Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Menjadi beban.


__ADS_3

Puas menghabiskan waktu di rumah Shaka dan Annisa. Ferel, Calix, Dzaki dan Dafi pun pulang ke rumah masing masing. Besok mereka harus ujian lagi. Dan nanti malam mereka akan membantu Calix dalam rangka acara ulang Tahun pernikahan orang tuanya. Annisa dan Shaka pun masuk ke kamar mereka setelah selesai membereskan bekas makan mereka.


"Shaka" panggil Annisa setelah menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Hm?"


Annisa berdecak mendengar Shaka hanya berdehem.


"Apa sayang?" tanya Shaka ikut duduk di atas kasur, dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


"Beli baju" jawab Annisa dengan suara manjanya.


"Untuk apa?" tanya Shaka, baju istrinya itu banyak dan masih bagus bagus.


"Buat pakai nanti malam ke pesta. Dan juga kamu belum pernah beliin aku baju semenjak kita menikah." Annisa berbicara dengan bibir mengerucut.


"Aku lagi gak ada uang, nanti ya setelah aku gajian" ucap Shaka mengusap lembut kepala Annisa dari belakang.


"Masa iya, kamu gak punya uang?. Gak percaya aku. Masa Mama atau Papa gak kasih kamu uang jajan" oceh Annisa gak percaya sama sekali.


Shaka menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan.


"Semenjak kita menikah, Papa dan Mama menyetop uang jajan aku. Mereka bilang, uang jajan aku bukan kewajiban mereka lagi. Supaya aku belajar bertanggung jawab kepada diriku dan kamu" jelas Shaka.


"Terus selama ini biaya hidup kita dari gaji kamu semua?. Dan uang jajan yang kamu berikan sama aku juga dari gaji kamu?. Bayar air listrik, uang sampah dan keamanan juga dari gaji kamu?. Jadi kamu semua yang membiayai hidup kita?" cerca Annisa dengan pertanyaan, sambil menatap Shaka dengan mata membola.


Shaka menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban dari semua pertanyaan Annisa.


"Makanya aku gak punya uang untuk beli baju buat kamu. Aku minta maaf ya. Soalnya gajiku bekerja di kantor Papa itu, gak besar. Dan juga aku bekerja setiap hari hanya setengah hari" jelas Shaka.


Annisa pun terdiam tanpa melepas netranya dari wajah Shaka.


Annisa pikir selama ini, orang tua Shaka yang membiayai hidup mereka. Ternyata, mereka hidup dari penghasilan Shaka sendiri yang jumlahnya Annisa tidak tau berapa banyak.


Bruk!

__ADS_1


Tiba tiba Annisa yang duduk di depan Shaka, menubrukkan tubuhnya, memeluk tubuh suaminya itu. Annisa terharu melihat begitu besarnya pengorbanan Shaka padanya. Shaka rela kehilangan uang jajan dari orang tuanya, demi bisa memilikinya. Shaka rela mengorbankan masa mudanya bekerja demi mencintainya.


"Aku minta maaf, ternyata aku sudah menjadi beban untukmu" tangis Annisa tiba tiba.


"Hei! kenapa kamu menangis?. Kamu itu tanggung jawabku, bukan bebanku. Wajar seorang suami menafkahi istrinya. Justru aku yang harus minta maaf karena belum bisa menafkahi semua kebutuhanmu" balas Shaka sambil mengusap usap kepala Annisa yang bersandar di dadanya.


"Kenapa kamu rela berkorban begitu besar demi aku?. Kamu membuatku bertambah jatuh cinta aja." Annisa mengangkat kepalanya dari dada Shaka, melihat wajah Shaka sambil menghapus air matanya.


Shaka mengulas senyumnya mendengar kalimat Annisa yang terakhir, ia pun membantu Annisa membersihkan lelehan bening dari wajah gadisnya itu. Betapa bersyukurnya Shaka, akhirnya ia bisa membuat Annisa jatuh cinta padanya.


Shaka pun membingkai wajah Annisa dengan kedua telapak tangannya, kemudian mendekatkan wajah mereka sampai bibir mereka menempel. Shaka menyapu bibir istrinya itu dengan lembut tapi pasti mampu menghanyutkan Annisa.


Hanya sebentar saja, Shaka tidak berani lama lama menikmati bibir istrinya itu. Shaka pun melap sudut bibir Annisa yang basah karena ulahnya.


