
"Annisa, kamu mau kemana?" seru Hasna yang melihat Annisa membawa koper.
Pandangan Shaka, Salwa dan teman teman mereka langsung mengarah pada Annisa yang berjalan menarik koper ke arah pintu keluar rumah itu.
"Selangkah aja kamu berani keluar dari pintu itu, kau bukan istriku lagi, Annisa!."
Duar!
Langkah Annisa langsung terhenti tepat di ambang pintu rumah itu, jantungnya serasa tertusuk panah mendengar ucapan Shaka barusan. Selangkah lagi, Annisa sudah keluar dari rumah itu, itu artinya talak Shaka jatuh padanya.
"Kembali ke kamar, kau tidak ku ijinkan lagi kemana mana. Baik itu ke sekolah atau pun ke rumah keluarga mu."
"Shaka!" tegur Salwa melangkahkan kakinya mendekati saudaranya itu.
Annisa memejamkan matanya dan air matanya pun langsung luruh dengan begitu deras, mendengar Shaka akan mengurungnya. Akan menjadikannya tawanan di rumah itu.
"Apa apaan kamu Shaka?." Salwa membentak Shaka tidak terima Shaka memperlakukan Annisa seperti itu.
"Aku hanya ingin melindunginya dari fitnah" jawab Shaka langsung melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu.
"Tapi gak gitu juga caranya Shaka" protes Salwa.
Annisa semakin menangis terisak dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Dadanya terasa amat sesak di dalam. Shaka menghukumnya sekejam itu, tidak mengijinkannya keluar rumah sama sekali, bahkan untuk mengunjungi keluarganya sekali pun. Annisa merasa sudah salah memilih suami saat ini. Apa ini resiko memilih suami tanpa berpikir panjang?.
"Shaka, aku kecewa sama kamu!" seru Ferel, tidak terima Annisa di buat menjadi tawanan suaminya sendiri. Tapi Ferel tidak berhak ikut campur untuk urusan rumah tangga sahabatnya itu.
Shaka menghentikan langkah kakinya di pertengahan tangga mendengar Ferel berbicara padanya.
"Jadi kalian pikir aku gak kecewa, aku melihat istriku bersama pria lain di dalam kamar mandi yang sama?. Istriku masih mencintai pria lain?. Apa yang harus aku lakukan teman?. Jika aku terus membiarkannya keluar rumah, aku khawatir dia akan menciptakan fitnah yang baru. Dimana harga diriku sebagai suaminya?."
Ferel hanya bisa diam dan tidak bisa menjawab cercaan pertanyaan sahabatnya itu. Ferel juga paham perasaan Shaka. Tapi alangkah baiknya seharusnya Shaka memberi Annisa untuk menjelaskan yang sebenarnya. Ferel yakin sudah terjadi kesalah pahaman, Annisa dan Furqon tidak mungkin melakukan hal sekeji itu untuk menghianati keluarga mereka sendiri. Apa lagi Annisa sangat menyayangi Kakaknya, Yasmin.
"Ferel, Shaka sedang emosi. Percuma diajak bicara. Biarkan dia menenangkan diri dulu, beri dia waktu untuk merenung. Setelah hatinya tenang, mungkin kita bisa mengajaknya bicara" bisik Dzaki ke telinga Ferel.
__ADS_1
Ferel menarik napasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan. Benar yang di katakan Dzaki, Shaka sedang emosi. Dia akan tetap dengan pemikirannya, dan tidak akan bisa menerima pendapat orang lain.
"Ayo kita pulang, biar mereka sama sama berpikir. Nanti kita ke sini lagi. Mungkin nanti malam hati mereka sudah sama sama tenang" ajak Dafi.
Lebih baik mereka pergi dulu, memberikan waktu untuk suami istri itu untuk saling menenangkan diri. Karena tidak bagus juga jika mereka masuk lebih jauh ke ranah rumah tangga sahabat mereka itu.
Ferel mengangguk, ia pun melangkahkan kakinya ke arah pintu, dimana Annisa di sana masih duduk sambil menangis terisak. Ferel menurunkan tubuhnya, membantu Annisa untuk berdiri.
"Ssst! Shaka hanya sedang marah dan cemburu. Jangan terlalu di masukkan ke hati." Ferel membingkai wajah Annisa, kemudian kedua jempol tangannya menghapus lelehan bening di wajah sepupunya itu, lalu mengecup ujung kepalanya dengan sayang." Kami pergi dulu, nanti kami ke sini lagi."
Annisa menganggukkan kepalanya sambil menghapus air matanya yang enggan berhenti mengalir.
Setelah mengantar Annisa ke sofa dan mendudukkannya di sana, Ferel pun meninggalkan rumah itu bersama teman temannya, kecuali Salwa.
"Aku gak melakukan kesalahan apa pun Salwa."
