
Pulang sekolah, Shaka pun melajukan kendaraannya ke arah rumah orang tuanya, untuk menjemput Annisa pulang. Sampai di sana, Shaka yang sudah memarkirkan mobilnya langsung turun melangkah masuk ke dalam rumah.
"Assalamu alaikum!" seru pria berusia remaja itu sembari melangkah masuk.
"Walaikum salam!" balas bersamaan tiga orang wanita dari arah dapur.
Shaka pun melangkahkan kakinya ke arah dapur rumah itu. Ternyata di sana ketiga wanita itu sedang sibuk membuat kue.
"Shaka! aku udah bisa membuat kue" ujar Annisa menunjukkan hasil karyanya ke arah Shaka yang baru masuk ke dapur itu.
"Masya Allah, aku yakin rasa kue itu sangat enak, karena di buat dengan resep cinta" gombal Shaka sembari mendekati Annisa dan menjatuhkan satu kecupan di kening istrinya itu.
"Romantis banget anak Mama" puji Bu Drabia melihat pintarnya anaknya itu menyenangkan hati istri.
"Itu tidak ada apa apanya Ma, di banding bagaimana romantisnya Rasulullah memperlakukan istri istrinya Ma" balas Shaka mengulas senyumnya.
"Setidaknya kamu sudah berhasil membuat istrimu tersenyum, itu sudah menjadi pahala buat kamu, sayang" ucap Ibu Drabia lagi.
"Amin!" ucap Shaka dan Annisa bersamaan.
"Kamu jadi mengambil bea siswa ke luar Negri itu?. Lalu pernikahan kalian bagaimana?. Setahun itu lama loh!. Yakin nanti di sana tidak tergoda dengan wanita wanita lain?" tanya Salwa kepada Shaka.
Shaka pun terdiam, dan menatap intens wajah Annisa yang tersenyum di paksakan.
"Kasihan Annisa kamu tinggalin. Baru nikah sudah merasakan bobo sendiri" ujar Salwa lagi. Tentu Annisa sudah curhat kepadanya mengenai Shaka yang akan melanjutkan kuliah ke luar Negri.
"Kalau Annisa gak ridha, ya...aku gak akan pergi." Shaka yang masih berdiri di depan Annisa, mengusap lembut kepala gadis miliknya itu.
"Maaf Shaka" Annisa menundukkan pandangannya. Merasa bersalah karena sudah bercerita kepada Salwa.
"Hei! kamu gak bersalah, sayang" ujar Shaka.
"Tapi kamu sangat ingin melanjutkan pendidikan ke luar Negri" balas Annisa.
Annisa memang berat jika harus melepas Shaka kuliah ke luar Negri. Tapi Annisa juga tidak ingin membuat Shaka harus mengubur impiannya karena dirinya.
__ADS_1
"Itu kan hanya sebatas keinginan. Tapi kamu yang terpenting dalam hidupku, Annisa." Shaka mengambil kue yang berada di tangan Annisa, kemudian menarik lengan gadis itu ke arah meja yang ada di dapur. Setelah meletakkan kue itu di atas meja. Shaka pun memotong kue itu, lalu menyuapkannya ke mulutnya, dan bergantian ke mulut Annisa.
"Aku akan menundanya sampai kamu tamat, Annisa. Kalau aku melanjutkan kuliah ke luar Negri. Kita akan sama sama berangkat ke sana" ucap Shaka setelah menelan kue di mulutnya.Berhasil membuat Annisa, Bu Drabia dan Salwa menoleh ke arahnya.
"Kamu sudah rela meninggalkan keluarga mu demi menjadi pendampingku. Bagaimana bisa aku meninggalkanmu demi kepentingan hidupku sendiri, Annisa?." Shaka mengulas senyumnya, kemudian meraih gelas yang ada di atas meja, setelah mengisinya dengan air minum, Shaka meminumkannya ke mulut Annisa, lalu meminum sisanya.
"Tapi bagaimana dengan bea siswa itu?" tanya Annisa lagi.
"Ya, bagaimana lagi" Shaka mengedik kan bahunya. Kalau Shaka menolaknya, sudah pasti bea siswa itu batal. Orang tuanya banyak uang, Shaka bisa melanjutkan kuliahnya kemana pun dia mau tanpa bea siswa itu.
"Aku hanya berpikir akan merindukan mu jika kita berjauhan lama lama" ujar Annisa mengulas senyum manisnya.
"Aku pikir pikir juga begitu. Kamar yuk!" ajak Shaka berdiri dari tempat duduknya dan menarik lengan Annisa.
