Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
100 persen, yakin


__ADS_3

Annisa menangis karena Shaka belum juga pulang ke rumah. Berpikir jika Shaka saat ini berada di rumah Inara. Jika memang benar, seharusnya Shaka mengangkat telephonnya, mengatakan yang sebenarnya padanya, jika malam ini giliran Inara, mengingat tadi malam Shaka bersamanya.


Tapi yang paling Annisa sedihkan, dia baru kembali. Tapi Shaka sudah langsung membagi waktu dengan wanita lain.


"Ini salahku, seharusnya aku gak pergi ninggalin dia" gumam Annisa dalam tangisnya.


Seandainya dia tidak pergi, Shaka tidak mungkin sampai hancur dan tersesat. Shaka juga tidak akan menikah dengan Inara. Tapi bagaimana lagi, Saat itu Annisa terlalu marah melihat Shaka jalan berdua dengan Inara.


Sedangkan Shaka yang berada di dalam salah satu sebuah Masjid. Terlihat begitu khusuk berzikir dan berdoa memohon ampun dan petunjuk kepada Allah. Berharap Allah memberinya ketenangan hati dan pikiran. Memberinya petunjuk supaya tidak sampai tersesat lagi dan tau kemana arah kakinya melangkah supaya tidak menyesal di kemudian hari. Shaka benar benar menyesal apa yang sudah di lakukan selama setahun ini. Membenci Annisa, meninggalkan Agamanya dan mendekati apa yang di benci Allah.


"Assalamu alaikum."


Mendengar orang menyapanya, Shaka langsung menoleh ke arah sumber suara itu dan langsung membalas salamnya.


"Walaikum salam."


"Dik, ini sudah hampir jam sebelas malam. Dari tadi saya ingin mengunci masjid ini, tapi Bapak melihat Adik sepertinya belum ingin mengakhiri zikirnya. Ada apa Dik? Adik lagi punya masalah?" tanya si Bapak penjaga Masjid itu dengan wajah yang begitu bersahaja.


Shaka menghapus air matanya yang sempat mengalir dari sudut matanya. Enggan untuk menjawab pertanyaan si Bapak itu.


"Gak apa apa, Dik. Kalau gak ingin bercerita dengan Bapak, tapi pulanglah. Jangan buat orang tua Adik khawatir karena kamu belum pulang ke rumah. Mungkin saat ini bisa saja mereka sudah sibuk mencari mu." Si Bapak itu berbicara lembut sambil mengulas senyum ke arah Shaka.


'Astaqfirullohal azim. Ya Allah,aku lupa Annisa menungguku di rumah. Dia pasti sudah khawatir menungguku.'


Shaka membatin saat tersadar jika dia sudah melupakan keberadaan Annisa di rumah kontrakannya.


"Trimakasih Pak, sudah membiarkan saya menenangkan diri di sini. Kalau begitu saya permisi, Pak. Assalamu alaikum." Setelah berpamitan, Shaka segera berdiri dari tempat duduknya dan bergegas keluar Masjid untuk pulang. Sangking khusuknya berdoa dan berzikir, Shaka sampai lupa jika ada wanita yang menunggunya di rumah.


Shaka pun melajukan motornya dengan kecepatan tinggi supaya bisa sampai cepat di rumah. Untung jalanan sudah sepi sehingga tidak ada pengendara lain yang menghalangi jalannya, atau terganggu dengan motornya yang melaju kencang.


Trennn!


Annisa yang mendengar suara deru motor berhenti di depan rumah, langsung beranjak dari sofa dan berlari ke arah pintu untuk membukanya. Annisa menghapus air matanya saat melihat Shaka sudah pulang.


"Shaka, kamu dari mana?"tanya Annisa pada Shaka yang mendekat padanya.

__ADS_1


Shaka yang di tanya tidak langsung menjawab, tangannya terulur untuk melap sisa air mata istrinya itu.


"Aku minta maaf sudah membuat mu menunggu" ucap Shaka, lantas membawa Annisa untuk masuk ke dalam rumah. Tidak lupa Shaka menutup pintu itu kembali dan menguncinya.


"Kamu dari mana? Kenapa pulangnya lama? Aku khawatir menunggu mu dari tadi." Seperti biasa seorang istri, tidak akan puas jika belum mendapatkan jawaban yang pas dari suaminya.


Shaka malah mengulas senyumnya lalu mengecup bibir Annisa yang cerewet itu. Sudah lama sekali rasanya Shaka tidak mendengar kicauan istrinya itu, Shaka sudah sangat merindukannya.


"Aku berkerja, sayang. Mencari uang untuk kita" jawab Shaka.


"Sampai larut malam begini?." Annisa menatap Shaka penuh curiga. Bisa saja Shaka berbohong kan untuk menyenangkan hatinya. Padahal Shaka dari rumah Inara, membagi waktunya dengan istri keduanya itu.


"Iya, aku membereskan alat alat tato dari barbershop milik ku. Makanya aku lama pulang, sayang. Jangan menatapku curiga seperti itu."


"Yakin? Kamu gak dari rumah Ina...."


