Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Memberinya pelajaran


__ADS_3

"Kemana dia?" Shaka bergumam gemas sambil terus melangkah mencari istrinya. Jangan jangan istrinya pergi mojok dengan pria lain?.


Di salah satu sudut ruangan itu, terlihat seorang gadis duduk bergelayut manja di lengan prianya. Terlihat sesekali pria dewasa bertubuh tinggi nan gagah itu menyuapi gadis di sampingnya dengan makanan di piringnya.


"Makan mu masih saja banyak, apa gak takut gendut?" tanya Pria itu menyuapkan makanan ke mulut gadis manja itu.


"Kalau aku gendut, tinggal diet" jawab gadis itu terdengar kumur kumur karena mulutnya penuh makanan.


"Ayo cepat habiskan makanannya, Abang gak bisa berlama lama, pekerjaan Abang sangat banyak" ujar pria itu.


Annisa mengerucutkan bibirnya, imut. Membuat pria yang duduk di depannya itu menjadi gemas pengen comot itu bibir.


"Apa Abang Boy gak lelah mikirin kerja terus, Dunia terus. Kapan Abang Boy mikirin diri sendiri. Abang udah tua, belum juga punya istri. Kalau masalah harta, manusia tidak akan ada puasnya" oceh Annisa.


Mr Boy adalah cucu tertua di keluarga besar mereka. Tapi pria itu belum juga menikah padahal umur sudah separuh baya.


"Sebentar lagi Abang akan menikah, tenang saja."


"Kapan? Dengan siapa?" cerca Annisa dengan cepat dan menatap intens wajah Mr Boy.


"Dengan teman mu itu" tunjuk Mr Boy ke arah kedua gadis berhijab yang melangkah ke arah mereka. Annisa langsung mengarahkan pandangannya ke arah Salwa dan Hasna.


"Mereka dua, yang mana?" tanya Annisa lagi.


"Yang memakai baju pink" jawab Mr Boy tersenyum ke arah kedua gadis yang mendekati meja mereka itu.


"Abang terlalu tua untuk temanku. Cari wanita lain aja. Kasihan mereka nanti kalau Abang nikahi. Tubuh Abang besar, tubuh temanku kecil."


Tak!


"Awu!" keluh Annisa tiba tiba langsung mengusap keningnya yang terkena sentilan.


"Kemana pikiran mu? Ha!" gemas Mr Boy, menjewer telinga Annisa yang tertutup hijab.


"Ke atas kasur" jawab Annisa malah. Mr Boy menggeleng gelengkan kepalanya. Sepertinya menikah sudah membuat otak adik sepupunya itu ternoda.


"Abang akan segera menikah, kalau salah satu dari teman mu itu mau menjadi istri Abang. Jadi bantu Abang untuk mendapatkannya" ujar Mr Boy.


"Mending Abang gak usah menikah. Aku gak yakin Abang itu gak punya wanita wanita di luar sana."


Tak!


"Awu!" keluh Annisa lagi, Karena Mr Boy menyentil keningnya lagi.

__ADS_1


"Jangan mencerna makanan mentah mentah. Bisa jadi kamu memakan bakteri yang ada pada makanan itu" gemas Mr Boy.


Begitulah gosip yang menyebar tentang Abang sepupunya itu. Sering keluar masuk club malam di luar atau pun di dalam Negri. Membuat namanya menjadi tercemar, apa lagi pernah Abang sepupunya itu membawa wanita ke apartemennya. Membuat orang mengira, kalau Abang sepupunya itu suka main perempuan.


"Salah satu tujuan menikah itu adalah untuk menghindari fitnah. Makanya Abang itu cepat lah menikah."


"Iya, cerewet" gemas Mr Boy, melingkarkan satu tangannya ke leher Annisa dari belakang, lalu mencekiknya sedikit.


"Uhuk uhuk uhuk!" Annisa terbatuk batuk.


"Hei! kamu apakan istriku?." Tiba tiba Shaka datang dan langsung menghempaskan tangan pria setengah bule itu dari leher Annisa. Membuat Annisa dan Mr Boy tersentak kaget.


"Shaka" ucap Annisa.


"Annisa! apa apaan kamu? Ha!" marah Shaka sedikit membentak Annisa, tidak terima istrinya itu berdua duaan dengan laki laki lain,. malah duduknya nempel nempel lagi. Shaka mendengus kesal.


Annisa terdiam dan menatap Shaka dengan mata berkaca kaca. Ini pertama kalinya Shaka membentaknya, di depan orang banyak lagi. Selain buat sakit hati, Annisa menjadi malu, apa lagi orang orang di sekitar mereka melihat ke arah mereka.


