
"Di ijinkan" jawab Ustadz Bilal tersenyum.
"Trimakasih Pak Ustadz" balas Shaka, kemudian memutar tubuhnya ke arah Annisa yang diam di tempatnya berdiri dari tadi.
"Assalamu alaikum, Annisa" ucap Shaka menyapa Annisa yang dari tadi diam menunduk.
"Walaikum salam" balas Annisa tanpa melihat Shaka.
"Annisa, di sini aku berdiri di depan mu, untuk melamar mu. Tapi bukan hanya untuk diriku sendiri. Tapi untuk Agama ku, aku ingin mempersunting mu, untuk menyempurnakan iman Islam ku." Shaka menjeda kalimatnya sebentar, lalu lanjut berbicara lagi." Annisa, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?. Menemaniku untuk menggapai ridho NYa Allah, beribadah bersamaku?."
Annisa mengangkat wajahnya sebentar ke arah Shaka, kemudian menunduk kembali.
"Bagaimana sayang?, apa lamaran anak ku diterima?" tanya Bu Drabia yang berdiri di belakang mereka berdua.
"Kalau aku menerimanya, apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Annisa.
"Agama ku, cinta dan kasih sayangku" jawab Shaka dengan dengan begitu yakin.
"Bagaimana?" tanya Bu Drabia sekali lagi.
Annisa menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Aku gak dengar" ucap Shaka tersenyum lebar .
Memang Annisa nya gak ngomong, gimana mau bisa dengar.
"Di jawab sayang" Ucap Mama Aqeela yang dari tadi berdiri di samping Annisa.
Annisa melirik Shaka dengan kesal. Apa gak cukup menjawab dengan menganggukkan kepala?, membuat Annisa malu aja.
"Diterima gak?" tanya Shaka sekali lagi.
"Terima! terima! terima!" seru Salwa, Hasna, Calix, Ferel, Dzaki dan Dafi,beserta sepupu sepupu dan para keponakan Annisa yang ada di ruangan itu.
Annisa memanyunkan bibirnya dengan wajah tersenyum ke arah sahabat sahabatnya itu.
"Gak usah malu kali, Annisa!" seru Ferel.
"Diterima"
**
"Ya Allah, aku ikhlas dengan segala ketentuan MU. Tapi hamba mohon, tabah kan hati ini menerima kenyataan jika Annisa bukan untuk hamba. Ampunilah segala dosa dosaku selama ini, hari ini dan yang akan datang. Karena hamba tidak akan pernah luput dari salah dan dosa. Amiiin!."
__ADS_1
Furqon mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya saat mengakhiri doa nya, sembari menghapus cairan bening yang sempat mengalir dari sudut matanya.
Annisa, gadis yang tersimpan selama sepuluh Tahun di dalam hatinya itu. Kini sudah resmi di lamar pria bernama Shaka. Hanya tinggal sedikit lagi, Furqon akan kehilangan harapan untuk mendapatkan Annisa.
'Mungkin aku terlalu mangharap kan nya, sehingga Tuhan memutuskan harapanku' batin Furqon.
'Astaqfirullohal 'azim!.'
Furqon berdiri dari atas sajadahnya. Setelah menyimpannya bersama sarung dan baju kokoh yang di pakainya. Furqon langsung naik ke atas tempat tidur untuk beristirahat. Namun Furqon tidak bisa tidur, meski sudah menukar posisinya berulang kali, padahal malam sudah menunjukkan jam dua dini hari. Hatinya lagi bersedih, mengingat Annisa sebentar lagi akan menikah dengan Shaka. Furqon terus memikirkan Annisa, terus terbayang bayang wajah gadis berusia remaja itu.
**
Begitu juga dengan Annisa yang sudah terbaring di atas tempat tidurnya. Seminggu lagi, pernikahan Annisa akan di gelar. Mengingat itu, bukannya Annisa bahagia, malah Annisa merasa semakin galau.
'Ya Allah, bantu aku melupakan Ustadz Furqon' batin Annisa.
Entah sudah berapa kali Annisa menukar posisi tidurnya, namun mata Annisa enggan untuk tertidur. Wajah Furqon terus menari nari di pelupuk matanya. Kata kata Furqon terakhir kali mereka bertemu siang tadi di sekolah, terus terngiang ngiang di telinga Annisa.
"Ya Allah!" ucap Annisa langsung mendudukkan tubuhnya, dan mengacak acak rambut panjangnya sampai berantakan.
"Kalau seperti ini terus, aku bisa gila. Ustadz Furqon sudah seperti hantu datang membayangiku" monolog Annisa frustasi.
