
"Abi" panggil Umi Fadilah kepada suaminya.
Abi Munzir yang sedang sibuk membaca buku di tangannya langsung menoleh ke arah Umi Fadilah yang mendudukkan tubuhnya di sofa di sampingnya.
"Bagaimana kalau kita mencari calon istri untuk Furqon, kasihan dia" ucap Umi Fadilah.
Abi Munzir pun meletakkan buku di tangannya di atas meja.
"Abi setuju aja, tapi apa Furqon ya setuju jika di jodohkan lagi ?. Dan apa Umi punya calon?" tanya Abi Munzir.
"Ngejodohinnya langsung nikah aja" jawab Umi Fadilah.
"Calonnya?" tanya Abi Munzir lagi.
"Belum ada. Kalau Furqon nya setuju, mungkin Umi bisa cariin."
"Umi, maaf Umi. Furqon gak mau dijodihin lagi."
Umi Fadilah dan Abi Munzir langsung menoleh ke arah Furqon yang keluar dari dalam kamarnya.
"Habis Umi lihat, kamu galau terus" ujar Umi Fadilah.
"Justru kalau Umi ngejodohin aku lagi, Aku akan semakin galau, Umi." Kali ini wajah Furqon terlihat kesal ke arah orang tuanya.
Dulu saja, Furqon tidak tau sejak kapan dirinya di jodohkan. Sampai Furqon harus memendam cintanya kepada seorang gadis kecil yang pintar bertilawah. Dan sekarang, Furqon belum berhasil move on, Umi nya sudah ingin menambah beban di hatinya.
"Perjodohanmu dengan Yasmin, di batalkan. Lamaran mu kepada Annisa, di tolak. Umi sedikit kesal nih sama Ustadz Bilal. Dia hanya memikirkan perasaan putri putrinya, tanpa memikirkan perasaan mu" ucap Umi Fadilah terdengar sedikit kesal.
Furqon menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya sedikit kasar, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang bersebrangan dengan kedua orang tuanya.
"Mungkin di antara Yasmin dan Annisa, tidak ada yang berjodoh dengan Furqon, Umi" ucap Furqon terlihat lebih tabah dari pada Uminya." Dan juga Furqon gak mau mengambil keputusan dengan gegabah. Umi tenang aja, insya Allah, nanti Furqon pasti menikah. Tapi nanti, setelah Furqon berhasil menata hati Furqon dengan rapi. Furqon gak mau, Furqon menikahi wanita lain karena tidak mendapatkan Yasmin atau Annisa. Kasihan nanti Umi, anak gadis orang."
__ADS_1
" Iya Umi, mulai sekarang biarkan Furqon yang memilih pasangannya. Kita jangan melakukan kesalahan untuk ke dua kali, Umi" ucap Abi Munzir. Telah menyadari kesalahannya yang menjodohkan Furqon dengan Yasmin tanpa meminta pendapat anaknya, yang ternyata jatuh cinta dengan Adik Yasmin bernama Annisa.
"Hari Minggu besok Annisa sudah akan menikah dengan pria lain" desah Umi Fadilah menatap iba ke arah Furqon.
"Furqon gak apa apa, Umi" Furqon mengulas senyum tulus ke arah Umi Fadilah. Kalau gak jodoh mau diapakan?. Lebih baik dipasrahkan semua pada Allah. Hati menjadi lebih tenang dan damai.
"Maafin, Umi ya. Coba Umi gak menjodohkan mu dengan Yasmin. Mungkin kamu yang akan menikahi Annisa" ujar Umi Fadilah.
Furqon malah semakin mengembangkan senyumnya."Kalau Annisa memang jodohku, sangat mudah bagi Allah untuk menyatukan kami. Tapi kalau tidak jodoh, meski aku mengikat Annisa dengan rantai besi sekali pun, mengurungnya di dalam istana. Tetap saja, Annisa akan terlepas dari jeratan ku. Seperti yang sudah Umi lakukan. Mengikatku dengan Yasmin dengan tali perjodohan selama puluhan Tahun lamanya. Akhirnya aku lepas sendiri dari perjodohan itu."
"Abis dulu Umi sangat pengen punya anak perempuan. Pas Yasmin lahir, jadi umi pengen menjadikannya menantu" ujar Umi Fadilah.
"Kenapa gak menjodohkannya dengan Bang Thariq aja?. Kan dia yang paling tua" tanya Furqon.
"Kalau sama Thariq, beda usianya kejauhan" jawab Umi Fadilah.
