Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Jangan membuatku cemburu


__ADS_3

"Ustadzah, itu ada orang melihat kita" tunjuk seorang anak dengan dagunya ke arah jendela kaca masjid.


Yasmin langsung memutar tubuhnya ke arah yang di tunjuk anak di depannya.


'Furqon' batin Yasmin.


"Sebentar ya, Ustadzah ke sana dulu" pamit Yasmin kemudian berdiri dari tempat duduknya, berjalan ke luar Masjid untuk menemui pria yang memperhatikan mereka dari luar Masjid.


"Assalamu alaikum, Ustadz Furqon" sapa Yasmin tanpa memperhatikan wajah pria yang berdiri di depannya itu.


"Walaikum salam" balas Furqon, kemudian menghela napasnya perlahan untuk menormalkan detak jantungnya yang tidak karuan. Furqon tidak menyangka jika suara yang begitu di kenalnya itu ternyata suara Yasmin.


"Ada apa Ustadz?" tanya Yasmin.


Furqon terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana wanita di depannya itu. Bibirnya terasa kelu untuk berbicara. Furqon juga tidak tau harus menjawab apa. Karena ia sendiri juga tidak tau kenapa dia sampai di teras masjid itu.


'Ya Allah, aku sudah keliru' batin Furqon.


"Suaramu tadi mengingatkanku kepada seorang gadis bertubuh kecil, sepuluh Tahun yang lalu mengaji di podium sana." Furqon mengarahkan pandangannya ke arah panggung yang ada di alun alun itu.


Yasmin mengulas senyumnya,"Maksud kamu Annisa?."


"Aku mencintai gadis kecil itu dari suaranya tanpa mengenal wajahnya" jawab Furqon.


"Maksud Ustad?" Yasmin mengerutkan keningnya, bingung.


"Suaramu mirip sekali dengan suara gadis kecil itu. Itu yang membawa aku sampai di teras masjid ini" jawab Furqon.


Yasmin pun terdiam sebentar.


"Suaraku dan Annisa memang sangat mirip. Dan waktu itu kami sama sama ikut lomba mengaji di sini. Kami sama sama mendapat juara satu waktu itu" jawab Yasmin.


"Sekarang aku sudah paham" ucap Furqon.


"Ustadz menitipkan sebuah tasbih kepada Tante Fadilah untuk di berikan kepada pemilik suara anak kecil itu. Dan Tante Fadilah memberikannya kepada Annisa" jelas Yasmin mengulas senyumnya.


"Dari mana kamu mengetahui soal tasbih itu ?." Furqon mengarahkan pandangannya sekilas ke wajah Yasmin.


Yasmin mengulas senyumnya," Tante Fadilah menceritakannya padaku sebelum mereka datang melamar Annisa ke rumah. Dan waktu itu juga, aku ada di panggung itu."


Furqon pun tersenyum miring, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya."Pantas saja tasbih ini kembali padaku. Ternyata selama ini berada pada orang yang salah." Furqon menunjukkan tasbih di tangannya kepada Yasmin.


Yasmin semakin mengerutkan keningnya saat memperhatikan tasbih itu. Ingatannya pun langsung berputar ke sepuluh Tahun yang lalu.

__ADS_1


Pada saat itu lomba tilawah di bagi menjadi beberapa grup, disesuaikan dengan tingkat usianya. Sehingga Yasmin dan Annisa yang berbeda grup, sama sama bisa meraih juara satu. Dan ketika acara pembagian hadiah dan piagam penghargaan waktu itu. Umi Fadilah yang bertugas menyerahkan piagam ke atas panggung waktu itu, memberikan sebuah tasbih kepada Annisa.


**


Kilas balik


"Yasmin, ini untukmu dari anak Tante" ucap Umi Fadilah memberikan sebuah tasbih kepada seorang gadis kecil di atas panggung itu.


"Nama aku Annisa Tante, Kak Yasmin yang ini" ucap gadis bernama Annisa itu memeluk lengan Yasmin yang berdiri di sampingnya.


"Kamu Annisa ya?. Ya ampun, Tante sulit sekali membedakan kalian. Tante pikir tadi kamu Yasmin, habis tubuhmu lebih besar. Tapi gak apa apa, tasbih nya buat kamu aja." Umi Fadilah pun tidak enak hati jika harus mengambil tasbih itu dari tangan Annisa.


"Trimakasih Tante, tasbihnya cantik banget, aku menyukainya" balas Annisa tersenyum manis.


Umi Fadilah pun mengusap lembut kepala gadis kecil berwajah manis dan cantik itu.


"Gak apa apa kan, Yasmin?, Tante kasih tasbihnya pada Annisa. Nanti Tante belikan yang baru deh untuk calon menantu Tante ini" ucap Umi Fadilah kepada Yasmin yang berdiri di samping Annisa.


