Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Apa itu salah


__ADS_3

"Suami Inara masuk penjara karena ketahuan mengkonsumsi barang terlarang. Aku hanya kasihan melihat Inara menjalani kehamilannya sendirian. Aku hanya sedikit membantunya" jawab Shaka.


Salwa mendengus.


"Kalau begitu lepaskan Annisa. Karena tidak ada wanita yang sanggup melihat suaminya perhatian pada wanita lain" ujar Salwa lagi, berbicara ketus pada Shaka.


"Tidak akan" tegas Shaka.


"Aku gak ngerti jalan pikiran mu, Shaka. Lagian Annisa sudah pergi, apa kamu pikir Mr Boy akan memberimu ijin untuk menemui Annisa?. Jangan harap."


Shaka terdiam sebentar lalu menghela napasnya kasar. Benar yang dikatakan Salwa, dia tidak akan mudah untuk menemui Annisa lagi.


"Annisa istriku, aku lebih berhak padanya dari siapa pun" ucap Shaka terdengar ragu. Shaka ragu dengan kemampuannya untuk menghadapi Mr Boy. Pria kaya raya, yang memiliki kerajaan bisnis di luar dan dalam Negri. Hampir semua pengusaha menyegani pria matang itu.


"Kau sudah menyakitinya" ujar Salwa lagi.


"Apa yang terjadi?, kenapa Annisa bisa pergi?." Tiba tiba Ibu Drabia masuk ke ruangan itu. Membuat Shaka dan yang lainnya terdiam dan sama sama memandang wanita paru baya yang masih terlihat cantik itu.


Saat di perjalanan pulang dari bandara, tadi Salwa mengabari sang Mama, kalau Annisa pergi meninggalkan Shaka. Sehingga wanita yang betah di rumah itu terpaksa melangkahkan kakinya ke perusahaan.


"Shaka sering menemui Inara diam diam, Ma. Inara lagi hamil, dan suaminya entah dimana" Salwa yang menjawab.


Ibu Drabia terdiam sejenak dan menajamkan pandangannya ke arah Shaka.


"Shaka!" panggil Bu Drabia menuntut penjelasan.


"Ma, Inara dalam masalah. Aku hanya membantunya" jelas Shaka meneduhkan pandangannya kepada sang Mama.


"Yang ingin Mama tanyakan, kenapa Annisa pergi, sayang." Ibu Drabia menarik napasnya untuk tetap bisa menahan emosinya.


Shaka tertunduk, tak bisa menjawab pertanyaan Mama.


Bukh!


"Awu!"


Shaka langsung meringis kesakitan saat merasakan sesuatu yang keras mendarat di perutnya.


"Mama tidak mau tau, kamu harus berhasil membawa Annisa kembali. Jika tidak, Mama akan patahkan kaki mu itu sampai kamu tidak bisa berjalan" ancam Bu Drabia berbicara dengan rahang mengeras dan langsung keluar dari ruangan itu.


"Anak itu, tidak jauh beda dengan Papanya. Ya Tuhan, kenapa pria lebih egois dan tidak punya perasaan" gerutu Ibu Drabia saat akan memasuki lif perusahaan itu.


Wanita paru baya itu akan pergi ke rumah orang tua Annisa untuk meminta maaf atas kesalahan yang di lakukan Shaka. Setelah itu akan menemui Inara, putri dari sahabatnya bernama Lea.


**

__ADS_1


Shaka melangkahkan kakinya gontai masuk ke dalam rumahnya dan Annisa. Rumah itu terasa sangat sunyi padahal baru semalam Annisa pergi meninggalkan rumah.


Sampai di dalam kamar, Shaka langsung mengemas beberapa pakaiannya ke dalam tas. Shaka akan menyusul Annisa ke Luar Negri. Memohon pada Mr Boy supaya Annisa dikembalikan padanya. Setelah selesai berkemas, Shaka langsung keluar dari dalam rumah itu.


"Assalamu alaikum."


Pandangan Shaka langsung terarah ke arah pria yang berdiri di depan pintu saat Shaka menutup pintu rumahnya kembali.


"Walaikum salam, Ayah" balas Shaka menundukkan pandangannya dari Ustadz Bilal yang memperhatikannya.


"Ayah percaya, Nak. Kamu tidak akan menghianati putri Ayah." Ustadz Bilal mengangkat sebelah tangannya untuk menepuk bahu Shaka.


"Shaka minta maaf, Yah. Shaka mengaku salah" lirih Shaka.


"Kamu tidak perlu menjemputnya. Itu akan percuma. Karena kamu tidak akan bisa menemui Boy di sana."


Shaka langsung mengangkat wajahnya ke arah Ustadz Bilal." Lalu apa yang harus kulakukan, Yah?. Dan aku tidak bisa berlama lama berjauhan dengan Annisa."


"Kamu yakin kan, kalau Annisa mencintai mu?" tanya Ustadz Bilal.


Shaka menganggukkan kepalanya.


Ustadz Bilal mengulas sedikit senyumnya dan menepuk pelan bahu Shaka lagi."Berikan Annisa waktu untuk berfikir, Nak."


"Tapi, Yah" tanpa sadar Shaka meneteskan air matanya.


Shaka membeku dan perlahan melepas tas di tangannya dan membiarkannya jatuh ke lantai teras rumah setelah mendengar penuturan Ustadz Bilal barusan yang menolaknya secara halus. Itu artinya Shaka tidak bisa melihat Annisa lagi dalam jangka waktu yang tidak bisa di pastikan.


