Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Seperti jelangkung


__ADS_3

Pagi ini di rumah Ustadz Bilal terlihat ramai di penuhi dengan para keluarga dekat mereka. Hari ini, Yasmin putri pertama Ustadz kondang itu akan dilamar secara resmi seorang pria bernama Furqon, putra dari sahabat Ustadz Bilal sendiri.


"Bismillahirrohmanir rohim, saya terima" ucap Yasmin yang sedang berdiri di samping Umi Fadilah.


"Alhamdulillah" seru semua keluarga yang menyaksikan termasuk Annisa.


Furqon yang baru mengajukan lamaran kepada Yasmin langsung melebarkan senyumnya mendengar Yasmin tanpa ragu menerima lamarannya.


Annisa yang tidak jauh berdiri dari Yasmin pun langsung mendekat dan memeluk Kakaknya itu.


"Selamat ya Kakakku sayang" ucap Annisa mengecup kedua pipi Yasmin bergantian.


"Trimakasih Adek ku sayang" balas Yasmin mengecup kedua pipi Annisa dengan gemas.


Meski sempat bersedih karena satu pria yang sama sama mereka sukai, tapi bukan berarti kedekatan Kakak beradik itu akan berkurang. Mereka selalu menyayangi dari dulu.


"Annisa, tolong lepaskan Kakaknya, biar acaranya bisa berlanjut" tegur Umi Hani yang juga ikut berdiri di bagian depan ruangan itu.


"Iya Umi" patuh Annisa melepas pelukannya dari tubuh Yasmin.


"Furqon, mana cincinnya sayang?" tanya Umi Fadilah yang berdiri di tengah tengah Yasmin dan Furqon.


Furqon mengulurkan tangannya yang berisi sebuah kotak kecil berwana merah dan bening. Umi Fadilah pun langsung mengeluarkan isi kotak kecil itu, lalu menyematkan sebuah cincin di jari manis Yasmin.


Acara pun terus berlanjut, yaitu acara menikmati hidangan yang di sediakan oleh keluarga Ustadz Bilal yang di hidang secara prasmanan di atas meja berbentuk persegi panjang di salah satu sudut ruangan itu. Mereka semua menikmati makanan dari piring masing masing dengan di selingi obrolan ringan.


'Shaka dari tadi kemana ya? Kok gak kelihatan' batin Annisa.


Semenjak keluar dari kamar mereka, Annisa langsung bergabung bersama kaum wanita di rumah itu, begitu juga dengan Shaka langsung bergabung dengan kamu laki laki. Tapi entah sejak kapan Annisa kehilangan jejak Shaka di rumah itu.


Annisa yang menduga Shaka kembali ke dalam kamar pun, melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu untuk mengajak Shaka makan siang. Namun sampai di dalam kamar, Shaka tidak ada, kemana?.


Brum!


Saat Annisa akan keluar dari dalam kamar itu. Annisa mendengar suara deru mobil Shaka berhenti di halaman rumah. Annisa langsung berlari ke arah jendela kaca kamar itu untuk memastikan yang datang itu adalah Shaka.


'Dari mana dia?, kenapa dia pergi gak bilang bilang?.' Itulah pertanyaan yang muncul di benak Annisa melihat Shaka keluar dari dalam mobilnya. Annisa pun segera keluar dari dalam kamar itu, berlari menuruni anak tangga ke lantai bawah rumah itu untuk menyambut kedatangan Shaka yang seperti jelangkung. Pergi tanpa pamit, datang tanpa kabar.

__ADS_1


Namun saat kakinya menapak di lantai bawah rumah itu, tiba tiba perut Annisa terasa mules.


"Aduh, kok tiba tiba perutku mules ya?" gumam Annisa memegangi perutnya, kemudian berlari kecil ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur. Annisa khawatir ada yang keceplosan keluar, membuatnya jadi malu dan di nilai tidak sopan.


Sampai di kamar mandi, Annisa pun langsung mengeluarkan yang mendesak ingin keluar itu dari dalam tubuhnya.


'Ini gara gara semalam aku gak makan siang sampai malam, membuat perutku jadi sakit' batin Annisa.Serius perutnya sakit banget mulesnya.


Diruangan tempat berlangsungnya acara lamaran. Furqon yang baru selesai menghabiskan makanannya, berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah bagian terdalam rumah itu.


"Aisyah, apa kamu tau toilet rumah ini sebelah mana?" tanya Furqon pada gadis yang berpapasan dengannya di salah satu ruangan di rumah itu.


"Ada di sebelah samping rumah dan ada juga di dekat dapur" jawab Aisyah.


