
"Annisa, kamu mau kemana?" tanya Salwa sambil berlari ke arah Annisa.
"Aku gak sanggup menghadapi semuanya, Wa. Assalamu alaikum." Annisa kembali memutar tubuhnya melanjutkan langkahnya masuk ke ruang tunggu keberangkatan.
"Tapi Annisa" Salwa mengejar Annisa kembali namun langkahnya langsung di cegah dua orang pria yang mengawal Annisa.
"Pak, tolong, jangan membawa Annisa pergi" mohon Salwa mengiba.
"Maaf, Dek. Kami hanya menjalankan perintah" ucap salah satu pria yang mengawal Annisa itu.
"Annisa! tolong jangan pergi!" teriak Salwa menangis, tak ingin di tinggalkan sahabatnya itu.
"Iya Annisa!. Kenapa kamu menghukum kami berdua?. Dan juga kamu belum mendengarkan penjelasan apa pun dari Shaka!" teriak Hasna yang dari tadi diam di belakang Salwa.
Namun Annisa yang masih mendengar teriakan kedua sahabatnya itu, berpura pura tidak mendengarnya. Annisa terus berjalan ke arah pesawat yang akan menerbangkannya sembari menghapus air matanya yang bercucuran.
Cobaan ini terlalu berat untuknya. Belum bisa menyelesaikan satu masalah, kini datang masalah baru lagi. Dan Annisa juga rasanya tidak sanggup untuk mendengar penjelasan Shaka.
"Huaaaa!" Annisa menangis meraung dengan membungkukkan tubuhnya di lorong masuk ke dalam pesawat. Dadanya sangat terasa sesak, sampai Annisa memukuli dadanya sendiri.
"Shakaaaaa!. Kenapa cobaan ini harus seberat ini?. Aku gak sanggup!."
Annisa pun menjatuhkan tubuhnya di lantai lorong bandara itu. Merasa tidak punya tenaga lagi. Tubuhnya lemah, rasanya tidak sanggup untuk meninggalkan Shaka. Tapi untuk menerima Shaka yang memiliki istri lain, Annisa juga tidak sanggup. Saat ini, Annisa merasa di bohongi.
"Kenapa Shaka? Kenapa kamu membohongiku?. Kalau kamu sudah menikahi wanita lain, kenapa masih menikahi ku?" ucap Annisa dalam tangisnya.
Annisa terus menangis sampai cigukan dan susah bernapas karena merasakan dadanya sangat sesak.
"Nona, sebentar lagi pesawat akan segera berangkat" ucap pria yang bertugas untuk mengawal Annisa itu. Namun Annisa tidak mendengarnya karena sibuk meratapi kehidupannya.
"Aku mencintaimu Shaka" ucap Annisa menekuk kedua kakinya lalu duduk meringkuk. Sepertinya gadis remaja berstatus istri itu lupa kalau dia akan segera berangkat.
"Bagaimana ini?" tanya pria itu kepada temannya. Mereka bingung bagaimana untuk membawa Annisa masuk ke dalam pesawat.
Bisa saja mereka menggendongnya, tapi setelah itu tangan mereka akan di patahkan oleh bos besar mereka.
"Nona Annisa. Mr Boy menyuruh Nona untuk segera masuk ke dalam pesawat" ucap pria itu lagi mencoba menyadarkan Annisa dari ratapannya.
__ADS_1
Mendengar nama Abang sepupunya disebut, Annisa langsung mengangkat kepalanya, menoleh ke arah dua orang pria yang berdiri di depannya.
"Mari Nona"
"Aku gak jadi ikut" ucap Annisa sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tapi Nona. Mr Boy sudah banyak menghabiskan uang untuk menyewa pesawat ini demi Nona. Kalau Nona gak jadi ikut, uang Mr Boy akan terbuang sia sia. Setidaknya Nona menemui Mr Boy dulu. Anggap saja Nona pergi liburan untuk menghibur diri" bujuk pria itu. Meski wajahnya sangar tapi cara bicaranya bisa lembut juga.
Annisa diam berpikir, lalu menganggukkan kepalanya. Ada benarnya juga yang di katakan Bodyguard itu. Anggap saja dia pergi berlibur untuk meluaskan pikiran. Perlahan Annisa pun berdiri dari lantai dan masuk ke dalam pesawat.
**
Sedangkan Shaka yang baru sampai di perusahaan langsung masuk ke ruang kerjanya. Belum juga sempat duduk, seorang staf langsung memanggilnya dan menyuruhnya ke ruang Direktur utama perusahaan itu.
"Shaka, Pak Ansel tadi meminta Anda segera keruangan nya" ucap karyawan itu pada Shaka.
Shaka mengangguk sembari tersenyum ramah," Trimakasih." Shaka langsung meningalkan ruangan itu.
Meski menjadi pewaris dari perusahaan itu, Shaka tetap ramah dan tidak sombong pada karyawan lain. Bahkan Shaka meminta semua karyawan perusahaan itu untuk memanggil namanya saja, tanpa embel embel apapun. Apa lagi mengingat usianya masih sangat muda dibanding usia dari seluruh karyawan perusahaan itu.