"Nanti setelah aku gajian, aku janji akan membeli baju untukmu ya" ujar Shaka.


Annisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, tidak mau di belikan baju lagi." Gak usah, nanti duitnya kita simpan aja. Supaya nanti kita punya tabungan untuk membuka usaha sendiri."


"Masya Allah, baiknya istriku" puji Shaka."Tapi setelah gajian nanti, aku akan tetap membeli baju untukmu. Anggap aja itu upahmu membersihkan rumah ini setiap hari.


Pluk!


"Aku membersihkan rumah ini sudah lima Bulan loh!. Masa gajinya hanya selembar baju."


"Aku beli dua deh nanti."


"Gak usah, bajuku masih banyak di lemari. Masih bagus bagus."


"Tapi aku tetap ingin membeli baju untukmu. Semenjak kita menikah, aku belum pernah memberi apa apa untukmu."


"Nanti uang gaji kamu habis."


"Gak apa apa. Minggu depan kan aku gak sekolah lagi. Aku bisa bekerja lebih keras lagi mencari uang untukmu."


"Manisnya suamiku" Annisa kembali menyandarkan kepalanya ke dada Shaka.

__ADS_1


"Istriku ini lebih manis lagi, pintar merayuku. Jadi tambah cinta aja." Shaka menarik hidung mancung Annisa dengan gemas.


"Sakit tau!" Annisa mengusap hidungnya, pura pura kesal.


"Ayo tidur siang, biar kita cepat besar" ujar Shaka membaringkan tubuhnya, membiarkan kepala Annisa berada di atas dadanya.


"Kamu yang perlu cepat besar, biar bisa gendong aku." Annisa pun memindahkan kepalanya ke atas lengan Shaka, dan mengeratkan pelukannya ke pinggang pria itu.


"Iya deh, nanti aku akan rajin olah raga biar tubuhku berotot, biar bisa gendong kamu. Ayo pejamkan matanya, jangan liatin aku terus."


Cup!


Satu kecupan pun mendarat di pipi Shaka. Kemudian Annisa memejamkan matanya dengan raut wajah tersenyum.


'Ya Allah, trimakasih atas segala nikmat Mu ini. Ampuni aku yang pernah jatuh cinta kepada orang yang tidak tepat' batin Annisa.


'Ya Allah, Trimakasih sudah mengabulkan doaku, menjadikan Annisa menjadi istriku. Mungkin aku belum bisa menjadi suami yang amanah. Tapi aku akan berusaha untuk tidak menyakitinya. Aku mencintainya ya Allah' batin Shaka mengecup kening Annisa sebelum memejamkan matanya.


**


Malam hari, ba'da Maghrib, Annisa langsung bersiap siap sebelum berangkat ke rumah Calix sahabat Shaka. Annisa yang sudah memakai gamis berwarna biru muda, mendudukkan tubuhnya di kursi meja rias untuk merias sedikit wajahnya. Setelah memberi sedikit bedak di wajahnya, Annisa pun memberi sedikit warna di bibirnya biar tidak terlihat pucat. Alisnya tidak perlu di Arsil lagi menggunakan celak, karena alisnya sudah tebal. Annisa juga tidak perlu memakai riasan mata atau perona pipi, karena itu nanti akan membuatnya semakin tambah cantik berkali kali lipat.


"Sayang, udah selesai?."


"Belum" jawab Annisa tanpa melihat Shaka yang baru masuk ke kamar itu.


"Lama amat" ucap Shaka sambil melangkah mendekati Annisa.


"Tinggal masang jilbab aja" balas Annisa sibub memasak pasmina ke kepalanya.


"Masya Allah, cantiknya istriku." Shaka memeluk Annisa dari belakang, dan memandangi wajah cantik Annisa dari pantulan kaca cermin di depan mereka."Tapi kalau bepergian tanpa aku jangan berhias seperti ini ya. Aku gak mau kamu di godain cowok cowok lain. Apa lagi orang orang tidak ada yang tau kalau kamu sudah menjadi istriku."


"Iya, suamiku. Kalau ada cowok yang menggangguku, aku akan bilang kalau aku sudah menjadi Nyonya Budiman" balas Annisa tersenyum.


Cup!

__ADS_1


Shaka pun menjatuhkan satu kecupan di pipinya sebelah kiri.


*Bersambung


__ADS_2