
"Assalamu alaikum!"
"Walaikum salam, Ustadz!" seru semua siswi di kelas itu.
Furqon yang berjalan di depan kelas menoleh sekilas ke arah Annisa, yang ternyata juga melihatnya. Furqon dan Annisa pun sama sama memalingkan pandangan mereka ke arah lain.
"Semua buka bukunya, dan kita lanjut pelajarannya" ucap Furqon membuka buku yang di bawanya, dan meletakkannya di atas meja.
"Doa" ucap Furqon membaca judul bab pelajaran di buku itu.
"Kalian pasti tau apa itu doa. Dan saya rasa kalian semua pasti pernah berdoa" Furqon menjeda kalimatnya sebentar, kemudian lanjut bicara lagi."
"Menurut imam Hafizh Ibnu Hajar dari Imam At- Thaibi dalam kitab Fhatul Bari. Doa itu adalah sikap berserah diri kepada Allah."
"Dan menurut Ali bin Abi Thalib, doa adalah senjata bagi orang mukmin. Doa adalah tiang Agama, tanpa penyangga, Agama itu tidak bisa berdiri tegak. Doa adalah Lentera langit dan Bumi, menyinari Bumi di dalam kegelapan. Dan doa juga, bisa menyinari hati seseorang yang sedang kalut, gundah, dilema, bersedih, galau dan sebagainya" lanjut Furqon dengan mengulas senyumnya. Jangan lupakan matanya yang sesekali merilik ke arah Annisa.
"Ustadz" seorang siswi mengangkat tangannya dari bangku belakang.
Furqon langsung menoleh ke arah siswi itu." Ada yang mau di tanyakan?."
"Saya sudah sering berdoa, Ustadz. Dan bahkan setiap hari saya berdoa. Tapi Ustadz, kenapa doa saya belum terkabul juga?. Bukankah Allah itu maha pengasih lagi maha penyayang?" tanya Siswi itu.
Furqon mengulas senyumnya sebelum menjawab pertanyaan siswi itu.
"Pertanyaan itu memang sering timbul di dalam diri kita. Kenapa doa kita belum terkabul?. Kenapa doa kita tidak terkabul?." Furqon menjeda kalimatnya sebentar, kemudian melanjutkannya lagi.
"Ada tiga hal yang harus kita pahami, kita sadari, yang harus kita perbaiki di dalam diri kita. Yang menyebabkan doa kita belum terkabul dan mungkin tidak terkabul. Padahal kita sudah rajin shalat, rajin ngaji, berpuasa, bersedekah dan melakukan ibadah ibadah lainnya."
"Yang pertama, lisan kita bisa saja tidak sesuai dengan isi hati kita. Sebagai contoh: kita berdoa kepada Allah supaya di berikan kelancaran rezeki.' Ya Allah, jika usaha saya ini sukses, saya akan naik haji, bersedekah, menyantuni anak yatim dan lain sebagainya.' tapi hati kita berbisik, kalau saya banyak uang, saya akan berlibur ke jelang, ke Korea menonton Konser Opa...."
"Hahahaha...! tau aja Ustadz" tawa seorang siswi membuat ucapan Furqon terjeda.
"Yang kedua... berfikir negatif kepada Allah" lanjut Furqon. Kita berdoa baru sekali dua kali tiga kali. Doa kita belum terkabul. Kita sudah berfikir, Allah tidak sayang sama kita. Allah pilih kasih. Allah tidak mendengarkan doa kita." Furqon menjeda kalimatnya sebentar." Kita lupa, Allah tau apa yang terbaik buat kita. Mungkin dengan tidak terkabulnya doa kita, kita semakin banyak berdoa kepada Allah, kita menjadi semakin banyak mengingat Allah. Dengan cara seperti itu Allah menyayangi kita. Allah ingin kita terus berdoa lebih panjang lagi kepadanya, sehingga ia tidak mengabulkan doa kita. Mungkin dengan banyak berdoa, kita bisa mendapatkan surga NYA Allah kelak nanti. Amin!."
"Yang ketiga.... dosa kita. Mungkin karena banyaknya dosa kita, Allah tidak mengabulkan doa kita. Sebagaimana Allah tidak suka hambanya yang melakukan perbuatan keji dan mungkar."
__ADS_1
"ustadz!" Hasna mengangkat satu tangannya ke atas.
