaanku sendiri?, kenapa kamu tidak memikirkannya?" cerca Furqon tidak terima.
Yasmin pun terdiam.
Di balik telepon, Furqon meneteskan air matanya saat ia memejamkan matanya. Dadanya teramat sesak, seperti ada sesuatu yang menimpanya.
"Ya, aku akan melamar Annisa" ucap Furqon dengan suara tercekat.
Yasmin yang mendengarnya langsung mengulas senyumnya, meski air matanya mengalir semakin deras.
"Trimakasih."
"Tapi bagaimana denganmu, Yasmin?" tanya Furqon lagi.
"Aku akan baik baik saja" jawab Yasmin.
**
Tok tok tok!
"Assalamu alaikum!"
"Walaikum salam!. Masuk!" seru Ustadz Bilal yang berada di ruang kerjanya yang berada di sekolah SMA HARAPAN peninggalan orang tuanya itu.
Pintu ruangan itu pun terbuka dari luar, melihat yang datang adalah tamu yang sengaja di undangnya, Ustadz Bilal langsung berdiri dari tempat duduknya, menyambut ramah kedua orang tua murid itu.
"Selamat siang juga Pak Ansel. Silahkan duduk" balas Ustadz Bilal sambil menerima uluran tangan Pak Ansel.
"Trimakasih, Ustadz."
Setelah mendudukkan tubuhnya di sofa yang berada di ruangan itu, bersama istrinya. Pak Ansel pun bertanya, apa gerangan yang membuat pemilik sekolah itu mengirim surat panggilan kepada mereka.
"Kesalahan apa yang sudah di lakukan anak anak kami, Ustadz. Sampai Ustadz harus memanggil kami ke sini?."
Ustadz Bilal yang ditanya mengulas senyumnya, melihat kekhawatiran di wajah kedua orang tua murid itu.
"Shaka, melamar Annisa Putri saya kepada saya" jawab Ustadz Bilal. Berhasil Pak Ansel dan Ibu Drabia sebagai orang tua murid yang bernama Shaka saling berpandangan.
"Melamar?" ulang Pak Ansel mengerutkan keningnya.
"Bagaimana menurut kalian, jika kita menikahkan mereka saja?. Saya khawatir, jika mereka di biarkan bergaul begitu saja. Mereka akan tersentuh dosa zina. Lebih baik kita halalkan saja mereka" ujar Ustadz Bilal.
Pak Ansel dan Bu Drabia saling berpandangan lagi, otak mereka belum selesai mencerna apa yang di katakan Ustadz Bilal barusan.
"Kami tidak mengerti apa maksud yang barusan Ustadz Katakan" ucap Bu Drabia.
__ADS_1
"Shaka, putra kalian, melamar putri saya bernama Annisa" jelas Ustadz Bilal sekali lagi.
"Melamar?" ulang Bu Drabia.
"Kalau kalian setuju, bagaimana kalau kita menikahkan anak kalian dengan putri saya?" ucap Ustadz Bilal lagi.
"Tapi bagaimana bisa Ustadz berpikir menikahkan mereka?. Sedangkan mereka masih sekolah" Pak Ansel mengerutkan keningnya ke arah Ustadz Bilal.
"Papa, Mama"
Ustadz Bilal, Pak Ansel dan Bu Drabia langsung menoleh ke arah pintu masuk ruagan itu. Mendengar Shaka memanggil ke dua orang tuanya.
"Ucap salam Shaka" tegur Pak Ansel, melihat Shaka datang tanpa mengucap salam masuk ke dalam ruangan itu.
"Maaf! lupa" Shaka menyengir, lalu mengucap." Assalamu alaikum."
"Walaikum salam!" balas ketiga orang tua itu serentak.
Shaka pun melangkahkan kakinya ke arah ke dua orang tuanya dan menyalam nya. Bu Drabia yang gemas melihat anaknya itu, langsung menarik telinga bocah itu supaya duduk di sampingnya.
"Sini kamu!"
"Sakit, Ma" keluh Shaka mencoba melepas tangan Ibunya dari telinganya.
"Bisa bisanya kamu melamar gadis orang tanpa meminta ijin sama Mama dan Papa kamu! Hm!" gemas Ibu Drabia lagi semakin menarik telinga Shaka.
"Kan masih rencana Ma. Nanti kalau sudah oke dari Pak Ustadz, pasti Shaka akan memberitahu Mama sama Papa" balas Shaka.
"Kamu pikir menikah itu perkara main main?, Hm!. Punya apa kamu untuk menafkahi anak gadis orang?. Kamu aja makan masih disuapin" omel Bu Drabia.
"Kan pulang sekolah Shaka kerja bantuin Papa, Ma" jawab Shaka.
"Cih! kamu pikir gaji mu itu cukup untuk membiayai hidup anak gadis orang? Ha!." Bu Drabia berdecih, tidak habis pikir dengan kelanjangan anak nya itu melamar gadis orang tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Sakit Ma" keluh Shaka karena Bu Drabia semakin menarik kuat telinganya.
"Saya setuju, Ustadz. Melihat pergaulan anak jaman sekarang, kalau memang anaknya pengen menikah, saya rasa itu juga lebih bagus" ucap Pak Ansel setelah menimbang nimbang apa yang di katakan Ustadz Bilal.
Bu Drabia yang mendengar suaminya setuju anak mereka di nikahkan, langsung menoleh ke arah suaminya.
"Mereka masih sangat mudah loh Pa."
"Aku hanya ingin menghalalkannya, Ma. Aku tidak akan menuntut hak ku sebelum kami lulus sekolah. Aku ingin bisa menjaga Annisa tanpa kami harus melakukan dosa, Ma" ucap Shaka memandang Ibunya dengan wajah begitu menyakinkan.
"Aku mencintainya demi Allah, Ma" ucap Shaka lagi.
__ADS_1
*Bersambung