
Annisa yang sudah sampai di taman kota, mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku panjang yang terbuat dari beton. Napas Annisa terasa ngosngosan setelah mampu melewati jalan sepanjang kurang lebih satu kilo meter.
"Ya ampun, haus banget" gumam Annisa.
Annisa lupa bawa Minum sangking semangatnya tadi untuk berlari lagi. Hasna dan Salwa belum sampai di sana. Padahal mereka janjian jam tengah tujuh sudah harus sampai di sana. Dan Annisa juga lupa bawa hape dan uang.
'Ya Allah' batin Annisa.
Annisa memutar pandangannya ke sekitar taman. Para pengunjung sudah mulai rame, namun kedua sahabatnya itu belum kelihatan batang hidungnya.
'Apa mereka gak jadi datang?.'
"Awas aja" ancam Annisa bergumam. Besok di sekolah Annisa akan memberi kedua sahabatnya itu pelajaran.
Annisa menunggu lama di sana, namun kedua sahabatnya itu tidak datang juga. Sepertinya Hasna dan Salwa tidak akan datang lagi. Annisa yang sangat kehausan, pun memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Karena tidak punya tenaga lagi untuk berlari, dan perutnya juga sudah mulai lapar.
"Annisa!"
Annisa yang baru melangkah keluar dari taman kota, langsung menoleh ke arah sumber suara dari depannya.
"Ustadz Furqon" Annisa langsung merekah kan senyumnya dengan wajah berbinar, melihat si pencuri hati berada di depan matanya. Furqon sangat terlihat berbeda dengan penampilannya yang memakai baju olah raga. Furqon terlihat keren, lebih muda dari usianya. Sekilas terlihat masih seperti remaja seusianya. Annisa tidak menyangka akan bertemu Furqon di taman itu.
"Kamu sudah mau pulang" tanya Furqon.
"Iya Ustadz, haus. Annisa lupa bawa Minum" jawab Annisa jujur, sama sekali tidak modus.
Furqon memutar pandangannya ke arah pinggir jalan. Biasanya pagi pagi di pinggir jalan taman kota ada penjual sarapan dan minuman.
"Tunggu di sini" ucap Furqon setelah melihat seorang pedagang kaki lima membuka dagangannya.
Annisa mengerutkan keningnya memperhatikan Furqon yang berlari ke arah seorang Bapak Bapak penjual sarapan dan minuman. Setelah membeli dua botol air minum dan dua kotak sarapan. Furqon kembali mendekatinya yang masih setia menunggu.
__ADS_1
"Ini, minumlah." Furqon memberikan satu botol air minum yang baru di belinya.
"Trimakasih Ustadz." Annisa menerima air minum kemasan botol itu dari tangan Furqon.
"Sama sama" balas Furqon."Anggap saja ini ucapan trimakasih dari kopiah yang kamu berikan." Furqon mengulas senyumnya dengan pandangan sedikit menunduk.
"Itu kopiah mendiang Kakek, dia memberikannya padaku sebelum beliau meninggal. Meski aku tidak memakainya, tapi itu adalah barang kesayanganku." Annisa melangkahkan kakinya ke arah salah satu bangku taman yang tidak jauh dari mereka, lalu mendudukkan tubuhnya di sana, di ikuti Furqon duduk berjarak hampir setengah meter dari tubuhnya.
"Kenapa kamu memberikan barang kesayanganmu pada orang lain?. Apa lagi kopiah dan tasbih itu adalah pemberian orang orang yang sangat berarti bagi hidupmu."
"Jangankan barang barang kesayanganku. Jiwa dan raga ini pun akan kuberikan, asalkan Ustadz mau menerimanya." Annisa mengulum senyum, lalu meminum air minum di tangannya setelah mengeluarkan gombal rayuan mautnya untuk mengait hati Furqon.
"Sarapan lah." Furqon meletakkan satu kotak sarapan yang di belinya di samping Annisa, dan langsung berdiri.
"Ustadz mau kemana?" tanya Annisa.
"Pulang" jawab Furqon, langsung pergi. Furqon tidak mau sampai Annisa salah tingkah jika berlama lama duduk berdua dengan gadis itu. Mengingat Furqon sendiri sudah di jodohkan dengan wanita lain. Dan juga Furqon harus bekerja lagi membantu Kakak nya mengurus usaha panglong dan toko bangunan mereka.
