Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Harus bertanggung jawab


__ADS_3

Di dalam dapur, Annisa terlihat sibuk menyiapkan bumbu masakan. Rencananya Annisa akan memasak ayam bumbu khas Padang. Dimakan pakai sambal hijau dan lalapan daun ubi singkong.


Untuk bumbu ayam gorengnya, tadi Annisa sudah beli di warung, tinggal menggodoknya aja dengan ayam sampai matang, baru di goreng.


"Cabe hijau, tomat hijau, bawang merah Sam bawang putihnya di rebus dulu" gumam Annisa membaca resep masakan yang di screenshot tadi dari YT.


Selesai membersihkan bahan sambal ijo tersebut, Annisa pun merebusnya di tungku kompor sebelahnya. Setelah cabe matang, Annisa memindahkannya ke....


"Gilingan cabe nya mana?." Ternyata di dapur itu tidak ada gilingan cabe, begitu juga dengan blender."Jadi gimana dong bikin sambalnya!."


Akhirnya cabe di pindahin ke dalam baskom kecil dan mengulek uleknya dengan pantan gelas. Sambil mengulek, Annisa pun merebus daun singkong untuk lalapannya nanti.


Dan kini tinggal menumis cabe yang sudah di ulek dan menggoreng ayam yang sudah di ungkap.


"Aku goreng ayamnya dulu deh, baru nanti numis cabenya terakhir" ucap Annisa berbicara sendiri.


Setelah meletakkan kuali di atas kompor, Kemudian Annisa menuangkan minyak goreng, lalu menyalakan apinya.


Satu menit, dua menit, tiga menit.


Tiba tiba Annisa mendengar ponselnya berbunyi. Nanum Annisa tidak tau dimana letak ponselnya itu berada.


"Dimana?" Annisa pun mencari ponsel tersebut di sekitar belanjaannya yang sudah berserak di lantai. Tapi ponsel itu tidak juga di temukan sampai bunyi dering panggilannya berhenti.


"Astaqfirullohal azim." Seketika Annisa teringat dengan minyak yang di panaskannya di kuali. Annisa langsung mendekati minyak goreng yang sudah mulai berasap.


Satu dua tiga.


Dengan gerakan cepat, Annisa memasukkan potongan ayam yang sudah di ungkap ke dalam kuali.


Burrr!


"Aaaa!" Annisa berteriak kencang saat melihat api masuk ke dalam kuali.


**


Selesai kelas, Shaka langsung keluar dari dalam kelasnya. Berjalan dengan cepat seperti orang yang sedang buru buru. Namun langkahnya langsung terhenti melihat gadis si kepang dua menghalangi langkahnya.


"Menyingkir!" gertak Shaka.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan gadis itu berani mendekatinya. Itu Karena Shaka pernah menolongnya dari bullying orang orang kampus, sehingga sampai saat ini tidak ada yang berani mengganggu gadis si kepang dua itu. Karena siapa yang berani mengganggunya, orang itu akan berhadapan dengan Shaka. Semenjak itu, gadis kepang itu menyukai Shaka berharap Shaka menjadi pacarnya.


"Aku hanya ingin berteman dengan mu" ucap gadis itu memperhatikan raut wajah Shaka yang sangat berbeda hari ini.


"Aku gak butuh teman." Shaka kembali melangkahkan kakinya setelah menyingkirkan tubuh gadis kepang itu ke samping. Dia harus buru buru pulang, karena tadi Annisa tidak mengangkat telephonnya, membuat Shaka menjadi khawatir.


Gadis kepang itu pun hanya bisa diam sambil memperhatikan punggung Shaka yang semakin menjauh.


'Apa yang ada di pikirannya?. Kenapa dia begitu susah di dekati. Bahkan dia tidak punya teman sama sekali di kampus ini. Tapi hari ini aku melihatnya berbeda, wajahnya seperti berbinar cerah.' batin gadis kepang itu.


Ya, semenjak masuk kuliah, Shaka memang tidak punya teman. Dan tidak ada yang berani mendekatinya, baik cewek ataupun cowok. Selain wajahnya yang datar tanpa ekspresi, Shaka juga terkenal emosional.


Shaka yang sudah sampai di parkiran motornya, langsung melaju keluar dari area kampus. Tidak lupa Shaka mencari dawet pesanan istrinya, Shaka juga membeli makanan kesukaan Annisa. Setelah mendapatkannya, Shaka melanjutkan perjalanannya menuju jalan pulang. Hanya butuh waktu kurang lebih setengah jam, Shaka sudah sampai di depan rumah.


"Assalamu alaikum! Annisa!" panggil Shaka saat membuka pintu rumah di depannya dengan kunci di tangannya. Namun tidak ada sahutan dari dalam rumah. Shaka pun mendorong pintu itu sembari melangkah masuk.


