
Shaka, aku ke rumah Ayah ya, tadi Kak Yasmin datang menjemputmu. Sekarang kami lagi di butik mencari baju lamaran untuk Kak Yasmin.
Begitulah pesan Annisa yang di kirimnya pada Shaka. Shaka kembali sibuk dengan berkas di tangannya setelah membaca pesan Annisa. Tadi, setelah pulang sekolah, Shaka langsung ke perusahaan untuk membantu Papa nya bekerja dan sekalian belajar mengelola perusahaan.
"Kamu udah kasih tau Shaka kan, kalau aku membawa mu keluar?" tanya Yasmin yang duduk di kursi yang berada di samping Annisa.
Setelah selesai memilah milah baju di butik milik Umi Fadilah, sekarang kedua Kakak beradik itu sudah berada di salah satu restoran di dalam pusat perbelanjaan.
"Udah, tapi dia gak balas pesanku." Wajah Annisa nampak cemberut, bibirnya terlihat imut.
"Mungkin dia lagi sibuk" ucap Yasmin.
"Assalamu alaikum"
Dug dug dug!
Jantung Annisa auto berdetak dengan kencang mendengar suara pria yang sangat Annisa kenal.
"Walaikum salam" balas Yasmin mengulas senyumnya ke arah pria yang berdiri di sampingnya, tak lain adalah Furqon.
" Umi menyuruhku mencari kalian" ujar Furqon, kemudian meletakkan sebuah dompet di depan Annisa.
Refleks Annisa menoleh ke arah dompet yang diletakkan pria yang pernah menabuh genderang perang itu di dadanya, kemudian menoleh ke arah wajah Furqon.
"Assalamu Alaikum, Annisa. Apa kabar?." Tadi Annisa belum menjawab salamnya, sehingga Furqon mengulanginya.
"Walaikum salam, a..aku baik" jawab Annisa sedikit gugup.
'Aduh, kenapa aku harus gugub. Bisa bisa nanti Kak Yasmin salah sangka' batin Annisa.
Mereka sudah lama tidak bertemu, mungkin sudah ada lima bulanan.
Furqon tersenyum tipis, Annisa belum juga berubah, masih suka menatap intens wajah lawan jenisnya.
"Tundukkan pandangan mu, Annisa" tegur Furqon.
Berhasil membuat wajah Annisa merona salah tingkah dan langsung mengarahkan pandangannya ke arah makanan di depannya.
Melihat itu, Yasmin hanya bisa menghela napasnya. Berpikir jika Annisa belum melupakan Furqon sepenuhnya, begitu juga dengan Furqon yang sempat tak sengaja menaruh hati pada Annisa.
'Astaqfirullohal azim' ya Allah, ampuni Hamba' batin Annisa, menyadari kesalahannya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu" pamit Furqon tidak enak berada di antara dua wanita yang menyukainya itu.
"Apa gak minum atau makan dulu bersama kami?" tawar Yasmin ramah.
__ADS_1
"Sepertinya Umi sudah menungguku di parkiran. Tadi aku datang ke sini untuk menjemput Umi" tolak Furqon secara halus.
"Oo! kalau begitu salam buat Tante Fadilah. Dan tunggu sebentar" Yasmin berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke arah etalase yang terdapat bermacam kue di dalamnya. Yasmin pun memesan beberapa kue untuk di berikannya pada Furqon.
"Titip buat Tante Fadilah" ucap Yasmin memberikan kantong plastik berwarna putih di tangannya kepada Furqon.
"Ini banyak sekali" Furqon dengan senang hati menerima kue kue itu. Bukan karena tidak pernah memakan kue. Yang di sukai Furqon adalah perhatian Yasmin kepada Uminya.
"Di rumah kan banyak oranb" balas Yasmin.
"Kalau begitu trimakasih" Furqon semakin merekahkan senyumnya ke arah Yasmin.
"Sama sama" balas Yasmin.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai bertemu di hari Minggu. Assalamu alaikum."
"Walaikum salam"
Setelah Furqon melangkahkan kakinya, baru Yasmin mendudukkan tubuhnya kembali di kursinya tadi.
"Sayang"
Annisa dan Yasmin langsung menoleh ke arah Shaka yang datang ke meja mereka.
Dud dug dug!
"Kok ngelihatin aku kek gitu sih? Ada apa?" Shaka bingung melihat ekspresi wajah Annisa seperti orang melihat hantu.
"Kok kamu tau kami ada di sini?" tanya Annisa malah.
"Kamu kenapa sih sayang?" Shaka menarik hidung Annisa sampai membuat gadis miliknya itu mengaduh kesakitan dan langsung melepas tangannya.
"Dari mana kamu tau kami di sini?. Aku kan tadi hanya kasih tau kalau kami sedang di butik" tanya Annisa lagi.
