
'Apa benar Annisa mencintaiku?. Kelihatannya dia begitu hancur setelah mengetahui kalau aku dan Yasmin di jodohkan.'
Furqon membatin sambil memperhatikan Annisa yang berjalan ke arah kelasnya. Setelah Annisa menghilang dari pandangannya, Furqon baru memutar tubuhnya masuk ke dalam ruang kantor guru.
Sampai di ruang kantor guru, Furqon mendudukkan tubuhnya dan termenung. Entah apa yang di pikirkan nya, hanya dialah yang tau.
Sedangkan Annisa yang sudah sampai di kelasnya, mendudukkan tubuhnya di bangku yang biasa ia duduki.
"Aku mau pindah sekolah" ucap Annisa tanpa melihat Hasna yang duduk di sampingnya.
"Berapa Bulan?" tanya Hasna, tidak percaya jika Annisa akan betah di sekolah yang baru.
"Sampai lulus SMA, setelah itu aku mau melanjut kuliah ke Arab Saudi" Jawab Annisa.
"Setelah itu kamu akan menikah dengan orang Dubai, dan akan menetap di sana, tidak pulang pulang lagi untuk menghindari Ustadz Furqon" sambung Hasna, menatap Annisa dengan mata berkaca kaca. Mereka sudah berteman sejak kelas satu SD, tentu Hasna akan sedih jika Annisa pindah sekolah, mereka tidak akan bertemu setiap hari lagi.
"Aku harus bagaimana?, aku gak sanggup jika harus melihat Ustadz Furqon dan Kak Yasmin sering bersama nanti." Tadi malam Annisa sudah menceritakan pada Hasna dan Salwa soal Furqon dan Kakaknya Yasmin yang sudah di jodohkan.
"Kamu ada ada aja, usia kita masih sangat muda, tapi kamu sudah memikirkan cinta cintaan. Seharusnya kamu fokus dengan cita citamu dulu." Hasna menghapus air matanya yang sudah tidak terbendungnya lagi. Selain kasihan melihat Annisa, Hasna juga sedih jika harus di tinggalkan sahabatnya itu.
"kamu benar, tapi yang namanya jatuh cinta, tidak akan bisa di frediksi kapan dan kepada siapa" balas Annisa.
Hasna langsung memeluk Annisa sambil menangis.
"Kamu baru hanya jatuh cinta, belum mencintai." Salwa yang tiba tiba datang menyambung pembicaraan mereka.
Annisa dan Salwa refleks menoleh ke arah Salwa, dan saling melepas pelukan.
"Emang apa bedanya jatuh cinta dan mencintai?" tanya Hasna, Annisa mengangguk anggukkan kepalanya.
"Jatuh cinta, perasaan kasih sayang yang tiba tiba muncul untuk seseorang. Sedangkan mencintai. Bisa dikatakan menerima segala kekurangan dan kelebihan orang tersebut" Jelas Salwa menurut pemikirannya.
"Iya Annisa, apa kamu benar sudah mencintai Ustadz Furqon?. Kamu kan belum mengenalnya sama sekali, belum tau bagaimana orangnya. Bisa aja kamu hanya terpesona dan kagum" tanya Hasna.
__ADS_1
Annisa menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan sebelum menjawab pertanyaan Hasna." Kalau aku gak mencintai Ustadz Furqon, mungkin rasanya tidak sesakit ini."
"Tapi kamu jangan pindah ya. Kamu tega ninggalin kami berdua" bujuk Salwa, merubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Iya Annisa, kalau kamu pindahnya jauh, kami gak bisa ikut. Bagaimana kalau kamu pindah sekolahnya ke pesantren Umi kamu?. Biar kami bisa ikut pindah ke sana" ucap Hasna memberi usulan.
"Aku kangen tinggal bersama Mama" Annisa menundukkan kepalanya, bersedih.
Hasna dan Salwa pun saling berpandangan, serentak menekuk bibir bawah mereka masing masing.
"Assalamu alaikum!"
"Walaikum salam Bu!."
Mendengar seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas mengucap salam. Salwa yang tadinya berdiri di samping Hasna, berpindah ke bangkunya.
Waktu istirahat
Annisa, Hasna, Salwa sama sama melangkahkan kaki mereka ke arah kantin untuk mengisi perut mereka yang mulai kosong. Namun Annisa yang berjalan di tengah tengah, tiba tiba menghentikan langkahnya melihat Ustadz Furqon baru keluar dari dalam kelas tempatnya mengajar.
"Kalau memang Ustadz Furqon di jodohkan denganku. Sudah pasti aku akan mengurungnya di dalam kamar, supaya kamu tidak pernah melihatnya" balas Salwa.
