Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Karunia


__ADS_3

Lima Bulan berlalu


Annisa terus memaju mundurkan bibirnya sambil memperhatikan benda pipih berbentuk stik di tangannya. Entah sudah ke berapa alat tes ke hamilan itu Annisa pakai. Bahkan dalam sebulan, Annisa memakai benda seperti itu sampai dua belas kali, tapi garis merah benda itu masih setia bertahan satu.


Akhirnya Annisa menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


Melihat itu Shaka hanya bisa menghela napas berat.


"Aaaa! Shaka! akhirnya garisnya dua!."


"Astaqfirullohal azim." Refleks Shaka beristiqfar, kaget mendengar teriakan Annisa secara tiba tiba.


"Shaka, akhirnya aku hamil!" teriak Annisa lagi keluar dari kamar mandi. Dan langsung menunjukkan tes kehamilan di tangannya pada Shaka.


Setelah lima Bulan lamanya mereka berusaha, akhirnya membuahkan hasil.


Shaka pun mengambil benda pipih itu dari tangan Annisa. Memastikan apa yang di katakan istrinya barusan. Benar, garis merah di tespeck itu ada dua. Bola mata Shaka langsung berkaca kaca, terharu. Akhirnya ia berhasil menghamili Annisa.


"Akhirnya aku hamil juga" Annisa menghamburkan tubuhnya memeluk Shaka dan langsung menangis haru.


Shaka langsung membalas pelukan istrinya itu dan mengecup ujung kepalanya dengan sayang. Meski cerewet, brisik setiap pagi, ngiler saat tidur, gak bisa masak sampai sekarang, Shaka tetap cinta. Yang penting suka di ajak ke Bulan sudah cukup bagi Shaka.


Maklum, masih darah muda. Masih suka yang membara bara.


Shaka terus mengecup ngecup ujung kepala Annisa, tidak tau harus berkata apa apa lagi, sangking bahagianya.


"Kita ke Dokter ya." Akhirnya Shaka mengajak Annisa untuk periksa ke Dokter. Tak ingin larut dalam kebahagiaan, tau taunya Annisa gak benaran hamil. Bisa bisa nanti mereka merasa di jatuhkan dari langit ke tujuh, sangking kecewanya.


Annisa mengangguk antusias, tak sabaran ingin melihat sebiji kacang hijau di dalam perutnya.


"Aku ganti baju dulu" Saat ini Annisa masih memakai baju menerawang, dengan jahitan setengah jadi. Dadanya terpangpang jelas, dress itu juga belah di bagian samping sampai ke bawah dada. Sepertinya penjahitnya lupa menyatukan potongan kainnya. Sehingga memudahkan Shaka menyibak baju saat mengajaknya ke Bulan.


Atau mungkin saja Shaka sengaja membeli memesan baju seperti itu. 'Memang dasar otak laki laki', maki Annisa dalam hati dan tersenyum sendiri.


"Ya udah, aku buatin sarapan dulu kalau gitu" ujar Shaka.


Seperti kebiasaan istrinya itu, ganti baju pasti lamaaaaa banget, bisa satu jam, apa lagi mau pergi begini. Istrinya itu pasti dandan lagi. Muka hanya sejengkal, perawatannya bueh! banyak banget. Entah apa saja diolesin ke muka. Mulai dari yang katanya toner, serum, mousturezer, suncreen, primer, pondacion, bedak tabur, bedak padat sampai yang namanya setting sprey. Banyak kan?, Shaka sendiri pusing melihat banyaknya produk di atas meja rias.

__ADS_1


Tapi bagaimana lagi, sudah zamannya wanita seperti itu. Yang penting bagi Shaka istrinya itu masih ingat beribadah dan tau batasan batasan perempuan. Dan juga, Annisa berdandan cantik seperti itu jika jalan bersamanya. Jika Annisa keluar rumah sendiri, istrinya itu hanya merias sedikit wajahnya.


"Shaka! ayo!"


Seruan Annisa dari tangga rumah, berhasil mengalihkan pandangan Shaka dari masakannya. Tak lama kemudian Annisa muncul di dapur. Dan benar, istrinya itu dandan sangat cantik. Meski berbagai macam produk sudah di poles ke wajah istrinya itu, tapi cantiknya tetap terlihat natural, segar dan sedikit glowing.


"Kita sarapan dulu" ucap Shaka. dia sudah capek capek masak, sayang kalau gak di makan.


"Masak apa?" tanya Annisa setelah mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, tanpa merasa berdosa membiarkan suaminya memasak sendiri.


"Sambal ikan tongkol suwir, di kasih petai, ada juga tumis kangkung" jawab Shaka sembari memindahkan daging ikan dari kuali ke piring saji.


Dengan semangat, Annisa langsung melahap nasi beserta lauk di depannya. Semakin sering memasak, masakan suaminya itu bertambah enak rasanya.


"Pelan pelan, cinta. Kita pasti kebagian no antri nanti. Pelan pelan aja ngunyah nya" tegur Shaka melihat Annisa makan dengan cepat.


"Aku gak sabar ingin melihatnya" suara Annisa terdengar kumur kumur karena mulutnya penuh makanan.


Shaka pun mengusap lembut kepala Annisa sembari tersenyum. Berdoa dalam hati, semoga tes peck itu tidak salah. Shaka tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya wajah istrinya itu jika tidak benaran hamil. Annisa pasti sering murung lagi, sering mengingatkannya untuk tidak kawin lagi. Padahal mereka baru berikhtiar selama lima Bulan, masih wajar jika belum berhasil. Dan juga usia mereka masih sangat muda, masih banyak kesempatan berusaha supaya Annisa bisa hamil.Tapi istrinya itu terlalu khawatir jika tidak bisa hamil.