"Ssst! aku percaya sama kamu Annisa" balas Salwa menarik Annisa ke dalam pelukannya dan mengusap usap lembut punggung sahabatnya itu.
Sambil menangis, Annisa pun menceritakan pada Salwa kenapa ia sampai berada di kamar mandi yang sama dengan Furqon.
"Lalu ini?." Salwa mengambil kertas surat Furqon yang sempat di buang Shaka ke lantai dan memberikannya pada Annisa.
"Aku gak tau masalah surat itu" jawab Annisa sejujur jujurnya.
"Tapi Shaka menemukannya di kamar mu" tuntut Salwa meminta penjelasan lebih.
Annisa mengambil surat itu dari tangan Salwa, dan langsung merobeknya tanpa berniat membacanya sama sekali, meski sebenarnya penasaran dengan isi surat itu.
"Semenjak aku sah menjadi istri Shaka. Aku sudah membuang jauh jauh Ustadz Furqon dari hati dan pikiranku. Tidak pernah terlintas sedikit pun lagi untuk bisa memilikinya. Karna apa Salwa?." Annisa membuang keping keping kertas di tangannya, membiarkannya berserak di lantai." Saat itu aku sadar, aku sudah melakukan kesalahan telah mencintai orang yang bukan milikku. Shaka lah jodohku. Cowok yang di ciptakan Allah untuk menjadi imamku. Pemilik kehidupanku, setelah yang Maha pencipta dan Ayahku."
"Masalah surat itu, aku bersumpah demi Allah. Aku tidak tau sama sekali tentang surat itu. Dan bahkan aku tidak tau kapan surat itu sampai ke dalam kamar ku. Dimana Shaka menemukannya. Aku gak tau sama sekali Salwa."
Air mata Annisa kembali mengalir deras, mengingat Shaka meragukan perasaannya.'Mungkin seperti ini sakit yang di rasakan Ayah. Saat Mama meragukan cintanya. Sampai mereka dulu sering bertengkar dan ribut, dan akhirnya bercerai' batin Annisa.
__ADS_1
Bibir Annisa bergetar, sekelebat mengingat kedua orang tuanya dulu sering bertengkar dan ribut di dalam kamar. Setelah bertengkar, kedua orang tua Annisa selalu sama sama menangis. Sekarang Annisa sangat takut, apakah ia akan mengalami hal yang sama dengan kedua orang tuanya?, bercerai setelah lelah bertengkar.
'Ya Allah, aku sangat takut.'
"Annisa" panggil Salwa melihat Annisa termenung dengan mata tak berkedip sama sekali.
Annisa langsung tersadar dan menoleh ke arah Salwa yang masih duduk di sampingnya.
"Biarkan aku sendiri" ucap Annisa.
Salwa terdiam dan memperhatikan intens wajah Annisa.
"Jangan beritahu Mama dan Papa" ucap Annisa lagi. Tak ingin kedua mertuanya mengetahui apa yang sudah terjadi. Bisa bisa nanti masalah mereka semakin besar kalau orang tua sudah memasuki wilayah pernikahannya dan Shaka.
"Tapi Shaka sudah keter...."
"Aku akan baik baik aja" potong Annisa cepat, meski tak yakin dengan apa yang ia katakan.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Akhirnya Salwa pasrah berpamitan.
Ya mungkin memang Annisa dan Shaka butuh waktu sendiri sendiri untuk merenung, memikirkan hubungan mereka setelah apa yang sudah menimpa Annisa.
Sepeninggal Salwa, Annisa mengangkat kedua kakinya ke sofa. Memeluk kedua kakinya, menjatuhkan kepalanya di atas lutut dan menangis pilu meratapi kesedihannya. Annisa merasa sendiri saat ini, keluarga dan suaminya tidak percaya padanya lagi.
**
Di rumah Ustadz Bilal, Para paman Annisa terlihat sibuk menyelidiki apa yang terjadi sebenarnya. Mereka tidak percaya, jika Annisa akan tega menghianati Yasmin, Kakak yang di sayangi Annisa sendiri. Pasti ada yang tidak beres.
Dan sebenarnya tadi mereka bukan bermaksud menuduh. Mereka ingin meminta penjelasan dari Annisa dan Furqon yang memang tertangkap basah keluar dari kamar mandi yang sama. Hanya saja, Shaka yang langsung terbawa emosi dan menarik Annisa pergi, membuat masalah tidak bisa dibicarakan secara baik baik.
"Sudah jelas sekali, ini adalah suatu jebakan" ujar Hasan. Dia adalah saudara sepupu Annisa, anak dari Pamannya bernama Reyhan." Cctv di bagian ruang makan, dapur dan area samping rumah di matikan." jelas Hasan lagi.
"Siapa yang melakukannya?."
__ADS_1
*Bersambung.