Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Menyebarkan fitnah


__ADS_3

"Tapi Shaka, aku harus tetap menjelaskannya." Annisa berusaha melepas pegangan tangan Shaka di tangannya. Karena Shaka tidak mau melepasnya, terpaksa Annisa menggigit tangan Shaka.


"Aaaa!"


Shaka berteriak dan langsung melepas tangan Annisa.


"Maaf Shaka, aku gak mau meninggalkan masalah di rumah itu. Aku gak mau di bawa pulang sebelum aku menjelaskan kesalah pahaman itu" ujar Annisa kembali masuk ke dalam rumah.


Annisa berlari menaiki anak tangga menuju kamar Yasmin. Terutama ia harus menjelaskannya pada Yasmin. Harus membuat Yasmin percaya terlebih dahulu. Setelah itu, baru membuat Ayahnya dan keluarga yang lain percaya padanya.


"Kak Yasmin!" panggil Annisa sambil mengetuk pintu kamar Kakaknya itu. Saat tangan Annisa memutar knop pintunya, ternyata pintu itu tidak di kunci. Annisa pun melangkah masuk setelah membukanya."Kak Yasmin" panggil Annisa lagi melihat Yasmin Kakaknya hanya diam saja.


"Keluar."


Langkah Annisa langsung terhenti mendengar Yasmin menyuruhnya keluar.


"Tidak ada yang terjadi di antara aku dan Ustadz Furqon. Dia tak sengaja masuk ke dalam kamar mandi yang kebetulan aku ada di dalamnya. Dan Ustadz Furqon pun langsung keluar setelah mengetahui itu."


"keluar" Yasmi meninggikan sedikit suaranya mengusir Annisa.


Annisa pun menggeleng gelengkan kepalanya. Tidak percaya dengan keluarganya yang begitu mudah menilainya buruk.


"Jika aku dan Ustadz Furqon ingin berhianat. Kami tidak akan melakukannya di sini. Sangat banyak tempat di luaran sana untuk kami jadikan tempat bertemu" ucap Annisa dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kakaknya.


Sampai di lantai bawah, Annisa melihat Furqon berada di tengah tengah kerumunan keluarga sedang di mintai penjelasan.


"Furqon, jelaskan sama Umi. Apa benar kamu dan Annisa janjian bertemu di kamar mandi itu?. Aisyah melihat kalian sama sama masuk ke dalam kamar mandi itu tadi."

__ADS_1


Sontak pandangan Furqon langsung mengarah ke arah Aisyah yang sudah menunduk dari tadi. Furqon memicingkan matanya ke arah wanita bercadar itu. Furqon tau Aisyah menyukainya, tapi Furqon tidak percaya jika Aisyah akan memfitnahnya sekeji itu.


'Oh, jadi wanita itu yang menyebarkan fitnah. Mengatakan aku dan Ustadz Furqon sama sama masuk ke dalam kamar mandi itu. Pantas saja keluargaku marah dan kecewa padaku' batin Annisa.


Annisa pun menerobos kerumunan itu, berdiri di samping Furqon.


"Kalau begitu beri kami hukuman, jika menurut kalian yang di katakan wanita itu benar. Percuma kan kami menjelaskan, kalau kalian juga sudah melihat dengan mata kepala kalian sendiri. Kami berada di dalam kamar mandi yang sama" ujar Annisa menatap tajam ke arah Aisyah. Lalu Annisa menarik satu sudut bibirnya ke atas, menatap remeh pada wanita sok alim itu.


"Ukhti Aisyah, apa kamu pikir dengan melakukan penjebakan seperti ini, Ustadz Furqon akan menikahi mu?. Kamu salah Ukhti. Justru dengan melakukan fitnah seperti ini, aku dan Ustadz Furqon malah akan di nikahkan karena sudah di kira melakukan zina" ujar Annisa pada wanita itu.


Aisyah hanya bisa diam dan menyembunyikan matanya yang sudah berair. Dia terpaksa mengikuti permainan Kakak iparnya. Sebagai balas budi sudah mengurusnya selama ini. Jika dia menolak, Hindun mengancam akan membawanya pulang ke Yaman, dan menjadikannya wanita penghibur di sana.


Kemudian Annisa mengarahkan pandangannya ke arah Ustadz Bilal, Ayah Annisa sendiri."Ayo Ayah, beri Annisa hukuman yang sudah berbuat maksiat di rumah Ayah."