"Sini aku suapi" melihat Annisa masih makan terburu buru, akhirnya Shaka menarik piring Annisa, lalu menyuapi gadis yang sangat di cintainya itu. Dengan senang hati, Annisa menerima perhatian suaminya itu.


"Wah! pasangan muda mudi sudah datang" sambut Dokter Gaia dengan senang, lantas berdiri dari kursinya untuk memeluk Annisa dan mengecup kedua pipi Adik sepupunya itu.


"Sudah telat datang Bulannya?" tanya Dokter Gaia. Meski baru kali ini periksa, selama ini Annisa memang sering tanya tanya lewat telephon pada Dokter yang masih juga menemukan jodohnya itu.


"Sudah" jawab Annisa merekahkan senyumnya."Tadi aku udah tes pakai tes peck, garisnya sudah dua."


Dokter Gaia mengusap lembut kepala Annisa sembari tersenyum. Dokter Gaia tau, sebenarnya Annisa pengen hamil cepat bukan tak sabar ingin punya anak, melainkan Annisa ingin meyakinkan dirinya masih bisa hamil.


"Apa kabar Shaka?" sapa Dokter Gaia pada Shaka yang masih berdiri di samping Annisa.


"Alhamdulillah baik, Kak" jawab Shaka membalas senyuman Dokter Gaia.


"Yang sabar ya ngadapin Annisa" ucap wanita yang memiliki kemiripan dengan Annisa itu.


"Iya, Kak" balas Shaka.

__ADS_1


"Ayo kita periksa" ajak Dokter Gaia membawa Annisa berjalan ke atas bed pemeriksaan. Setelah membantu Annisa berbaring, Dokter Gaia pun menyibak baju gamis wanita itu.


Jantung Annisa langsung deg deg kan, begitu juga dengan Shaka. Pasangan suami istri yang masih sangat muda itu sama sama menarik napas. Sama sama berpikir, benar gak ya Annisa hamil?.


"Santai aja" ucap Dokter Gaia, melihat Annisa dan Shaka sama sama tegang.


Shaka tersenyum kaku, karena ketahuan sedang gugub. Wajar saja, ini pertama kalinya Shaka membawa Annisa periksa kehamilan. Ini adalah anak pertama mereka. Shaka merasa percaya gak percaya jika ia akan menjadi seorang Ayah. Deg deg kan banget, rasanya dada Shaka ingin pecah.


"Perhatikan ya ke layar itu" ucap Dokter Gaia saat menempelkan alat USG di tangannya ke perut Annisa.


Shaka dan Annisa langsung sama sama melihat ke arah layar datar yang menempel di dinding ruangan itu. Keduanya bertambah gugup saat isi perut Annisa mulai terlihat di layar itu, sampai tak sadar tangan mereka yang berpegangan dari tadi, saling mengeratkan pegangan masing masing. Dan jantung keduanya semakin berpacu, saling bersahut sahutan.


Sunyi, ruangan itu terasa sangat hening seketika. Sampai Dokter Gaia bersuara memecah keheningan saat apa yang ia cari telah di temukannya.


"Alhamdulillah, usaha kalian sudah berhasil" ucap wanita berparas cantik itu tersenyum ke arah Annisa dan Shaka.


Annisa dan Shaka masih terdiam membisu, otak mereka masih sama sama mencerna apa yang di katakan Dokter Gaia barusan. Namun seketika Annisa yang berada di atas bad pemeriksaan berteriak memanggil....


"Shaka! aku berhasil hamil !."


Untung ruangan Dokter kandungan itu kedap suara, sehingga teriakan Annisa tidak sampai tembus keluar. Kalau tidak, para pengunjung rumah sakit bisa ikut kaget dan menutup telinga mendengarnya.


Annisa pun mendudukkan tubuhnya dan langsung memeluk Shaka yang berdiri di sampingnya.


"Aku bisa hamil, Shaka" Seketika tangis Annisa pecah di dalam pelukan Shaka.


"Iya, sayang" balas Shaka mengecup dalam ujung kepala Annisa, di iringi air mata bahagia menetes dari sudut matanya. Sama seperti Annisa, Shaka juga sangat bahagia dan terharu. Ia akan menjadi seorang Ayah di usianya yang masih sangat muda.


Sangking bahagianya, Shaka sampai mengecupi seluruh wajah Annisa dan kembali memeluk Annisa. Tangis Shaka pun pecah, sangking tidak bisa menahan haru.


"Trimakasih ya Allah, trimakasih atas karunia Mu ini" ucap Shaka dalam tangisnya.


Dokter Gaia pun mendekati Shaka dan Annisa, mengusap lembut punggung sepasang orang tua baru itu, ikut terharu dengan kebahagiaan Adik sepupunya itu.


"Kak Gaia, benarkah Annisa hamil?. Itu gak salah lagi kan?" tanya Annisa sambil menangis cigukan.


"Iya Adik ku sayang" Dokter Gaia pun memeluk Annisa setelah Shaka memberi ruang untuk Kakak beradik itu.

__ADS_1


#Udah tamat ya. Tapi otor nanti akan kasih bab bonus.


Trimakasih untuk readers kesayangan otor yang sudah berkenan memberi otor dukungan semangat.


__ADS_2