
"Masak apa?" Annisa mendekati Shaka yang sibuk memindahkan masakannya ke atas piring.
"Nasi goreng aja" jawab Shaka.
"Kok telornya gak ada?" tanya Annisa melihat nasi goreng di atas piring polos aja.
"Aku lupa kalau stok telor kita udah habis" jawab Shaka.
"Miskin amat" Annisa mengerucutkan bibirnya lantas membawa kedua piring yang berisi nasi goreng itu ke meja makan.
Shaka tersenyum, kemudian membawa piring kecil dan meletakkannya di depan Annisa.
"Katanya telornya habis, ini apa?"tanya Annisa lagi, melihat telor dan sosis goreng yang di letakkan Shaka di depannya.
"Iya memang stok telor kita habis, ini yang terakhir. Ayo cepat makan, biar kita segera berangkat, gak usah manyun manyun gitu." Shaka pun mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan dan langsung melahap nasi goreng buatannya.
"Telor untuk kamu mana?" tanya Annisa lagi, melihat Shaka hanya makan nasi goreng tanpa telor atau sosis.
"Kamu makan aja" Shaka mengangkat satu tangannya untuk mengusap lembut kepala Annisa.
Telornya memang tinggal satu, begitu juga dengan sosisnya.
Annisa mengulas senyum kemudian menyuapkan sosis di depannya ke mulut Shaka."Kamu juga butuh tambahan gizi untuk bekerja."
Shaka menguyah sosis itu, setelah menelannya cowok tampan itu pun menjatuhkan satu kecupan di pipi Annisa.
"Trimakasih sayang."
"Ih! Shaka! bibir mu berminyak tau!. Pasti minyaknya udah nempel di pipiku" Annisa berseru sambil melap bekas ciuman Shaka di pipinya.
"Itu namanya stempel kepemilikan. Jangan di hapus, lagian gak kelihatan juga." Shaka menarik tangan Annisa dari pipi gadis itu supaya bekas ciumannya masih menempel di pipi Annisa.
"Nanti bisa numbuh jerawat, gimana?."
"Kalau jerawatnya cuma satu, itu bikin manis. Gak apa apa, aku tetap cinta." Lagi Shaka menjatuhkan satu kecupan di pipi Annisa."Dua juga gak apa apa."
"Ya udah, kalau gitu aku juga akan buat numbuh jerawat di wajah mu." Annisa pun membalas mengecupi wajah Shaka, membuat Shaka tertawa tawa karena kegelian.
"Sayang, ayo cepat makan, nanti kita bisa terlambat" ujar Shaka berusaha menghentikan Annisa yang terus mengecupi seluruh wajahnya.
Selesai menghabiskan makanan mereka, Shaka pun mengantar Annisa ke sekolah. Dan bukan hanya sampai di halaman sekolah, malah Shaka mengantar Annisa sampai ke dalam kelas. Sepanjang perjalanan pasangan suami istri yang masih remaja itu saling bergandengan tangan sampai ke kelas.
"Sayang, aku pergi dulu, semangat belajarnya." Shaka berpamitan dan mengecup kening Annisa kilas saat istrinya itu menyalam tangannya.
"Hati hati" ucap Annisa sebelum Shaka benar benar berlalu dari dalam kelas.
Kelas masih sunyi, baru ada dua siswi di dalamnya. Hasna dan Salwa juga belum datang. Annisa mengulas senyumnya, mengingat hubungannya dan Shaka sudah baik kembali.
**
__ADS_1
Shaka melangkah ke arah parkiran mobilnya, seketika menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang sangat di kenalnya masuk ke dalam lingkungan sekolah dengan menggunakan motor.
'Ngapain dia ke sini?.'
Shaka membatin dan terus memperhatikan pria itu, kemudian melangkahkan kakinya mendekati pria tersebut.
"Ada apa?"
Pria itu bertanya pada Shaka dengan kening mengerut.
"Ustadz Furqon ngapain ke sini?. Bukankah Ustadz sudah berhenti mengajar di sini?" tanya balik Shaka menatap Furqon tak suka,
"Saya kembali mengajar di sini lagi." Furqon menjawab dengan mengulas senyum di bibirnya.
Shaka terdiam, dadanya berdetak kencang tak karuan karena khawatir Annisa dan Ustadz akan sering dekat dekatan.
"Tenang saja, aku tidak akan mengganggu istrimu" ucap Furqon lagi melihat Shaka terdiam dan segera berlalu dari hadapan Shaka.
Pandangan Shaka langsung mengekori kemana arah Furqon melangkah. Entah kenapa Shaka tidak percaya jika Furqon tidak akan mengganggu Annisa. Atau juga Annisa tidak mengganggu.
"Shaka"
Lamunan Shaka langsung buyar saat mendengar seseorang memanggilnya, Shaka pun langsung menoleh ke arah gadis yang berdiri di depannya.
"Kenapa kamu melamun?Ada apa?." Annisa mengerutkan keningnya ke arah Shaka.
"Aku di suruh Ibu Pita Loka mengambil buku tugas kami ke kantor guru lewat WA" jawab Annisa sembari mengulas senyum.
"Kamu gak boleh ke sana. Ayo kembali lagi ke kelas mu." Shaka menarik lengan Annisa, membawa gadis itu kembali ke kelasnya.
"Ikh! Shaka, kamu kenapa sih!. Aku kan di suruh Ibu Pita Loka" Annisa berseru kesal pada Shaka.