"Ayah, aku mohon" lirih Shaka.


"Kau sudah menghancurkan perasaan Annisa, Shaka!. Aku percaya padamu, tapi apa yang kau lakukan?."


Shaka dan Ustadz Bilal langsung menoleh ke arah Ferel yang baru datang bersama Calix, Dafi dan Dzaki.


"Aku hanya membantu sedikit teman masa kecilku, apa itu salah?" tanya balik Shaka. Sepertinya semua pihak sudah menyalahkannya. Iya, memang dia berada di posisi yang salah saat ini. Tapi Shaka punya alasan untuk melakukan itu.


Ferel berdecih," Kau membantu teman mu secara diam diam. Kau sering menemuinya ke rumah kontrakan wanita itu. Dan bahkan kau menemaninya belanja. Apa kamu berpikir, Annisa tidak begitu berharga bagi mu? Sehingga tidak perlu kamu memikirkan perasaannya. Annisa juga memiliki teman masa kecilnya, bro!."


"Ferel, sudah Nak" Ustadz Bilal mengusap bahu Ferel yang terlihat emosi pada Shaka. Karena tak ingin menimbulkan keributan di tempat itu.


"Jangan harap kau bisa bertemu Annisa lagi. Dan lihat saja, aku akan menghancurkan mu seperti kau sudah menghancurkan perasaan Annisa" ancam Ferel lantas melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu. Dan langsung di ikuti Calix, Dafi dan Dzaki dari belakang.


"Kamu lihat itu, Nak?. Para sepupunya lebih emosi dari Ayah. Mereka tidak akan mendengarkan Ayah lagi. Mereka akan kompak jika salah satu di antara mereka ada yang tersakiti. Dan mereka jumlahnya sangat banyak. Kamu harus sungguh sungguh meluluhkan hati mereka" ujar Ustadz Bilal.


"Ayah aku minta maaf. Tolong bantu aku untuk menemui Annisa, Yah" mohon Shaka mengiba.

__ADS_1


Shaka membantu Inara, bukan karena Inara sahabat kecilnya saja. Tapi Shaka selalu mengingat begitu berjasanya di masa lalu kedua orang tua Inara kepada kedua orang tuanya. Sehingga Shaka merasa perlu membantu Inara yang sedang kesusahan. Tapi karena statusnya, yang dilakukannya itu menjadi sebuah kesalahan.


**


Di tempat lain, Annisa terus berteriak teriak di dalam alam bawah sadarnya. Wajahnya terlihat basah di tumbuhi oleh butiran butiran keringat. Tubuhnya terasa panas, sedangkan wajahnya nampak pucat.


"Aku gak mau Ayah sama Mama bercerai!. Aku mohon Yah! jangan biarkan Mama pergi!. Aku gak mau jauh dari Mama. Aku juga gak mau jauh dari Ayah!."


"Ayah, cegah Mama pergi!. Kenapa kalian harus bercerai?. Apa kalian gak mikirin perasaanku?. Aku membutuhkan kalian berdua. Kenapa kalian gak mengerti?" teriak Annisa lagi.


"Nona, sadarlah. Kamu sedang bermimpi" salah satu perawat yang menjaga Annisa itu, menggoncang lengan Annisa. Namun Annisa belum juga kembali dari alam bawah sadarnya.


"Apa kita beri saja dia obat penenang" ujar teman perawat itu.


"Kita harus menunggu Dokter yang menanganinya. Kita tidak boleh sembarangan memberinya obat" jawab perawat itu.


"Tapi dari tadi dia terus mengigau."


"Sepertinya sebentar lagi Dokter William akan datang. Lebih baik kita tunggu saja dan mencoba menyadarkannya."


Ceklek!


Ruang perawatan itu tiba tiba terbuka dari luar. Kedua perawat di ruangan itu langsung menoleh. Terlihat seorang pria bertubuh tinggi dan tegap masuk.


"Bagiamana keadaannya?" tanya pria berwajah blasteran Indonesia itu dengan suara beratnya.


"Dari tadi Nona terus berteriak, Mr" jawab perawat itu.


Mr Boy menghela napasnya lantas mendekati Annisa yang terbaring di atas brankar. Mr Boy pun mendudukkan tubuhnya di pinggir brankar menghadap Annisa setelah kedua perawat itu menjauh.


"Annisa" panggil Mr Boy dengan lembut, lalu menghapus keringat di kening Annisa dengan sapu tangannya.


Annisa yang di panggil tidak mendengarnya. Gadis remaja itu sibuk dengan tangisannya.


"Kalian keluarlah" perintah Mr Boy kepada kedua perawat wanita itu.


"Baik, Mr" patuh kedua perawat itu.


Setelah pintu ruangan itu tertutup rapat kembali. Mr Boy langsung meneguk air minum yang berada di atas meja nakas, lalu menyemburnya ke wajah Annisa.


Sontak saja Annisa langsung bangun dan membuka matanya. Gadis remaja itu langsung mengeraskan rahangnya melihat wajah Mr Boy tersenyum ke arahnya.


"Kamu mimpi apa? Hm!" Mr Boy melap kembali wajah Annisa yang basah karena disemburnya.


"Abang Boy sangat menyebalkan" gemas Annisa lantas mengambil tangan Abang sepupunya itu dan langsung menggigitnya.

__ADS_1


"Aaaa!" Mr Boy berteriak kesakitan.


*Bersambung


__ADS_2