Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Lato lato


__ADS_3

Annisa menghentikan kunyahannya dan menoleh ke arah Shaka yang pintar mengoceh seperti emak emak, cerewet banget.


"Ternyata yang dulu sebelum kita menikah, hanya gombal. Katanya akan menyewa pembantu untuk kita, tapi nyatanya gak ada" cetus Annisa, kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.


Shaka mengulas senyumnya lalu mengusap lembut kepala Annisa dari belakang."Nanti, setelah kamu memberiku seorang anak."


"Kalau begitu ayok!." Annisa berdiri dari kursinya, kemudian meraih lengan Shaka, dan Shaka langsung menariknya membuat tubuhnya terduduk di pangkuan Shaka.


"Nanti sayang, jangan sekarang" ucap lembut Shaka sambil mengelus lembut pipi Annisa dan memandangi wajah cantik istrinya itu.


"Kita sudah menikah, kenapa meski menundanya?" tanya Annisa membalas tatapan Shaka kepadanya. Sama seperti istri lainnya, Annisa juga wanita normal memiliki keinginan untuk bercinta dengan suaminya.


Shaka yang di tanya terdiam tanpa memutuskan pandangannya dari wajah Annisa yang menatapnya begitu teduh.


"Aku sudah berjanji kepada Ayah untuk tidak menggauli mu sebelum kamu lulus sekolah, Annisa. Itu adalah syarat yang di berikan Ayah padaku supaya bisa menikahi mu" jawab Shaka. Annisa juga sudah tau itu sebelum mereka menikah.


"Aku akan mengatakannya pada Ayah, supaya Ayah menggugurkan janjimu itu" ucap Annisa. mendekatkan bibirnya ke bibir Shaka, saat bibir mereka menempel Annisa memejamkan matanya dan perlahan menikmati bibir Shaka.


Namun sayang, Shaka langsung melepas tautan bibir mereka dan segera menurunkan Annisa dari pangkuannya.


"Jangan terus menggodaku, Annisa" tegur Shaka dengan suara lembutnya, melihat wajah Annisa terlihat marah dan kecewa padanya.


"Maaf!" ucap Annisa menundukkan kepalanya.


Shaka pun berdiri dari tempat duduknya dan mendudukkan tubuh Annisa kembali ke kursinya. Setelah duduk kembali, Shaka menyuapi Annisa makan sampai makanan di kedua piring mereka habis. Dan Shaka pun berangkat ke sekolah.


Sepeninggal Shaka ke sekolah, Annisa kembali ke dalam kamar setelah membereskan bekas makan mereka. Annisa mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur mengayun ayunkan kedua kakinya secara bergantian dengan pandangan lurus ke arah dinding kaca di kamar itu.


'Benar kata orang, rumah tangga tanpa sek rasanya hambar' batin Annisa.


Lima bulan menikah, belum pernah di sentuh suami. Ya, meski Annisa tau alasan Shaka tidak menyentuhnya dan Annisa sendiri juga menyetujuinya. Tetap saja Annisa pengen merasakan surga Dunia itu yang di katakan orang itu.


Ting nung!


Annisa menautkan kedua alisnya mendengar bel rumah itu berbunyi. Padahal ini masih pagi, siapa yang datang bertamu?, pikirnya.


Mendengar bel rumah itu terus berbunyi, Annisa pun berdiri dari tempat duduknya melangkah keluar kamar untuk membuka pintu untuk tamu yang datang.


"Kak Yasmin" ucap Annisa setelah membuka pintu rumah itu. Wajah Annisa langsung sumiringah dan langsung memeluk tubuh Kakaknya itu.


"Assalamu alaikum, Adikku sayang" ucap Yasmin mengecup kedua pipi Annisa bergantian.


"Walaikum salam, Kakakku sayang" balas Annisa membalas mengecup kedua pipi Yasmin.


"Ternyata kamu tidak berubah" ucap Yasmin melepas pelukan Annisa, kemudian melangkah masuk tanpa meminta ijin dari pemilik rumah itu.

__ADS_1


"Tidak berubah bagaimana?" tanya Annisa gak mengerti.


"Kakak pikir setelah jadi istri, kamu tidak manja dan menggemaskan lagi" jawab Yasmin.


"Shaka selalu memanjakan ku, makanya aku masih manja dan menggemaskan" balas Annisa tersenyum, menyusul Yasmin duduk di sofa.


"Alhamdulillah kalau begitu, berarti Shaka memperlakukan mu dengan baik. Kakak rasa dia sangat dewasa meski usianya masih kecil" ucap Yasmin.