Furqon mengangguk sembari tersenyum kepada Aisyah. Wanita yang di bawanya dari Yaman beberapa Minggu yang lalu, dan Furqon pun berlalu dari hadapan Aisyah yang terus memandanginya dari belakang.


"Furqon, kamu mau kemana?."


Furqon langsung menghentikan langkahnya dan mengarahkan pandangannya ke arah wanita yang bertanya kepadanya.


"Mencari kamar mandi" jawab Furqon.


"Trimakasih" balas Furqon lantas memutar langkahnya ke arah dapur rumah.


'Semoga rencanakan berhasil. Aku jauh jauh datang dari Yaman, percuma kalau aku tidak bisa mendapatkan mu, Furqon.'


Hindun menyeringai tipis sambil memperhatikan punggung Furqon yang semakin menjauh.


Di dalam kamar mandi, Annisa terus menikmati rasa mulas di perutnya. Bukan hanya mules, tapi Annisa juga mengalami mencret.


'Ya Tuhan, kenapa tiba tiba aku bisa mencret, perasaan tadi aku gak makan banyak sambal' batin Annisa.


Ceklek!


Refleks Annisa menoleh ke arah pintu yang terbuka. Seketika bola mata Annisa membulat sempurna melihat seorang laki laki masuk.


"Ustadz Furqon" gumam Annisa bergegas berdiri dan meraih jilbabnya yang sempat di bukanya tadi.

__ADS_1


Furqon yang mendengar suara wanita ada di dalam kamar mandi itu langsung menoleh.


"Ma- maaf" Furqon langsung membalik tubuhnya dan segera membuka pintu kamar mandi itu kembali."Aku pikir kamar mandi ini kosong, kenapa tidak menguncinya dari dalam?" ucap Furqon sebelum keluar.


Kaki Furqon langsung terhenti saat melihat para keluarga mereka sudah berdiri di depan pintu kamar mandi. Furqon mengerutkan keningnya dan bingung di selah selah menahan suatu rasa yang mendesak keluar dari dalam tubuhnya.


Sedangkan Annisa yang sudah selesai merapikan penampilannya, melangkahkan kakinya menyusul Furqon keluar kamar mandi. Sama seperti Furqon, langkah Annisa juga terhenti saat keluar dari dalam kamar mandi itu melihat para keluarga mereka berkumpul di depan pintu.


Melihat Annisa sudah keluar, Furqon kembali masuk ke dalam kamar mandi karena ada rasa yang mendesak.


"Apa yang kalian lakukan berdua di dalam?." Pertanyaan itu keluar dari dalam mulut Ustadz Bilal sebagia orang tua Annisa.


Annisa mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan sang Ayah. Apa memang yang dilakukan di kamar mandi?. Kalau gak mandi, buang air kecil atau air besar, kalau gak suci muka, kaki dan tangan.


"Jelaskan sama Ayah Annisa, kenapa kalian berada di dalam kamar mandi yang sama?." Ustadz Furqon meralat pertanyaannya. Mungkin pertanyaan persi pertama Annisa tidak mengerti, jadi Ustadz Bilal memperbaikinya dengan pertanyaan yang lebih mudah di mengerti.


"Kakak kecewa sama kamu Annisa" lirih Yasmin dan langsung melangkahkan kakinya pergi dari kerumunan.


Bukannya paham, Annisa semakin bingung. Apa lagi sempat melihat Kakaknya Yasmin menangis.


"Annisa, ayo kita pulang."


Shaka yang ikut berada di kerumunan keluarga, menarik kasar tangan Annisa, sebelum Annisa sempat menjelaskan kenapa ia dan Furqon berada di dalam kamar mandi yang sama.


"Shaka, jangan membawanya" tegur Ustadz Bilal melihat Shaka menyeret Annisa.


"Annisa sudah menjadi tanggung jawabku, Yah. Biar aku yang mengurusnya" balas Shaka tanpa menghentikan langkahnya.


"Shaka, biarkan aku menjelaskan kepada Ayah" ujar Annisa yang kesakitan di pergelangan tangannya.


Shaka menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Annisa.


"Aku dan Ustadz Furqon tidak melakukan...."


"Aku gak mau mendengar apa pun alasan kalian kenapa berada di dalam kamar mandi itu Annisa!" bentak Shaka tiba tiba.


Annisa langsung terdiam dan terlonjak kaget. Shaka menyeretnya kembali, membawanya keluar dari dalam rumah itu.

__ADS_1


"Tapi Shaka, aku tetap harus menjelaskannya."


*Bersambung


__ADS_2