
'Annisa' batin Furqon.
Jantungnya seketika berdetak sangat kencang, khawatir terjadi sesuatu yang buruk kepada Annisa.
'Innalillahi wainna ilaihi rozi'un' batin Furqon lagi menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Kebakaran? Ya Allah!. Innalillahi wainna ilaihi rozi'un" ucap Umi Fadilah menutup mulutnya dengan telapak tangan."Abi, ayo kita ke sana."
"Iya Umi, dari tadi memang Abi lagi menunggu kalian" ujar Abi Munzir."Ayo Furqon, Abi gak bisa nyetir kalau malam hari." Abi Munzir berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Iya, Abi" patuh Furqon. Setelah meletakkan barang bawaannya di atas sofa, Furqon pun mengikuti langkah Abi dan Umi nya kembali keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobil.
Sampai di tempat kejadian, di sana susah ramai orang dan ada dua mobil pemadam kebakaran berusaha untuk memadamkan api.
Umi Fadilah, Furqon dan Abi Munzir yang baru turun dari dalam mobil, menerobos kerumunan untuk mencari keluarga Ustadz Bilal.
"Keluarga Ustadz Bilal dimana?" tanya Umi Fadilah kepada salah satu warga yang berkerumun di tempat itu.
"Mereka sudah di bawa keluarga mereka dari sini" jawab seorang Ibu itu.
"Bagaimana keadaan mereka?. Mereka semua baik baik aja kan?" tanya Umi Fadilah lagi.
"Alhamdulillah, mereka semua baik baik aja, tidak ada yang terluka sama sekali" jawab si Ibu itu.
"Alhamdulillah" ucap Umi Fadilah, Furqon dan Abi Munzir bersamaan.
"Abi, coba hubungi Ustadz Bilal, di rumah siapa mereka sekarang?" tanya Umi Fadilah kepada suaminya.
"Dari tadi nomor Ustadz Bilal gak bisa di hubungi Umi" jawab Abi Munzir. Berpikir kalau handphon Ustadz Bilal ketinggalan di rumah itu.
Melihat api sudah berhasil di padamkan, Furqon pun bernapas lega. Api memang belum sampai memenuhi bangunan rumah itu. Sehingga rumah itu tidak mengalami rusak total.
'Annisa, aku sangat bersyukur mendengar kabarmu baik baik saja' batin Furqon mengulas sedikit senyumnya.
Meski tak bisa memiliki Annisa, namun cinta di hatinya kepada gadis itu, membuatnya sangat khawatir gadis kecilnya itu kenapa kenapa.
"Umi, Furqon, ayo kita pulang. Besok kita bisa menemui mereka" ajak Abi Munzir, karena tidak tahan berlama lama terkena angin malam.
Furqon memutar tubuhnya ke arah Abi, lalu mengangguk dan melangkah ke arah mobil mereka terparkir.
**
__ADS_1
Annisa yang sudah berada di salah satu kamar rumah peninggalan Kakek dan Neneknya. Menarik napasnya, lalu membuka telapak tangannya yang terlepas kuat dari tadi, menggenggam sesuatu di tangannya. Annisa menatap butiran tasbih di tangannya. Entah kenapa tadi saat akan keluar rumah, Annisa berpikir untuk menyelamatkan benda pemberian Furqon itu. Seperti tidak tega jika tasbih itu lenyap terbakar api.
'Sebenarnya apa yang engkau rencanakan di balik ini semua ya Allah?. Besok adalah hari pernikahanku dengan Shaka. Tapi semua harus batal karena kejadian ini' batin Annisa.
Bisa saja besok Annisa dan Shaka tetap melangsungkan pernikahan. Tapi apakah Annisa akan menikah dalam keadaan semua keluarganya dalam keadaan trauma?. Dan juga semua persiapan pernikahannya sudah terbakar di rumah itu.
Tok Tok tok!
"Annisa!"
'Shaka' batin Annisa mendengar suara yang memanggilnya dari luar kamar. Annisa pun menyimpan tasbih itu ke dalam laci meja nakas, kemudian melangkah ke arah pintu untuk membukanya.
"Annisa!"tanpa sadar Shaka menghambur memeluk tubuh Annisa."Aku sangat khawatir sama kamu Annisa" tangis Shaka terisak.
"Shaka, lepas" tegur Annisa memberontak di pelukan Shaka.Shaka yang sadar, langsung melepas pelukannya.
"Maaf!"
"Asal main peluk peluk aja" cibir Salwa yang berdiri di samping Shaka.