"Gak apa apa, Tante" jawab Yasmin mengulas senyumnya.


Kilas balik selesai


**


"Shaka" panggil Annisa kepada Shaka yang duduk di sampingnya sambil membaca buku.


Annisa yang berbaring di samping Shaka berdecak lalu mendudukkan tubuhnya, mengambil buku itu dari tangan Shaka.


"Ada apa istriku?" tanya Shaka menatap wajah Annisa yang cemberut.


"Ustadz Fur...."


"Aku gak suka mendengar nama itu" potong Shaka cepat dan terdengar kesal.


"Ustadz...."


"Annisa, jangan membuatku cemburu" potong Shaka lagi.


"Ya udah, aku gak sebut namanya lagi. Tapi bagaimana ya cara aku menyampaikannya?" ujar Annisa sambil berpikir.


"Mana ku tau, yang penting jangan pernah menyebutkan nama pria itu di depanku atau di belakangku" cetus Shaka.


"Tampan banget sih suamiku kalau lagi cemburu" ujar Annisa tersenyum manis sambil mencolek dagu Shaka.

__ADS_1


Shaka mendengus namun wajahnya nampak berbinar. Annisa selalu saja berhasil merayu hatinya.


"Hari Minggu besok, Kak Yasmin di lamar seorang pria yang pernah di jodohkan dengannya" ucap Annisa setelah berhasil menyusun kata kata yang pas untuk menyampaikan berita itu kepada suami nya yang cemburunya gede banget.


"Siapa?" tanya Shaka.


Annisa berdecak, kemudian membaringkan tubuhnya kembali." Kan aku gak boleh nyebut namanya" jawabnya.


Shaka pun terdiam sambil memperhatikan wajah Annisa. Shaka tidak pernah tau tentang hal perjodohan Kakak dari istrinya itu sama sekali. Karena sebelumnya keluarga Annisa dan keluarganya tidaklah dekat. Hanya sekedar saling mengenal aja. Dan Shaka juga berpikir, jika Ustadz Furqon sudah di jodohkan dengan Yasmin, kenapa Annisa bisa jatuh cinta dengan pria yang di jodohkan dengan Yasmin?.


"Shaka, boleh aku jujur?" tanya Annisa membalas tatapan Shaka kepadanya.


Shaka mengerutkan keningnya.


"Boleh, tidak?" tanya Annisa lagi.


"Apa?" tanya Shaka.


"Sebenarnya aku menerima lamaranmu waktu itu. Karena kegagalanku untuk mendapatkan Ustadz Furqon" ucap Annisa tanpa melepas pandangannya dari wajah Shaka.


Shaka pun terdiam, memilih menunggu Annisa melanjutkan ceritanya.


"Aku tak sengaja jatuh cinta kepada Ustadz Furqon saat pertama kali melihatnya. Dan ternyata Ustadz Furqon sudah di jodohkan dengan Kak Yasmin. Aku mengetahuinya saat Ayah marah marah padaku setelah pulang dari sekolah untuk menyelidiki apa yang membuatku bermasalah di sekolah." Annisa menjeda kalimatnya sebentar kemudian lanjut bercerita."Itu semua gara gara kamu melamarku di sekolah pada Ayah. Sehingga Ayah berpikir yang gak gak sama kita...."


Annisa pun menceritakan kalau dia sempat di guyur Ayahnya di kamar mandi. Karena terjadi salah paham di antara Annisa dan Ustadz Bilal. Saat Annisa keceplosan mengatakan kalau dia mencintai Ustadz Furqon.


"Mungkin itulah hikmah jatuh cinta yang ku alami saat itu. Aku menemukan jodohku, aku mengambil keputusan untuk menikah denganmu tanpa berpikir panjang" ucap Annisa setelah selesai bercerita.


"Kamu menjadikan ku pelampiasan" lirih Shaka meneduhka pandangannya ke arah Annisa.


Annisa mengulas senyumnya kemudian meraih lengan Shaka, lalu mengecup mesra punggung tangan laki laki itu.


"Tapi sekarang tidak lagi. Sekarang kamu adalah anugrah bagiku" balas Annisa.


"Tapi kamu belum mencintaiku" ucap Shaka lagi.


"Siapa bilang?."


"Kamu belum mencintaiku, Annisa."


Annisa kembali mendudukkan tubuhnya, kemudian berpindah duduk di atas pangkuan Shaka dengan posisi kedua kakinya mengapit kedua kaki Shaka. Annisa pun mendekatkan wajahnya ke wajah Shaka, lalu berbicara tepat di bibir pria itu.


"Aku mencintaimu Murtado Shaka Budiman."

__ADS_1


"Kalau begitu, cium bibirku."


*Bersambung


__ADS_2