Furqon pun menoleh ke arah Hasna sebentar.
"Adakah doa Ustadz yang belum terkabul, atau tidak terkabul sama sekali?" tanya Hasna.
"Banyak" jawab Furqon cepat, lalu mengulas senyum tulusnya.
"Contohnya Ustadz!" seru Hasna lagi.
Furqon melirik Annisa sekilas dari sudut matanya.
"Jodoh" jawab Furqon semakin mengembangkan senyumnya sampai menampakkan gigi giginya yang berjejer rapi.
"kami semua jomblo Ustadz. Ustadz bisa tinggal milih" celetuk Salwa dengan mata melirik ke arah Annisa, bergantian ke wajah Furqon.
"Masalah itu, saya serahkan kepada Allah. Siapa pun jodoh saya nanti. Wanita itulah yang terbaik buat saya" balas Furqon, kemudian melanjutkan pelajarannya.
Sedangkan Annisa dari tadi hanya diam saja dengan pandangan ke meja. Tidak pernah melihat Furqon sama sekali dari tadi. Tidak seperti biasanya yang selalu memperhatikan wajah Furqon sepanjang belajar.
'Allohumma innii as- alukal Luthfa fiimaa jarat bihil maqodiir' batin Furqon.
*Ya Allah, aku mohon kelembutan (kemudahan) kepada MU dalam perkara yang di dalamnya takdir berlaku*
**
Waktu berlalu, bel pertanda istirahat pun sudah berbunyi. Semua siswa dan siswi di sekolah itu berhamburan keluar dari kelas masing masing, termasuk Annisa, Hasna dan Salwa.
"Annisa!."
Annisa yang di panggil langsung memutar tubuhnya ke belakang, begitu juga dengan Hasna dan Salwa yang berada di samping kiri dan kanannya. Ke tiga gadis remaja itu memperhatikan Furqon yang berjalan ke arah mereka dengan kening mengerut.
"Waktu di Mesir, aku membelikannya untukmu." Furqon mengulurkan sebuah tas berbahan kertas ke arah Annisa.
"Apa ini Ustadz?" tanya Annisa, ragu ragu menerima tas itu.
__ADS_1
"Tepatnya, oleh oleh untukmu, karena kamu pernah memberiku hadiah" jawab Furqon.
Janur kuning belum melengkung, bukan?. Dan akat juga belum terucap. Tidak salah jika Furqon berusaha mendapatkan cintanya.
Annisa pun mengeluarkan isi tas kecil itu. Ternyata hanya sebuah butiran tasbih. Tanpa sadar Annisa mengulas senyumnya mengagumi kecantikan tasbih berwana merah muda mengkilat di tangannya.
"Semoga kita di pertemukan di dalam zikir cinta yang sama" ucap Furqon mengulas senyumnya.
Sontak senyum Annisa yang tadi merekah, menghilang seketika. Annisa pun mengarahkan pandangannya ke wajah Furqon dengan ekspresi yang tak bisa di baca.
"Annisa!"
Refleks Annisa, Furqon, Hasna dan Salwa menoleh ke arah Shaka yang datang ke arah mereka.
"Kenapa lama?, aku udah nunggu dari tadi" tanya Shaka dengan mata melirik tajam ke arah Furqon.
"Ustadz Furqon, saya permisi dulu. Trimakasih oleh olehnya" pamit Annisa memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya ke arah kantin, di ikuti Shaka berjalan di sampingnya.
"Itu oleh oleh apa?. Kenapa Ustadz Furqon memberimu oleh oleh?" tanya Shaka curiga.
Annisa mencebikkan bibirnya." Ini untuk Ayah" jawab Annisa singkat.
"Oo!" Shaka percaya aja.
"Ustadz Furqon, sebentar lagi Annisa akan menikah dengan Shaka. Tolong jangan mengganggu Annisa lagi" ucap Salwa masih belum beranjak dari tempatnya tadi.
"Saya tidak mengganggunya" balas Furqon.
"Tadi itu apa?. Ustadz memberikan Annisa tasbih. Dan berkata...."
"Tidak ada salahnya seorang hamba berdoa dan berikhtiar. Toh Annisa belum sah menikah dengan Shaka. Dimana letak kesalahannya?" potong Furqon.
Salwa pun terdiam.
*Bersambung
__ADS_1