Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Mengintip


__ADS_3

Pulang sekolah, seperti rencana Annisa dan Ferel tadi pagi. Annisa pun mengajak Salwa dan Hasna untuk jalan bersama Ferel.


"Ferel !" seru Annisa melihat Ferel berjalan ke arah parkiran.


Ferel yang di panggil langsung menoleh ke arah Annisa.


"Itu mereka" ucap Ferel pada ke empat temannya yang akan ikut bergabung bersama Annisa, Salwa dan Hasna.


"Benaran kita mau jalan sama mereka?" tanya Shalat, setelah pernah di PHP in Annisa. Sakha malas melihat gadis yang suka tebar pesona itu.


"Iya, kenapa?" tanya Ferel, padahal sudah tau jawabannya.


"Shaka kan terlanjur suka sama Annisa" jawab Calix.


"Ada Salwa lagi di sana, gak serulah. Nanti dia ngadu ngadu sama Mama dan Papa" ucap Shaka.


"Kan ceritanya aku mau dekatin Salwa, gimana ceritanya kalau dia ga ada?" balas Ferel. Dia mau ngegebet adik sahabatnya itu, kalau Salwanya gak ikut, gimana caranya pedekate?.


"Kamu mau dekatin Salwa?. Gak gak gak !" ujar Shaka.


Ferel berdecak lalu melingkarkan tangannya ke leher Shaka." Kita barter. Aku mendekati Salwa, kamu mendekati Annisa."


"Jadi aku mendekati siapa?" tanya Calix.


"Ada Hasna" jawab Ferel sekenanya.


"Kami berdua?" tanya Dzaki dan Dafi bersamaan.


"Nanti kita cari, yuk kita ke sana. Mereka udah nunggu tuh" jawab Ferel, dan mengajak ke ke empat sahabatnya itu bergabung bersama Annisa, Salwa dan Hasna di parkiran.


"Mereka juga ikut?." Annisa mengarahkan pandangannya ke arah ke empat teman Ferel.


"Iya, biar rame"jawab Ferel.


" Ya udah, ayo!." Annisa masuk ke dalam mobil milik Ferel bersama Hasna dan Salwa. Sedangkan Calix, Dzaki dan Dafi masuk ke dalam mobil Shaka.


Kedua mobil itu pun beriringan keluar dari pekarangan sekolah menuju sebuah mal. Para cowok cowok itu akan memanjakan mata dan perut ketiga cewek itu terlebih dahulu. Baru mereka akan membawanya jalan jalan ke tempat yang indah indah.


Hanya butuh waktu lima belas menit perjalanan, mereka sudah sampai di parkiran sebuah mal. Annisa, Salwa dan Hasna langsung turun setelah Ferel memarkirkan mobilnya dengan sempurna.


"Kita kemana dulu?" tanya Hasna sambil merapikan pakaian seragam sekolahnya.


"Cari baju dulu lah, masa kita pergi main pakai seragam sekolah" jawab Annisa, melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk mal.


"Yang bayar siapa?. Aku gak bawa uang" ujar Salwa.

__ADS_1


"Ferel" jawab Annisa singkat.


"Gak masalah" sambung Ferel mensejajarkan langkahnya dengan Salwa.


"Hei, jangan dekat dekat" Shaka yang berjalan di belakang mereka, menyingkirkan Ferel dari samping Salwa.


Ferel berdecak, lalu merangkul leher Shaka dari belakang." Ayolah kawan, kita saling memahami" ujarnya, membujuk Shaka supaya di ijinkan mendekati Salwa.


"Hasna, Salwa, ayo kita ke sana" ajak Annisa menghiraukan ke lima cowok yang mengikuti langkah mereka dari belakang.


"Kemana?" tanya Hasna.


"Kakak sepupuku ada yang ulang Tahun. Aku ingin mencari baju untuknya" jawab Annisa melangkahkan kakinya masuk ke sebuah butik baju muslim, di ikuti Hasna dan Salwa dari belakang.


"Umi serius mau memberikan semua ini buat Yasmin?."


Stop!


Langkah Annisa langsung terhenti mendengar suara seorang pria yang sangat ia kenal di dalam butik.


'Kok seperti suara Ustadz Furqon?. Katanya hari ini akan berangkat ke Mesir. Tapi kenapa masih ada di sini?' batin Annisa bertanya.


"Serius lah, masa Umi bohong" ucap suara wanita yang berdiri di depan pria itu.


Annisa yang penasaran mendengar suara yang begitu di kenalnya itu, melangkahkan kakinya perlahan ke arah kedua orang yang sedang berbelanja di butik itu. Annisa mengintip wajah pria yang di rindukannya itu dari balik patung manekin di dalam butik.


