
"Nanti kalau kamu kuliah ke luar Negri. Gak takut tuh Annisa diembat orang?" tanya Calix.
Cowok mana yang tidak naksir dengan Annisa. Bahkan Calix pun sebenarnya menyukai putri dari ustadz kondang itu. Hanya saja, Calix tidak berani mendekatinya, karena tau Annisa pasti akan menolak cintanya kalau hanya di ajak berpacaran. Kalau mengajak anak gadis orang menikah, Calix belum siap untuk itu.
"Aku akan menundanya sampai Annisa tamat. Dan mumpung menunggu, aku bisa mencoba membuka usaha" jawab Shaka. Berhasil membuat semua sahabatnya itu saling berpandangan, mengagumi kedewasaan Shaka.
"Atau mungkin aku akan membatalkan keinginanku itu. Aku akan kuliah di sini saja" lanjut Shaka.
"Untuk menjadi orang sukses itu, gak harus kuliah jauh jauh kok" ujar Salwa, tak ingin Shaka pergi jauh ke luar Negri. Karena kedua orang tua mereka tidak akan tenang melepas Shaka jauh dari pantauan mereka.
"Betul itu" sambung Dzaki kemudian mencomot kue yang tersaji di atas meja.
"Kalau aku terserah sayangku ini." Shaka mengecup gemas pipi Annisa di depan teman teman mereka.
"Kalian buat iri orang aja" celetuk Hasna yang diam menikmati kue dari tadi.
"Ayo Calix, halalin tuh si Hasna" seru Ferel tanpa melepas netranya dari benda pipih di tangannya.
"Gak ah! kalau sekarang. Kalau aku udah halalin, harus siap langsung nyemplung. Gak kuat deh iman, bobo berdua gak ngapa ngapain" ujar Calix. Sepertinya menikah masih jauh dari pikirannya.
"Gimana Hasna, udah siap di apa apain si Calix, hahahaha.... besar loh milik dia" tawa Ferel menggoda Hasna.
Bukh!
"Ferel, kamu menodai pikiran anak perawan" gemas Annisa memukul lengan Ferel yang kebetulan duduk di sampingnya juga.
"Kaya kamu masih perawan aja" cibir Ferel.
"Aku masih perawan ya, di jamin seribu persen" dengus Annisa.
"Kalau tiga puluh persen aku yakin, kalau seribu persen rasanya gak mungkin. Masa Shaka gak...."
Ferel tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Annisa menyumpalnya dengan potongan kue.
"Itu rahasia" Annisa memutar bola mata malas ke arah Ferel.
"Suka suka kita lah, iya kan sayang!" Shaka menarik tubuh Annisa ke dalam pelukannya, mengecup kembali pipi istrinya itu dari samping.
__ADS_1
"Kawin yuk Salwa" ajak Ferel tiba tiba setelah habis menelan makanan di mulutnya, karena melihat keromantisan Shaka dan Annisa.
"Nikah babang Ferel !, langsung main ajak kawin kawin aja" gemas Annisa lagi, mencubit pinggang sepupunya itu.
"Sakit, Annisa!" teriak Ferel sambil mengusap usap bekas cubitan Annisa di pinggangnya.
"Dari tadi kalian bicara yang aneh aneh terus, dosa tau" cetus Annisa.
**
"Aisyah, aku gak bisa menikahi mu seperti wasiat mendiang Bang Hilman kepadaku. Tapi jangan aku akan menjagamu, kita bisa menjadi saudara" ucap Furqon kepada gadis yang berdiri di depannya itu.
Dua Minggu yang lalu, Hilman, sabahat dari Thariq, Kakak Furqon sendiri telah meninggal Dunia. Meninggalkan seorang Adik bernama Aisyah dan seorang istri bernama Hindun.
"Aku mengerti" Aisyah mengulas senyumnya di balik kain penutup wajahnya.
"Aku akan mengantarmu pulang ke Indonesia. Di sana kamu bisa tinggal bersama orang tuaku. Karena tidak mungkin jika kita tinggal bersama tanpa adanya ikatan pernikahan" ucap Furqon lagi.
"Boleh kah saya ikut ke Indonesia. Saya juga ingin tinggal di sana." Tiba tiba Hindun datang menyambung pembicaraan mereka.
Furqon dan Aisyah sama sama menoleh ke arah wanita berusia dua puluh sembilan Tahun itu, dan kemudian Aisyah dan Furqon saling berpandangan, hanya sekejap.
