
Yasmin mengulurkan tangannya menghapus air mata Annisa."Kamu kenapa?, bukan karena Kakak pulang kan, kamu menangis seperti ini?."
Annisa tidak langsung menjawab, ia kembali memeluk tubuh Yasmin."Aku mencintai Furqon Kak. Maafkan aku. Aku gak tau harus bagaimana sekarang. Sebentar lagi aku akan menikah dengan Shaka."
Yasmin terdiam sejenak. Ia juga mencintai Furqon, tapi tidak sedalam cinta Annisa kepada pria itu.
"Lalu kenapa kamu menerima lamaran Shaka?" tanya Yasmin.
"Kakak juga mencintai Ustadz Furqon. Bagaimana bisa aku mengambilnya dari Kakak, sedangkan kalian sudah di jodohkan sejak dulu" jawab Annisa di dalam Isak tangisnya.
"Tapi Kakak sudah melepasnya untukmu. Kakak ikhlas asal Adikku ini bahagia" Yasmin mengiring tubuh Annisa untuk duduk ke pinggiran kasur.
"Aku sudah terlanjur menerima lamaran Shaka waktu itu, baru Tante Fadilah dan Om Ustadz Munzir datang melamarku. Dan Ayah juga menolak lamaran mereka" cerita Annisa kepada Kakaknya.
"Benar kata Furqon, kamu mengambil keputusan dalam keadaan putus asa, kamu terlalu tergesa gesa memutuskan untuk menikah dengan Shaka. Kamu tidak sabar dalam berdoa."
Annisa menghentikan tangisnya, lalu mengarahkan pandangannya ke wajah Yasmin dengan kening mengerut.
"Furqon sudah menceritakannya padaku, kalau selama ini kamu adalah gadis kecil yang di carinya. Gadis kecil yang membuatnya jatuh cinta dari suara merdunya. Gadis kecil yang terselip di dalam doa doanya selama sepuluh Tahun ini" ungkap Yasmin.
"Maksud Kak Yasmin apa?" Annisa menjadi bingung, di katakan gadis kecil yang di cari Furqon selama ini. Annisa tidak tau apa apa soal itu. Dan bagaimana bisa dia menjadi gadis kecil yang di cintai Furqon. Sedangkan Annisa baru mengenal Furqon beberapa Bulan ini.
"Tapi sudahlah, kamu akan menikah dengan Shaka. Sebaiknya kamu jangan memikirkan Furqon lagi. Sebaiknya kamu fokus dengan kehidupanmu dengan Shaka nantinya" Yasmin menjeda sebentar kalimatnya." Ingat Dek, setelah kita menikah, surga kita akan berpindah, dari bawah telapak kaki Ibu, ke bawah telapak kaki suami. Dan bahkan hidup kita adalah hak sepenuhnya suami kita, bahkan Ayah tidak punya hak sama sekali kepada kita."
"Kakak yakin, Shaka adalah laki laki yang baik. Dia juga mencintai kamu. Tinggal kamu, kamu hanya perlu membuka hati untuknya. Dan juga bukankah tujuanmu menikah itu untuk ibadah?."
Annisa menganggukkan kepalanya, sambil menghapus sisa sisa air matanya." Ustadz Furqon selalu datang menghantuiku, membuatku tidak tenang dan terus memikirkannya. Semakin aku ingin melupakannya, malah cinta ini semakin menggebu gebu kepadanya."
__ADS_1
Yasmin mengulas senyumnya,"Kamu sedang di goda syetan. Kamu tau, syetan tidak suka dengan yang namanya pasangan suami istri. Makanya syetan akan menggoda orang orang yang akan menikah dengan cara menghadirkan cinta yang lain dan sebagainya. Dan setelah sah menjadi suami istri, syetan juga pasti menggoda bagaimana caranya supaya pasangan suami istri itu berantem dan berpisah. Makanya, kita sebagai manusia, di anjurkan berzikir, terus mengingat Allah, supaya syetan tidak berhasil merayu kita."
"Berarti Mama sama Ayah waktu itu tergoda syetan dong, makanya sampai bercerai" ucap Annisa.
"Iya, ini syetan nya."
Refleks Annisa dan Yasmin menoleh ke arah Ustadz Bilal dan Umi Hani yang masuk ke dalam kamar itu bersama baby Hanif.
"Enak aja bilang aku syetan" cetus Umi Hani berbicara mengerucutkan bibirnya. Kapan dia menggoda Ustadz Bilal?. Perasaan setelah menikah dengan suami pertamanya, mereka tidak pernah bertemu lagi sampai puluhan Tahun lamanya.
