
"Annisa ini buku mu, kata Ustadz Furqon. Kalau kamu gak masuk lagi di jam pelajarannya, dia akan mengirim surat panggilan kepada orang tuamu" ucap Hasna, meletakkan buku PR Annisa di atas meja mereka.
"Bilang sama Ustadz Furqon, supaya dia tidak mengajar lagi di kelas kita. Dia itu mengundang penyakit buatku" balas Annisa enteng, seolah olah dia yang berkuasa di sekolah itu.
"Kamu aja yang bilang, kenapa menyuruhku?" cetus Hasna.
"Kamu sendiri kenapa mau di suruh Ustadz Furqon untuk menyampaikan itu padaku?" tanya Annisa.
"Ustadz Furqon itu, guru...Annisa!" gemas Hasna. Tidak suka melihat Annisa yang berubah bandel hanya karena jatuh cinta.
"Makanya aku ingin pindah sekolah. Kalau aku melihat dia setiap hari, aku akan sulit untuk move on dari dia. Tapi, ternyata kepindahan ku harus di tunda dulu. Suami Mama di pindah tugas ke luar Negri. Mama tidak langsung bisa membawaku ke sana. Dan sekolah di sana pasti sangat berbeda. Di sana tidak ada sekolah Islam, sudah pasti semua muridnya menampakkan aurat semua" jelas Annisa.
Ayah tirinya di pindah tugas ke Negara yang mayoritas non Muslim. Tentu jika Annisa ikut pindah ke luar Negeri, harus menjadi bahan pertimbangan Annisa dan kedua orang tuanya.
"Kenapa gak pindah ke pesantren aja?" tanya Salwa dari bangkunya.
"Gak tau, rasanya aku ingin pergi jauh aja. Mungkin dengan cara seperti itu, magnet cinta di dalam diri ini tidak berfungsi lagi untuk ingin memilikinya. Kalau aku masih di dekat dekat sini, aku pasti akan terus ingin melihatnya, meski dari kejauhan" jawab Annisa.
Hasna dan Salwa sama sama menghela napas.
"Assalamu alaikum."
"Walaikum salam, Ustadz!" seru semua siswi di kelas itu bernada lambat dan ragu melihat Furqon tiba tiba masuk ke dalam kelas mereka. Padahal bukan jam pelajaran Furqon.
"Saya bertukar jam pelajaran dengan Ibu Maulida, karena beliau ada kepentingan mendadak" ucap Furqon melihat wajah bingung semua murid di kelas itu.
"Ustadz, saya permisi ke toilet." Annisa mengangkat satu tangannya saat berbicara meminta ijin kepada Furqon yang berdiri di depan kelas. Annisa tak ingin mengikuti pelajaran dari Furqon. Annisa tidak ingin melihat Furqon lama lama, karena itu tidak bagus untuk kesehatan hati dan jantungnya.
"Duduk!" tegas Furqon melihat Annisa berdiri. Furqon tau Annisa hanya beralasan ke toilet, untuk menghindarinya.
"Tadi saya sudah kebe...."
__ADS_1
"Silahkan keluar, dan saya akan menjamin kamu tidak akan naik kelas meskipun kamu mendapat nilai yang bagus!."
Annisa langsung terdiam dan menatap Furqon dengan mata berkaca kaca. Annisa tidak percaya, jika Furqon akan mengomelinya sepanjang itu.
"Atau kamu ingin saya memanggil orang tua kamu ke sekolah. Karena kamu tidak pernah masuk di jam pelajaran saya?" ancam Furqon.
Berhasil membuat Annisa mendudukkan tubuhnya kembali di bangkunya. Meski Ayahnya baik dan humoris, tapi Annisa sangat takut jika sampai Ayahnya memarahinya.
Furqon pun memulai pelajaran hari ini. Annisa yang duduk di bangkunya hanya duduk diam menunduk, tanpa mendengarkan Furqon menjelaskan materi pelajaran.
Melihat itu, Furqon hanya bisa menghela napasnya.
