Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Move on


__ADS_3

"Ustadz Furqon! tunggu!" seru Annisa.


Furqon yang di panggil langsung menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya ke arah Annisa yang berjalan mendekatinya.


"Aku ingin bicara berdua dengan Ustadz" ucap Annisa setelah berdiri tepat di depan Furqon.


"Silahkan!" ucap Furqon.


"Jangan di sini"


"Jangan sekarang, saya harus segera berangkat" sela Furqon dengan cepat.


Annisa terdiam dan menajamkan pandangannya ke wajah Furqon, lalu mengangguk dengan ekspresi wajah sedih.


"Kalau Ustadz menemui Kakakku, sampaikan salam ku padanya" ucap Annisa.


"Aku ke sana untuk mengurus masalah usahaku yang baru ku rintis, bukan untuk menemui Yasmin."


"Tapi tetap aja Ustadz akan menemui Kakakku untuk memberikan titipan Tante Fadilah" balas Annisa cepat.


"Yasmin tinggal di asrama putri. Aku tidak akan bisa menemuinya. Dan titipan Umi, aku akan menitipkannya ke penjaga asrama." Meski sekolah di Kampus yang sama, tapi bukan berarti Furqon bebas menemui Yasmin. Dan bahkan mereka hanya bertemu sekali saja semenjak Furqon sekolah di sana.


"Kalau begitu, saya pergi dulu, Assalamu alaikum." Furqon pamit melihat Annisa tidak bicara lagi, dan Furqon pun melangkahkan kakinya meninggalkan Annisa yang berdiri di tempatnya sambil memandanginya hingga menjauh.


"Annisa, ayo pilih bajunya, kami udah dapat nih."


Annisa langsung menoleh ke arah Hasna yang berdiri di samping sampingnya dengan menenteng sebuah paper bag berisi pakaian.


"Aku malas." Setelah berbicara dengan Furqon, mood nya menjadi rusak.


"Annisa!"


"Iya Tante!" balas Annisa langsung mendengar suara Umi Fadilah memanggilnya, Annisa pun kembali masuk ke dalam butik.


"Ini baju buat kamu. Gak adil kalau Tante hanya memberikannya kepada Yasmin" ucap Umi Fadilah sambil memasukkan beberapa stel pakaian muslim ke dalam paper bag, yang bertulisan Umi Fadilah.


"Itu banyak banget Tante, nanti Tante bisa rugi loh" ujar Annisa melihat baju baju yang di masukkan Umi Fadilah ke dalam tas berbahan kertas itu.


"Rugi dikit gak apa apa. Nanti Tante buat baju baru lagi untuk di jual" balas Umi Fatimah tersenyum ramah. Membuat Annisa ikut tersenyum, lalu menggaruk lehernya.


"Tante" panggil Annisa, Umi Fadilah langsung menoleh. Annisa sendiri menggaruk ujung hidungnya, ragu ragu ingin bertanya.


"Ada apa?" tanya Umi Fadilah.


"Ustadz Furqon sudah lama ya di jodohkan dengan Kak Yasmin?" tanya Annisa.


"Semenjak Yasmi lahir, Tante sudah meminangnya menjadi menantu Tante" jawab Umi Fadilah.

__ADS_1


Annisa mengangguk anggukkan kepalanya, lalu bingung harus berbicara apa lagi. Berpikir, kenapa bukan ia saja yang lahir lebih dulu?, biar ia yang di jodohkan dengan Furqon.


"Annisa! ya ampun, kami udah nyari kalian kemana mana. Ternyata kalian di sini!" seru Ferel yang tiba tiba masuk ke dalam butik, bersama Shaka, Calix, Dzaki dan Dafi.


"Siapa suruh jalannya lambat" cetus Annisa.


"Ini, aku udah beliin handphon buat kamu." Ferel memberikan sebuah handphon baru kepada Annisa.


Annisa langsung tersenyum senang dan menerima handphon baru dari tangan Ferel."Trimakasih babang Ferel" ucap Annisa.


Ferel mendengus, dikit dikit, Annisa selalu menalaknya. Padahal orang tua Annisa juga kaya.


"Ayo kita pergi" ajak Ferel.


"Kemana?, kita belum makan" tanya Annisa.


"Kami udah beli makanan yang di bungkus, kita bisa makan di pinggir pantai, pasti lebih seru" jawab Ferel.


Annisa mengangguk setuju, kemudian berpamitan kepada Umi Fadilah yang sudah memberinya beberapa baju gratis."Tante, kami pergi dulu. Trimakasih banyak bajunya, Tante."


