Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Menggrebek


__ADS_3

"Salwa dan Hasna mana?" tanya Annisa melihat Shaka kembali masuk ke dalam kamar mereka.


"Di kamar bawah" jawab Shaka menutup pintu kamar itu kembali dan menguncinya.


"Aku tidur bersama mereka ya." Annisa melangkahkan kakinya ke arah pintu, dan Shaka langsung menangkap tubuhnya.


"No no no!" Shaka menggoyang goyang jari telunjuknya di depan wajah Annisa.


"Malam ini aja, ya" bujuk Annisa dengan wajah memohon. Sudah lama mereka tidak tidur bareng. Semenjak menikah, Shaka tidak pernah mengijinkannya bobo bareng dengan Salwa ataupun Hasna. Meski mereka sedang di rumah orang tua Shaka sendiri.


"Gak Annisa sayang" tandas Shaka, tidak mengijinkan sama sekali.


Annisa menghentakkan kakinya ke lantai, lalu memutar tubuhnya melangkah ke arah kasur dan menjatuhkan tubuhnya di sana.


Shaka langsung mengikutinya, langsung menindih tubuh Annisa yang berbaring di atas kasur.


"Shaka! berat tau!" teriak Annisa dari bawah Shaka.


"Mulai sekarang kamu harus berlatih menahan berat tubuhku, supaya nanti kamu terbiasa" ucap Shaka malah memeluk erat tubuh Annisa.


"Ayah Shaka! buka pintunya!."


Shaka langsung berdecak dan turun dari atas tubuh Annisa saat mendengar teriakan Dafi dari depan rumah.


"Ngapain mereka pulang ke sini?" tanya Annisa.


"Gak tau, kita tidur aja yuk!. Ada Salwa dan Hasna yang membuka pintu untuk mereka" Shaka menarik selimut untuk menutup tubuh mereka berdua, kemudian memeluk tubuh Annisa dengan hangat.


"Ayah Shaka!."


Annisa mengerutkan keningnya mendengar suara teriakan Dafi sepertinya sudah berada di dalam rumah. Dan benar saja....


Buar buar buar!


"Ayah Shaka! kenapa kami di tinggal!."


Dafi dan Dzaki yang sudah sampai di depan kamar Shaka dan Annisa terus mengendor pintunya sambil memanggil manggil Ayah Shaka.


"Semenjak kapan aku menjadi Ayah mereka?" gemas Shaka mengerutu sambil turun dari atas tempat tidur. Semenjak menikah dengan Annisa, si kembar Dzaki dan Dafi selalu memanggilnya Ayah.


Annisa tersenyum, semenjak mereka menikah, Shaka memang terlihat bertingkah seperti Bapak bapak, baik dari bahasa tubuhnya, atau pun cara berbicaranya. Mungkin setelah menikah, Shaka merasa memiliki tanggung jawab yang besar, sehingga membuatnya semakin cepat dewasa.


"Ada apa?" Shaka menatap malas kedua sahabatnya itu setelah membuka pintu.


"Calix juga ikut ke sini. Selesai acara kedua orang tuanya langsung pergi berbulan madu" jawab Dafi.


"Apa urusannya denganku?" cetus Shaka menutup pintu kamarnya kembali, namun Dzaki dan Dafi langsung menahannya.


"Kami mau tidur di sini" jawab Dzaki.

__ADS_1


Shaka mendengus, setelah mendorong tubuh Dzaki dan Dafi, dengan gerakan cepat, Shaka langsung menutup pintu kamarnya kembali.


"Ayah Shaka! kami pengen tidur sama Ayah!."


Buar buat buar!


Ceklek!


Shaka kembali membuka pintu kamarnya." Kami mau membuat Dede bayi, uwek!." Setelah memeletkan lidahnya ke arah Dafi dan Dzaki, Shaka menutup pintunya kembali.


"Aku gak yakin, lato lato nya bisa berbunyi. Buktinya Annisa Sampai sekarang gak bunting bunting" ujar Dzaki.


"Aku pikir juga begitu" sambung Dafi melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu untuk turun ke lantai bawah.


Di lantai bawah rumah itu. Di sana Calix dan Ferel sudah tidur tergelentang di atas tikar. Keduanya sudah sama sama terlelap.


"Yah! udah tidur mereka" ujar Dafi melangkahkan kakinya mendekati Ferel, kemudian mengguncang kuat lengannya, membuat Ferel langsung terbangun.


Tak!


"Dafi, tidur" ucap Ferel seperti perintah setelah menyentil kening bocah nakal itu.


"Main game yuk!" ajak Dafi.


