Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Mangga muda


__ADS_3

Tok tok tok!


pandangan Shaka dan Annisa langsung teralihkan saat mendengar jendela kaca mobil itu di ketuk dari luar. Melihat Salwa dan Hasna berdiri di sampinh mobil, Annisa pun menurunkan kaca di sampingnya.


"Ngapain kalian masih di dalam?" tanya Hasna. Menatap Shaka dan Annisa seperti orang kepergok.


"Ngapain lagi?" tanya balik Shaka ambigu. Mereka sudah suami istri, terserah meraka mau ngapain kan?. Dan ternyata, bukan hanya Annisa saja yang ingin menemui Indri, melainkan Salwa dan Hasna juga. Entah mau mereka apakan si gadis culun itu?.


"Ya udah, kami pergi dulu" pamit Annisa dan segera turun dari dalam mobil.


Meski sudah di nasihati Shaka dengan baik. Tetap saja Annisa ingin melabrak Indri. Gadis yang sudah berani mengejar ngejar cinta suaminya itu.


"Yuk!" ajak Salwa dan Hasna bersamaan.


Melihat itu Shaka hanya bisa menghela napasnya. Tapi kalau di pikir pikir bagus juga Annisa melabrak cewek itu. Karena Shaka juga bosan terus menerus di gangggu cewek setiap hari.


Shaka pun keluar dari dalam mobil mengikuti langkah ketiga gadis yang menjadi pusat perhatian itu dari belakang.


Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian. Selain ketiga gadis itu berwajah cantik, mereka juga memakai riasan berlebih di wajah mereka. Jelas sekali ketiga gadis itu bukan mahasiswa di kampus itu. Karena di kampus itu punya aturan khusus mahasiswi perempuan. Tidak boleh memakai riasan wajah, apa lagi lipstik warna terang.


"Kita kemana dulu?" tanya Hasna. Mereka tidak mempuyai tujuan ke kampus itu, selain untuk melabrak Indri.


"Ke ruangan Direktur yuk!" aja Annisa, melangkahkan kakinya ke atah ruangan Direktur kampus itu. Tak lain pemilik ruangan itu adalah Ayana, putri Paman tertua Annisa sendri.


Salwa dan Hasna mengikut saja. Sampai di depan pintu ruangan Kak Ayana. Annisa langsung mengetuk pintunya sembari mengucap salam.


"Assalamu alaikum Kak Ayana!" seru Annisa.


"Walaikum salam! silahkan masuk" seru dari dalam.


Annisa langsung mendorong pintu si depannya sembari melangkah masuk.


"Annisa" Wanita berusia tiga puluhan itu langsung berdiri dari kursinya, melangkahkan kakinya untuk menyambut kedatangan Annisa.


"Apa kabar Adikku? Apa sudah isi?" Kak Ayana memeluk Annisa dan mengecupi kedua pipi Adik sepupunya itu.


"Belum" jawab Annisa dengan bibir mengerucut. Baru juga Shaka membawanya ke Bulan, masa langsung isi.


"Gak apa apa, lagian kamu masih muda fokus aja dulu dengan pendidikan." Dulu kak Ayana memang sempat tidak setuju dengan Annisa yang menikah muda. Apa lagi saat Annisa bermasalah dengan Shaka. Kak Ayana berharap Annisa bercerai dan kembali fokus dengan pendidikan dulu.


Annisa hanya mengulas senyum menanggapi ucapan Kakak sepupunya itu.


"Bagaimana kabar Paman sama Tante?. Annisa belum sempat memgunjungi mereka" tanya Annisa. Terakhir kali Annisa bertemu dengan paman pamannya, saat Annisa menikah, semenjak itu tidak pernah bertemu lagi.


"Papa sering tidak sehat. Batuknya terus bertambah parah" jawab Kaka Ayana. Wajar saja, usia Pak Orion sudah tak muda lagi, sudah menjadi Kakek kakek. Tapi Kata pria tua itu, dia belum siap mati jika belum melihat Mr Boy menikah.