"Sama sama, sampaikan salam Tante pada orang tuamu." Umi Fadilah pun mengusap lembut bahu Annisa saat Annisa menyalam tangannya.


"Iya, Tante. Nanti akan Annisa sampaikan" balas Annisa.


Salwa dan Hasna pun tidak lupa berpamitan kepada Umi Fadilah, dan mengucapkan trimakasih Karena sudah di beri bonus pembelian satu baju, gratis satu.


"Ke pantai Annisa" gemas Ferel, kemudian melajukan perlahan kenderaan nya keluar dari dalam parkiran mall.


"Lupa" Annisa terlalu banyak memikirkan perasaannya terhadap Furqon, sehingga membuatnya menjadi pelupa.


Sepanjang perjalanan menuju pantai, Annisa hanya diam saja, sibuk dengan lamunannya. Membuat Ferel yang duduk di sampingnya, sering menoleh ke arahnya.


"Kamu kenapa?" tanya Ferel, setiap di ajak jalan jalan, biasanya Annisa suka berkicau seperti burung walet yang bersarang di dalam gedung untuk mengeluarkan air liurnya. Ini malah Annisa seperti ayam yang lagi meramin telornya. Diam aja meski matanya melotot.


"Kamu nanya? bertanya tanya?."


Ferel berdecak.


"Kamu pindah duduk ya ke belakang, biar Salwa aja yang di sini. Aku ngantuk tau kalau kamu diam aja" ujar Ferel.


"Gak boleh!" tolak Annisa.


"Lagian aku gak mau duduk di depan" sahut Salwa dari belakang, yang dari tadi sibuk memakan cemilan yang di beli Ferel.


Ferel menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar, melihat Salwa sepertinya sangat sulit di dekatin. Sepertinya Shaka saudara Salwa, sudah memberitahu Salwa supaya tidak mau di dekatin.


"Aku udah beliin kamu handphon baru, sekarang lakukan tugasmu" bisik Ferel ke telinga Annisa.

__ADS_1


"Kalau dia gak mau, gak mungkin juga di paksa" ujar Annisa dengan santai.


"Balikin handphonnya" kesal Ferel.


"Gak mau" cetus Annisa tidak peduli.


Ferel mendengus.


Sampai di pantai tempat tujuan mereka, Ferel memarkirkan mobilnya di parkiran yang sudah tersedia.


Annisa langsung turun, begitu juga Ferel, Salwa dan Hasna. Di sana sudah ada Shaka, Calix, Dzaki dan Dafi. Mereka pun mendudukkan tubuh mereka di bangku yang terbuat dari kayu dan ada mejanya, sambil memakan makanan yang mereka bawa dari mall tadi.


Jreng ..!


Annisa langsung menoleh ke arah Shaka yang berdiri di sampingnya sambil memetik gitar.


"Annisa, aku tertarik melihatmu saat pertama kali melihatmu, aku memiliki perasaan untukmu. Aku yakin ini adalah cinta." Shaka menjeda kalimatnya sebentar, lalu melanjutkannya kembali." Annisa, aku ingin menjadi pacarmu."


Annisa yang di tembak langsung di tempat, terdiam sambil menatap intens wajah Shaka yang terlihat sendu dan serius.


"Aku berjanji akan menjagamu sampai halal" ucap Shaka lagi.


"Cie cie cie! kalau udah halal emang mau ngapain?" goda Calix.


'Apa aku terima aja ya Shaka menjadi pacarku. Mungkin dengan cara seperti ini, aku bisa move on dari Ustadz Furqon.' batin Annisa.


"Boleh lah, main kuda kudaan." Dzaki yang menjawab.


Shaka berdecak, dia lagi serius, teman temannya itu malah bercanda.


"Aku akan kasih tau Papa, kamu mengajak cewek berpacaran" ujar Salwa.


"Kamu juga tuh! duduk dekat dekatan sama Ferel" cetus Shaka.


"Tapi kami gak pacaran" ucap Salwa.


"Sebentar lagi kalian pasti pacaran. Aku juga tau, kalau kamu suka sama Ferel" balas Shaka.


Wajah Salwa langsung memerah. Sedangkan Ferel langsung merekahkan senyumnya dengan wajah berbinar.


"Alhamdulilah ya Allah, ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan." Ferel menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas.


"Berbuat dosa, kok malah bersyukur" cibir Dafi.


Ferel langsung menurunkan tangannya, lalu mengucap," Astaqfirulloh."


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2