"Shaka!" tegur Salwa yang baru datang menyusul.


"Kamu suaminya Annisa?" tanya Mr Boy. Saat pernikahan Annisa dan Shaka, Mr Boy tidak bisa hadir Karena keberadaannya sedang di luar Negri.


"Kamu siapa?" cetus Shaka menatap pria bule yang duduk di samping istrinya tak suka.


Bukh!


Satu bogeman langsung melayang ke pipi pria bule itu.


"Annisa, ayo kita pulang." Shak langsung menarik tangan Annisa dengan kasar, sampai membuat bangku yang di duduki Annisa terjungkal ke belakang.


"Hei!, begitu caramu memperlakukan istrimu?." Mr Boy berdiri dari tempat duduknya, dan langsung menahan Shaka yang akan menyeret Annisa.


Shaka langsung menatap marah pada Mr Boy." Dia istriku, aku berhak sepenuhnya atas dirinya. Aku berhak memperlakukan dia bagaimana ma...."


"Termasuk menyakitinya?" potong Mr Boy cepat.


"Memberinya pelajaran" jawab Shaka. Wajahnya putihnya sudah terlihat bersemburat merah.


"Kalau kau menyakitinya, jangan berpikir kalau aku tidak bisa membawanya jauh dari mu" ancam Mr Boy, memperhatikan wajah Shaka dengan intens.


Shaka mendengus, berpikir mentang mentang umurnya masih kecil, pria itu memandang remeh dirinya.


"Silahkan Anda bawa, Tuan. Tapi sebelum Anda membawanya, saya yang lebih dulu membawanya" geram Shaka dan langsung menyeret Annisa dengan cepat.

__ADS_1


"Shaka, kamu menyakitiku. Berhenti! dia itu Abang sepupuku" ujar Annisa mencoba melepas tangannya yang di genggam Shaka dengan kuat.


Langkah Shaka langsung terhenti dan memutar tubuhnya ke arah Annisa yang sudah menangis di belakangnya.


"Dia Abang Boy, anaknya Paman Orion" lirih Annisa sambil menghapus air matanya.


"Apa?" tanya Shaka.


Annisa yang masih menangis, melangkahkan kakinya melongos keluar dari rumah besar itu.


"Begitulah kalau masih bocah sudah menikah" cibir Mr Boy.


Shaka langsung menoleh ke arah pria bule yang sudah berdiri di sampingnya itu. Shaka memutar bola matanya malas melihat pria itu mencibirnya.


"Sebentar lagi kam juga akan menghasilkan bocah" tambahnya malah dan langsung pergi menyusul Annisa.


Sampai di luar rumah, Shaka tidak melihat Annisa. Shaka pun melangkahkan kakinya ke arah mobilnya terparkir.


"Aku minta maaf" ucap Shaka setelah melihat Annisa menunggunya di body mobilnya. Shaka meraih lengan Annisa lalu mengecupnya.


"Aku minta maaf" ucap Shaka sekali lagi, karena Annisa diam saja dan sibuk menghapus air matanya yang terus mengalir.


"Aku mengaku salah, aku sudah membuat mu malu dan sakit hati. Maafin aku, aku gak mengulanginya lagi." Shaka membawa lengan Annisa ke dadanya, kemudian satu tangannya terulur untuk menghapus air mata Annisa.


Namun Annisa masih diam saja dan sibuk menangis terisak. Hatinya begitu sangat sakit karena Shaka sudah memperlakukannya dengan kasar di depan banyak orang.


"Annisa!" panggil Shaka, bingung menghadapi Annisa kalau diam saja begini.


"Maafin aku ya, aku gak ngilangin lagi" ucap Shaka lagi dengan suara membujuk. Namun wanita surganya itu masih enggan berbicara.


"Kita pulang ya" ajak Shaka membuka pintu mobil di sampingnya, lalu menuntun Annisa masuk ke dalam mobil.


Setelah Shaka menyusul masuk, Shaka langsung melajukan kendaraannya. Shaka meraih tubuh Annisa supaya bersandar di dadanya. Namun Annisa langsung menepis tangannya kasar.


Gadisnya itu ternyata masih marah.


"Aku mana tau kalau laki laki bule itu Abang sepupu mu. Aku kan gak mengenalnya. Wajar dong aku marah melihat istriku nempel nempel sama laki laki lain. Udah tau aku cemburunya gede, masa gak paham sama suami sendiri" oceh Shaka mencari pembelaan supaya istrinya itu tidak marah lagi padanya.


Namun itu tidak mempengaruhi Annisa. Tetap saja istrinya itu bungkam tidak mau bersuara sama sekali.


"Sayang!" rengek Shaka bersuara manja.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2