
"Hei bocah! ngapain kamu lari lari?" seru Ferel melihat Dafi berlari kesana kemari.
"Itu warga datang menggrebek kita. Bagaimana kalau kita di kawinkan nanti?" ujar Dafi bersembunyi di balik sofa.
Ferel berdecak, gimana ceritanya mau di kawinkan, mereka kan sama sama buah pisang. Lagian mereka hanya bobo aja, dan gak ngapa ngapain.
"Sini bocah!" Ferel melambaikan tangannya ke arah Dafi yang mengintip di balik sofa.
"Gak ah, aku gak mau ketangkap basa" tolak Dafi.
"Kita kan gak main air, gimana mau basah" ujar Dzaki yang duduk di tempat berbaring ya tadi.
"He um" Ferel menganggukkan kepalanya, setuju dengan yang di katakan Dzaki.
**
Di lantai dua rumah itu, lagi lagi Annisa harus bangun mendengar bunyi gerbang rumah itu di ketok ketok dari luar. Annisa melihat Shaka yang tidur di sampingnya, sudah tertidur pulas tidak terganggu sama sekali dengan bunyi berisik dari luar rumah.
"Permisi! Assalamu alaikum!"
Ting Ting ting!
Seru seorang pria dari luar gerbang sambil memukul mukul gerbang rumah itu.
"Siapa sih?" gerutu Annisa. Matanya sudah ngantuk, tapi sukar tidur karena terus mendengar suara brisik dari tadi. Annisa pun membangunkan Shaka, biar Shaka saja yang mengurus orang ribut di luar pagar rumah.
"Shaka" Annisa menggoyang tangan Shaka sedikit kuat.
"Hm!"
"Itu ada orang datang, dari tadi mukul mukul gerbang terus" ujar Annisa.
"Hm!"
"Shaka!" Annisa meninggikan sedikit suaranya. Kalau dibagunin, suaminya itu selalu saja susah.
"Apa sayang?" akhirnya Shaka membuka matanya dan menoleh ke wajah Annisa yang sudah duduk di sampingnya.
"Ada orang datang, san lihat dulu, mana tau penting" Annisa menarik lengan Shaka, supaya cowok tampan seratus persen miliknya itu segera bangun dan turun dari atas kasur.
"Iya" Shaka pun langsung bangun dan turun dari atas kasur.
"Shaka! Shaka! Shaka!, gawat!."
__ADS_1
Shaka dan Annisa langsung berpandangan mendengar suara si kembar Dafi berseru dari luar kamar.
"Gawat?" Annisa mengerutkan keningnya, bingung.
Shaka sendiri bergegas melangkah ke arah pintu, di ikuti Annisa dari belakang.
"Stop!"
Shaka langsung mencegah Annisa yang ingin ikut keluar kamar.
"Aku juga ingin melihat, apa yang gawat di bawah" ucap Annisa.
Tanpa aba aba, Shaka langsung menyambar bibir Annisa, dan langsung melepasnya.
"Kamu mau keluar tanpa penutup kepala?. Awas aja kalau berani" gemas Shaka. Mereka sedang tidak berdua di dalam rumah itu, ada Ferel, Calix, Dafi dan Dzaki juga.
"Astaqfirulloh, tapi gak usah marah juga kali bilanginnya" kesal Annisa dan berbalik badan ke arah kasur untuk mengambil jilbabnya.
Setelah melihat Annisa memakai jilbabnya, baru Shaka membuka pintu di depannya dan langsung keluar.
"Gawat kenapa?, kalian ribut aja dari tadi, ganggu orang tidur aja. Kenapa kalian gak tidur di rumah kalian?" oceh Shaka sambil melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuruni anak tangga ke lantai bawah. Ternyata di ruang tamu rumah itu, sudah ada beberapa orang Bapak bapak.
Ada apa gerangan, Bapak bapak itu bertamu tengah malam?, pikir Shaka. Shaka pun langsung menyalam Bapak bapak itu dengan santun dan hormat.
Sedangkan Calix, Ferel, Dafi dan Dzaki berdiri berbaris di belakang sofa yang di duduki Shaka.
"Begini dek Shaka" Seorang Bapak yang di duga sepertinya ketua RT di lingkungan itu menjeda kalimatnya sebentar dan menoleh ke arah Bapak Bapak yang datang bersamanya secara bergantian. Tidak lain para Bapak bapak itu adalah tetangga Shaka dan Annisa sendiri.
"Maaf Dek, bukan maksud apa apa. Ehem, begini Dek" Pak Rt itu menjeda kalimatnya lagi.
Sedangkan Shaka mengerutkan keningnya, menunggu Pak Rt itu selesai mengatakan maksud kedatangan mereka.