__ADS_1


"Nanti aku akan menyampatkan waktu berkunjung ke rumah Paman" balas Annisa.


Kak Ayana menghela napasnya, mengingat tugas yang diberikan sang Papa untuknya. Yaitu mencarikan gadis untuk dijadikan calon istri untuk Mr Boy, supaya Kakak tertuanya itu menikah.


"Papa menyuruhku untuk mencari calon istri untuk Kak Boy" desah Kak Ayana.


Annisa pun terdiam, dan seketika muncul ide di pikirannya.


"Aku tau siapa yang cocok untuk Kak Boy" celetuk Annisa tersenyum.


Kak Ayana langsung menoleh ke arah Annisa dengan kening mengerut. Begitu juga dengan Salwa dan Hasna.


"Siapa?" tanya Kak Ayana.


"Indri" jawab Annisa.


"Yang benar saja. Gak gak gak!." Mr Boy sangat tampat dan tajir melintir, masa ia mau di jodohkan dengan cewek culun?.


"Biar dia gak mengganggu suamiku lagi" Annisa mengerucutkan bibirnya. Annisa berpikir jika Mr Boy menikahi Indri, gadis itu tidak lagi mengganggu suaminya.


"Tapi bukan cewek culun itu juga kali." Kak Ayana memutar bola mata malas. Mendengar Annisa ingin aman sendiri, tapi kasihan Kakak Boy nya jika memiliki istri culun. Apa Annisa ingin merusak keturunan ratu sejagat?.


"Kalau masalah penampilan kan, bisa dirubah. Bawa kesalon dan ke Dokter kecantikan, gampang. Abang Boy kan punya banyak uang" ucap Annisa lagi.


"Iya Annisa. Kamu kan belum kenal Indri seperti apa?. Bagaimana sifatnya, baik atau gak, keluarganya juga. Kita kan gak tau seperti apa mereka. Jangan asal main jodoh jodohin deh kalau kita belum kenal. Mau nanti harta Mr Boy di kuasai Indiri dan keluarganya?. Jangan harap nanti kamu bisa minjam mobil Abang mu itu" nasihat Hasna bijak.


"Iya, Annisa. Kalau memang Indri cewek baik baik dia tidak akan berusaha mendekati Shaka. Pasti kan dia pernah mendengar kalau Shaka sudah punya istri?. Mengingat di kampus ini teman seangkatan Shaka ada yang sekolah di sini" sambung Salwa. Di kampus itu banyak juga lulusan dari sekolah Harapan melanjutkan pendidikan mereka di kampus Harapan.


"Betul itu." Kak Ayana membenarkan pendapat Salwa dan Hasna. Wanita berparas cantik itu pun kembali ke mejka kerjanya, mendudukkan tubuhnya di kursi hangatnya, lalu kedua netranya memperhatikan Salwa dan Hasna secara bergantian.


"Sepertinya aku sudah menemukan orang yang pas untuk Kak Boy" ucap Kak Ayana.


"Siapa?" tanya Annisa.


"Ada deh!. Oya, kalian ke sini mau ngapain?. Gak mungkin kan khusus untuk mengunjungiku?. Kalau untuk mendaftar kuliah kan. Di buka secara online" tanya Kak Ayana tanpa menjawab pertanyaan Annisa.


"Kata Annisa kami ke sini untuk melabrak cewek bernama Indri itu" Hasna yang menjawab.


"Habis berani beraninya dia gangguin suamiku" cetus Annisa mengerucutkan bibirnya.


"Jadi kalian mau melakukan pengeroyokan?."


"Ya nggak lah. Cuma mau ingatin, kalau Shaka itu sudah punya istri" jawab Annisa cepat. Kalau dia berani main keroyok, habis dia di hukum Ustadz Bilal.


