
Annisa memarkirkan kenderaannya tepat di depan pintu rumahnya dan Shaka. Annisa melihat mobil Shaka sudah terparkir di halaman rumah, itu artinya Shaka sudah pulang kerja. Annisa pun turun dari mobil bersama beberapa kantong belanjaan bertengger di tangannya.
"Assalamu alaikum!. Shaka, tolong buka pintunya!" Annisa berseru setelah kakinya menapak di teras rumah. Annisa tidak bisa lagi membuka pintu di sebabkan tangannya penuh dengan belanjaan.
Mendengar suara Annisa berseru dari depan rumah. Shaka yang sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya, langsung beranjak dari kursinya dengan semangat untuk menyambut istrinya yang baru menghabiskan uang Mama Shaka sendiri.
"Shaka!"
Gadis keturunan ratu sejagat itu berseru lagi dengan suara cerianya. Jelas sekali kalau cucu kesayangan raja Arya itu sedang berbunga bunga saat ini. Gadis itu sedang di landa cinta, sehingga merasa Dunia ini hanya miliknya.
Ceklek!
Shaka membuka pintu. Pandangan Annisa langsung tertuju pada pria tampan pari purna yang berdiri di depannya. Tiba tiba Annisa menjatuhkan semua belanjaan di tangannya dan menghambur memeluk pria yang baru saja memotong rapi rambutnya.
Ya, Shaka memotong pendek rambutnya, seperti jaman mereka masih SMA. Membuat wajah Shaka bertambah kali lipat gantengnya.
"Kamu sangat ganteng, Shaka. Aku lebih menyukai penampilan mu seperti ini" puji Annisa setelah melapas pelukannya, kemudian mengecupi seluruh wajah Shaka. Annisa senang, Shaka sudah merubah penampilannya, Shaka nya yang dulu sudah kembali.
"Ini tidak gratis." Senyum merekah sampai menampakkan gigi giginya, senang mendapat pujian dari Annisa. Di tambah lagi Annisa mengecupi seluruh wajahnya, berhasil membuat dada Shaka berbunga bunga. Shaka pun meraih pinggang Annisa sampai pinggang mereka bertemu.
"Apa sih yang gak buat kamu." Annisa jadi ikutan melingkarkan kedua tangannya ke leher Shaka. Memandang pria itu dengan binar cinta di matanya.
Mengingat mereka sedang berada di ambang pintu, Shaka pun menarik tubuh Annisa untuk bersembunyi di balik dinding, lalu mengecup bibir manis yang sedang tersenyum itu dengan singkat. Layaknya orang dewasa, mereka pun saling berciuman dengan dahsyat.
Mereka adalah pengantin baru, wajar jika gelora cinta mereka membara bara. Entah bagaimana caranya, kini kedua insan di mabuk cinta itu sudah sampai di atas tempat tidur mereka. Memadu kasih dengan segenap jiwa dan raga. Mencapai surga yang selalu ingin di raih bersama. Entah lah, kapan cinta itu mulai tumbuh. Tapi nyatanya sekarang mereka sedang jatuh cinta sedalam dalamnya.
'Aku pikir setelah jatuh cinta, tidak akan ada lagi cinta setelahnya, ternyata aku salah. Ini cinta yang sesungguhnya, cinta yang dahsyat. Ya Tuhan, aku berharap cinta ini tidak lagi berpindah pemiliknya. Karena aku mencintai Shaka demi mengharap cinta dari MU, rhido dari Mu, surga dari Mu ya Allah.'
Annisa membatin dalam senyumnya sembari menatap wajah yang tepat berada di depan wajahnya.
"Ada apa? Hm!" tanya Shaka melihat Annisa tersenyum ke arahnya. Wajah Shaka terlihat lelah dan berpeluh setelah membawa Annisa ke Bulan.
__ADS_1
"Kak Yasmin sudah melahirkan. Boleh aku menemuinya?"tanya balik Annisa saat mengingat tadi kabar gembira itu di sampaikan Umi Hani lewat telephon.
Shaka terdiam sembari memandangi wajah Annisa yang perlahan senyumnya semakin memudar.
"Gak apa apa kalau gak boleh." Bukan tanpa alasan Annisa meminta ijin Shaka. Sebab Jika Annisa ke rumah Yasmin, pasti di sana ada Ustadz Furqon.
"Apa kamu gak berniat mengajak ku?." Shaka berpikir, apa setelah kesalahan yang di lakukannya, ia tidak di anggap bagian dari keluarga Annisa lagi.
Annisa menajamkan kembali pandangannya ke wajah Shaka, lalu mengangguk dan kembali melebarkan senyumnya.
"Tentu boleh, mereka juga keluarga mu" jawab Annisa.
"Tadi kamu ingin pergi sendiri tanpa mengajakku" ujar Shaka.
"Aku pikir kamu tidak akan mau, di sana kan ada Ustadz Furqon."
"Aku gak cemburu lagi."
"Benar?."
