Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Annisa


__ADS_3

"Wajahmu terlihat berbeda dari biasanya" ucap Ibra.


Ibra adalah sepupu Furqon dan sekaligus sahabatnya, yang membantunya membangun restoran Indonesia itu di Mesir.


"Perasaan dari dulu, wajahku gini gini aja. Tampan dan banyak yang naksir."Furqon tersenyum manis, kemudian mengangkat kedua tangannya dari atas meja, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, meletakkan kedua tangannya di bagian kepala belakangnya.


"Ya ya ya! kamu memang tampan dan manis. Tapi dengar dengar, perjodohanmu dengan Yasmin di batalkan" ujar Ibra menarik satu kursi yang berada di ruangan itu, lalu mendudukkan tubuhnya di depan meja Furqon.


Furqon menghela napasnya kasar, wajahnya yang berbinar dari tadi, hilang seketika mendengar Ibra menyinggung perjodohannya yang dibatalkan dengan Yasmin.


"Annisa" ucap Furqon menjeda kalimatnya sebentar." Semua karena Annisa, Adik Yasmin."


Ibra menatap intens ke wajah Furqon, menunggu laki laki itu melanjutkan ceritanya.


"Annisa menyukai ku. Dia tidak tau kalau aku dan Yasmin sudah di jodohkan. Dan Yasmi. memintaku untuk melamar Annisa."


"Bagaimana denganmu?" tanya Ibra.


Bibir Furqon berkedut dengan mata berbinar, mengenang sesuatu yang tidak bisa di lupakan nya.


"Apa kamu masih ingat?. Dulu waktu pertandingan Tilawatil Qur'an di alun alun Kota. Seorang gadis kecil bersuara merdu, membacakan ayat suci Alqur' an dengan sangat baik. Saat itu aku sangat jauh dari depan pentas. Aku tidak bisa mengenali gadis kecil bersuara merdu itu dari kejauhan." Furqon menyandarkan kembali tubuhnya ke sandaran kursi dan memejamkan mata dengan wajah menengadah ke atas.


"Aku jatuh cinta dengan gadis kecil itu, Ibra. Tanpa aku mengenalnya, dan hanya dari suara dan lantunan ayat suci Alqur' an nya." Furqon menjeda kalimatnya sebentar." saat itu aku berdo'a, meminta kepada Allah untuk memberikan gadis kecil itu untukku, menjadi milikku di masa depan." Furqon menjeda kalimatnya lagi." Untung saat itu, Umi menjadi salah satu juri di acara itu. Aku menemui Umi, dan meminta Umi memberikan sebuah tasbih kepada gadis kecil yang mendapat juara satu itu."


"Apakah gadis kecil yang kamu maksud itu, Annisa?" tanya Ibra mencermati cerita sahabatnya itu. Saat itu, Ibra juga ada di acara itu. Ibra juga mengagumi lantunan gadis kecil itu dari kejauhan.


Furqon membuka matanya, dan mengarahkan pandangannya ke arah Ibra."Aku baru mengetahuinya, saat seorang gadis remaja di SMA HARAPAN, memberikan sebuah tasbih untukku" jawab Furqon, kembali memejamkan matanya, mengingat saat Annisa memberikan sebuah tasbih kepadanya. Furqon sangat mengenali tasbih itu, karena tasbih itu, dulu miliknya. Diberikannya kepada seorang gadis kecil lewat Uminya.


"Lalu, kenapa bisa kamu tidak mengenalinya?. Padahal Umi Fadilah saat itu menjadi juri di acara itu. Kenapa kamu tidak menemui gadis yang kamu maksud itu?. Saat Umi Fadilah memberikan tasbih itu, kamu kemana? sampai tidak melihat seperti apa wajah gadis itu?" tanya Ibra penasaran.

__ADS_1


Bukankah jika kita menyukai atau mengagumi seseorang, pasti ingin mengenalnya dan melihat orang itu lebih jelasnya seperti apa?, pikir Ibra.


"Aku pulang duluan sebelum penyerahan hadiah. Kamu tau saat itu kesehatanku belum pulih total" jawab Furqon, kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi.


Saat itu Furqon baru berusia empat belas Tahun. Furqon baru sembuh dari penyakit tipes yang di alaminya. Membuat Furqon tidak bisa berlama lama di luar rumah, apa lagi malam hari.


"Lalu rencana mu sekarang apa?" tanya Ibra lagi.


"Yasmin, memintaku melamar Annisa. Dan aku sudah meminta Abi dan Umi untuk menemui Ustadz Bilal" jawab Furqon.


Ibra mengangguk anggukkan kepalanya.


"Lalu bagaimana dengan Yasmi ?" tanya Ibra lagi.