"He um!" Hasna mengangguk anggukkan kepalanya.
"Sekarang, ayo kita ke kantin, perutku udah lapar banget, tadi aku gak sarapan. Nanti aja bicarain Ustadz Furqon lagi." Salwa memeluk lengan Annisa sebelah kiri lalu menariknya berjalan ke kantin, di ikuti Hasna menarik tangan Annisa sebelah kanan.
Sampai di kantin, Annisa mendudukkan tubuhnya di bangku kosong yang biasa mereka bertiga duduki, sedangkan Salwa dan Hasna pergi memesan makanan dan minuman ke stand penjual makanan dan minuman di kantin itu.
Buyarrrr!
" Sorry! gak sengaja."
Melihat bajunya basah, Annisa langsung mengarahkan pandangannya ke arah orang yang berdiri di sampingnya. Cewek itu adalah orang yang sering membuat Annisa tersandung di dalam kelas.
__ADS_1
"Kamu sengaja kan?" tanya Annisa mengeraskan rahangnya ke arah cewek itu.
"Maaf Annisa, aku hampir terjatuh gara gara menginjak lantai licin" ucap cewek itu menatap Annisa dengan wajah mengiba.
"Kamu pikir aku percaya?" geram Annisa setelah memperhatikan lantai di sekitar meja, ternyata tidak ada yang basah. Sepertinya kesabarannya sudah habis menghadapi teman satu kelasnya yang satu itu.
"Annisa, aku udah minta maaf, kenapa kamu masih marah?" ucap Cewek itu.
"Kamu tanya kenapa aku marah? Hah!. Gak lihat bajuku sudah kotor?" bentak Annisa berdiri dari tempat duduknya." Dan kamu pikir, kuah bakso mu itu tidak panas ke kulitku?. Dan aku tau kau sengaja menumpahkan makanan dan minuman mu itu ke bajuku!."
Melihat Annisa marah marah, berhasil membuat penghuni kantin itu berkerumun, untuk menyaksikan adegan selanjutnya, tanpa berniat melerai keduanya.
"Aku kan, udah bilang gak sengaja!. Aku juga udah minta maaf dengan baik baik!. Kenapa kamu masih marah. Soal bajumu kotor, kamu kan bisa menggantinya!. Lagian sekolah ini milik keluargamu, gak perlu bayar meminta seragam kan!" balas cewek itu gak terima di bentak bentak Annisa.
"Oh! jadi menurutmu, gak apa apa mengotori bajuku, karna aku gratis meminta seragam yang baru di sekolah ini?" gemas Annisa, berbicara dengan berkacak pinggang.
Melihat Hasna dan Salwa datang membawa nampan berisi makanan dan minuman. Annisa langsung mengambil semangkok bakso yang di bawa Hasna dan langsung menyiramkannya ke arah cewek itu.
"Awu!" keluh cewek itu kepanasan di bagian dadanya.
"Annisa!" tengur Hasna dan Salwa bersamaan, tidak percaya melihat tindakan Annisa yang tega menyiramkan kuah panas pada orang lain.
"Panas?. Itulah yang kurasakan." Annisa berbicara merapatkan gigi giginya. Tapi masih ada yang lebih panas dari kuah bakso itu.
Tanpa aba aba cewek itu menarik jilbab Annisa dengan cepat, sampai kain yang menutup kepala Annisa terlepas dari kepalanya. Yang langsung dibalas Annisa dengan menarik jilbab cewek itu juga.. Bukan hanya itu saja, Annisa mencakar wajah teman satu kelasnya yang sering memancing emosinya itu. Sehingga terjadi baku hantam, saling tarik menarik, pukul memukul.
"Annisa, udah! udah!. Istiqfar Annisa. Ya Allah Annisa, tahan emosi. Jangan biarkan amarah menguasai kamu" oceh Hasna, mencoba untuk menarik Annisa supaya melepaskan lawannya.
"Iya, Annisa, kamu sedang di kuasai syetan. Istiqfar Annisa" sambung Salwa yang ikut menarik tangan Annisa dari rambut cewek itu.
"Selama ini aku sudah terus mencoba mengalah dan diam. Tapi semakin lama, dia semakin menjadi jadi. Biar aku beri dia pelajaran, biar dia tau kalau aku tidak akan takut melihat dia." Bukannya melapas rambut lawannya itu, Annisa malah semakin mengencangkan tarikannya.
"Awu! sakit Annisa!. Tadi aku udah minta maaf, kenapa kamu masih marah? Aaaakh!." Cewek itu menjerit.
__ADS_1
"Annisa!"
*Bersambung