Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Di ijinkan


__ADS_3

Di rumah Ustadz Bilal, keluarga besar sudah berkumpul semua, sehingga membuat rumah itu sangat rame di penuhi para paman dan istri istrinya, dan juga para sepupu sepupu Annisa, dan para keponakan.


"Kenapa kamu begitu yakin untuk menikahkan Annisa?. Dia masih sekolah, dan calon suaminya juga masih sekolah" ujar salah satu paman Annisa bernama Reyhan.


"Banyak hal yang sudah ku pertimbangkan untuk mengambil keputusan itu. Selain Annisa sudah siap menikah, ini ku lakukan juga untuk Yasmin. Aku tidak mau, sampai kedua putriku menyukai laki laki yang sama untuk ke dua kalinya. Lebih baik salah satu dari mereka ku nikahkan. Dan kebetulan, Shaka menemui ku, dan berniat ingin menikah dengan Annisa" jawab Ustadz Bilal.


"Menikah muda itu bukanlah suatu hal yang buruk. Menurutku, menikah di usia yang matang pun, tidak menjamin kehidupan rumah tangga bisa bahagia. Semua tergantung kedewasaan suami istri menjalani pernikahan. Contohnya, aku dan Sirin. Alhamdulillah, kami masih mampu mempertahankan rumah tangga kami sampai sekarang. Ya, yang namanya rumah tangga, pasti akan ada pertengkaran di dalamnya. Tergantung kita masing masing, bagaimana menyikapinya. Yang penting, apa pun masalahnya, bicarakanlah setelah emosi mereda" sambung Paman Annisa bernama Arsen.


"Ya ya ya! kamu yang paling benar" ucap Reyhan sedikit jengah dengan Adiknya itu.


Ustadz Bilal yang pernah gagal dalam membina rumah tangga, hanya bisa diam dan menghela napasnya pelan pelan. Berdoa dalam hati semoga tidak ada anak anaknya yang mengalami hal serupa dengannya.


Saat sibuk mengobrol sambil menunggu tamu yang di tunggu tunggu. Tak lama kemudian, suara deru mobil pun terdengar dari luar rumah. Ustadz Bilal langsung berdiri dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk rumah itu, untuk menyambut tamu istimewanya.


Dan benar saja, di luar rumah, Shaka dan keluarganya sudah keluar dari dalam mobil, dan melangkah ke arah teras rumah.


"Assalamu alaikum!" ucap Bu Drabia tersenyum ramah.


"Walaikum salam!" jawab Ustadz Bilal bersama Umi Hani yang datang menyusulnya ke depan pintu untuk menyambut keluarga Shaka. Umi Hani pun menyalam tangan Bu Drabia, dan mereka saling berpelukan dan melakukan cipika cipiki.


"Ayo silahkan masuk!" ucap Umi Hani, setelah melepas pelukannya, lalu menyambut Salwa yang berdiri di belakang Bu Drabia.


"Assalamu alaikum Tante" sapa Salwa ramah.


"Walaikum salam, ayo masuk, Annisa masih di kamarnya." Umi Hani pun menarik lengan Salwa untuk masuk, lalu menyuruhnya menyusul Annisa ke dalam kamar.


"Kalau begitu, Salwa ke kamar Annisa dulu ya Tante" pamit Salwa, dan langsung pergi.


"Sabin!" panggil Umi Hani kepada Adik iparnya.


"Iya Kak" jawab wanita berusia tiga puluhan itu.


"Tolong ambilkan minuman yang di sediakan di meja dapur ya" suruh Umi Hani.


"Baik Kakak ku sayang" balas Sabina mengulas sedikit senyumnya, setelah itu merubah raut wajahnya menjadi datar.

__ADS_1


Umi Hani pun melangkahkan kakinya ke arah Ustadz Bilal, dan mendudukkan tubuhnya di samping suaminya itu.


"Dimana calon mantuku?" tanya Bu Drabia belum melihat Annisa berada di ruangan itu.


"Masih di kamar, aku sudah menyuruh Salwa membawanya ke sini" jawab Umi Hani mengulas senyumnya.


"Jadi calon suaminya Annisa, temannya Ferel"ujar Paman Annisa bernama Darren.


"Iya, Om" balas Shaka tersenyum bahagia.


"Itu dia tadi, Om seperti mengenal wajah kamu. Kamu kan yang sering ke ruang Om? bersama itu, siapa nama teman kalian yang satu lagi?" tanya Paman Darren lupa dengan naman salah satu sahabat anaknya, Ferel.


"Calix, Om" jawab Shaka.


"Iya, itu" balas Paman Darren.


