Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Termakan cerita


__ADS_3

Saat menikmati soto ayam di meja makan, tiba tiba Pak Ansel datang. Pria paru baya yang masih terlihat tampan itu langsung ikut bergabung mendudukkan tubuhnya di samping istrinya.


"Buat Papa mana?" tanya pria itu. Melihat soto ayam di mangkok istrinya membuat pria itu jadi ngiler.


"Sebentar aku ambilkan" Ibu Drabia langsung berdiri dari tempat duduknya berjalan ke arah dapur.


Pak Ansel menoleh ke arah Shaka, pria itu mengulas senyum melihat Shaka sudah kembali datang ke rumah mereka.


"Kembalilah ikut bergabung ke perusahaan untuk membantu Papa" ujar Pak Ansel kepada Shaka.


Mendengar Ayahnya berbicara, Shaka langsung menghentikan kunyahan di mulutnya dan menoleh ke arah Pak Ansel yang duduk di depannya.


"Perusahaan itu milik Mama kamu, juga milikmu" ujar Pak Ansel lagi.


"Iya Shaka, Bantulah Papa kamu. Setelah Papa kamu pensiun, kamulah yang akan melanjutkan perusahaan itu" Ibu Drabia menimpali apa yang di katakan suaminya, sembari meletakkan semangkok soto ayam di depan Pak Ansel.


Melihat Shaka diam saja, Annisa yang duduk di sampingnya pun menyenggol kaki Shaka di bawah meja. Supaya Shaka menuruti permintaan mertuanya.


"Iya Ma, Pa" patuh Shaka akhirnya. Pertahanannya langsung runtuh kalau sudah bersangkutan dengan Annisa.


Pak Ansel dan Ibu Drabia pun sama sama mengulas senyum.


**


Kini masih di rumah orang tua Shaka. Selesai makan malam, Salwa pun membawa Annisa ke kamarnya untuk menghabiskan waktu berdua sebelum Shaka meminta istrinya itu masuk ke kamarnya.


"Kamu tau gak, Annisa? Di kampus ada cewek yang ngejar ngejar Shaka" tanya Salwa. Salwa mengetahui itu dari Ferel. Meski Ferel tidak sekolah di kampus yang sama dengan Shaka. Tapi semua informasi tentang Shaka bisa Ferel dapat. Karena Shaka melanjutkan kuliahnya di kampus milik Paman Orion. Paman Annisa dan Ferel sendiri.


Ya, karena Shaka menolak bea siswa keluar Negri. Jadi Shaka pun di berikan bea siswa di kampus Harapan Bangsa milik dari Keluarga Annisa.


"Shaka gak ada cerita" jawab Annisa. Mereka baru bertemu kembali sehingga belum mempunyai waktu menceritakan di luar hidup mereka berdua.


Annisa pun membuka hijabnya dan meletakkannya di atas kasur. Annisa meraih buku di atas meja nakas dan langsung membacanya setelah bokongnya mendarat di atas kasur milik Salwa. Sebuah buku berjudul: wanita akhir jaman.

__ADS_1


"Annisa, apa di leher mu itu?."


Di tanya seperti itu, Annisa yang tadinya sibuk membaca, dengan cepat meraih jilbabnya dan memasangnya kembali. Annisa lupa, jika di lehernya ada bekas ciuman Shaka. Uh! jadi Salwa melihatnya kan?. Wajah Annisa merona sendiri, malu dengan Salwa. Padahal Salwa belum tau apa yang di lehernya.


Salwa mengulas senyumnya, melihat Annisa salah tingkah, Salwa menjadi bisa menebak apa yang berwarna kebiruan di leher Annisa. Meski belum berpengalaman, tapi Salwa sesekali suka membaca novel romansa. Jadi Salwa tau lewat cerita yang di bacanya.


"Gak usah malu kali. Kamu dan Shaka kan sudah menjadi suami istri."


Wajah Annisa semakin merona salah tingkah, karena Salwa bisa tau apa yang ada di lehernya, itu artinya Salwa sudah tau kalau mereka sudah pergi ke Bulan. Shaka sih! bikin tanda kepemilikannya di leher, kalau pas buka hijab kan jadi kelihatan.


"Semoga ikhtiar kalian segera terkabul, amin!" ucap Salwa lagi.


"Amin!" meski malu malu Annisa juga ikut mengaminkan doa Salwa. Mudah mudahan saja segera di ijabah doa nya sama Allah.


"Jadi gak sabar pengen cepat punya ponakan." Salwa yang sudah duduk di samping Annisa, mengelus elus perut gadis itu dengan lembut. Berharap sudah di isi adik bayi.