Tiba tiba Annisa merasakan matanya perih seperti terkena asap pembakaran. Annisa pun mengusap matanya yang berkaca kaca.
'Shaka, Shaka, Shaka, Shaka, Shaka....'
Annisa terus membatin mengucapkan nama Shaka di dalam hatinya, supaya Furqon menyingkir dari pikirannya.
**
Sedangkan Shaka yang sudah berada di dalam kamarnya pun begitu. Pria berusia remaja yang sudah siap menikah itu pun tidak bisa tidur dari tadi. Shaka terus menghayal, berangan angan, memikirkan kehidupannya nanti setelah menikah. Sudah tidak ada batasannya lagi nanti dirinya dengan Annisa. Mereka sudah bebas berpegangan tangan saat berjalan, boleh berpelukan, dan boleh cium cium dikit.
"Huh!"
Shaka menghembuskan napasnya kasar dari mulut, mengingat perjanjiannya dengan Ustadz Bilal, yang tidak boleh bercampur dengan Annisa sebelum mereka lulus sekolah.
Shaka pun mengacak acak rambutnya dengan kasar. Berpikir apakah dia sanggup atau tidak. Rasanya itu berat sekali. Diakan laki laki normal.
'Aha!'
Wajah Shaka berubah sumiringah saat menemukan ide sesuatu.
'Aku bisa minta tolong Annisa ,kan?. Kalau si budiman mengamuk' batin Shaka lagi.
__ADS_1
'Hm hm hm hm...!. Aku yakin, Annisa pasti menjerit melihat si budiman pertama kali.'
Shaka tertawa di dalam hati saat membayangkan Annisa melihat adik kesayangannya.
'Astaqfirullohal 'azim!' batin Shaka lagi, tersadar dengan pikirannya yang sudah sampai kemana mana.
Shaka pun mengacak acak kasar rambutnya, karena tidak bisa tidur. Setelah resmi melamar Annisa tadi. Shaka terlalu bahagia, sehingga matanya enggan untuk terlelap. Wajah cantik Annisa tadi, terus menari nari di kelopak matanya. Seperti bidadari surga yang turun dari kayangan.
**
Tok tok tok !
"Annisa! kok belum keluar?. Ini udah jam tujuh loh!. Pak supir sudah menunggu mu dari tadi!" seru Mama Aqeela sambil mengetok pintu kamar Annisa.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Annisa belum juga keluar dari kamarnya. Padahal hari ini Annisa Haris sekolah lagi.
"Annisa!" seru Mama Aqeela lagi mengencangkan suaranya, karena Annisa belum juga membuka pintunya, dan pintu kamarnya pun di kunci dari dalam.
"Annisa nya belum bangun ya?" tanya Umi Hani, menyusul ke lantai dua rumah itu, mendengar mantan istri suaminya itu berteriak memanggil Annisa.
"Mana kunci cadangan kamar ini?, sepertinya Annisa belum bangun" tanya Mama Aqeela.
"Sebentar Kak." Umi Hani pun langsung melangkahkan kakinya menuruni tangga rumah itu, untuk menanyakan suaminya, dimana kunci cadangan kamar Annisa.
Sampai di lantai bawah rumah itu, Bilal yang sedang menimang nimang baby Han, mengerutkan keningnya melihat wajah Umi Hani cemberut.
"Kamu kenapa?" tanya Ustadz Bilal kepada istrinya, padahal sudah tau jawabannya. Kalau mantan istrinya sedang menginap di rumah mereka. Wajah istrinya itu selalu terlihat masam di depannya.
"Kunci cadangan kamar Annisa dimana?" tanya Umi Hani, ketus.
"Annisa belum bangun?" tanya balik Bilal.
"Iya" jawab Umi Hani semakin mengerucutkan bibirnya.
"Itu di laci sana!" tunjuk Bilal dengan dagunya ke arah meja yang berada di depan kamar mereka.
Umi Hani pun melangkahkan kakinya dengan sedikit menghentak hentak. Kesal kesal kesal, seharusnya suaminya itu tidak mengijinkan mantan istrinya untuk menginap. Tapi untuk mengatakan itu, Umi Hani tidak berani. Dan juga, khawatir Annisa bisa membencinya.
"Bagaimana pun juga Aqeela itu sepupu ku. Dan aku mengijinkannya menginap di sini, itu demi Annisa. Aku rasa Aqeela juga mau melakukannya demi Annisa."
Umi Hani langsung memutar tubuhnya ke arah Ustadz Bilal yang sudah berdiri di belakangnya.
"Ehem! tenang aja, aku sudah gak berniat untuk kembali kepada si burung cicit itu" ujar Mama Aqeela tiba tiba datang.
__ADS_1
*Bersambung