"Sssttt!" gemas Annisa ke arah Salwa yang berdiri di belakangnya." Ada Ustadz Furqon bersama Uminya" bisik Annisa.


"Kenapa gak di samparin aja?" ujar Hasna. Aneh! pikirnya melihat Annisa ngintip ngintip. padahal hampir dua Minggu ini Annisa menghindari Furqon, ini malah ngintip ngintip.


Mendengar suara seorang perempuan menyebut nama Annisa. Furqon yang bersama Uminya di dalam butik, langsung menoleh ke arah tiga gadis remaja yang berada di dalam butik itu. Furqon mengulas senyumnya, melihat Annisa bersembunyi dan mengintipnya.


'Bukankah dia menghindariku, ini kenapa malah dia mengintipku?' batin Furqon.


"Ehem! Umi, baju yang di pajang di manekin itu sepertinya sangat cocok buat Yasmin" ucap Furqon setelah berdehem terlebih dahulu.


"Yang Mana?" Umi Fadilah mengarahkan pandangannya ke arah yang di tunjuk Furqon.


"Itu Umi, yang berwarna abu abu muda" jawab Furqon.


Umi Fadilah pun melangkahkan kakinya ke arah patung manekin yang di sebut Furqon.


'Aduh! bisa ketahuan deh aku ngintip.'


Annisa yang melihat Umi Fadilah semakin mendekat, langsung memudurkan tubuhnya ke belakang.

__ADS_1


Bukh! prank!


'Aduh!' batin Annisa memejamkan matanya, karena tak sengaja menabrak patung manekin di belakangnya.


Furqon yang melihatnya mengulum senyum, lalu melangkahkan kakinya ke arah Annisa yang masih berdiri di tempatnya dengan mata masih terpejam.


"Annisa" panggil Furqon merubah raut wajahnya menjadi datar.


Annisa yang mendengar suara Furqon memanggilnya, membuka matanya perlahan, dan mengarahkan pandangannya ke wajah Furqon.


"Kamu Annisa?, adiknya Yasmin?" tanya Umi Fadilah yang sudah berdiri di depan patung manekin baju tempat Annisa barusan bersembunyi.


"Iya Tante, Tante mengenal saya?." Annisa menggaruk leher sampingnya sembari tersenyum masam, malu karena sudah merobohkan sebuah patung manekin di butik itu.


"Masa kamu sudah lupa sama Tante. Itu waktu kamu menang lomba Tilawah, Tante yang menjadi jurinya" jawab Umi Fadilah dengan wajah tersenyum khas keibuannya.


Annisa yang lupa menggaruk lehernya lagi, sambil mengingat ingat siapa wanita paru baya di depannya itu.


"Maaf Tante, Annisa udah lupa. Sepertinya waktu itu Annisa masih kecil, jadi gak ingat."


"Iya, waktu itu kamu masih kelas satu SD kalau Tante gak salah. Kalau kamu ingat, pas pengumuman juara, Tante sempat memberikanmu tasbih setelah kamu menerima piagam penghargaan.


"Uhuk uhuk uhuk!" Annisa langsung terbatuk batuk mengingat tasbih itu sudah di berikannya kepada Furqon.


"Gak ingat lagi, Tante" Annisa menyengir dengan mata melirik ke arah Furqon.


"Gak apa apa" Umi Fadilah pun mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu Annisa dengan lembut."Oh ya, Annisa mau beli baju apa!. Ini butik milik Tante. Pilih aja yang Annisa mau. Buat Annisa, gratis."


"Kami juga mau dong! Tante yang gratisan" celetuk Hasna tiba tiba dari belakang, membawa sebuah baju muslim di tangannya.


"Iya, Tante. Kami sahabatnya Annisa, muridnya Ustadz Furqon juga" sambung Salwa.


"Hei ! kalian berdua, orang tua pada kaya kaya, kok minta gratisan, malu tau" tegur Annisa.


"Kamu sendiri, gimana?" cetus Hasna.


"Ayahku gak punya apa apa. Rumah kami aja itu itu aja dari dulu, sampai Ayahku ganti istri, pun, masih rumahnya gak di ganti, ops!." Annisa langsung menutup mulutnya yang terlanjur keceplosan.


"Umi, kalau begitu Furqon berangkat dulu ya, Umi" pamit Furqon.


"Iya, sayang. Hati hati, sampaikan salam Umi pada Yasmin" balas Umi Fadilah.


Setelah menyalam Ibunya, Furqon pun langsung melangkahkan kakinya setelah sempat mengecup ujung kepala wanita yang melahirkannya itu.


"Ustadz Furqon! tunggu!" seru Annisa

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2