Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Hanya masa lalu


__ADS_3

Sampai di rumah, Annisa langsung menghentikan langkahnya melihat Shaka duduk di sofa ruang tamu, mengusap usap tangan bekas gigitannya. Perlahan Annisa melangkahkan kakinya mendekati Shaka, menurunkan tubuhnya di depan cowok tampan itu. Annisa mengambil lengan Shaka, namun Shaka langsung menepisnya dan menatapnya tak bersahabat.


"Aku minta maaf" lirih Annisa.


Shaka membuang wajahnya ke arah lain, kemudian berdiri dari tempat duduknya dan melangkah.


"Shaka"


Langkah Shaka terhenti saat Annisa menangkap sebelah kakinya. Shaka menarik napasnya kasar dan mengeluarkannya perlahan sebelum berbicara.


"Aku butuh waktu."


"Berikan aku kesempatan sedikit saja untuk menjelaskannya." Annisa masih tidak ingin melepaskan kaki Shaka.


"Bukankah kau sudah menyelesaikan masalah mu?." Shaka berbicara tanpa ingin melihat wajah Annisa yang bersimpuh di kakinya.


Annisa terdiam mendengar Shaka memanggilnya dengan panggilan' kau.' Itu terdengar sangat kasar di telinga Annisa.


"Salahku menikahi mu. Padahal aku tau kalau kamu tidak mencintaiku. Kau mencintai pria itu. Kalian saling mencintai, Annisa !." Shaka meninggikan suaranya.


"Tapi kamu berhasil membuatku mencintaimu" balas Annisa. Memeluk kaki Shaka dan menyandarkan kepalanya di kaki cowok itu sambil menangis terisak karena mendengar bentakan Shaka barusan. Sakit, hari Annisa sangat sakit.


Annisa terus menangis terisak. Apa salahnya? kenapa cinta selalu membuatnya mendapat hukuman?.


"Apa yang harus kulakukan supaya kamu percaya padaku, Shaka?. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun."


"Aku ingin percaya padamu, Annisa. Tapi hatiku ragu."


Annisa semakin menangis terisak dan perlahan melepas kaki Shaka dari dalam pelukannya.


"Shaka, Annisa."


Refleks Shaka dan Annisa menoleh ke arah pintu rumah itu. Annisa menghapus air matanya yang enggan berhenti keluar melihat para sahabat mereka datang menyusul.


"Annisa"ucap Salwa dan Hasna bersamaan. Mendekati Annisa dan memeluk sahabat mereka itu.

__ADS_1


"Kami percaya sama kamu, Annisa" ucap Salwa. Ia sudah mengenal Annisa sudah lama, bahkan dari jaman mereka SD.


"Iya Annisa, jangan sedih lagi ya. Ada kami yang selalu ada untuk mu" sambung Hasna.


Tadi mereka juga ada di acara itu, tapi setelah acara santap di mulai. Mereka lebih memilih untuk menikmati makanan di bagian taman belakang rumah itu, sehingga mereka terlambat mengetahui apa yang sudah terjadi. Apa lagi saat kejadian itu tidak ada suara ribut ribut terdengar sama sekali.


Bukannya berhenti menangis, malah Annisa semakin menangis terisak. Sedih bercampur terharu, karena masih ada orang yang memilih percaya padanya.


"Shaka, bukan maksud membela Annisa. Tapi alangkah lebih baik cari tau dulu kebenarannya, baru kamu boleh menilai" ujar Ferel. Tak ingin Shaka menyakiti hati Annisa lebih jauh, yang menimbulkan penyesalan nanti bagi Shaka.


"Iya Shaka. Apa yang kita lihat belum tentu itu yang sebenarnya" sambung Salwa. Itu adalah salah satu nasihat Papa Ansel padanya. Untuk tidak menilai orang atau kejadian dari apa yang kita lihat.


"Aku percaya mereka tidak melakukan apa apa di dalam kamar mandi itu. Tapi..."


Shaka menggantung kalimatnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Shaka menggantung benda butiran tasbih itu di tangannya dan menunjukkannya pada Annisa dan Ferel, Salwa, Hasna, Calix, Dafi dan Dzaki yang ada di sana.


Annisa mengerutkan keningnya melihat tasbih di tangan Shaka. Tasbih itu adalah benda pemberian Furqon padanya saat Furqon baru pulang dari Kairo.


"Bagaimana aku masih percaya kalau Kamu dan Ustadz Furqon tidak saling mencintai lagi Annisa?. Bahkan sampai rumah kalian kebakaran, dan kalian dua kali pindah rumah, kamu selalu membawa tasbih ini. Kamu menyimpannya dengan sangat baik" jelas Shaka.