Salwa berdecak,"kami masih buat kue, jangan di bawa dong istrinya." Salwa pun melepas tangan Annisa dari genggaman Shaka, kemudian mendorong tubuh Shaka keluar dari dapur.
"Begini nih, yang membuat aku malas membawa istriku ke sini. Kamu selalu menguasainya" ketus Shaka pada Salwa. Setiap berkunjung ke rumah itu, salwa selalu menguasai Annisa. Dan sepertinya sebentar lagi Hasna sahabat kedua gadis remaja itu pasti akan datang, dan ketiganya akan pergi jalan jalan menghabiskan waktu.
"Kami kan memang dari dulu seperti itu. Kalau hari libur itu sering ngumpul" balas Salwa.
Shaka pun mendengus lalu pergi meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamarnya. Annisa dan Salwa pun sama sama tersenyum. Dan tak lama kemudian, bel rumah itu pun terdengar berbunyi, pertanda ada tamu yang datang.
"Assalamu alaikum!"
"Walaikum salam!"
Tak lama kemudian, Hasna pun sampai di dapur. Dan ternyata, bukan hanya Hasna saja, ada Ferel, Calix, Dzaki dan Dafi.
"Shaka mana Tante?" tanya Ferel sambil menyalam Bu Drabia yang baru mengeluarkan kue dari dalam oven.
"Di kamarnya" jawab Bu Drabia tersenyum ramah.
Ferel, Calix, Dzaki dan Dafi pun langsung meninggalkan dapur, melangkahkan kaki mereka untuk menaiki anak tangga rumah itu.
"Stop! kalian gak boleh masuk" cegah Shaka menahan pintu kamarnya yang di buka oleh Ferel. Berhasil membuat Ferel, Calix, Dzaki dan Dafi saling berpandangan. Biasanya juga gitu, kalau mereka berkunjung ke rumah Shaka, mereka boleh sembarangan masuk ke kamar Shaka.
__ADS_1
"Kamar ini bukan kamarku sendiri lagi, kalian gak boleh lagi bebas masuk ke kamar ini" ujar Shaka.
"Kan Annisa lagi di bawah" Ferel berdecak.
Shaka pun keluar dari kamar itu, dan langsung menutup pintunya kembali."Kita di sana aja" tunjuk Shaka dengan ke arah ruang keluarga di lantai dua rumah itu, sembari melangkah. Di ikuti ke empat bocah laki laki itu dari belakang.
"Terus kita ngapain di sini?. Ngerumpi?" tanya Calix, mendudukkan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu.
"Ngegosip" jawab Dzaki.
"Kita ngegibah aja deh!" sambung Dafi yang selalu duduk menempel dengan Dzaki.
"Kalian bertiga aja, aku gak ikut. Ntar di kutuk jadi perempuan, kalian mau?" ujar Ferel, mengeluarkan handphonnya lalu sibuk main game.
"Kita di sini duduk duduk doang?, gak ngapa ngapain gitu?" tanya Dzaki. Kan bosan kalau cuma bengong aja.
"Hus! bicara kok sembarangan, ngapa ngapain maksudnya gimana itu?. Kita sama sama cowok, mana bisa ngapa ngapain?" ujar Calix.
"Kalau Shaka mah, enak dia. Bisa ngapa ngapain dengan Annisa. Jadi pengen nikah juga" ujar Dzaki.
"Enaklah! makanya aku menikah. Biar bisa ngapa ngapain." Shaka tersenyum kemenangan.
"Berarti si budiman sudah ngapa ngapain si Annisa?" tanya Dafi.
"Hus! itu gak sopan tau, nanya gitu sama orang tua." Ferel melempar Dafi dengan bantal sofa.
"Iya, itukan rahasia rumah tangga" sambung Dzaki.
"Jawab iya atau gak aja kan udah. Gak harus di ceritain proses ngapa ngapain nya" bela Dafi. Dia kan nanya udah atau belum, jawabnya cukup iya atau gak.
"Sudah dong!" jawab Shaka menarik turunkan kedua alisnya ke arah Dafi sembari tersenyum bangga. Padahal bohong.
"Serius?" tanya kompak ke empat bocah bocah itu kepada Shaka.
"Kalian aneh, aku kan udah nikah sama Annisa. Wajar dong kalau kami ngapa ngaian" balas Shaka.
__ADS_1
"Kalian cerita apa?" tanya Annisa yang datang bersama Salwa dan Hasna membawa makanan dan minuman untuk mereka semua.
"Gak ada sayang" jawab Shaka menarik Annisa supaya duduk di sampingnya, kemudian mengecup pelipis istrinya itu dari samping.