"Kamu selalu menggoda pikiranku dari kejauhan, Hani ku sayang" gombal Ustadz Bilal. Membuat Umi Hani mendengus namun wajahnya tampak berbinar.
Ustadz Bilal pun mendudukkan tubuhnya di samping Annisa, menarik tubuh putrinya itu ke dalam pelukannya dan mengecup ujung kepalanya. Tentu Bilal paham dengan apa yang di rasakan putrinya itu saat ini. Annisa memilih menikah dengan pria lain demi menjaga perasaan Kakaknya, Yasmin.
"Jodoh, rejeki, maut adalah ketentuan Allah" ucap Bilal sambil mengusap usap rambut panjang Annisa dari belakang."Apa pun yang di takdir kan Allah, yakinlah, kalau itu yang terbaik untuk kita. Kamu sendiri yang mengambil keputusan menikah dengan Shaka, Nak. Ayah hanya mendukung mu. Dan sekarang kamu tidak bisa mundur lagi. Jika pun Ayah berhak membatalkan rencana pernikahan mu dan Shaka, dan menikahkan mu dengan Furqon. Tapi coba pikirkan, Nak. Shaka dan keluarganya pasti terluka. Percayalah Nak, kamu tidak akan bisa bahagia di atas penderitaan orang lain meski kamu hidup bersama Furqon, laki laki yang kamu cintai dan mencintai kamu."
Annisa menggelengkan kepalanya, dua juga bingung dengan dirinya sendiri. Tapi maklum saja, usianya masih sangat muda, pikirannya juga masih labil.
"Umi juga dulu seperti itu. Sudah sekali menerima cinta mendiang suami Umi dulu. Tapi berjalan seiring waktu, pada akhirnya Umi bisa mencintai almarhum suami Umi dulu. Asal kamu mau membuka hatimu Annisa, kamu pasti bisa mencintai Shaka nanti" sambung Umi Hani yang duduk di samping Ustadz Bilal.
"Iya, Annisa. Bukankah Shaka itu pria yang tampan mirip aktor Korea. Kakak aja naksir melihatnya."
Bukh!
"Shaka itu calon suamiku, jangan sampai aku harus gagal menikah lagi karena kita menyukai laki laki yang sama lagi" cetus Annisa setelah memukul lengan Yasmin.
Yasmin pun tersenyum.
__ADS_1
"Kalau gagal menikah dengan Shaka kan, kamu bisa menjadi laku laki lain lagi" ujar Yasmin, tau kalau Annisa suka tebar pesona dan memberi harapan palsu kepada cowok cowok tampan di sekolah.
"Baru berhasil mengait dua pria aja, Ayah udah marah besar, sampai mengguyurku di kamar mandi" Annisa mengerucutkan bibirnya mengingat kemarahan Ayahnya waktu itu.
Yasmin mengarahkan pandangannya ke arah Ustadz Bilal. Benarkah Ayah mereka itu memarahi Annisa sampai mengguyurnya?.
"Kalian harta Ayah yang paling berharga. Kalau kalian hancur, Ayah lah yang paling merugi" ucap Ustadz Bilal.
**
Furqon yang sedang berada di ruang kerjanya, dari tadi berdiri memandang keluar kaca jendela ruangan itu. Pikirannya terus tertuju pada satu nama, yaitu Annisa. Gadis yang di cintai nya sejak lama, dan harus mengikhlaskannya menikah dengan laki laki lain.
"Ini, aku sudah membeli tiket pesawat untukmu. Nanti sampai di Yaman, Hilman akan menjemputmu ke bandara."
Furqon memutar tubuhnya ke arah Thariq yang masuk ke ruangan itu. Dari pada terus di landa dilema memikirkan Annisa. Furqon pun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan Agamanya ke Yaman. Berharap dengan menyibukkan diri belajar Agama, Furqon bisa move on dari cinta lamanya.
"Hilman memiliki adik perempuan di sana, namanya Aisyah. Masih muda juga, kalau gak salah usianya kira kira sembilan belas Tahun. Orangnya putih, dan sepertinya cantik."
Furqon mengerutkan keningnya mendengar kalimat terakhir Thariq.
"Aisyah memakai niqab, jadi saat bertemu dengannya, aku gak bisa melihat wajahnya" jelas Thariq bisa menebak kebingungan Furqon.
"Aku tidak ingin memikirkan wanita saat ini" ujar Furqon nampak kesal. Thariq pun menepuk pelan pundaknya.
"Suatu saat kamu perlu kembali memikirkan wanita."
*Bersambung
__ADS_1