Furqon mengulas senyumnya," tentu boleh" ucapnya. Tidak tega menolah permintaan wanita yang baru di tinggal suaminya itu.Raut wajah Hindun pun langsung berbinar.
**
Tiga minggu berlalu, selepas masa Iddah Hindun. Furqon pun mengantar Aisyah dan Hindun ke Indonesia. Kedua wanita itu akan tinggal di rumah orang tua Furqon sendiri. Karena tidak mungkin melepas kedua wanita itu untuk tinggal berdua di tempat lain. Kedua wanita itu belum menguasai daerah itu, dan bahasa pun mereka belum begitu paham semuanya.
"Furqon, kenapa kamu membawa kedua wanita itu ke sini?. Apa kata tetangga kita nanti?" tanya Umi Fadilah kepada Furqon di dalam kamar.
"Aku juga bingung Umi. Bang Hilman, Kakaknya Aisyah sendiri menitipkan Aisyah kepadaku. Dan Istri mendiang Bang Hilman juga meminta ikut. Dan juga, tidak mungkin aku bisa menjaga kedua wanita itu Umi" jawab Furqon wajahnya nampak frustasi.
"Kalau begitu, nikahi salah satu di antara mereka berdua" celetuk Abi Munzir.
Furqon terdiam dan menajamkan pandangannya ke arah Abi Munzir.
"Aku gak bisa, Abi" tolak Furqon.
__ADS_1
"Apa kamu masih mengharapkan Annisa?. Annisa sudah menikah Furqon" ujar Abi Munzir.
Furqon menghela napasnya, diam tidak menjawab pertanyaan Abi nya.
Abi Munzir dan Umi Fadilah sama sama menghela napas melihat Furqon diam saja. Ternyata anak mereka itu masih mencintai Annisa dan mengharapkannya.
"Abi, Umi, Furqon pergi dulu. Tadi Bang Thariq menyuruh Furqon membantunya mengurus toko" pamit Furqon berdiri dari tempat duduknya.
"Assalamu alaikum Umi, Abi" ucap Furqon lagi dan langsung keluar dari kamar kedua orang tuanya itu.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Umi Fadilah kasihan melihat anaknya itu.
"Abi juga gak tau, Umi" jawab Abi Munzir juga bingung.
Furqon yang sudah keluar rumah, langsung masuk ke dalam mobil yang terparkir di depan rumah, dan langsung melakukannya. Tidak ada tujuannya yang pasti, Furqon ingin mencari angin segar yang bisa mengademkan perasaannya. Dan akhirnya Furqon pun memarkirkan mobilnya di parkiran alun alun kota. Furqon keluar dari dalam mobil, melangkah ke bagian depan mobil itu, menyandarkan tubuhnya berdiri si sana. Sepuluh Tahun berlalu, alun alun kota itu tidak banyak perubahan. Letak posisi panggung yang tersedia di sana masih sama. Furqon terus memandang ke arah panggung itu. Panggung dimana ia menyaksikan seorang gadis kecil melantunkan ayat suci Alqur'an dengan suara merdunya, yang berhasil membuat Furqon jatuh cinta kala itu.
"Wad- duha"
(Demi waktu duha).
"Wal- Laili iza saja"
(Demi waktu malam apabila telah sunyi).
Perlahan Furqon mengerutkan keningnya, mendengar suara merdu seorang wanita membacakan ayat suci Alqur'an lewat pengeras suara dari masjid yang berada di sekitar alun alun.
'Suara itu. Apa yang mengaji itu Annisa?' batin Furqon bertanya. Jantungnya langsung berdegub kencang seketika.
"Ma wadda 'aka rabbuka wama qala"
(Tuhan mu tidak meninggalkan engkau 'Muhammad' tidak pula membencimu).
"Wa lal- akhirat Khairul laka minal ula"
(Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan).
"Annisa" gumam Furqon tanpa sadar melangkahkan kakinya ke arah masjid di alun alun itu. Ternyata di dalam masjid sedang ada kegiatan belajar mengaji untuk anak anak. Furqon pun memperhatikan seorang wanita yang duduk memegang mikrophon menghadap anak anak. Furqon tidak bisa melihat wajah wanita itu, karena membelakanginya.
__ADS_1
'Siapa dia?, sepertinya bukan Annisa. Tapi kenapa suaranya sangat mirip dengan Annisa?' batin Furqon.
*Bersambung