**
Bel pertanda pulang sekolah pun sudah berbunyi. Semua siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas masing masing, termasuk Annisa, Hasna dan Salwa. Ke tiga gadis remaja yang selalu bersama di sekolah itu, berjalan sambil bergandengan tangan, sehingga orang yang berjalan di belakang mereka tidak bisa lewat.
"Annisa!"
Annisa yang di panggil langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Senyum Annisa langsung mengembang, melihat wanita yang sangat dirindukannya itu datang menjemputnya ke sekolah.
"Mama juga sangat kangen sama kamu, sayang" balas Aqeela, mengusap kepala Annisa lalu mengecup kening putrinya itu.
"Annisa pengen ikut Mama. Bawa Annisa ke luar Negri ya Ma" bujuk Annisa di selah selah tangisnya.
"Iya, sayang. Tapi gak bisa sekarang. Om Abbas nya belum bisa membawa Mama ikut pindah ke sana. Om Abbas nya harus mencari tempat tinggal dulu, dan mengurus segala kepindahan Mama. Setelah itu, baru Mama bisa membawa kamu ke sana. Makanya Mama pindah ke kota ini untuk sementara waktu" jelas Aqeela.
Abbas adalah suami kedua Aqeela, Mamanya Annisa sendiri.
"Kenapa harus seperti itu, kenapa gak sekarang aja" sungut Annisa, sudah tidak betah lagi di sekolah itu.
"Ada apa?, apa kamu punya masalah di sekolah ini?." Aqeela memperhatikan wajah Annisa dengan intens.
__ADS_1
Annisa menggelengkan kepalanya.
"Assalamu alaikum Tante!."
"Walaikum salam" balas Aqeela mengarahkan pandangannya ke wajah pria yang berdiri di depannya itu, sedangkan Annisa yang mengenal suara pria itu, diam saja tidak ikut membalas salamnya.
"Furqon" ucap Aqeela mengembangkan senyumnya.
"Apa kabar, Tante?" tanya Furqon ramah. Meski sudah lama tidak bertemu, tapi Furqon masih mengenal wanita yang masih terlihat cantik itu.
"Alhamdulillah, baik Nak Furqon. Bagaimana denganmu?" tanya balik Aqeela.
"Alhamdulillah, baik juga Tante" balas Furqon.
"Tante dengar kamu dan Yasmin sama sama setuju akan menikah secepatnya. Kalau bisa lebih dipercepat lagi, mumpung Tante masih di sini. Tante bisa lebih banyak waktu untuk membantu persiapannya" ucap Aqeela.
"Kalau saya, kapan pun siap Tante. Tinggal Yasmin nya aja, kapan punya waktu untuk pulang ke Indonesia." Furqon berbicara sambil melirik Annisa yang masih bermanja di perlukan Aqeela.
"Iya juga sih, Yasmin yang susah mengatur waktunya."
"Ma, ayo kita pulang" ajak Annisa memberenggut. Telinga Annisa terasa panas mendengar pembicaraan Mama nya dan Furqon, tentang perjodohan Furqon dan Yasmin yang akan segera di resmikan dengan pernikahan.
"Sebentar Annisa, Mama masih ingin mengobrol dengan Ustadz Furqon" tolak Aqeela. Putrinya itu sangat tidak sopan sekali mengajak pulang saat orang masih mengobrol.
"Ya udah, Annisa duluan ke mobil" cetus Annisa mengambil kunci mobil dari tangan Mama nya, lalu melongos pergi.
"Tante, ada yang ingin ku bicarakan soal Annisa" ucap Furqon setelah Annisa menjauh.
"Ada apa?, apa Annisa bermasalah?." Raut wajah Aqeela langsung berubah khawatir.
"Iya, Tante" jawab Furqon menjadi tidak enak hati." Annisa sering berantem di sekolah, dan juga tidak mau masuk kelas saat jam pelajaran saya. Sebenarnya tadi saya sudah ingin menyampaikan ini kepada Ustadz Bilal. Tapi mumpung bertemu Tante, lebih baik saya menyampaikannya kepada Tante. Dan saya pikir, sesama perempuan pasti akan lebih memahami."
__ADS_1
Aqeela terdiam sebentar dengan kening mengerut, berpikir pantas saja Annisa ingin pindah sekolah.
*Bersambung