Tok tok tok!
"Walaikum salam, masuk!" balas Pak Ansel dari dalam.
Sembari membuka pintu, Shaka pun melangkah masuk keruangan Direktur perusahaan itu.
"Ada apa, Pah?" tanya Shaka sambil berjalan ke arah meja kerja sang Papa.
Pak Ansel berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Shaka. Tanpa aba aba...
Plakk!
Satu tamparan langsung melayang ke wajah Shaka. Shaka langsung memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas.
"Kenapa Papa menamparku" lirih Shaka tanpa sadar meneteskan air matanya. Ini pertama kalinya sang Papa menamparnya.
"Kenapa kamu tidak bertanya pada dirimu sendiri, kenapa Papa menamparmu, Shaka?" tanya balik Pak Ansel menatap Shaka marah dan kecewa.
__ADS_1
Shaka pun terdiam berpikir sampai keningnya mengerut. Kesalahan apa yang sudah dilakukannya sampai sang Papa menamparnya.
"Lihat ini" Pak Ansel melempar beberapa lembar photo ke wajah Shaka yang masih berpikir keras memikirkan kenapa sang Papa marah padanya."Ceraikan Annisa." Pak Ansel kembali duduk ke kursi kerjanya. Memijat keningnya yang tiba tiba terasa sakit memikirkan kesalahan yang sudah dilakukan anaknya itu.
"Maksud Papa apa?" Shaka memungut lembaran photo dirinya dan seorang perempuan dari lantai. Shaka memperhatikan photo itu lalu menghela napasnya setelah mengerti kenapa Papa Ansel marah padanya.
"Annisa sudah pergi di bawa Mr Boy. Dan jangan harap kamu akan bisa menemui Annisa lagi. Dan Papa tidak akan bisa membantu mu" jelas Pak Ansel. Mr Boy sendirilah yang memberitahunya tentang kesalahan yang sudah dilakukan Shaka.
Shaka diam diam menemui seorang wanita yang bukan mahramnya, tanpa sepengetahuan Annisa atau keluarganya.
"Aku bisa jelasin semuanya, Pa. Aku gak punya hubungan apa apa dengan Inara selain berteman, Pa" ujar Shaka.
"Jelaskan itu pada Annisa dan keluarganya. Papa tidak bisa membantu kamu." Jelas setelah melihat foto Shaka dan Inara, Pak Ansel langsung menghubungi sahabatnya, Dafa. Menanyakan tentang Inara yang tengah hamil dan bisa berada di kota itu sendirian.
Tok tok tok!
Buar!
Shaka dan Pak Ansel langsung menoleh ke arah pintu yang dibuka Salwa dengan kasar.
"Shaka, Annisa pergi" ujar Salwa sambil bernapas ngos ngosan karena berlari.
"Kemana dia pergi?" lirih Shaka. Usianya masih kecil, dia tidak akan sanggup melawan Mr Boy yang memiliki kematangan di segala bidang.
"Annisa gak mau bilang. Aku ingin menahannya tapi aku langsung dicegah dua orang pria yang ditugaskan untuk mengawalnya" jawab Salwa.
Shaka meneduhkan pandangannya dan tersenyum getir. Sebelumnya dia sudah tau konsekuensi dari apa yang dilakukannya. Menemui seorang wanita diam diam. Bahkan menemani wanita itu belanja. Shaka tau itu salah, tapi Inara sahabatnya memintanya untuk tidak memberitahu siapa siapa dulu, sebelum mentalnya kuat untuk memberitahu masalah yang di hadapi wanita itu saat ini.
"Siapa wanita hamil bersamamu tadi?. Apa kamu menghamili orang sebelum menikah dengan Annisa. Aku lihat perut wanita itu sudah sangat besar dan tidak lama lagi akan melahirkan" ujar Hasna yang datang bersama Salwa.
"Wanita itu namanya Inara. Dia anak dari Tante Lea dan Om Dafa. Dulu Inara sangat menyukai Shaka. Dan aku rasa sampai sekarang Inara juga masih menyukainya." Salwa yang menjawab. Dari kecil Salwa memang tidak terlalu menyukai Inara, meski Inara adalah anak dari sahabat orang tua mereka. Karena dari dulu Inara terlalu menguasai Shaka.
"Inara sudah menikah, Salwa. Kamu selalu aja su'uzon padanya. Bahkan dia sudah hamil, itu artinya dia sudah tidak menyukai aku" sanggah Shaka, tidak suka jika Salwa selalu berprasangka buruk pada Inara.
Salwa mendengus.
"Lantas dimana suaminya?. Kenapa kamu yang harus menemaninya belanja?. Apa kamu pikir Annisa tidak sakit hati melihatmu belanja dengan Inara tadi?. Perasaannya sangat hancur, sampai dia meminta Abang sepupunya untuk membawanya pergi" Salwa kesal tak suka mendengar Shaka membela Inara.
__ADS_1
*Bersambung