"Semoga aja!" Annisa mengulas senyum. Meski masih berusia muda, Annisa sudah siap punya anak. Tidak berniat sama sekali untuk menundanya. Untuk masalah sekolahnya nanti, bisa di atur.


**


Selain membahas sekolah, kedua pria itu juga membahas perusahaan bagaimana ke depannya. Pak Ansel juga memberi sedikit putranya itu edukasi menjadi kepala rumah tangga. Bagaimana menjadi seorang Ayah nantinya. Jelas sekali kedua pria itu berbicara dari hati ke hati antara sesama pria.


"Kunci rumah tangga yang harmonis itu, kunci utamanya adalah komunikasi. Bicarakan baik baik, apa pun masalah yang di hadapi, cari solusi bersama. Dan yang paling utama, dengarkan istrimu bercerita. Dengarkan keluh kesahnya, dengarkan omelannya. Dengan kamu mendengarkannya, istrimu sudah merasa sangat di hargai." begitulah nasihat Pak Ansel pada putranya.


Itulah tugas orang tua yang sebenarnya. Selalu membimbing anak anaknya meski sudah berumah tangga. Memberi nasehat tanpa harus ikut campur dalam masalah yang terjadi di rumah tangga.


"Iya Pah, Shaka akan mencoba mengingat apa yang dikatakan Papa" balas Shaka. Setelah sehatun marah kepada orang tuanya. Ini pertama kalinya Shaka berbicara intim dengan sang Papa.


Pak Ansel pun menepuk bahu putranya itu, terharu melihat anaknya itu sudah besar. Waktu terasa begitu singkat, tak terasa putra satu satunya itu sudah menyusulnya menjadi seorang suami, dan sebentar lagi menjadi seorang Ayah.


"Ayo kita istirahat, malam sudah mulai larut, dan juga kopi kita sudah habis." Pak Ansel berdiri dari tempat duduknya, melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah.


Shaka yang di tinggal mengulas senyum. Ternyata hati itu lebih tenang jika berbaikan dengan orang tua. Shaka pun menyusul masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga, melangkahkan kakinya ke arah pintu kamar Salwa.

__ADS_1


"Annisa!" panggil Shaka sambil mengetok pintu kamar itu. Shaka yakin, bidadari surganya masih berada di kamar Salwa. Dan benar saja, saat pintu kamar itu terbuka, Annisa langsung nongol dari dalam." Yuk kita tidur" ajak Shaka meraih pinggang istrinya itu dari belakang, mengiringnya berjalan ke arah kamar mereka yang berada di rumah itu.


Sampai di dalam kamar, bukannya tidur malah kedua remaja itu pergi lagi ke Bulan.


Menjelang siang, kedua remaja yang lagi di mabuk cinta itu baru bangun, setelah subuh tidur lagi. Annisa menggeliatkan tubuhnya sambil menguap di atas dada Shaka.


"Lapar" gumam Annisa berbicara dengan bibir seperti paruh bebek.


Bukannya beranjak dari kasur, malah Shaka mengeratkan pelukannya ke tubuh Annisa, dan mengecup ujung kepala gadisnya itu.


"Lapar" ucap Annisa lagi melihat Shaka diam saja. Para cacing Annisa sudah berdemo dalam perut karena belum mendapat sembako dari tadi pagi.


"Lapar" Annisa jadi merengek manja, kemudian menggigit dada pria yang belum memotong pendek rambutnya itu.


"Aaa!" tiba tiba Shaka menjerit dan langsung mengusap usap bekas gigitan Annisa di dadanya."Ya ampun sayang, kenapa kamu menggigit ku? ini sakit banget loh."


"Perutku lapar banget, kamu gak mau bangun" rajuk Annisa mendudukkan tubuhnya.


"Kamu kan bisa bangun duluan, makan sendiri ke dapur. Pasti Mama sudah masak" ujar Shaka.


Annisa langsung mendengus dan segera turun dari atas kasur, berjalan mengerutu tidak jelas ke kamar mandi.


Buarr!


Annisa menutup pintu kamar mandinya karena kesal dengan Shaka. Berhasil membuat Shaka terlonjak kaget.


"Dia sudah menghabiskan ku dari tadi malam sampai habis subuh. Masa bangun tidur gak ada romantisnya?" gerutu Annisa. Yang sudah termakan cerita di novel novel, cowoknya di setting sesempurna mungkin, untuk membuat para pembaca klepek klepek.


Shaka yang masih di atas kasur menghela napasnya. Ngantuk nya hilang seketika mendengar Annisa menutup pintu kamar mandi dengan kencang.


"Apa salahnya dia bangun duluan dan pergi makan ke dapur" gumam Shaka.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2