**


Di dalam kamar, Annisa yang baru siap di rias, terus mematut wajahnya di kaca cermin di meja rias. Meski wajahnya cabi, tapi terlihat cantik dan manis. Apa lagi sudah di make oper begini. Kecantikannya bertambah berkali lipat. Namun ada yang janggal di wajah cantiknya. Aura kecantikannya malam ini tidak bersinar, seperti tertutup awan hitam.


Annisa yang di panggil langsung menoleh ke arah Salwa yang masuk ke dalam kamarnya.


"Wow! kamu cantik banget" puji Salwa, mengagumi kecantikan sahabatnya itu, meski tubuh sahabatnya itu tidak langsing sih. Tapi itu tidak menjadi patokan untuk manjadi wanita cantik.


"Kalau gak cantik, bukan Annisa namanya" balas Annisa mengulas senyumnya.


"Untung kamu benaran cantik, jadi tak mengapa memuji diri sendiri" balas Salwa."Hasna gak datang?."


"Katanya masih di jalan bersama Calix" jawab Annisa.


"Mereka udah jadian ya?" tanya Salwa lagi.


"Gak tau, mungkin ya, mungkin tidak" jawab Annisa.


"Annisa, ayo turun, semua udah menunggu dibawah."

__ADS_1


Refleks Annisa menoleh ke arah wanita paru baya yang melahirkannya itu. Lalu Annisa menganggukkan kepalanya dan berdiri dari tempat duduknya.


Dug dug dug !


Tiba tiba jantung Annisa berdegub kencang, saat bayangan Furqon terlintas di pikirannya.


'Bismillahirrohmanir rohim!' batin Annisa, saat akan melangkahkan kakinya keluar kamar, di tuntun oleh Salwa dan Mama Aqeela.


'Ya Allah, zat yang membolak balik hati, tetapkanlah keimanan ku selalu berada di dalam ajaran Agama MU ya Allah' batin Annisa. Berdoa supaya Allah meneguhkan niatnya, untuk memulai kehidupan baru bersama pria bernama Shaka, dan tidak ada lagi ke ragu raguan di dalam hatinya.


Sampai di lantai bawah rumah itu, Annisa langsung di sambut Ibu Drabia, membawanya berdiri di tengah tengah keluarga.


"Kamu memang sangat cantik dan manis. pantas aja anakku itu pengen cepat menikah" ujar Ibu Drabia, mengelus lembut dagu Annisa.


"Shaka, ayo sini, Nak!" panggil Bu Drabia kepada anaknya.


Shaka yang dari tadi duduk di samping Pak Ansel, langsung berdiri membawa sebuah kotak perhiasan di tangannya.


"Ayo sayang, sekarang giliran kamu melamar Annisa secara langsung" ucap Bu Drabia, menuntun Shaka untuk berdiri berhadapan di depan Annisa yang menunduk dari tadi.


"Iya Ma" Shaka mengulas senyumnya, lalu menghela napasnya panjang sebelum berbicara kepada Annisa.


"Bismillahirrohmanir Rohim. Allohumma solli ala sayyidina Muhammad, wa ala Alihi sayyidina Muhammad. Semoga kita semua mendapat syafaatnya di akhirat nanti, amin!." Shaka menarik napasnya lagi. Jujur sebenarnya Shaka sangat degdegan saat ini.


"Sebelum melamar Annisa, saya harus ucapkan terimakasih kepada Pak Ustadz Bilal, Umi Hani, Tante Aqeela, dan semua keluarga yang berkumpul di sini. Yang telah memberi restunya kepada saya, untuk melamar Annisa malam ini. Saya ucapkan terima kasih banyak sekali lagi. Dan juga Trimakasih buat Mama dan Papa yang juga mendukung dan merestui Shaka untuk menikah dengan Wanita yang saya cintai." Shaka meneteskan air matanya di akhir kalimatnya.


"Doakan Shaka Ma, Pa. Supaya Shaka nantinya menjadi suami yang bertanggung jawab. Doakan kami, supaya bisa meraih ridho NYA Allah dalam mengarungi bahtera rumah tangga nanti" ucap Shaka lagi.


Bu Drabia yang masih berdiri di samping Shaka, mengelus elus lembut punggung anaknya itu dari belakang.


"Dan sekali lagi, saya memohon ijin dan restu Pak Ustadz Bilal dan semua keluarga yang ada di sini, untuk melamar Annisa menjadi istriku. Mohon Ijinnya Pak Ustadz" ucap Shaka sekali lagi.


"Bagiamana Ustadz Bilal, apakah anak saya di ijinkan untuk melamar Annisa malam ini?" tanya Bu Drabia sekali lagi.


"Di ijinkan" jawab Ustadz Bilal tersenyum.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2