"Annisa, sayang!" Shaka berseru lagi karena tidak mendengar suara Annisa di rumah itu.


"Hiks hiks hiks!."


Mendengar suara isakan tangis dari dapur, Shaka langsung melangkahkan kakinya ke arah dapur rumah itu.


"Annisa, sayang. Kamu kenapa? apa yang kamu lakukan?" tanya Shaka dengan khawatir, melihat Annisa menangis dengan posisi duduk meringkuk dan keadaan dapur sangat berantakan.


"Hiks hiks hiks!."


"Hei, apa yang terjadi?." Shaka mendekati Annisa dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


"Tadi aku mencoba memasak, pas aku goreng ayam, tiba tiba apinya menyala ke kuali" jawab Annisa di selah selah tangisnya.


Shaka hanya bisa menghela napasnya, ternyata istrinya itu sepertinya masih trauma dengan yang namanya api. Dan belum tau caranya memasak.


"Kenapa kamu memasak? Kan tadi udah di bilang gak usah ngerjain apa apa" ucap Shaka dengan suara lembut sambil menghapus air mata istrinya itu dengan tangannya.


"Aku ingin belajar masak." Annisa menekuk bibirnya ke bawah. Annisa merasa gagal menjadi istri yang Soleha karena tidak bisa menyiapkan makanan untuk suami.


Shaka pun memeriksa tangan dan anggota tubuh lain Annisa. Apakah ada luka atau terkena cipratan minyak panas.


"Astaga sayang" ucap Shaka saat melihat kulit di pergelangan tangan Annisa ada melepuh. Shaka sendiri meringis melihat gelembung berisi air itu. Pasti tadi Annisa sangat kesakitan.

__ADS_1


"Sakit" ucap Annisa manja.


"Lain kali, jangan mencoba memasak lagi kalau aku gak ada di rumah. Lihat lah, tangan mu sudah terluka begini. Untung rumah ini gak terbakar." Shaka menghela napasnya, lantas menggendong tubuh Annisa dan membawanya keluar dapur, mendudukkannya di sofa ruang tamu."Tunggu di sini ya, aku cari obat dulu."


Annisa mengangguk masih dengan bibir ditekuk ke bawah.


Bergegas Shaka keluar rumah dan melajukan motornya ke apotik terdekat untuk membeli obat luka bakar.


Ciiiit!


"Kurang ajar, siapa lagi itu" geram Shaka.


Shaka terpaksa melakukan rem mendadak saat seorang pengendara motor menghalangi jalannya.


Bukh bakh bukh!


Belum sempat Shaka turun dari atas motornya, pengendara motor itu sudah melayangkan tinju dan tendangan ke dadanya. Membuat Shaka yang tidak siap terjatuh dari atas motornya. Shaka segera bangkit dan membalas menendang orang tersebut kemudian memukulinya bertubi tubi sampai orang itu terkapar di jalan.


Jangan tanya dari mana Shaka bisa menjadi jagoan seperti itu. Selama setahun ini Shaka mengikuti latihan bela diri.


"Apa maksud Anda? Ha!" bentak Shaka menekan dada pria itu dengan tumit sepatunya.


"Kau melecehkan Adikku" geram orang itu tidak terima Adiknya mendapat pelecehan seksual di kampus.


Shaka pun terdiam dan mengerutkan keningnya. Mencoba mengingat siapa yang sudah dilecehkannya.


'Indri' batin Shaka.'Jadi pria ini saudaranya Indri.'


Nama gadis kepang itu adalah Indri. Gadis itu yang pernah di sentuh Shaka untuk mengancam supaya tidak mengganggunya lagi.


"Aku tidak melecehkannya. Aku hanya sedikit mengancamnya supaya tidak menggangguku" jawab Shaka."Dan juga aku hanya menyentuh bajunya, tidak sampai mengenai kulitnya" lanjut Shaka.


Shaka memang hanya menarik kain baju si gadis kepang itu, tidak sampai mengenai gundukan di dada gadis itu.


"Tetap saja kamu membuat bajunya terbuka. Kamu harus bertanggung jawab, kalau tidak aku akan menuntut mu ke jalur hukum" ancam pria itu pada Shaka.


Shaka berdecih kemudian menarik sebelah sudut bibirnya ke samping."Silahkan, aku gak takut" Shaka menarik kakinya dari atas dada pria itu, dan langsung pergi.


'Aku pikir cewek cupu itu polos, ternyata dia sangat licik.'

__ADS_1


Shaka membatin sambil melajukan motornya. Dia harus segera membeli obat untuk Annisa, karena Annisa sangat membutuhkan obat itu.


*Bersambung


__ADS_2