Bibir Annisa langsung bungkam saat bernada kenyal milik Shaka menyapu seluruh permukaannya dengan sedikit kasar, hanya sebentar. Setelah itu Shaka menarik Annisa ke dalam pelukannya.


"Apa yang kamu pikirkan?. Bagaimana bisa kamu berpikir akan menduakan mu?, jika hidup tanpa mu rasanya aku mau mati saja. Dengan mencintai mu, kamu sudah membuat Duniaku jungkir balik, Lihat aku, Annisa. Begitu hancurnya hidupku tanpa kamu" ucap Shaka. Apa masih kurang bukti cintanya kepada Annisa. Sampai Shaka sendiri menghancurkan dirinya karena sangat merindukan gadisnya itu.


Gombal!


Annisa yang berada di pelukan Shaka, hanya bisa diam. Dia tidak pernah meragukan cinta Shaka padanya. Tapi seorang pria bisa menjalin hubungan dengan wanita mana pun tanpa ada rasa cinta. Mungkin bisa saja Shaka membutuhkan Inara untuk memenuhi kebutuhan biologisnya selama ini.


'Astaqfirulloah, naudzubillah min dzalik' batin Annisa, langsung menepis pikiran pikiran buruk itu dari kepalanya.


Perlahan tangan Annisa pun terangkat untuk membalas pelukan Shaka, pelukan suami yang sangat di rindukannya itu. Namun Shaka melepas pelukannya, berpikir apakah Annisa sudah makan malam atau belum?.


"Sudah makan?" tanya Shaka lalu mengecup kening wanita di dalam pelukannya itu.


Annisa menggelengkan kepalanya, dia memang belum makan. Dari tadi ia menunggu Shaka pulang supaya mereka makan malam bersama.


"Aku menunggu mu untuk makan malam bersama" jawab Annisa.


"Aku minta maaf." Istrinya itu pasti sudah sangat kelaparan, mengingat Annisa dulu sangat mudah lapar.

__ADS_1


"Ayo makan" rengek Annisa dengan suara manjanya. Melepas pelukannya dan menarik Shaka ke arah dapur.


"Makanan di dapur pasti sudah dingin. Ayo kita cari makanan di luar." Semenjak menikah, dulu mereka belum pernah menikmati makan malam berdua di luar rumah. Meski sering beli makanan, tapi mereka selalu memakannya di rumah.


"Ini sudah larut malam, udara di luar pasti dingin" ucap Annisa.


"Tunggu sebentar" Shaka melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Tidak lama kemudian keluar membawa jaket dan memakaikannya ke tubuh Annisa, lalu membawa gadis itu keluar rumah." Gak dingin kan?." ucap Shaka sambil memasangkan helm ke kepala Annisa dan membantunya naik ke atas motornya. Setelah Shaka naik, motor itu langsung melaju. Annisa pun memeluk Shaka dari belakang.


Perlahan Annisa mengulas senyum, merasa mereka seperti orang berpacaran. Pergi berkencan menggunakan motor seperti anak anak muda yang lain.


'Apa seperti ini yang namanya pacaran?' batin Annisa.


Jalan berdua dengan orang yang di cintai, bermesra mesraan di atas motor. Baru kali ini Annisa pergi keluar menggunakan motor.


Shaka pun mengambil sebelah tangan Annisa yang melingkar di perutnya, membawa tangan itu ke bibirnya, lalu mengecup ngecupnya. Mampu membuat suasana hati Annisa berbunga bunga seperti orang kasmaran, merasa sangat di cintai saat itu.


"Kamu tau Annisa? Kamu wanita pertama yang naik di atas motor ku ini!" Shaka berbicara sedikit berseru supaya Annisa yang duduk di belakangnya bisa mendengar.


"Yakin?" Annisa juga berseru. Annisa tidak yakin jika Shaka tidak pernah membonceng Inara.


"100 persen, yakin" jawab Shaka.


Shaka ingin membuat moment kebahagiaan untuk mereka. Jadi dia tidak ingin berdebat, atau meladeni kecemburuan Annisa pada Inara. Dan juga Shaka tidak berbohong, kalau dia tidak pernah membonceng wanita mana pun di atas motornya.


"Bagaimana? kita sudah seperti orang pacaran kan?" seru Shaka lagi. Sama seperti Annisa, Shaka juga tidak pernah berpacaran sama sekali. Memilih menikah mudah adalah jalan terbaik menurut Shaka dari pada menjalin hubungan tidak jelas, dan yang pasti membuat dosa semakin menumpuk.


"Apa menurut mu orang pacaran seperti kita?" tanya Annisa.


"Aku gak tau, kurang lebih seperti kita" jawab Shaka. Ia juga tidak tau persis seperti apa itu orang pacaran.


Annisa merekahkan senyumnya," Tapi orang pacaran itu gak tidur berdua setiap malam" ucapnya.


"Kita berbeda, Annisa. Kita berpacaran secara halal."


Shaka pun menghentikan laju motornya di depan sebuah angkringan pinggir jalan. Annisa pun langsung turun, membuka helm nya dan memberikannya pada Shaka.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2