Ustadz Bilal terdiam, begitu juga dengan yang lain. Mengingat Annisa dan Furqon pernah saling menyukai, membuat mereka tadi langsung termakan omongan Aisyah yang mengadu pada mereka. Mengatakan jika Annisa dan Furqon sama sama masuk ke dalam kamar mandi yang sama.


"Saya juga melihat kalian sama sama masuk ke dalam kamar mandi itu."


Sontak Pandangan Annisa, Furqon dan seluruh keluarga yang ada di ruangan itu menoleh ke arah Hindun yang baru memberikan kesaksian. Menguatkan bukti kalau Annisa dan Furqon masuk ke dalam kamar mandi yang sama.


"Siapa Anda sebenarnya?. Kenapa Anda menebar fitnah di rumah ini?" tanya Annisa menatap tajam ke arah wanita berwajah timur tengah itu.


"Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat, bukan bermaksud sama sekali untuk menebar fitnah. Saya minta maaf sudah lancang berbicara" jawab Hindun.


Annisa pun mengeraskan rahangnya, jelas sekali wanita itu sudah berbohong. Jelas jelas tadi Annisa duluan masuk ke kamar mandi itu. Karena sesuatu rasa mendesak sampai Annisa lupa mengunci pintu kamar mandi itu sehingga Furqon bisa masuk. Dan Annisa juga percaya pada Furqon, kalau Furqon tidak berniat menyusulnya masuk ke dalam kamar mandi itu.


"Kalau kalian tidak janjian, kenapa Furqon bisa masuk, Annisa?. Kenapa kamu tidak mengunci pintu kamar mandi itu dari dalam?." Wajah Ustadz Bilal terlihat begitu sedih dan frustasi menanyakan itu.

__ADS_1


Ustadz Bilal sangat ingin percaya dengan Annisa Putrinya. Tapi bagaimana jika yang di katakan Aisyah dan Hindun itu benar?.


Annisa menarik napasnya dalam dan mengeluarkan perlahan. Annisa malas sekali menjelaskannya melihat raut wajah semua keluarganya begitu kecewa padanya. Tak kuat menahan kesedihannya, Annisa pun meneteskan air matanya.


"Tadi perut Annisa sakit, Yah. Sampai Annisa lupa mengunci pintu kamar mandi itu."


Furqon yang mendengar Annisa sakit perut, mengerutkan keningnya. Dia juga tadi mendesak ke kamar mandi karena tiba tiba mengalami sakit perut sampai susah untuk menahannya.


'Aku yakin ada orang yang sengaja menjebak kami. Pasti ada orang yang sudah memasukkan sesuatu keminumanku dan Annisa' batin Furqon.


"Percuma kita menjelaskannya, Annisa. Mereka akan tetap dalam pemikiran mereka. Kita tidak bisa memaksa orang, baik itu keluarga kita untuk percaya pada kita. Tenanglah, Allah maha melihat dan maha mengetahui. Pasti ada masanya Allah akan menunjukkan kebenarannya pada orang orang yang buta akal dan pikirannya. Assalamu Alaikum."


Furqon langsung melangkahkan kakinya meninggalkan rumah itu. Ustadz Furqon akan mencari cara untuk menunjukkan bukti kalau dia dan Annisa sedang di fitnah kedua wanita yang di bawanya dari Yaman itu.


Annisa menangis terisak, ia pun melangkahkan kakinya ke luar rumah. Di halaman rumah, ternyata sudah tidak ada mobil Shaka. Shaka sudah pulang duluan. Terpaksa Annisa memesan taxi untuk pulang ke rumah suami nya. Dengan membawa nama yang sudah ternoda.


Sedangkan di dalam rumah, seluruh keluarga serentak sama sama menghela napas seperti di komando.


"Abang, Annisa tidak mungkin menghianati Yasmin, aku yakin itu" ucap Umi Hani.


"Aku juga percaya Annisa tidak seperti itu. Tapi tetap saja kita harus membuktikannya. Aku hanya ingin memastikan kalau putri kita tidak seburuk itu. Dan aku tidak bisa langsung melakukan pembelaan tanpa bukti. Kita tidak melihatnya, kita hanya mendengar laporan Aisyah" balas Ustadz Bilal.


"Bagaimana dengan Shaka?. Aku khawatir Shaka tidak menerima Annisa lagi" ujar Umi Hani lagi.


Ustadz Bilal hanya bisa menghela napas kasar." Mereka akan baik baik saja."Itu adalah Doa Ustadz Bilal kepada pernikahan putrinya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2