
Sampai di rumah, Shaka memarkirkan mobilnya di halaman rumah mereka. Annisa langsung turun dan melongos masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
"Ya Tuhan, susah banget membujuk nya" Shaka bergumam sambil menggaruk kepala belakangnya melihat Annisa pergi begitu saja.
Sepanjang perjalanan dari rumah Calix, Shaka sudah berbicara banyak untuk membujuk Annisa. Namun istrinya itu mendiamkannya sepanjang jalan. Tak ingin kemarahan istrinya itu sampai ke dalam kamar mereka. Shaka pun segera turun dan menyusul Annisa masuk ke dalam rumah.
"Sayang!" panggil Shaka setelah sampai di dalam kamar mereka. Namun Annisa tidak ada di dalam kamar.
"Kemana dia?"Shaka melangkah ke arah pintu kamar mandi.
"Annisa!" panggil Shaka lagi dengan berseru merdu. Tapi ternyata kamar mandi itu kosong setelah Shaka berhasil membuka pintunya.
Shaka langsung berlari keluar kamar menuju kamar yang berada di samping kamarnya. Dan benar saja, Annisa ada di dalam, tapi Annisa mengunci pintu kamar itu dari dalam.
"Sayang! udah ya marahnya!. Kan aku udah minta maaf!. Masa suami sendiri gak bisa di maafin" Shaka berseru manja.
Annisa yang berada di dalam kamar itu diam saja dan menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya. Tak ingin mendengar suara Shaka yang membujuknya. Annisa masih marah dan kesal pada Shaka.
"Seorang istri meninggalkan kamarnya dalam keadaan marah. Dan membiarkan suaminya tidur kedinginan. Tau gak itu apa artinya?" seru Shaka dari luar pintu. Berhasil membuat Annisa menurunkan kedua tangannya dari telinganya.
Apa maksud Shaka bicara seperti itu?.
"Itu artinya.... istri tersebut mengijinkan suaminya membawa wanita lain masuk ke kamar itu untuk mengha...."
Ceklek!
Pintu kamar itu langsung terbuka sebelum Shaka menyelesaikan kalimatnya. Annisa langsung keluar menolongos sengaja menyenggol dada Shaka, membuat pria itu mengaduk kesakitan.
"Ya ampun sayang."
Melihat Annisa masuk ke dalam kamar mereka, Shaka pun langsung menyusul masuk. Shaka memeluk Annisa dari belakang, kemudian mengecup gemas bertubi tubi pipi cabi istrinya itu.
"Awas aja kalau kamu berani memasukkan wanita lain ke kamar ini" geram Annisa, selain bibirnya mengerucut, lobang hidungnya juga mengembang.
"Tapi kalau ke kamar sebelah, boleh kan?" ucap Shaka berniat menggoda istrinya itu.
"Gak boleh!" teriak Annisa kembali menangis.
"Kenapa?, bukankah laki laki boleh memiliki istri lebih dari satu?" tanya Shaka.
__ADS_1
"Poligami itu solusi, bukan anjuran." Annisa mencubit gemas lengan Shaka yang melingkar di perutnya.
"Tapi tetap aja hukumnya boleh" ujar Shaka.
Annisa memutar tubuhnya ke arah Shaka, dan menatap horor pria di depannya itu.
"Nabi Muhammad berpoligami setelah istri pertamanya meninggal Dunia, yaitu Sayyidina Khadijah. Kemudian menikah wanita Sayyidina Saudah, seorang janda berusia lima puluh lima Tahun. Kemudian menikahi gadis berusia enam Tahun, yaitu Sayyidina Aisyah." Annisa menjeda kalimatnya sebentar, kemudian lanjut berbicara lagi." Jadi kalau mau berpoligami, tunggu aku mati dulu. Baru kamu ku ijinkan menikahi seorang janda tua dan anak anak."
Annisa kembali memutar tubuhnya, melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu untuk berwudhu, karena tadi Annisa belum melaksanakan shalat isya. Sebelum benar benar masuk ke dalam kamar mandi, Annisa kembali memutar tubuhnya ke arah Shaka yang masih berdiri di tempatnya.
"Jangan katakan, apa yang dilakukan Nabi Muhammad boleh di lakukan ummat nya. Sedangkan kamu sendiri tidak akan pernah mampu melakukan apa yang sudah pernah di lakukan Nabi Muhammad. Dan bahkan di dalam Shalat Nabi Muhammad, beliau membaca sampai tiga surah panjang di dalam Alqur'an dalam satu rakaat shalatnya. Dan kamu sendiri, setiap shalat hanya mampu membacakan tiga Qul dalam satu rakaat shalat. Shalat malamnya pun tidak pernah absen, begitu juga dengan puasa wajib dan Sunnah nya. Kalau kamu mampu seperti beliau, aku ijinkan kamu menikah lagi."