"Kata Umi, bayi nya perempuan" ucap Annisa terlihat seperti tak sabaran menunggu hari esok. Annisa pun mengusap lembut perutnya."Semoga aku juga cepat hamil."
"Amin!" Shaka pun ikut mengelus perut rata istrinya itu.
"Kalau aku gak bisa hamil, janji ya gak kawin lagi. Aku gak mau di poligami."
"ya, kumat lagi" decak Shaka, setiap membahas masalah anak, Annisa selalu mengingatkan Shaka untuk tidak kawin lagi. Mereka juga baru ke Bulan, masa iya sudah ingin kawin lagi?.
"Awas kalau berani" ancam Annisa mengerucutkan bibirnya.
"Iya, Annisa" tekan Shaka." Ayo tidur, ini sudah larut malam, biar nanti kita bisa bangun cepat" tutur Shaka, mengeratkan pelukannya ke tubuh Annisa, lalu mengecup kening wanita itu.
__ADS_1
Annisa pun memejamkan matanya menikmati sapuan lembut tangan Shaka di kepalanya.Tanpa sadar Annisa sudah terlelap, masuk ke alam mimpi.
Melihat Annisa sudah tidur, Shaka pun menggantikan gerakan tangannya, lalu memandangi wajah cantik dan manis di depannya itu. Setelah puas memandanginya, Shaka turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi, Shaka terlihat bersih dan segar. Shaka yang memakai handuk di pinggangnya, melangkah ke arah lemari pakaian. Shaka mengenakan baju Koko dan kain sarung, berniat untuk melaksakan shalat malam. Shaka sudah lama sekali tidak melaksanakan shalat tahajud. Mulai sekarang Shaka akan berusaha untuk sering melakukannya lagi. Berharap dosa dosanya di ampuni, doa doanya di kabulkan, amin!.
Selesai Shalat, berzikir dan berdoa. Shaka kembali bergabung bersama Annisa di atas tempat tidur. Shaka mengelus elus perut Annisa setelah membaringkan tubuhnya. Berharap, di dalam perut istrinya itu sudah tumbuh buah cinta mereka. Jujur, Shaka juga sangat khawatir Annisa tidak bisa hamil, mengingat sebelah indung telur Annisa sudah di potong.
Tapi bukan berarti Shaka tidak mencintai Annisa lagi, atau berniat menikahi wanita lain, apa lagi sampai menceraikan Annisa, tidak sama sekali. Insya Allah, Shaka menerima Annisa apa adanya. Tapi yang namanya manusia, pasti memiliki keinginan untuk punya anak setelah menikah.
Shaka resah, sehingga ia menyerahkannya kepada Allah lewat doa doanya di sepertiga malam. Dan yang paling Shaka pikirkan adalah Annisa. Jika Annisa tidak bisa hamil, Annisa pasti sedih. Apa yang bisa Shaka lakukan nanti, untuk mengusir kesedihan istrinya itu?.
'Ya Allah, kabulkan doa kami. Jadikan istriku menjadi seorang Ibu, sebagaimana wanita yang sudah menikah pada umumnya' batin Shaka sembari menatap Annisa dengan sedih.
Shaka jadi merasa bersalah, mengingat ketika Annisa sakit, ia tidak ada di samping wanita itu. Seharusnya sebagai suami, Shaka mendampingi Annisa saat menjalani pengobatan. Tapi, karna marah dan kecewa saat itu, Shaka memblokir semua nomor keluarganya, sehingga tidak ada yang bisa menghubunginya.
"Insya Allah, kamu pasti menjadi seorang Ibu, Annisa. Jika pun tidak, kamu akan menjadi Ibu tunggal. Menjadi Ibu dari setiap anak anak yang tidak beruntung. Kamu yang akan menjadi Ibu mereka" gumam Shaka.
Jika memang Annisa tidak bisa hamil, Shaka berjanji akan membangun sebuah Panti Asuhan untuk Annisa. Supaya Annisa bisa bermain bersama banyak anak anak setiap hari.
"Jangan khawatir, sayang. Aku tidak akan menikah lagi meski kita tak memiliki keturunan. Aku mencintai mu, tulus, lillahi ta'ala." gumam Shaka lagi.
"Awas kalau bohong" Seketika Annisa bergumam dengan mata terpejam. Tubuh wanita itu bergerak melilit tubuh Shaka dengan tangan dan kaki panjangnya.
'Dia mengigau, kupikir tadi dia terbagun.'
Shaka membatin setelah memastikan kalau Annisa dalam keadaan tidur terlelap. Setelah berbicara, Annisa kembali mendengkur halus. Perlahan mulut wanita itu terbuka, air liurnya pun mengalir pelan pelan dari sudut bibirnya.
'Ikh! ya Tuhan, kenapa dia jorok saat tidur?.'
Dulu sangat jarang Shaka memperhatikan tidur istrinya itu. Sehingga baru tau, kalau Annisa sering ngiler saat tidur.
__ADS_1
Shaka pun meraih dagu Annisa, mendorong dagu itu ke atas supaya mulut Annisa tertutup kembali. Meski iler, Shaka tetap mengecupnya.
*Tamat