"Lama amat, tinggal menjelaskan aja kok susah sih Pak?. Kamu udah ngantuk nih, cepat katakan, Pak. Apa maksud dan tujuan kalian bertamu malam malam ke sini?" ujar Calix menyeletuk begitu saja, gak ada sopannya.
"Hus! Calix diam!" tegur Shaka menatap Calix yang berdiri dibelakangnnya dengan tajam.
Calix langsung terdiam dan menutup mulutnya dengan tangan. Galak amat Ayah Shaka.
"Iya Pak, ada apa sebenarnya?" tanya Shaka lagi. Si Pak Rt memang lemot amat, tinggal menjelaskan kok mikirnya kelamaan, banyak basa basi. Siapa yang memilihnya menjadi ketua Rt?, gak tegas dan bijak sana begitu.
"Begini Dek!"
"Ya Allah Pak, kami udah ngantuk nih. Besok kami harus sekolah lagi, ujian kelulusan Pak. Jangan sampai kami gak lulus gara gara Bapak!" kini Ferel yang menyeletuk tidak sopan.
__ADS_1
"Ferel, diam!" tegur Shaka.
"Iya Pak Rt, ada apa ya?."
Suara merdu Annisa yang baru menapakkan kakinya di lantai bawah rumah itu, berhasil mengalihkan perhatian para Bapak bapak yang duduk di sofa ruang tamu itu.
"Begini Dek, kata Para Bapak Bapak ini, kalian memasukkan tamu laki laki dan perempuan ke rumah ini."
"Terus, yang menjadi masalahnya apa ya Pak Rt?" tanya Annisa dengan cepat dan mendudukkan tubuhnya di samping Shaka.
"Mereka siapanya Dek Shaka dan Dek Annisa?. Para Bapak bapak ini Khawatir, kalau teman teman kalian ini melakukan hal yang gak gak...."
"Astagfirullohal azim! Pak Rt!" seru Shaka, Annisa, Ferel, Calix, Dafi, Dzaki. Salwa dan Hasna yang dari tadi berdiri di ambang pintu kamar di lantai bawah rumah itu.
"Pak Rt, cowok tampan dan imut yang berdiri di belakangku ini, sepupu kandungku. Ayah kami kakak beradik kandung. Dan yang itu, cewek yang memakai baju warna pink, saudara kembar Shaka. Apa salah mereka menginap di rumah saudara mereka?. Lagian kami ada di orang yang akan menjamin mereka tidak akan melakukan hal hal yang aneh" oceh Annisa menjelaskan.
"Bukan bermaksud Bersu'uzon, sebagai tetua di lingkungan ini, kami harus memastikan lingkungan ini bersih dari hal hal yang tidak tidak. Apa lagi Dek Annisa dan Dek Shaka masih sangat muda. Begitu juga dengan teman teman kalian ini. Kami ke sini hanya untuk mengingatkan, jangan sampai mencoreng nama baik lingkungan ini. Dan jangan ribut ribut sampai mengganggu tidur para tetangga" jelas salah satu si Bapak yang datang.
"Insya Allah, teman teman kami ini orang yang amanah, Pak!. Tidak perlu di khawatirkan. Dan saya akan menjamin itu Pak. Mereka sudah tau batasan batasan dalam bergaul" balas Shaka.
"Iya, Pak" sambung Annisa.
"Alhamdulillah, kalau begitu, kami permisi. Ingat Dek, jangan ribut ribut sampai mengganggu tetangga tidur" ujar si Bapak yang terlihat bijak sana itu.
"Silahkan, Pak!" celetuk Dzaki.
Shaka langsung memutar tubuhnya ke arah Dzaki yang berdiri di samping Ferel, dan menatap tajam bocah kembar itu.
"Kalau begitu, kami permisi Dek, Trimakasih atas waktunya" pamit si Pak Rt sekali lagi, sambil berdiri dari tempat duduknya di ikuti yang lainnya.
"Trimakasih, Pak" balas Annisa ikut berdiri dari tempat duduknya.
Shaka dan Annisa beserta the gengs pun mengantar para Bapak Bapak itu sampai keluar gerbang.
"Assalamu alaikum" ucap salah satu si Bapak saat akan meninggalkan rumah anak muda itu.
"Walaikum salam !!!"
Setelah para Bapak bapak itu menjauh, Shaka langsung membalik badannya ke arah Ferel, Calix, Dafi dan Dzaki. Menatap tajam ke empat sahabatnya itu.
"Ini gara gara kalian ribut, makanya mereka datang ke sini!" ucap Shaka dan langsung melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam rumah.
"Ayah Shaka marah ya?" Dafi mengembankan pipinya.
__ADS_1
*Bersambung