"Besok kita masih ujian bocah!" ujar Ferel.


"Iya juga sih, tapi aku belum bisa tidur. Tadi aku tidur sampai sore setelah pulang dari sini."


"Papa Dhikra" jawab Dafi.


"Mama kamu namanya siapa?" tanya Ferel lagi.


"Emmm! Mama Nadia Mulyani Surya Ningsih" jawab Dafi lagi.


"Ya udah, ayo tidur." Ferel yang mengantuk banget menarik tubuh Dafi sampai berbaring di sampingnya, kemudian memeluk tubuh Dafi dengan erat.


"Uhuk uhuk uhuk! Ferel aku gak bisa napas!" teriak Dafi.


"Kalian berisik banget sih! orang mau tidur juga." Salwa keluar dari kamar tamu di lantai bawah rumah itu dengan wajah mengantuk. Dia sudah hampir ketiduran, tapi Dafi masih aja berteriak.


"Lihat tuh bocah, calon istriku terbangun gara gara kamu." Farrel pun menepuk nepuk pantat Dafi, seperti menidurkan anak kecil.


"Dzaki!" Teriak Calix tiba tiba, melihat tubuhnya di peluk erat oleh kembaran Dafi.


"Astaqfirullohal azim" ucap Ferel langsung mendudukkan tubuhnya. Kaget mendengar teriakan Calix.


**


Di lantai atas rumah itu, Annisa yang mulai ketiduran, mendudukkan tubuhnya karena mendengar ribut ribut dari lantai bawah rumah itu. Annisa pun membangunkan Shaka yang sudah terlelap di sampingnya.

__ADS_1


"Shaka" Annisa menggoyang sedikit lengan Shaka.


"Hm!"


"Kenapa sih mereka ribut banget?. Nanti kita di tegur sama tetangga loh."


"Shaka" panggil Annisa lagi melihat Shaka diam saja.


"Ayo tidur lagi, gak usah urusin mereka. Mereka sudah besar, sayang. Mereka punya Mama sama Papa masing masing." Shaka berbicara tanpa membuka matanya, sambil tangannya menarik tubuh Annisa supaya kembali berbaring.


"Tapi mereka berisik banget" ucap Annisa lagi. Namun Shaka diam saja dan sudah terlelap kembali.


**


"Ngapain kamu peluk peluk aku, ih ih ih" Calix mengusap usap tubuhnya bekas pelukan Dzaki ke tubuhnya.


"Gak ada guling" Dzaki mengerucutkan bibirnya matanya melirik ke arah Dafi yang anteng di dalam pelukan Ferel. Dzaki tidak bisa tidur tanpa guling, sehingga setelah membaringkan tubuhnya tadi di samping Calix, Dzaki memeluk tubuh Calix supaya bisa tidur.


"Tapi kan aku bukan guling."Calix berdecak. Memang kedua sahabat mereka, Dzaki dan Dafi agak rada rada aneh kalau mau tidur. Harus ada peluk peluk nya.


Ting Ting ting!


"Permisi! Assalamu alaikum!."


Calix, Dafi, Dzaki dan Ferel langsung menoleh ke arah pintu mendengar ada orang yang mengetok ngetok gerbang sambil mengucap salam.


"Siapa itu?, masa iya ada orang bertamu malam malam?" tanya Calix.


"Permisi! Assalamu alaikum!."


Suara seorang pria itu terus memanggil manggil sambil mengetok ngetok besi gerbang rumah itu.


"Ferel, coba lihat siapa yang datang" suruh Dzaki.


"Gak ah, anakku mau bobo" tolak Ferel, kembali menepuk nepuk pantat Dafi supaya bocah itu tertidur.


Calix berdecak, kalau mereka lagi ngumpul bareng. Pasti tingkah para sahabatnya itu rada rada aneh. Calix pun berdiri dari lantai melangkahkan kakinya ke arah kaca jendela rumah itu, untuk mengintip siapa yang datang.


"Siapa?" tanya Dzaki pada Calix.


"Warga" jawab Calix.


"Banyak?" tanya Dzaki lagi.


"Banyak" jawab Calix sambil memperhatikan orang orang yang berada di luar pagar rumah itu.


"Untuk apa mereka ke sini malam malam?" tanya Ferel bingung. Mereka memang baru pertama kali ini menginap rame rame di rumah Shaka dan Annisa.


"Sepertinya mau menggrebek kita" jawab Calix.

__ADS_1


"Aduh, gawat" Dafi langsung beranjak dari samping Ferel, berlari ke sana kemari untuk mencari tempat persembunyian.


*Bersambung


__ADS_2