Hanya di kasih sarapan aja oleh Furqon, Annisa sudah bahagia banget. Apa lagi di kasih hati berulam cinta, gak kebayang rasanya. Annisa pun terus memperhatikan punggung Furqon yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
**
Sampai di rumah, Annisa langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dari keringat yang sempat bercucuran di tubuhnya karena baru habis lari pagi. Selesai membersihkan diri, Annisa mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan.
"Annisa!"
"Iya Umi ! sebentar!" seru Annisa mendengar istri Ayahnya memanggilnya dari luar kamar. Selesai menyisir rambutnya, Annisa langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu kamarnya untuk membukakan pintu.
"Ada apa Umi?" tanya Annisa setelah membuka pintu.
"Tolong jaga Hanif ya. Itu Pak Munzir dan Ibu Fadilah datang. Umi harus membuatkan teh dulu untuk mereka, Bi Omi lagi ke pasar" jawab Umi Hani memberikan bayi di gendongannya kepada Annisa.
__ADS_1
"Dengan senang hati Umi." Annisa langsung mengambil bayi gembul itu dari gendongan Umi Hani, lalu menciumi kedua pipi adik beda Ibunya itu dengan gemas.
"Ya udah, hati hati jangan sampai jatuh, Hanif itu penerus satu satunya si Burung cicit" balas Umi Hani, tertawa cekikikan sendiri, lalu pergi menuruni anak tangga rumah itu.
'Kau berani mengataiku burung cicit, Hani. Awas kau nanti malam' batin Ustadz Bilal yang sedang duduk di sofa bersama kedua tamunya.
"Begini Ustadz Bilal. kedatangan kami ke sini untuk menanyakan tentang perjodohan anak anak kita" ucap Abi Munzir.
'Perjodohan? siapa yang mau di jodohkan?' batin Annisa mengurungkan niatnya untuk menutup pintu kamarnya kembali saat mendengar tamu di lantai bawah rumah itu membahas tentang perjodohan. Annisa belum pernah mendengar soal perjodohan dari kedua orang tuanya.
"Tapi Yasmin belum selesai dengan pendidikannya. Apa gak sebaiknya kita menunggu Yasmin lulus dari kuliahnya dulu. Setelah mereka nanti resmi menikah, Yasmin bisa pokus menjadi istri" balas Ustadz Bilal.
Perjodohan itu sudah lama mereka rencanakan. Bilal berpikir lebih baik setelah Yasmin selesai dari pendidikannya baru perjodohan itu di resmikan.
" Saya rasa itu tidak masalah Ustadz Bilal. Meski mereka nanti sudah menikah, Yasmin masih bisa melanjutkan pendidikannya. Kami tidak akan menghalanginya" sambung Umi Fadilah sudah tak sabar ingin menjadikan putri dari teman mereka itu menjadi menantunya. Kalau di lama lamain, takut wanita solaha yang cantik rupawan putri dari ustadz Bilal itu di ambil pria lain.
"Saya gak bisa mengambil keputusan sendiri. Saya harus menanyakan Yasmin dulu, apa dia setuju atau tidak jika pernikahan mereka dipercepat. Soalnya dia yang menjalaninya nanti" ucap ustadz Bilal.
"Seharusnya memang seperti itu. Makanya kami datang ke sini untuk menanyakannya. Soalnya Furqon juga setuju jika perjodohan ini segera di resmikan."
DUARR!!!
Bagai di sambar petir di siang bolong, Annisa yang mendengar nama Furqon disebut, begitu kaget sampai kakinya melangkah mundur, dan baby Hanif yang berada di gendongan ya hampir saja jatuh.
"Ustadz Furqon?" gumam Annisa.
" Jika kamu menyukai seseorang, janganlah mengatakan langsung pada orangnya. Katakanlah kepada keluargamu, Kakak atau Abang mu, bisa juga sepupumu. Minta kepada mereka untuk menyampaikannya kepada orang tersebut."
Annisa langsung teringat dengan apa yang di katakan Furqon waktu di dalam kelas, saat Annisa menanyakan soal hukum jatuh cinta.
'Apa ini yang di maksud Ustadz Furqon, menyuruhku untuk mengatakan perasaanku kepadanya, lewat keluargaku' batin Annisa yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
__ADS_1
*Bersambung