"Bercanda sayang."
Brukk!
Pintu kamar mandi itu pun tertutup dengan kencang sampai menimbulkan bunyi gedubrak.
Sepeninggal Annisa, Shaka menggaruk kepala bagian belakangnya. Serius tadi niatnya hanya ingin menggoda Annisa saja, sama sekali tidak ada keseriusan di dalam ucapannya masalah poligami, tapi Annisa langsung menanggapinya serius
Di dalam kamar mandi, Annisa mengoceh sendiri. Menyikat giginya dengan gemas, mencuci mukanya dengan gemas. Gemas gemas gemas.
Selesai urusan kamar mandi, Annisa langsung keluar, di lihatnya Shaka sudah tidur ngorok di atas tempat tidur. Membuat Annisa tambah gemas jadinya.
Shaka belum shalat, tapi pria itu sudah tidur dengan manisnya.
Bukh!
"Bangun, shalat Murtado!" Annisa memukul Shaka dengan bantal, berhasil membuat Shaka terbangun.
"Iya, sayang! kan aku nunggu kamu keluar dari kamar mandi" ujar Shaka. Kumat lagi dah cerewet istrinya. Shaka pun segera turun dari atas kasur, jangan sampai istrinya itu terus mengoceh mengingatkannya soal kewajiban suami.
Annisa mendengus, kemudian melangkahkan kakinya ke arah sajadah yang sudah di gelarnya tadi di lantai.
Selesai berwudhu, Shaka langsung keluar dari dalam kamar mandi. Di lihatnya Annisa ternyata belum solat, dan ada sajadah di depan Annisa sebelah kiri. Pertanda gadisnya itu sedang menunggunya untuk shalat berjamaah.
"Iya sayang, aku akan mengimami mu shalat malam ini" ucap Shaka melihat tatapan Annisa yang begitu tajam seperti pedang ultraman Leo, menimbulkan sinar saat berhasil menusuk lawannya.
Setelah Shaka memakai sarung yang di sediakan Annisa di atas sajadah, Shaka pun komat sebelum shalat di mulai.
__ADS_1
"Allahu akbar!"
Tin tin tin !
"Shaka! kenapa aku di tinggal!."
'Astaqfirullohal azim' batin Shaka dalam shalatnya, kaget mendengar teriakan Salwa dari depan rumah mereka. Shaka lupa untuk membawa Salwa pulang dari rumah Calix.
"Apa mereka udah tidur? Kok gak ada yang nyahut?" tanya Hasna. Turun dari dalam mobilnya.
"Gak mungkin lah, aku rasa mereka juga baru sampai" jawab Salwa melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk rumah itu.
"Masa mereka gak dengar?." Tetangga rumah itu aja sampai keluar karena mendengar teriakan Salwa barusan.
"Jangan jangan mereka?" Hasna mengarahkan pandangannya ke wajah Salwa. Berpikir kalau Annisa dan Shaka sedang melaksanakan ibadah suami istri.
"Gak mungkin, kalau Shaka berani melanggar janjinya, habis dia sama Ustadz Bilal" ujar Salwa. Dia kan tau semua tentang Shaka.
"Janji apa?."
Ceklek!
Belum sempat Salwa menjawab, pintu rumah itu sudah terbuka. Menampakkan Shaka yang masih pakai sarung dan kopiah putih di kepalanya.
"Ada apa? kenapa gak pulang ke rumah?" tanya Shaka.
"Kami gak berani lagi, jalan udah mulai sunyi" cetus Salwa, bukankah tadi rencananya dia akan menginap di rumah saudaranya itu, ini kenapa kehadirannya tidak di terima?. Padahal Salwa kan gak bakalan mengganggu.
"Jangan mengganggu waktuku dengan istriku, okeh!." Shaka membalik tubuhnya melangkah ke arah tangga rumah itu.
Salwa mendengus."Di kekep kekep juga gak bisa di celup."
Kini Shaka yang mendengus," Yang penting bisa peluk peluk, dan cium cium dan...."
"Udahlah, anak kecil gak bakalan paham" lanjut Shaka setelah sempat menjeda kalimatnya.
"Iya lah, yang sudah dewasa sebelum waktunya" cibir Hasna.
Shaka tidak mendengarnya lagi, karena langkahnya sudah sampai di lantai dua rumah itu.
__ADS_1
*Bersambung