"Tapi kenyataannya, anak Umi yang tampan ini jatuh cintanya dengan Annisa. Usianya tujuh Tahun di bawah Annisa" balas Furqon masih setia mengulas senyumnya.
"Abi juga jauh beda usianya sama Umi kamu. Tapi Umi kamu dulu tergila gila sama Abi" celetuk pria tua yang duduk di samping Umi Fadilah itu.
"Sepertinya keberadaan Furqon udah mengganggu di sini. Kalau begitu Furqon pamit ke kamar Umi, Abi" pamit Furqon berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke arah kamarnya.
"Ayo Umi, malam sudah mulai larut. Kita masuk kamar yuk!" ajak Abi Munzir menarik tangan Umi Fadilah supaya berdiri dari sofa.
Sampai di dalam kamar, Furqon langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang dan kedua telapak tangan di letakkan di bawah kepala, lalu Furqon memejamkan kelopak matanya. Membaca doa di dalam hati.
**
"Ya Allah, yang telah menciptakan Langit dan Bumi beserta isinya. Yang telah menciptakan manusia. Dan mengetahui apa yang di bisikkan dalam hatinya. Ampuni hamba yang telah berdusta. Yang telah membohongi diri hamba sendiri. Jujur, hamba tidak bisa tidak memikirkan Ustadz Furqon ya Allah. Wajahnya selalu menari di pelupuk mata ini. Namanya selalu terucap di dalam hati ini. Selalu mengingatnya di dalam pikiran ini. Hamba mohon kepada MU ya Rob. Kabulkan lah permintaan hamba. Untuk menghilangkan Ustadz Furqon dari pikiran dan hati hamba. Karena sebentar lagi, hamba akan menikah dengan Shaka. Hamba gak mau ya Allah, jika hamba sampai berhianat kepada suami hamba sendiri."
"Dan tumbuhkan lah nanti cinta di hati ini untuk Shaka ya Allah, amin!."
__ADS_1
Annisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya setelah mengakhiri doanya.
**
"Ya Allah, aku belum pernah kecewa berdoa padamu. Apa pun yang akan Engkau kehendaki, hamba yakin itu yang terbaik untuk hamba ya Allah. Hamba ikhlas dengan segala ketetapan MU. Yang hamba mohon, tetaplah lindungi hamba dari rasa putus asa. Dan jangan biarkan hamba sampai tersesat karena rasa cinta ini. Tuntun hamba selalu di jalan Agama MU ya Allah, amin!."
Furqon mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya saat mengakhiri doanya.
**
"Annisa!"
"Iya Ma" Annisa yang sibuk mengerjakan tugas sekolah nya di meja belajarnya, langsung menoleh ke arah Mama Aqeela yang masuk ke dalam kamarnya.
"Ayo coba dulu bajunya, kalau gak pas biar Mama perbaiki" ujar Mama Aqeela memberikan baju gamis berwarna putih berbahan brukat kepada Annisa.
Annisa mengangguk sembari mengulas senyumnya, dan langsung mencoba baju yang akan di pakainya besok saat akat nikah.
"Udah pas kok Ma." Annisa melangkahkan kakinya ke arah meja rias di kamarnya, lalu memutar mutar tubuhnya di sana.
Mama Aqeela mengulas senyumnya, lalu mengusap lembut bahu Annisa dengan mata berkaca kaca.
"Nanti jangan seperti Mama" lirih Mama Aqeela. Refleks Annisa menolah ke arahnya, dan terdiam melihatnya menangis.
"Rumah tangga itu kuncinya seorang istri. Kuncinya harus banyak bersabar menghadapi suami. Jangan seperti Mama" ucap Mama Aqeela menghapus air matanya sendiri.
"Doa in Annisa, Ma!" ucap Annisa meneduhkan pandangannya.
"Setelah besok kamu menikah dengan Shaka. Lupakan Ustadz Furqon, Nak. Kamu yang mengambil keputusan ini, menerima Shaka menjadi suami kamu. Mama, Ayah kamu dan Umi kamu hanya mendukung kamu" ujar Mama Aqeela lagi.
Annisa mengangguk anggukkan kepalanya dengan air mata mengalir dari sudut matanya. "Iya Ma!" tangis Annisa terisak.
__ADS_1
"Pasti sayang, Mama pasti mendoakan semoga pernikahan kalian nanti langgang sampai maut memisahkan." Mama Aqeela pun mengusap usap punggung Annisa dari belakang.
*Bersambung.