Annisa mengangguk anggukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan Kak Yasmin?. Apa Kak Yasmin yakin ingin menerima lamaran Ustadz Furqon?" tanya Annisa menatap wajah Kakaknya dengan intens.


"Bagaimana denganmu?, apa kamu akan baik baik saja jika Kakak menerimanya?" tanya balik Yasmin. Yang sebenarnya tujuannya datang ke rumah Annisa untuk menanyakan itu. Mengingat Annisa dan Furqon sempat saling menyukai.


"Shaka sudah mengambil alih hatiku sepenuhnya" jawab Annisa." Tapi lebih baik Kakak tidak menerimanya" lanjut Annisa lagi.


Yasmin pun terdiam.


"Maksudku...." Annisa menghela napasnya melihat tatapan Yasmin yang salah sangka padanya."Ustadz Furqon tidak mencintai Kak Yasmin" lanjut Annisa.


Yasmin mengulas senyumnya ke arah Annisa. Sepertinya Adiknya itu sedang lupa ingatan. Bukankah Annisa menerima pinangan Shaka tanpa mencintai pria itu?.


"Tidak mencintai, tapi bukan berarti tidak bisa mencintai. Seperti kamu ke Shaka. Setelah menikah kalian bisa membangun cinta bersama" ucap Yasmin.


**


"Uhuk uhuk uhuk!"


Di dalam kelas Shaka yang sibuk dengan Soal ujian di depannya, tiba tiba terbatuk batuk, tersedia air ludahnya sendiri.


'Kenapa tiba tiba aku tersedak ya?. Apa Annisa sedang membicarakan ku?. Dengan siapa?' batin Shaka.


"Yang sudah selesai silahkan kumpul kertas ujiannya dan boleh keluar" ujar seorang guru pengawas dari depan kelas.


"Shaka, ayo!" ajak Ferel yang duduk di meja yang berada di sampingnya.


"Bentar, sedikit lagi" balas Shaka.


Ferel berdecak melihat sahabatnya itu. Setelah menikah otaknya rada rada lambat berpikir.


"Aku tunggu di luar" Ferel pun berdiri dari kursinya melangkah ke arah depan kelas dengan membawa kertas ujiannya. Setelah meletakkannya di meja guru, Ferel langsung keluar.


Di depan kelas sudah ada Calix, Dzaki dan Dafi menunggu.


"Shaka mana?" tanya Calix.

__ADS_1


"Lom selesai" jawab Ferel.


"Lama amat, apa dia gak belajar?" tanya Dzaki.


"Mungkin lupa belajar dia, gara gara sibuk buat Dede bayi" celetuk Dafi.


"Hus! kita masih anak di bawah umur, gak boleh bicara seperti itu" ujar Calix mengingatkan.


"Iya ya, kita belum main lato Lato" balas Dafi.


"Nah! itu dia Shaka yang sudah mahir main lato Lato sudah keluar" ujar Dzaki mengarahkan pandangannya ke arah Shaka yang baru keluar dari dalam kelas. Wajah Shaka terlihat tak bersemangat hari ini. Ada apa gerangan dengan sang pangeran?.


"Wajahmu kenapa kusut begitu?" tanya Ferel memperhatikan wajah Shaka dengan kening mengerut.


Calix, Dzaki dan Dafi mengangguk bersama, menyetujui pertanyaan Ferel.


Shaka menghela napas kasar, wajahnya semakin jelas terlihat frustasi.


"Annisa" ucap Shaka.


"Ada apa dengan Annisa?" Ferel semakin mengerutkan keningnya.


Calix, Dzaki dan Dafi sama sama mengangguk lagi. Dan Shaka menghela napasnya kasar.


"Tadi pagi dia meminta haknya sebagai istri. Sedangkan aku tidak bisa memberikannya...."


"Kok bisa?" heboh Calix tiba tiba.


"He um" Dafi mengangguk sepemikiran dengan Calix.


"Padahal dari luar kamu kelihatan begitu gagah. Masa sih lato Lato kamu gak bisa bunyi?" ujar Calix mengarahkan pandangannya ke arah celana Shaka.


Pluk!


"Kemana otak mu? Ha!" gemas Shaka memukul lengan Calix dengan buku di tangannya."Aku belum selesai bicara, langsung main potong potong aja" kesal Shaka memutar bola matanya malas.


"Oh! kirain tadi si budiman letoi" ujar Calix malah.


"Makanya tunggu orang selesai bicara." Shaka yang kesal pun melangkahkan kakinya meninggalkan ke empat sahabatnya itu.


"Ayah! tunggu Dafi !" seru Dafi mengejar Shaka dari belakang.


"Dzaki juga, Yah!" Dzaki pun ikutan mengejar Shaka.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2