"Itu hanya benda Shaka, tidak ada hubungannya dengan perasaanku sekarang" ucap Annisa.


'Ya Allah, kenapa masalah melebar kemana mana?' batin Annisa frustasi.


Shaka pun mengeluarkan sesuatu lagi dari dalam saku celananya. Yang ini berupa kertas berwarna yang di lipat dengan sangat rapi dan unik. Kalau di buka sedikit, lipatan kertas itu berbentuk bintang. Shaka tersenyum getir, ternyata Ustadz tampan itu sangat romantis, tau memperlakukan cewek sesuai usianya. Apa lagi membaca isi surat itu, semua hati pasti meleleh.


"Kamu juga menyimpan suratnya, Annisa."


Annisa menghela napasnya, melihat Shaka saat ini sedang cemburu berat, wajar saja. Annisa berpikir, apa karena temuan itu Shaka tiba tiba tadi menghilang dari acara tanpa pamit. Dan jujur saja, sama sekali Annisa tidak tau soal surat cinta itu. Annisa juga tidak tau kapan Furqon memberikan surat itu padanya.


"Tapi aku gak tau soal surat itu" ucap Annisa, bingung.


Rupanya buka hanya kejadian tadi itu Shaka marah padanya, melainkan karena temuan Shaka di kamarnya tadi malam. Shaka menemukan pemberian Furqon padanya.


"Gak tau kamu bilang?" Shaka mendengus." Seharusnya surat ini sudah hangus ikut terbakar, tapi kamu menyelamatkannya, sangking berharganya bagi kamu."

__ADS_1


Dada Shaka terlihat naik turun menahan emosinya supaya tidak sampai meluap luap. Sedangkan Annisa langsung terdiam membeku. Ingatannya langsung berputar mengingat kejadian kebakaran rumah mereka karena kelalaiannya dalam memakai kompor.


"Itu hanya masa lalu Shaka" Salwa mencoba untuk membela Annisa.


Meski Salwa anak yang manja di rumah. Tapi gadis itu memiliki pemikiran yang lebih dewasa dan luas di banding Shaka.


"Tapi dia masih saja menyimpannya" ketus Shaka.


"Lalu sekarang kamu mau apa?. Marah selamanya pada Annisa?. Kenapa tidak melepasnya saja kalau kamu tidak memiliki kepercayaan pada Annisa lagi?" geram Salwa.


Duarr! Duarr!


Seperti bunyi petasan di malam Tahun baru. Baik Shaka, Annisa dan para the gengs sama sama kaget mendengar apa yang di katakan Salwa.


"Jaga bicaramu, Salwa." Jantung Shaka berdetak begitu kencang, hatinya juga bergetar hebat mendengar Salwa mengatakan untuk melepas Annisa.


Meski sedang marah dan cemburu saat ini, tapi sedikit pun tidak terlintas di hati dan pikirannya untuk melepas Annisa.


"Kamu membiarkan Annisa bersimpuh di kakimu, Shaka. Suami macam apa kamu?. Kalau Ustadz Bilal melihat itu, hatinya akan hancur, merasa bersalah karena sudah menitipkan putrinya pada orang yang salah" ujar Salwa lagi.


Baiklah, biarkan Salwa yang membantu masalah Annisa. Ferel the gengs diam saja dulu menyaksikan perdebatan saudara kembar yang tidak ada mirip miripnya itu.


"Annisa yang gak mau melepas kaki ku." Shaka membela diri. Sepertinya hati cowok itu sedang mengeras karena marah dan cemburu.


"Bersikap dewasa lah sedikit" ucap Salwa, jengah melihat Shaka.


"Sudah, kalian tidak perlu berdebat lagi" Annisa berbicara, kepalanya semakin pusing mendengar keributan Salwa dan Shaka. Annisa pun berdiri dari lantai melangkahkan kakinya ke arah tangga rumah itu untuk naik ke lantai dua.


Sampai di dalam kamar, Annisa langsung menyusun barang barangnya ke dalam travel bag. Rasanya Annisa tidak akan sanggup tinggal seatap dengan Shaka, jika pria itu bersikap dingin padanya.


'Mungkin aku akan bernasib sama seperti Mama.'


Annisa membatin sambil menghapus air matanya yang mengalir kembali. Selesai menyusun barang barangnya, Annisa menyeretnya keluar kamar membawanya kelantai bawah rumah itu.


"Annisa, kamu mau kemana?" seru Hasna yang melihat Annisa membawa koper.

__ADS_1


*Bersambung


__ADS_2