Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Bapak bapak benaran


__ADS_3

Selesai shalat subuh berjamaah, Annisa langsung merapikan peralatan shalatnya dan Shaka. Setelah menyimpannya, Annisa mendekati Shaka yang sedang sibuk memakai seragam sekolahnya.


"Shaka, beras kita habis. Apa kamu masih punya uang untuk membeli beras?" tanya Annisa mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur yang belum dirapikan nya.


Shaka yang sibuk memasang ikat pinggang, langsung menoleh ke arah Annisa. Lalu Shaka menggaruk kepala bagian belakangnya sambil berpikir. Berapa lagi uangnya? berapa hari lagi baru gajian?.


"Uang yang kamu kasih kemarin tinggal dikit. Bahan makanan di kulkas juga udah menipis" ucap Annisa lagi tanpa melepas pandangannya dari wajah Shaka.


Rumah mereka lagi kedatangan tamu. Annisa bingung mau dikasih makan apa teman teman mereka itu.


Shaka pun melangkahkan kakinya ke arah meja belajar di kamar itu, meraih dompetnya dari atas meja dan mengeluarkan isinya, memberikan sebuah card ATM kepada Annisa.


"Mulai sekarang ATM ini kamu aja yang pegang. Pakai aja untuk memenuhi kebutuhan kita" ucap Shaka.


"Bukankah ATM ini uang tabungan mu?." Setau Annisa kartu ATM itu adalah uang gaji Shaka yang di kumpulkan selama setahun ini.


"Uang tabungan kita" Shaka mengulas senyumnya."Tapi saat ini kita lagi butuh uang, gak apa apa deh di pakai."


"Jangan deh" tolak Annisa. Uang itu pasti sangat berharga buat Shaka, karena uang itu hasil jerih payah Shaka sendiri.


"Gak apa apa, pakai aja." Shaka meletakkan kartu ATM itu di atas telapak tangan Annisa." Mulai sekarang kamu yang pegang kartu ini."


"Nanti uangnya habis sama aku gimana?" tanya Annisa.


"Gak apa apa, itu artinya aku harus bekerja lebih keras lagi untuk mencari uang untuk kita" jawab Shaka.


Annisa semakin mengembangkan senyumnya dan berdiri dari pinggir kasur yang di duduki nya. Tanpa aba aba, gadis perawan itu langsung menyerang bibir Shaka dan memeluk tubuh cowok tampan itu.


"Semenjak kapan kamu mencintaiku?. Kenapa cinta mu begitu besar untuk ku, Shaka?." Annisa memandangi wajah Shaka penuh kekaguman.


Shaka cowok tampan, baik hati, dewasa dan penuh tanggung jawab.


"Kau selalu aja membuatku tergila gila padamu" gombal Annisa, mengambil satu lengan Shaka dan mengecup punggung tangan suaminya itu.


"Aku doakan, semoga Allah memudahkan urusan mu dalam mencari rezeki. Semoga Allah memberkahi hidup mu suamiku."


Tak bisa membalas kata kata Annisa, Shaka pun mengecup mesra bibir istrinya itu.

__ADS_1


"Ayah Shaka! ayo berangkat!."


"Awu!" keluh Shaka tiba tiba karena merasakan sakit di bagian bibirnya. Shaka pun langsung mengusap bibirnya. Ha! ternyata keluar darah.


"Maaf gak sengaja" Annisa tak sengaja menggigit bibir Shaka karena kaget mendengar teriakan suara Dafi dari luar kamar.


"Anak itu" gemas Shaka marapatkan gigi giginya, karena sudah mengganggu kemesraannya dengan Annisa.


Annisa pun tertawa kecil, kemudian mencium bibir Shaka yang sempat berdarah tadi.


"Tanpa kamu sadari sikap mu terkadang sudah persis seperti Babak bapak" ucap Annisa setelah melepas ciumannya, kemudian merapikan baju Shaka yang sedikit lecet bekas pelukannya.


"Aku pun sudah tak sabaran untuk menjadi Bapak bapak benaran." Shaka mencium kembali bibir Annisa sambil mendorong pelan tubuh Annisa, membuat Annisa terduduk di pinggir kasur.


"Shaka, nanti kamu terlambat. Anak anak mu udah pada nunggu di bawah. Nanti Dafi neriakin Ayah lagi.


loh!" Annisa mendorong dada Shaka yang semakin mendekat ke tubuhnya, supaya cowoknya itu berhenti ingin menciumnya.


