Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Aku yang salah


__ADS_3

"Ayah, kepalaku pusing" ucap Annisa.


Plakk!


Suara tamparan keras itu berhasil mengagetkan semua orang. Terutama Annisa yang sempat memejamkan matanya langsung menoleh ke arah Shaka yang kesakitan memegangi pipinya.


"Demi menyelamatkan nyawa mu. Mama kamu hampir saja kehilangan nyawanya. Kalau Papa tau anak yang diperjuangkan Mama kamu, anak seperti mu, lebih baik dulu kamu Papa biarkan di tukar orang" ucap Pak Ansel yang tiba tiba datang.


Shaka terdiam dan air matanya semakin deras mengalir.


"Atau jangan jangan kamu itu bukan anak ku" sesal Pak Ansel lagi, sangking emosinya.


"Papa" tegur Salwa dengan suara lembutnya. Salwa menangis dan berlari memeluk Pak Ansel. Di sini dialah yang bukan anak kandung, bukan Shaka.


"Ansel, apa yang kamu katakan. Shaka, anak kita" Ibu Drabia semakin menangis terisak.


"Demi apa Pa?. Demi apa Papa meragukan ku menjadi anak Papa?" lirih Shaka. Bibirnya bergetar hatinya hancur lebur mendengar penuturan sang Papa.


"Kamu keterlaluan, Ansel" tangis Ibu Drabia terisak isak. Ibu Drabia pun mengangkat satu lengannya untuk mengusap kepala Shaka." Maafin Papa kamu, ya. Papa kamu hanya khilaf. Kamu anak Mama. Anak Mama dan Papa kamu. Kamu anak kandung kami. Demi apa pun, kamu tetap anak kami. Seperti apa dan bagaimana pun kamu, kamu tetap anak kami, sayang."


Terkadang orang tua terlalu kejam menghukum anak. Sehingga anak merasa tidak di sayangi lagi, merasa di sisihkan dan tidak di pedulikan. Membuat anak bukannya semakin baik, dan malah semakin buruk. Menjadi nakal adalah salah satu protes anak kepada orang tua.


"Shaka" panggil Hasna yang diam menjadi penonton dari tadi. Hasna berjalan mendekati Shaka dan Ibu Drabia. Memberikan berkas berbentuk sebuah makalah. Di dalamnya berisi riwayat pengobatan Annisa selama di luar Negri.


"Mungkin ini bisa membantu mu untuk menemukan jawaban dari segala kekecewaan mu." Salwa menjeda kalimatnya dan menatap raut wajah Shaka yang terlihat begitu sedih. Jelas sekali di mata pria itu kalau sebenarnya Shaka sangat merindukan Annisa. Hanya saja karena kecewa, Shaka selalu menanamkan di hatinya kalau dia membenci Annisa selama ini." Annisa juga tak ingin lama lama di luar Negri. Dia kesana awalnya hanya ingin menenangkan diri. Tapi sampai di sana Annisa mengalami sakit terus menerus. Dan setelah di periksa ke Dokter spesial, ternyata Annisa menderita kanker serviks. Saat itu Annisa mencoba menghubungi mu, untuk meminta mu mendampinginya menjalani pengobatan, tapi ternyata nomor mu tidak aktif lagi. Kami sering mencoba memberi tahu mu. Tapi kamu selalu menghindar, Shaka."

__ADS_1


Pandangan Shaka pun langsung terarah ke arah Annisa yang menangis di dalam pelukan Ustadz Bilal, kemudian membuka lembaran pertama berkas itu. Di sana terdapat nama Annisa dan diagnosa penyakit yang di deritanya.


"Shaka, saat ini Annisa bukan lagi wanita yang sempurna. Sebelah indung telurnya terpaksa di angkat untuk mencegah penyebaran kanker. Kemungkinan besar Annisa akan sulit hamil. Annisa sangat membutuh dukungan dari ka...."


Belum sempat Hasna menyelesaikan kalimatnya, Shaka sudah berlari ke arah Annisa. Merebut tubuh istrinya itu dari pelukan Ustadz Bilal.


"Maaf"ucap Shaka, memeluk tubuh Annisa erat. Tangis Annisa pun pecah di dalam pelukan Shaka.


"Maafkan aku Shaka, seharusnya aku gak pergi" ucap Annisa dalam tangisnya.


"Aku yang salah" balas Shaka


"Aku juga salah" ucap Annisa lagi.


