Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Kamu membuatku malu


__ADS_3

"Shaka, bantu aku" ucap gadis itu sambil menangis.


Shaka pun menghela napasnya. Sedangkan Annisa yang berdiri di sampingnya, mengerutkan keningnya mencoba mendengar suara orang yang menghubungi Shaka, namun Annisa tidak berhasil mendengarnya.


"Aku mohon Shaka" ucap gadis di balik telephon itu lagi, karena tidak mendengar suara Shaka.


"Kamu dimana sekarang?" tanya Shaka.


"Di sebuah rumah kontrakan" jawab gadis itu sambil menghapus air matanya.


"Kirimkan alamat mu, nanti aku akan kesana" ujar Shaka.


"Makasih Shaka." Gadis di balik telephon itu pun menghapus air matanya."Kalau begitu aku tutup telephonnya. Assalamu alaikum."


"Walaikum salam" balas Shaka, gadis yang menghubunginya itu pun mematikan sambungan telephonnya.


"Siapa?" tanya Annisa penasaran.


"Teman, dia sedang dalam masalah" jawab Shaka.


"Teman mu yang mana?. Apa kamu punya teman selain Ferel, Calix, Dafi dan Dzaki?."


"Tentu aku punya, sayang" Shaka mengulas senyumnya dan tangannya terangkat mencubit gemas pipi Annisa.


"Sakit tau" Annisa mengerucutkan bibirnya dan melepas tangan Shaka dari pipinya.


"Yang menelephon aku barusan, anak sahabat Papa dan Mama. Dia sedang dalam masalah, makanya dia meminta bantuanku" jelas Shaka, tak ingin Annisa curiga padanya.


"Oo jadi nanti kamu akan menemui temanmu itu?. Kalau begitu aku berangkat duluan deh nanti ke rumah ku. Tapi nanti kamu datang ya" ujar Annisa.


Shaka menganggukkan kepalanya," Kalau begitu aku berangkat kerja dulu. Nanti hati hati berangkatnya, kabari kalau udah sampai, oke!."


Kini Annisa yang mengangguk sembari tersenyum. Shaka pun membingkai wajah Annisa dengan kedua tangannya, kemudian mengecup kening, kedua pipi, hidung, dagu dan terakhir bibir Annisa.


"Love you" ucap Shaka dengan lembut setelah menghujani wajah istrinya itu dengan kecupan kecupannya.


Senyum Annisa semakin mengembang, ia pun membalas mengecup kilas bibir Shaka.


"Aku juga"


"Kalau begitu aku pergi dulu. Assalamu Alaikum mmuah!." Setelah berpamitan sekali lagi, Shaka pun mengecup gemas pipi istrinya itu.


"Walaikum salam"


Setelah Annisa membalas salam nya, baru Shaka melangkah pergi.

__ADS_1


'Ya Allah, lindungilah aku dari rasa was was.'


Annisa membatin sambil memperhatikan Shaka yang masuk ke dalam mobilnya. Sampai mobil itu melaju dan hilang dari pandangan matanya baru Annisa kembali masuk ke dalam rumah.


Menjelang siang hari, Annisa berangkat ke rumah orang tuanya dengan menggunakan taxi on line yang di pesannya. Setelah taxi yang mengantar nya itu berhenti tepat di depan rumah orang tuanya, Annisa langsung turun dan melangkah masuk ke halaman rumah.


"Assalamu alaikum!" seru Annisa dengan suara nyaringnya sembari melangkah masuk ke dalam rumah.


Tangis bayi dari ruang keluarga rumah itu langsung terdengar. Annisa pun melangkah ke arah ruang tamu rumah itu, berpikir kalau orang tuanya sedang berada di ruang tamu.


"Walaikum salam" balas Ustadz Bilal, Umi Hani dan Yasmin yang ada di sana melihat Annisa datang sendiri.


"Sendiri? Mana Shaka?" tanya Yasmin melihat Annisa datang sendiri.


"Kerja" jawab Annisa lalu menyalam Ustadz Bilal, memeluk dan mengecup kedua pipi pria yang tak lagi muda itu. Kemudian menyalam Umi Hani, melakukan hal yang sama, terakhir kepada Yasmin. Setelah itu Annisa mengambil baby Han dari gendongan Yasmin, yang menangis karena kaget mendengar teriakannya tadi.


"Kenapa menangis ganteng? Terharu ya mendengar suara merdu Kakak?" tanya Annisa pada Adik nya itu, lalu mengecupi kedua pipi gendutnya.


"Terharu, sakit telinga, iya" cibir Umi Hani.Telinga orang sakit mendengar teriakannya tadi.