"Ayah Shaka!"


"Dengar itu!" ujar Annisa mendengar Dafi berteriak memanggil Shaka lagi.


Saat membuka pintu kamar itu, di depan kamar sudah ada si kembar Dafi dan Dzaki menunggu Shaka.


"Kapan aku kawin sama Mama kalian? Ha!." Shaka menarik gemas telinga Dafi dan Dzaki secara bersamaan. Kedua sahabatnya itu selalu aja bersikap menjadi anak Papa. Sok manja dan sok imut.


"Mana kami tau, tau taunya kami lahir sudah ada Mama dan Ayah" jawab Dafi mengusap usap telinganya bekas yang di tarik Shaka.


Shaka pun melangkahkan kakinya menuruni anak tangga rumah itu bersama Annisa berjalan di sampingnya. Di ikuti Dafi dan Dzaki di belakang mereka.


Sampai di lantai bawah, di sana Calix dan Ferel sudah rapi dengan seragam sekolah mereka. Kedua anak remaja itu tampak santai menikmati sarapan dari piring masing masing.


"Kalian beli sarapan?" tanya Annisa melihat di atas meja sofa ada beberapa kotak makanan.


"Iya" jawab Ferel, dia sudah tau Annisa tidak bisa masak, makanya sebagai tamu yang tau diri, Ferel membeli sarapan untuk mereka semua.


"Kamu memang sepupuku yang paling baik." Annisa mendudukkan tubuhnya di samping Ferel dan langsung memeluk cowok berwajah tampan menggemaskan itu.

__ADS_1


"Hei hei hei ! gak boleh peluk peluk." Shaka langsung menarik tubuh Annisa, supaya Annisa melepas pelukannya dari tubuh Ferel.


"Emang kenapa? Kami masih saudara." Ferel mengerutkan keningnya ke arah Shaka, melihat sahabatnya itu cemburu padanya.


"Saudara sepupu, bukan mahram" jelas Shaka dengan ketus."Kamu juga Annisa, jangan main peluk peluk sembarangan laki laki lain. Yang boleh kamu peluk, hanya aku, Ayah mu dan saudara kandung mu."


"Ayah Shaka benar marah" bisik Dafi ke telinga Dzaki.


Shaka yang mendengar langsung melirik tajam ke arah bocah kembar itu.


"Aku minta maaf" Annisa berdiri dari samping Ferel dan langsung memeluk tubuh Shaka.


"Aku hanya ingin menjaga mu" Shaka mengulas senyumnya dan mengecup kening Annisa yang menatapnya dengan teduh."Tapi jangan di ulangi lagi, ya" ucap Shaka lagi dengan suara lembutnya. Annisa menganggukkan kepalanya.


'Astaqfirullohal azim' batin Shaka keceplosan marah.


"Aku berangkat dulu ya, nanti kalau mau pergi, kasih kabar aku, baik nanti aku tau kamu kemana dan dimana" ucap Shaka lagi sambil jempol tangannya mengelus lembut pipi cabi Annisa.


"Aku juga minta maaf, kalau memang itu tidak boleh" ucap Ferel. Mungkin karena dari kecil mereka sudah terbiasa bersama. Orang tua mereka selama ini sudah menanamkan di dalam diri mereka kalau mereka itu kakak beradik, layaknya saudara kandung.


"Aku mengerti, tapi Annisa sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya. Aku hanya ingin menjaga nama baiknya" balas Shaka mengulas senyumnya.


"Yuk! kita berangkat, nanti kita terlambat" ajak Calix.


'Aku sangat bersyukur berada di antara mereka. Kalau tidak, mungkin aku akan seperti Mama dan Papa, buta akan Agama sendiri' batin Calix.


"Yuk!" sambung Dafi dan Dzaki bersamaan.


"Salwa dan Hasna kemana?" tanya Annisa memutar pandangannya ke seluruh ruang tamu itu.


"Dari tadi subuh mereka pergi lari pagi" jawab Ferel.


"Kok mereka gak ngajak ngajak" Annisa memanyunkan bibirnya.


"Emang ada yang berani mengganggu kalian?" cibir Ferel melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


Tadi malam Shaka sudah mengingatkan mereka dengan tegas, jangan mengganggu!.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2