Kalau keduanya mengaku salah, jadi siapa yang benar?. Otor juga bingung sekarang, siapa yang harus di salahkan. Hm! sepertinya Inara. Dimana wanita itu? kenapa dia tidak muncul saat masalah lagi meledak begini?. Sepertinya wanita itu bersembunyi tak ingin terlibat dengan masalah rumah tangga Annisa dan Shaka.


Semua mengucap syukur dalam hati melihat Annisa dan Shaka akhirnya berbaikan.


Keduanya pun terus menangis saling berpelukan dengan erat, seolah olah mereka takut berpisah. Seolah olah pertemuan mereka hanya mimpi.


"Aku minta maaf sudah membuat mu salah paham. Aku dan Inara tidak memiliki hubungan apa apa. Aku hanya kasihan padanya. Sungguh Annisa, aku tidak berniat sedikit pun menyakitimu apa lagi sampai menghianati pernikahan kita" jelas Shaka dalam tangisnya.


"Iya, Annisa."


Annisa yang mendengar suara perempuan yang tidak di kenalnya, langsun mengangkat kepalanya dari dada Shaka dan menoleh ke arah perempuan yang berdiri di samping mereka. Annisa memandangi wajah perempuan yang menggendong seorang anak itu dengan intens. Perempuan itu tersenyum meski air matanya mengalir dari sudut matanya.

__ADS_1


"Meski aku pernah mencintai Shaka, tapi aku tidak pernah berniat merebutnya dari kamu, Annisa." Perempuan itu tak lain adalah Inara, yang hidup di bawah bantuan Shaka selama ini.


"Aku minta maaf" lirih Inara. Dia lah penyebab masalah di rumah tangga Shaka dan Annisa. Sehingga Inara merasa perlu meminta maaf.


Meski sebenarnya meminta bantuan Shaka bukanlah sebuah kesalahan. Tapi yang menjadi kesalahannya waktu itu, Inara meminta Shaka untuk merahasiakan keberadaannya. Dan terus menerus meminta bantuan Shaka. Sehingga menimbulkan kesalah pahaman bagi Annisa dan semua keluarga.


"Kamu meminta maaf setelah kamu sering menghabiskan waktu berdua dengan Shaka?. Apa itu gak salah?" celetuk Salwa yang dari dulu tidak terlalu menyukai Inara.


Inara pun langsung menoleh ke arah Salwa, menatapnya dengan kesal."Kau selalu aja menilauku buruk. Padahal kau cemburu Shaka dekat denganku."


Inara pun langsung melangkahkan kakinya dari sana. Malas jika berlama lama menghirup udara yang sama dengan Salwa.


"Pergi sanah!" usir Salwa malah.


"Salwa, gak boleh seperti itu, Nak" tegur Ibu Drabia. Biar bagaimana pun, Inara adalah putri dari sahabat mereka. Yang masih dalam masa menjalankan hukuman dari orang tuanya, karena sudah melakukan kesalahan besar. Sehingga Ibu Drabia dan Pak Ansel pun tidak berani untuk merangkul Inara, karena kedua orang tua Inara melarang.


Setelah puas berpelukan, Shaka akhirnya melepas pelukannya dari tubuh Annisa. Shaka mengangkat kedua tangannya untuk membingkai wajah yang sudah terlihat tirus itu. Shaka baru menyadari, ternyata istrinya itu sekarang sudah tidak bohai lagi seperti setahun yang lalu. Annisa sudah jauh turun berat badannya.


"Jangan pergi lagi, Annisa. Jangan tinggalkan aku lagi. Apa pun yang terjadi, dan masalah apa pun yang kita hadapi. Aku mohon jangan pergi dariku. Aku gak sanggup hidup tanpa kamu. Rasanya aku ingin gila saja. Kau membuat hidupku tak berarti, Annisa" ucap Shaka tanpa melepas netranya dari wajah cantik istrinya itu.


"Maaf" hanya kata itu yang bisa Annisa ucapkan.


Shaka memang salah. Tapi yang namanya istri meninggalkan rumah tanpa ijin suami, sangat besar dosanya. Bayangkan saja, setiap tanah yang kamu pijak, rumput, bebatuan dan air yang kamu lewati akan melaknat kamu.


Shaka menganggukkan kepalanya sembari menghapus sisa lelehan bening di wajah Annisa dengan kedua jempol tangannya. Lalu mengecup kening gadisnya itu dengan begitu hikmat dan lama.

__ADS_1


Dan gugurlah dosa dosa suami istri saat kulit keduanya bersentuhan. Masya Allah, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?. Allah maha penyayang lagi maha pengampun.


*Bersambung


__ADS_2