"Aku gak tau, hanya Allah yang tau segalanya" desah Furqon. Sebenarnya kasihan dengan Yasmin. Furqon juga tau kalau Yasmin mencintainya. Tapi Furqon tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, untuk mendapatkan cinta pertamanya yang dipendam nya selama ini, karena perjodohan yang diatur orang tuanya entah sejak kapan.


"Itulah misteri Ilahi. Kamu di jodohkan dengan siapa?.Jatuh cinta dengan siapa?. Dan nanti menikah dengan siapa?. Tidak ada yang tau" ucap Ibra.


"Kita manusia hanya bisa berencana dan berdoa. Tapi Tuhanlah yang menentukannya. Aku hanya bisa pasrah dalam doa dan zikir ku. Dengan siapa pun aku berjodoh, aku yakin, itulah yang terbaik untukku" pasrah Furqon.


Furqon juga sudah tau soal laki laki bernama Shaka akan melamar Annisa. Yasmin memberitahunya lewat pesan melalui handphon nya. Namun Furqon tidak berputus asa untuk berdoa dan berzikir meminta kepada Allah. Sebelum Annisa sah menjadi milik orang lain, Furqon masih punya kesempatan untuk meraih cintanya.


"Kamu tau Ibra. Bertahun tahun aku berdoa meminta kepada Allah supaya aku di pertemukan dengan gadis kecil itu. Aku memendamnya selama ini, karena perjodohan ku dengan Yasmin" ucap Furqon dengan mata berkaca kaca.


"Setelah aku menemukannya." Furqon mengulas senyumnya begitu tulus." Ternyata gadis kecil itu juga jatuh cinta kepadaku. Tapi ternyata...." Furqon menjeda kalimatnya dan menghela napasnya kasar." Gadis kecil itu ternyata adiknya Yasmin. Saat mengetahui itu, hatiku sangat hancur, Ibra. Aku terpaksa mengubur dalam dalam lagi perasaan ini." Tanpa sadar Furqon meneteskan air matanya.


"Tapi gadis remaja itu terus menggangguku. Tidak segan dan malu sama sekali mengatakan mencintaiku." Furqon mengukir kembali senyumnya."Dia selalu berhasil membuat jantungku berdebar, Ibra."


**

__ADS_1


"Assalamu alaikum!"


"Walaikum salam!"


Annisa yang kebetulan menuruni anak tangga rumah itu, langsung membalas salam seseorang yang berseru di luar rumah. Annisa melangkahkan kakinya ke arah pintu, untuk membukakan pintu untuk tamu yang datang. Setelah membukanya, Annisa langsung terdiam melihat kedua tamu yang berdiri di depan pintu.


"Annisa! siapa yang datang?."


Seruan Umi Hani langsung berhasil menyadarkan Annisa dari lamunannya.


"Silahkan masuk Om Ustadz dan Tante" ucap Annisa tersenyum kemudian menyingkir untuk memberi jalan untuk pasangan suami istri yang tak lagi muda itu.


"Trimakasih, Nak!" balas Umi Fadilah mengusap lembut ujung kepala Annisa sembari tersenyum.


"Annisa! siapa yang datang?" seru Umi Hani lagi dari arah dapur, karena Annisa tidak membalas sahutan nya.


"Tante Fadilah dan Om Ustadz Munzir, Umi !" balas Annisa. Setelah itu baru menyuruh kedua tamu itu untuk duduk.


"Silahkan duduk Om, Tante. Annisa ke dapur dulu sebentar" ucap Annisa dan langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur.


Umi Hani pun langsung datang menemui tamu yang datang.


"Eh! Ustadz, Ustadzah" sapa umi Hani dengan ramah, lalu bersalaman dengan Umi Fadilah." Sebentar ya, saya panggil Bang Bilal dulu" pamitnya kemudian, dan langsung melangkahkan kakinya ke arah kamarnya dengan Ustadz Bilal. Tak lama kemudian Ustadz Bilal dan Hani pun sama sama keluar kamar.


"Assalamu alaikum Ustadz Bilal." Abi Munzir berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya menyalam Ustadz Bilal.


"Alhamdulillah, Baik Ustadz" balas Ustadz Bilal, mendudukkan tubuhnya di sofa kosong setelah melepas tautan tangan mereka.


Nampak Ustadz Bilal dan Abi Munzir sama sama menghela napas mereka dalam. Sepertinya kedua pria paru baya itu sama sama bingung untuk memulai pembicaraan dari mana.

__ADS_1


"Begini Ustadz Bilal" akhirnya Abi Munzir berbicara duluan, untuk mengutarakan maksud kedatangan mereka.


*Bersambung


__ADS_2