"Aku terlalu terbawa perasaan" balas Shaka sambil menghapus air matanya.
"Kamu bicara apa?. Aku tidak memikirkan itu, yang kupikirkan dari tadi hanya kamu. Soal pernikahan kita, bisa di jadwal ulang" ucap Shaka.
"Trimakasih sudah memahami keadaan kami" balas Annisa.
"Gak ada orang yang menginginkan musibah, Annisa!" ucap Shaka. Ada ada aja calon istrinya itu.
"Annisa, sayang. Syukurlah kamu baik baik saja. Tante tadi sudah sangat khawatir sama kamu dan keluargamu." Tiba tiba Ibu Drabia datang dan langsung memeluk Annisa.
"Alhamdulillah, Tante. Aku gak kenapa kenapa" ucap Annisa dengan mata berkaca kaca. Tubuhnya memang baik baik saja, tapi mentalnya pasti mengalami trauma.
"Kalau begitu, kami pulang dulu ya. Besok kami datang lagi ke sini. Ini sudah hampir larut malam, kamu pasti butuh istirahat" pamit Bu Drabia.
"Iya, Tante" balas Annisa mencoba untuk mengulas senyumnya.
Setelah mengecup kening dan kedua pipi calon menantu itu, Bu Drabia pun melangkahkan kakinya menjauhi Annisa."Ayo anak anak" ajaknya kepada Shaka dan Salwa.
"Aku pulang dulu ya calon bidadariku. Semoga mimpi indah" pamit Shaka. Sebenarnya ingin sekali menemani Annisa tidur, membawa gadis itu ke dalam dekapannya. Tapi bagaimana lagi, mereka belum terikat dengan kata halal.
Annisa semakin mengulas senyumnya, meski terlihat terpaksa.
__ADS_1
"Aku juga pulang dulu ya, Annisa" besok aku ke sini lagi" pamit Salwa juga.
Setelah Shaka dan Salwa pergi, Annisa pun kembali masuk ke dalam kamar yang di tempatnya di rumah itu untuk istirahat.
**
Dua hari setelah kejadian itu, Annisa sudah kembali ke sekolah. Turun dari dalam mobil yang mengantarnya, Annisa melangkah malas ke arah kelasnya, wajahnya terlihat tak bersemangat. Para siswa dan siswi yang melihatnya, semua memperhatikannya. Semua orang sudah tau, kalau pernikahannya dengan Shaka terpaksa di tunda dulu.
"Annisa"
Refleks Annisa menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya itu.
"Ustadz Furqon" lirih Annisa, lalu menundukkan pandangannya.
"Aku turut berduka atas musibah yang menimpa kamu dan keluargamu" ucap Furqon menatap teduh ke arah Annisa.
"Trimakasih, Ustadz" balas Annisa lirih.
"Syukurlah kamu gak kenapa kenapa. Kemarin itu aku ke tempat kejadian, kalian sudah tidak ada di sana. Kami gak tau kalian pergi kemana. Di coba di hubungi, nomor kalian tidak ada yang aktif" ujar Furqon.
"Paman Darren membawa kami ke ruang peninggalan Kakek dan nenek" balas Annisa.
"Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu" pamit Furqon dan langsung pergi.
Annisa pun memandangi punggung Furqon yang semakin menjauh dari belakang.
'Ustasdz Furqon, kenapa hidupku rumit semenjak mengenalmu?. Aku sudah menjauhi mu, tapi Allah seolah olah ingin mendekatkan kita' batin Annisa kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat berhenti.
Sampai di dalam kelas, Annisa mendudukkan tubuhnya di bangku yang biasa ia duduki. Kelas masih sunyi, bahkan Salwa dan Hasna pun belum datang, hanya ada beberapa orang saja di kelas itu.
"Annisa, kami turut berduka ya atas musibah yang menimpa keluargamu" ucap salah seorang siswi di kelas itu kepada Annisa.
Annisa mengangguk sembari tersenyum," trimakasih" balasnya.
"Apa yang terjadi? kenapa rumah kalian sampai terjadi kebakaran?" tanya teman siswi itu lagi.
Annisa meneduhkan pandangannya ke arah kedua teman satu kelasnya itu." Aku lupa mematikan kompor setelah aku memanaskan segelas air untuk membuatkan susu. dan pancinya kubiarkan di atas kompor yang menyala dan meninggalkan dapur."
Kebakaran itu terjadi karena kelalaiannya, membuat Annisa merasa bersalah.
*Bersambung
__ADS_1