Hm!

__ADS_1


Kak Ayana hanya menghela napasnya. Annisa masih sangat muda, tentu caranya menyelesaikam masalah sangat berbeda dari orang dewasa.


"Kalau begitu, kami pergi dulu. Assalamu alaikum." Setelah berpamitan, Annisa langsung keluar dari ruangan itu, langsung di ikuti Salwa dan Inara.


Saat mereka berjalan di koridor kampus, dan benar saja. Target mereka langsung kelihatan. Indri berlari ke arah Shaka yang baru keluar dari dalam kelas.


"Kenapa diam, ayo" ajak Hasna melihat Annisa malah menghentikan langkahnya dan memperhatikan interaksi Indri dan Shaka yang berpapasan.


"Shaka, ini aku membawakan bekal untuk mu. Kamu pasti belum sarapan kan?. Aku tau anak kos biasanya jarang masak, apa lagi pagi pagi." Indri menyodorkan sebuah kotak makanan ke depan Shaka.


Nampak Shaka menghela napasnya, tidak tau lagi bagaimana caranya bicara pada gadis itu, supaya tidak mengganggunya.


Tak tak tak!


Suara detak sebuah high heel di lantai teras kampus itu, berhasil mencuri perhatian Inara, Shaka dan mahasiswa lain yang melihat Annisa melangkah begitu angkuh. Annisa terlihat sangat cantik, setiap pria yang memandangnya tidak bisa untuk tidak memuji kecantikan gadis berusia delapan belas Tahun itu.


"Sayang, kelasnya udah selesai?" tanya gadis yang menjadi pusat perhatian itu kepada Shaka. Berhasil membuat Indri membeku di tempatnya.


"Sudah, sayang" jawab Shaka mengulas senyum dan sengaja menjatuhkan satu kecupan di kening Annisa.


"Pulang yuk, tapi di tengah jalan kita cari mangga muda ya. Tiba tiba aku pengen banget" manja Annisa memeluk lengan Shaka dari samping. Annisa juga mengelus elus perutnya sembari melirik gadis culun yang masih berdiri di depan mereka.


'Padahal Shaka ganteng bin tampan. Masa iya yang ngejar ngejar dia cewek beginian?. Astaqfirulloh.' Annisa langsung istiqfar setelah sempat menghina Indri di dalam hatinya.


Gadis berkulit sawo matang, tapi wajahnya manis sih. Bentuk tubuhnya juga bagus, rambutnya lurus dan panjang. Hidungnya mancung, alisnya rapi, bibirnya ranum, pipinya tirus.


"Yang, dia siapa? Teman kamu?" tanya Annisa, lalu tersenyum ke arah Indri.


"Iya, dia teman ku" jawab Shaka.


Annisa pun mengulurkankan tangannya, untuk mengajak Indiri berkenalan."Hai! Aku Annisa. Nama kamu siapa?."


Indri pun menerima uluran tangan Annisa dengan tersenyum kaku. Jujur Indri sangat minder melihat gadis yang memanggil Shaka dengan panggilan sayang itu.


"Indri" ucap gadis itu lirih.


"Oo, kamu ya mahasiswi yang bernama Indri itu?. Hm.." Annisa menjeda kalimatnya dan memperhatikan wajah Indri dengan intens." Aku pikir, kamu pasti tau kalau Shaka sudah beristri. Seharusnya kamu gak ngedekatin dia terus kan?" lanjut Annisa.


Indri yang tau kemana arah maksud pembicaraan Annisa, mencoba mengangkat wajahnya membalas tatapan Annisa.


"Aku gak tau" jawab Indri singkat.


Berhasil membuat Annisa mengeraskan rahangnya. Jika saja dia bukan putri dari seorang Ustadz yang harus bisa menjaga nama baik Ayahnya, sudah pasti Annisa menarik rambut wanita yang berani menantangnya itu.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2