"Aku bertemu Ustadz Furqon di depan. Katanya kalian di sini" jawab Shaka, membuat Annisa terdiam dan memandangi wajah Shaka.
"Ka- kamu gak marah?."
Shaka mengulas senyumnya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi kosong yang berada di samping Annisa.
"Kenapa aku harus marah?" tanya balik Shaka. Cemburu juga harus ada logikanya kan. Kalau hanya sekedar ketemu, dan bertemunya juga tidak sendirian, untuk apa marah atau cemburu?.
Annisa yang tidak bisa menjawab, pun menggaruk leher belakangnya yang tertutup hijab. Dia pikir Shaka akan marah kalau dirinya bertemu dengan Furqon, pria yang pernah di sukai Annisa.
"Kamu aja tadi yang salah tingkah saat bertemu ustadz Furqon" cibir Yasmin mengingat tadi Annisa sempat salah tingkah melihat Furqon.
__ADS_1
"Mana ada aku salah tingkah. Aku cuma kaget aja melihat ustadz Fur...." Annisa menoleh ke arah Shaka saat akan menyebutkan nama Furqon. Annisa harus meminta ijin dulu pada suaminya, apakah di ijinkan untuk menyebutkan nama pria yang satu itu.
Yasmin mengangkat kedua alisnya ke arah Annisa dan Shaka. Melihat Annisa sepertinya tidak berani menyebutkan nama itu di depan Shaka.
"Boleh aku bilang sebut namanya?" tanya Annisa tersenyum masam.
"Gak boleh" jawab Shaka cepat.
"Jadi aku boleh menyebutnya apa?" bingung Annisa.
"Ngapain kamu menyebut nyebut namanya?" tanya balik Shaka.
"Kan, sebentar lagi ustadz Fu...."
Annisa langsung terdiam melihat Shaka menatapnya tajam.
Yasmin yang duduk di depan mereka, mengulas senyum melihat Annisa takut pada Shaka.
"Kalau gak boleh menyebutnya Ustadz Furqon, sebut aja namanya Ustadz Rasyid" ujar Yasmin.
"Ah, ya benar itu, ustadz Ra...."
Annisa terdiam kembali, karena Shaka tiba tiba memasukkan paha ayam goreng ke mulutnya.
"Cepat habiskan makanannya. Biar aku mengantar mu pulang" ujar Shaka, menarik ayam itu kembali dari mulut Annisa, lalu memakannya.
"Tapi besok malam kita tidur di rumah ku ya" ujar Annisa, sambil mengunyah ayam di mulutnya.
Lusa adalah hari lamaran Yasmin dan Furqon. Pasti di rumah orang tuanya para keluarga besar akan berkumpul. Dan nanti Annisa pasti di butuhkan tenaganya untuk membantu bantu mempersiapkan acara.
"Iya, sayang" balas Shaka, wajah Annisa menjadi sumiringah. Annisa sudah rindu dengan kamarnya, karena semenjak menikah Annisa sangat jarang pulang ke rumah orang tuanya.
"Annisa, Shaka, sepertinya Kakak akan pulang duluan. Nanti malam Kakak harus mengajar mengaji di masjid lagi" pamit Yasmin setelah menghabiskan makanan di piringnya.
Memutuskan tidak melanjutkan pendidikannya di Mesir lagi. Yasmin pun menerima tawaran menjadi guru mengaji untuk anak anak di sebuah masjid.
"Iya, Kak. Hati hati, belanjaan Annisa bawa ke rumah aja dulu. Nanti pas ke rumah, baru kami bawa" ujar Annisa.
Yasmin menganggukkan kepalanya sembari berdiri dari kursinya. Setelah mengecup kedua pipi Adiknya itu, Yasmi. langsung pergi setelah sempat mengucapkan salam.
"Seharusnya dulu kamu tidak menaruh hati pada Ustadz Furqon. Jadi kasihan Kak Yasmin, pernikahannya yang sudah lama di rencanakan orang tua kalian, harus tertunda" ujar Shaka menatap Yasmin yang semakin menjauh dari pandangan mata mereka.
"Hikmah di balik itu semua, aku menemukan jodoh yang tepat untukku. Tanpa berpikir panjang, demi Kak Yasmin aku mengambil ke putusan yang sangat besar untuk kehidupanku. Aku menerima lamaran mu. Memutuskan menikah dengan mu di saat usiaku masih sangat muda. Di saat pernikahan belum pantas untuk ku. Aku memutuskan menikah dengan mu, tanpa berpikir bagaimana resiko ke depannya. Mengubur semua cita citaku, mimpi mimpiku di dalam pernikahan kita."
*Bersambung
__ADS_1
#Marhaban ya Ramadhan. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan.