Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Kumpul keluarga


__ADS_3

Keluar dari ruang pemeriksaan, Annisa terus memeluk lengan Shaka. Tak ingin melepas pria itu sama sekali. Shaka hebat, pria tampan itu berhasil menghamilinya.


"Duduklah, biar aku mengambil resep vitaminnya" ujar Shaka karena istrinya itu menempelnya terus, membuatnya susah bergerak.


"Gak mau" manja Annisa.


"Ya udah" Shaka mengulas senyum, tangannya terangkat untuk mengusap ujung kepala Annisa dengan lembut.


Selesai mengambil resep vitamin, Shaka langsung membawa istrinya itu pulang ke rumah. Kebetulan hari ini mereka libur kuliah, jadi hari ini mereka bisa bersantai menikmati moment bahagia mereka.


"Nanti wajah anak kita mirip siapa ya?" tanya Annisa mengelus elus lembut perutnya sembari tersenyum.


Shaka yang sibuk menyetir mengangkat satu tangannya untuk mengusap lembut kepala Annisa. Istrinya itu ada ada aja menanyakan anak mereka mirip siapa nantinya. Shaka mana bisa menebak bayi mereka nanti mirip siapa.


"Kalau perempuan, pasti nanti cantik mirip Umi nya" jawab Shaka.


Annisa langsung menoleh ke arah Shaka, dan kembali memeluk lengan pria itu.


"Kalau cowok, pasti tampannya mirip Abi nya" balas Annisa mengecup pipi Shaka dari samping.


Shaka mengulas senyum, ia pun membalas mengecup kening istrinya itu sekilas.


Sampai di rumah mereka langsung kamar. Shaka yang tak bisa menahan kebahagiaannya pagi ini tanpa aba aba langsung menyambar bibir Annisa dengan mesra, sehingga ciuman itu berakhir di atas ranjang empuk mereka. Shaka menarik selimut menutup tubuh mereka, kemudian memeluk tubuh Annisa dengan hangat. Berulang kali mengecup ngecup kening istrinya itu, menunjukkan betapa ia sangat mencintai Annisa dari dulu.


“Trimakasih sudah membalas cintaku Annisa“ ucap Shaka. Mengingat dulu bagaimana awal mereka menjalani pernikahan tanpa Annisa mencintainya. Bahkan waktu itu Annisa mencintai pria lain. Tentu itu tidak mudah bagi Shaka menerima kenyataan, kalau istrinya mencintai pria lain.


Kepala Annisa yang berada di atas lengan Shaka mendongak supaya bisa melihat wajah Shaka. Cowok yang semakin terlihat tampan setiap harinya. Tangan Annisa bergerak dari bawah selimut untuk menyentuh wajah itu dengan lembut.


"Kamu pantas mendapatkannya Shaka. Aku mencintaimu“ balas Annisa. Shaka sangat baik padanya, tidak pernah menuntutnya ini dan itu. Dan Shaka terus menerus menghujaninya dengan cinta seluas samudra. Bagaimana Annisa lama kelamaan tidak jatuh cinta dengan Shaka. Sudah baik, tampan pula.


**


Malam hari, di rumah Shaka dan Annisa terlihat sangat ramai. Setelah menerima kabar dari Annisa dan Shaka tadi siang. kedua keluarga mereka berkumpul untuk malam bersama di rumah itu.


“Selamat jadi Bapak, bro“ ucap Calixto menyalam Shaka dan memeluk tubuh sahabatnya itu. Meski hubungan persahabatan mereka sempat renggang, tapi setelah Annisa kembali, hubungan persahabatan mereka kembali membaik.


“Trimakasih" balas Shaka membalas pelukan Calixto." Kamu dan Hasna kapan menyusul?.“


"Belum tau" Calixto menghela napasnya. Dia belum pernah berpikir untuk menikah saat ini. Selain karena masih sibuk dengan kuliah, Calixto juga sudah mulai ikut membantu sang Papa dan Mama mengurus ketiga perusahaan keluarganya.


Shaka punepuk pelan bahu Calixto, paham dengan kesibukan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Papa Shaka! benaran kami akan punya Adik?."


Seruan kedua bocah yang sudah bukan anak anak itu lagi, berhasil mengalihkan pandangan Shaka, Calixto dan semua orang yang berada di ruang tamu rumah itu. Siapa lagi kalau bukan Dzaki dan Dafi. Tanpa di undang mereka datang begitu saja.


"Hei, siapa yang meminta kalian datang ke sini?" ketus Shaka, tak suka kedua sahabat bocahnya itu memanggilnya Papa.


"Abang Ferel" tunjuk mereka ke arah Ferel yang baru masuk. Ferel adalah sepupu Annisa, jelas kabar bahagia itu sampai ke telinganya.


"Selamat jadi Papa Adik ipar" ucap Ferel memeluk Shaka. Tentu setelah menyingkirkan bocah Dzaki dan Dafi dari depan Shaka. Berhasil membuat si kembar mendengus kesal karena tubuh mereka hampir saja terjatuh ke lantai.


"Sama sama" balas Shaka. Meski Ferel sempat marah padanya, tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Apa lagi Ferel menjalin hubungan dengan Salwa, tentu Ferel harus bisa memperbaiki persahabatan mereka supaya Shaka memberi restunya.


“Ferel kapan kamu datang?" tanya Annisa datang dari dapur membawa nampan berisi beberapa kue di atas piring dan meletakkannya di atas meja. Semenjak lulus sekolah, Ferel memilih untuk melanjutkan pendidikannya di luar Negri.


"Tadi pagi" jawab Ferel melangkah mendekati Annisa dan hampir memeluk Annisa jika saja Shaka tidak menarik tubuhnya.


“Gak ada peluk peluk" cetus Shaka.


Ferel pun memutar bola mata malas. Padahal Annisa sepupunya, tapi Shaka selalu saja cemburu padanya.


"Tapi aku pengen di peluk sama Ferel" ucap Annisa menatap Shaka dengan teduh, berharap Shaka mengijinkannya.


Mendengar Shaka tidak mengijinkannya, seketika mata Annisa jadi berkaca kaca. Kepalanya menunduk lalu melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu.


"Sayang!“ panggil Shaka mengikuti langkah Annisa dan menarik tangan istrinya itu. Annisa langsung menepisnya, merajuk masuk ke dalam kamar.


"Ferel, Annisa dan Shaka dimana?“ seorang wanita yang terlihat tak muda lagi datang dari dapur bertanya pada Ferel.


"Baru naik ke atas, Ma" jawab Ferel. Ternyata wanita itu adalah Ibunya Ferel.


"Ayo panggil mereka supaya kita makan“ ucap wanita itu meletakkan beberapa piring yang di bawanya dari dapur di atas tikar yang sudah di siapkan. Karena jumlah anggota keluarga mereka sangat banyak, tentu tidak akan muat jika mereka harus makan di meja makan. Apa lagi meja makan di rumah itu sangat kecil, hanya muat empat orang saja.


“Annisa lagi merajuk, Ma“ ucap Ferel mendudukkan tubuhnya di atas tikar dan langsung mengambil satu piring kosong, padahal belum ada makanan terhidang di depannya. Tentu perbuatannya itu langsung di ikuti Dzaki dan Dafi. Kedua bocah itu duduk mengapit tubuh Ferel.


"Kalau Papa Shaka marah, mukanya pasti serem" celetuk Dzaki, mengingat bagaimana datarnya wajah Shaka kalau marah.


"Aku gak takut" ucap Ferel. Jelas dia tidak takut melihat Shaka. Meski wajahnya manis dan imut, tapi kalau tenaga mereka imbang.


"Abang Ferel sih, masih suka ingin peluk Mama, bikin Papa cemburu" ucap Dafi sembari meletakkan piring kosong di atas kepalanya dengan posisi menengadah.


"Dia aja yang cemburuan" balas Ferel, mengambil piring dariatad kepala Dafi lalu meletakkannya ke tempat semula." Ngapain kalian ikut ngambil piring? Kalian kan gak di undang makan."

__ADS_1


Langsung saja bibir bocah kembar itu mengerucut dan menatap wajah Ferel. Bukankah tadi Ferel yang mengajak mereka ikut, lah kenapa sekarang Ferel mengatakan kalau mereka tidak di undang makan?."


"Tante Jean! Abang Ferel gak bolehin kami ikut makan!." Seru Dzaki mengadu kepada Ibunya Ferel tanpa melepas netranya dari wajah Ferel.


“Ferel“ tegur Tante Jean datang dari dapur membawa sebaskom nasi putih." Ayo kalian bantu angkatin" pintanya kepada tiga bocah itu.


“Iya, Tante“ patuh Dzaki dan Dafi barengan dan langsung beranjak ke dapur.


Sedangkan Ferel memilih untuk diam di tempatnya duduk dan langsung mengisi piringnya dengan nasi. Hanya berselang beberapa detik, si kembar sudah kembali dari dapur membawa lauk.


"Kita makan“ ucap Dzaki, duduk kembali di samping Ferel.


"Ferel, Shaka dan Annisa dimana?. Aku gak bisa lama lama, Papa baru menelephonku, memintaku datang ke perusahaan" tanya Calix yang muncul dari pintu samping rumah itu. Tadi dia keluar sebentar untuk menerima telephon dari sang Papa.


"Kamar" jawab Ferel mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


Calix pun langsung melangkahkan kakinya ke arah tangga untuk naik ke lantai dua rumah itu tanpa rasa sungkan sama sekali.


**


"Annisa, jangan merajuk dong. Aku minta maaf. Iya aku ijinin kamu pelukan dengan Ferel, tapi kali ini saja.“ Dari tadi Shaka terus berusaha membujuk Annisa supaya Annisa tidak merajuk lagi, namun tidak berhasil. Annisa masih setia tengkurap menyembunyikan wajahnya ke bantal, diam tidak mau bicara sama sekali, berhasil membuat Shaka pusing sendiri.


"Sayang" panggil Shaka lagi, mencoba membalik tubuh Annisa, namun tangannya langsung di tepis.“Jangan tengkurap lama lama nanti bayi kita ketekan sayang" ucap Shaka lagi kembali meraih tubuh Annisa untuk membalik tubuhnya.


Kali ini Annisa tidak menepis tangannya lagi, dan langsung membalik tubuhnya, tapi tidak ke hadap Shaka, melainkan membelakangi pria itu. Annisa menangis, dia sedih karena sudah kangen dengan Ferel tapi Shaka tidak mengijinkannya tadi memeluk Ferel.


Melihat Itu, Shaka menghela napasnya heran dengan perubahan sikap Annisa yang mudah merajuk. Padahal selama ini, Annisa selalu mengambil hatinya, kalau salah langsung minta maaf, dan kalau melakukan kesalahan sangat mudah di ingatkan dan di kasih tau.


'Apa ini bawaan hamil' batin Shaka. Menjadi suami yang sudah siap menjadi Ayah, sedikit banyak Shaka sudah mencari tau bagaimana dan seperti apa wanita yang sedang hamil.


Shaka pun membaringkan tubuhnya di belakang Annisa, lengannya bergerak melingkar di pinggang ramping wanita itu dan mengelus lembut perutnya yang masih rata.


"Anak Abi pengen di peluk Paman Ferel ya?" tanya Shaka dengan suara lembutnya, berharap sang calon bayi mereka bisa mendengar suaranya." Iya deh, Abi ijinin. Tapi Anak Abi jangan merajuk lagi ya" bujuknya merdu.


Namun itu tidak berhasil meluluhkan hati sang bidadari surganya itu. Membuat Shaka kehabisan akal dan berakhir menindih tubuh Annisa dan mencium brutal bibir istrinya itu. Berhasil membuat Annisa meronta ronta dan memukuli dadanya.


“Shaka!" teriak Annisa saat berhasil melepas ciuman pria itu. Annisa tambah kesal.


Tok tok tok!


"Shaka!"

__ADS_1


__ADS_2