"Dia itu turunan ratu sejagat" ucap Ustadz Bilal, mengatakan kalau sifat Annisa banyak menurut dari mendiang Neneknya, bentuk tubuh dan wajahnya."Dulu Mama juga suka berteriak" lanjut Ustadz Bilal mengenang sang Ibunda tercinta.


"Kalau Yasmin, dia itu sifatnya menurut dari Kakek Fariq. Lebih kalem dan lembut,tapi terkadang suka ngelucu" ucap Ustadz Bilal lagi, mengatakan mendiang Kakek dari Aqeela, mantan istrinya."Tapi wajah Yasmin perpaduan wajah Mama dan Nenek Indah."


"Makanya aku cantik" ucap Yasmin kepedean.


Mendengar bunyi handphon dari dalam tas kecil yang tersampir di bahunya. Annisa langsung meletakkan baby Han di pangkuan Umi Hani. Setelah mengeluarkan benda pipi itu dari dalam tas, Annisa langsung mengangkat panggilan telephon dari Shaka.


"Assalamu alaikum" ucap Annisa setelah mendial tombol hijau di layarnya.


"Walaikum salam" balas Shaka dari sebrang telepon." Sayang, kamu udah sampai ? Kok gak kasih kabar?."


"Baru sampai" jawab Annisa.


"Ya udah, aku kerja lagi ya. Nanti akan ku usahain cepat pulang" ucap Shaka, ia menghubungi Annisa hanya untuk memastikan istrinya itu sudah sampai atau belum.


"Iya, nanti bawain makanan ya" balas Annisa.


"Makanan apa?" tanya Shaka.


"Mmm! apa ya?" Annisa berpikir sebentar.


"Batagor!" sahut Yasmin dari sofa.


"Kak Yasmin minta di bawain batagor" ucap Annisa.

__ADS_1


"Istriku?" tanya Shaka lagi merekahkan senyumnya di balik telephon.


"Kalau Ayah nasi goreng" celetuk Ustadz Bilal.


"Kalau Umi, Kwitiau goreng" sambung Umi Hani.


"Kok semua jadi pesan makanan, nanti uang suami ku habis" keluh Annisa mendengar Ayah dan Uminya ikut memesan makanan.


"Pelit amat" cibir Yasmin.


"Gaji suami ku kan dikit. Kami harus hemat biar bisa nabung" ujar Annisa.


Ustad Bilal, Umi Hani dan Yasmin langsung saling berpandangan. Bukankah Shaka anak orang kaya, kenapa bisa putrinya itu harus hemat dan harus pelit. Padahal mereka hanya meminta di belikan makanan.


"Sayang, kok ngomong gitu" tegur Shaka dari dalam telephon.


"Kan benar yang aku bilang" balas Annisa pada Shaka.


"Kalau hanya beli makanan, aku masih punya uang, Annisa" ujar Shaka, tak suka Annisa mengatakan kelemahannya pada keluarganya, Shaka jadi malu. Lagian masa sama orang tua aja harus pelit.


"Tapi kan...."


"Kamu membuatku malu sama Ayah."


Annisa tidak melanjutkan kalimatnya karena Shaka memotongnya dengan cepat. Sambungan telephon itu pun langsung terputus.


Annisa mengembangkan pipinya dengan kepala menunduk. Sepertinya Shaka marah padanya.


Ustadz Bilal, Umi Hani dan Yasmin pun sama sama terdiam dan memandangi wajah Annisa yang meneduh. Mereka mendengar kemarahan dari Shaka, karena Annisa mengaktifkan speaker handphonnya.


"Annisa" panggil Ustadz Bilal dengan suara lembutnya.


Annisa langsung mendongak ke arah sang Ayah.


"Kemari, Nak" Ustadz Bilal menepuk sofa kosong di sampingnya, supaya Annisa duduk di sampingnya.


Annisa pun perlahan melangkahkan kakinya ke arah Ustadz Bilal dan duduk di samping pria yang tak lagi muda itu.


Ustadz Bilal mengusap kepala Annisa dengan lembut sembari tersenyum miris. Bukan menyalahkan putrinya, malah Ustadz Bilal merasa bersalah atas kesalahan putrinya itu. Ustadz Bilal merasa masih gagal menjadi Ayah yang amanah kepada putrinya itu.


"Maafkan Ayah" Ucap Ustadz Bilal.


Refleks Annisa menoleh ke arah wajah Ustadz Bilal yang terus memperhatikannya.


"Seharusnya Ayah tidak menyerahkan mu pada pria lain, sebelum Ayah berhasil memberikan bekal ilmu kepada mu" ucap Ustadz Bilal lagi.

__ADS_1


Annisa menggelengkan kepalanya," Annisa yang bersalah, Yah" lirih Annisa. Air matanya yang menganak sungai mulai mengalir dari sudut matanya.


*Bersambung


__ADS_2