Sampai di kelas, Shaka mendudukkan Annisa di bangkunya."Ustadz Furqon ngajar di sini lagi. Aku gak mau kamu menemuinya. Sekarang dia lagi di kantor guru, kamu gak boleh ke sana. Nanti kamu suruh Salwa dan Hasna aja yang ngambil ke sana."
"Ustadz Furqon ngajar di sini lagi?" ulang Annisa memastikan apa yang di dengarnya.
"Iya" jawab Shaka wajahnya terlihat sangat kesal.
Annisa berdiri dari kursinya dan menarik Shaka keluar kelas dengan cara berlari, membuat Shaka terpaksa mengikutinya.
"Sayang, untuk apa kamu menemuinya?." Shaka sudah tidak suka Annisa dan Furqon bertemu, ini malah istrinya itu ingin menemui Furqon.
"Aku ingin menanyakan sesuatu" jawab Annisa terus membawa Shaka ikut berlari bersamanya sampai orang orang di sekolah memperhatikan mereka.
"Tapi aku gak suka kamu menemuinya."
"Ini sangat penting."
Sampai di depan pintu ruangan guru, Annisa menghentikan larinya kemudian mengetuk pintu ruangan itu sambil bernapas ngosngosan.
__ADS_1
"Assalamu alaikum" ucap Annisa.
"Walaikum salam" balas Furqon dan guru lain yang ada di ruangan itu.
Annisa pun melangkahkan kakinya masuk tanpa melepas tangan Shaka dari genggamannya.
"Ada apa, Annisa?" tanya Ustadz Furqon melihat Annisa dan Shaka sudah berdiri di depan mejanya.
"Aku ingin bicara soal Kak Yasmin, Ustadz. Kak Yasmin masih enggan berbaikan denganku. Kak Yasmin masih berpikir kalau aku masih mencintai Ustadz Furqon" jawab Annisa dengan padangan meneduh. Jelas sekali kesedihan tergambar di wajah gadis itu.
Bagaimana Annisa tidak sedih, Yasmin Kakaknya yang sangat menyayanginya selama ini, sekarang membencinya. Bahkan semalam Yasmin yang datang bersama Ustadz Bilal dan Umi Hani ke rumahnya tidak menegurnya sama sekali.
Ustadz Furqon dan Shaka terdiam, pandangan mereka sama sama memperhatikan wajah sedih Annisa.
"Aku ingin minta tolong sama Ustadz. Tolong buktikan pada Kak Yasmin, kalau Ustadz mencintainya." Perlahan lahan mata Annisa terlihat berkaca kaca saat berkata seperti itu."Ustadz benaran mencintai Kakak Ku kan?."
Annisa melap air matanya yang mengalir perlahan lahan.
Ustadz Furqon yang di tanya diam berpikir dan menyelami hatinya sebelum menjawab pertanyaan Annisa. Benarkah dia mencintai Yasmin, atau hanya sekedar mengagumi suara merdu wanita itu ketika melantunkan ayat suci Alqur'an.
"Aku sangat menyayangi Kak Yasmin" lirih Annisa.
"Sayang, jangan memaksa Ustadz Furqon untuk mencintai Kak Yasmin." Shaka menarik Annisa ke dalam pelukannya, kemudian menghapus air mata Annisa.
"Aku gak mau Kak Yasmin terus salah paham sama aku" ucap Annisa lirih, wajahnya nampak sedih banget.
"Aku mencintai Yasmin. Kamu gak perlu khawatir. Dan juga, aku akan meluruskan kesalah pahaman yang sudah terjadi. Aku pasti akan membersihkan nama kamu juga" ucap Ustadz Furqon.
"Itu gak perlu. Buktikan aja kalau Ustadz itu tidak menjebak Istriku di kamar mandi itu" cetus Shaka tidak suka melihat Furqon.
Furqon menghela napasnya lantas berdiri dari kursinya. Dia harus mengalah dan berusaha memahami sikap Shaka yang masih remaja.
"Pasti aku akan membuktikan itu. Karna aku juga tidak mau Yasmin dan keluarga salah paham dengan saya." Setelah mengatakan itu Furqon keluar dari ruang guru tersebut.
"Kamu gak perlu mengemis seperti itu padanya." Shaka membawa Annisa keluar dari ruang guru itu.
"Kak Yasmin masih salah paham sama aku. Aku sangat menyayanginya. Aku gak mau jika sampai hubungan kami rusak." Annisa menangis terisak kembali.
Selama ini Annisa dan Yasmin tidak pernah bermasalah, apa lagi sampai Yasmin marah sampai mendiamkannya. Yasmin sangat menyayanginya, selalu mengerti dan memahaminya.
"Kak Yasmin hanya membutuhkan waktu untuk memikirkannya. Tenanglah, Kak Yasmin menyayangi mu. Dia tidak akan marah terlalu lama sama kamu" ujar Shaka, menuntun Annisa berjalan kembali yang sempat menghentikan langkahnya di depan pintu ruang guru itu.
*Bersambung.
# Minal aidil walfaizin mohon maaf lahir dan batin.
Otor lama gak up. karena otor lagi pulang kampung, ngumpul keluarga. harap di maklumi ya. Nanti kalau edisi pulkam nya udah selesai, baru otor akan rutin up lagi.
Trimakasih sudah setia menunggu lanjutan cerita receh otor ini. Dukung terus karya karya otor ya, supaya otor tambah bersemangat menulisnya.
__ADS_1