Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Berpaling


__ADS_3

"Maksud kedatangan kami ke sini, untuk melamar Annisa untuk Furqon, Ustadz" ucap Abi Munzir mengulas senyumnya.


Annisa yang mendengarnya dari balik dinding, langsung menghentikan langkahnya.


Dug dug dug!


Jantung Annisa berdegub sangat kencang, mendengar penuturan Abi Munzir yang datang melamarnya untuk Furqon.


"Bi Omi, tolong antarkan minuman ini ke ruang tamu ya" ucap Annisa kepada Bi Omi yang kebetulan lewat.


"Baik, Nona manis" ucap Bi Omi, lalu mengambil nampan minuman itu dari tangan Annisa.


Annisa pun menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan penyekat antara ruang tamu dan ruang keluarga rumah itu. Lalu memegangi dadanya dan menggigit bibir bawahnya, memilih menguping pembicaraan para orang tua itu.


'Kenapa setelah aku terluka?' batin Annisa.


" Sebelumnya saya minta maaf Ustadz Munzir. Saya tidak bisa menerima lamaran kalian untuk Annisa.... kalau saya menerimanya, putri saya Yasmin pasti terluka. Lebih baik, di antara putri saya, tidak ada yang menikah dengan Nak Furqon" tolak Ustadz Bilal.


Abi Munzir dan Umi Fadilah pun saling berpandangan.


"Tapi, Yasmin yang menyuruh Furqon untuk melamar Annisa, Ustadz, makanya kami ke sini" ucap Umi Fadilah.


Ustadz Bilal menghela napasnya dan mengeluarkannya dengan kasar."Kita memang sudah salah menjodohkan Yasmin dan Furqon. Seolah olah kita tau apa yang di inginkan Allah. Kita sudah mendahului ketentuanNYA. Seharusnya kita tidak melakukan itu, mengikat anak anak dengan perjodohan demi hubungan kekerabatan kita. Padahal, tanpa menjodohkan anak anak, kekerabatan kita tidak akan terputus. Dan sekarang, perasaan anak anak yang menjadi korban."


"Maaf, Bu Ustadzah. Bukan ingin menolak niat baik kalian. Tapi, Annisa sudah menerima lamaran seorang pria untuk di jadikan suami" lanjut Ustadz Bilal setelah sempat menjeda kalimatnya.


"Secepat itu, Ustadz?" Umi Fadilah membolakan penglihatannya.


"Annisa ingin perjodohan Furqon dan Yasmin tetap di lanjutkan. Tapi sekali lagi saya minta maaf. Saya pikir, alangkah lebih baiknya kita tidak melanjutkan perjodohan itu lagi. Sebab, di antara anak anak sudah ada yang terluka. Dan saya pikir juga, sepertinya Furqon tidak mencintai putri saya, Yasmin. Buktinya, dengan mudahnya Furqon berpaling kepada Annisa" jelas Ustadz Bilal.


Umi Fadilah dan Abi Munzir pun sama sama terdiam.


"Sekali lagi, saya minta maaf" ucap Ustadz Bilal lagi, melihat raut wajah kecewa di wajah kedua tamunya.


Umi Fadilah tersenyum hambar, begitu juga dengan Abi Munzir.


**


"Bagaimana? Apa kamu masih ingin mengajar di SMA HARAPAN?" tanya Umi Fadilah saat meletakkan sepiring nasi goreng di depan Furqon.

__ADS_1


"Iya, Umi" jawab Furqon.Semalam Furqon sudah kembali dari Mesir, dan pagi ini ia siap mengajar lagi.


"Apa gak apa apa setiap hari kamu harus melihat Annisa?" tanya Umi Fadilah lagi.


Furqon sudah menceritakan tentang gadis kecil yang pintar mengaji itu kepada Umi Fadilah. Kalau Furqon menyukai gadis kecil itu, yang ternyata Annisa.


"Innalillahi, Umi" jawab Furqon mengulas senyumnya.


Umi Fadilah pun ikut tersenyum, lantas mengusap lembut bahu anaknya itu. Furqon adalah anak yang baik dan penurut. Yang selalu mendahulukan Agamanya dari pada perasaannya.Umi Fadilah yakin, Allah akan memudahkannya menghadapi hidup.


"Abi sama Umi kamu, minta maaf. Sudah mengikatmu selama ini di dalam perjodohan. Mulai sekarang, kamu bebas menentukan pilihanmu" Ucap Abi Munzir sambil menerima sepiring nasi goreng yang di siapkan Umi Fadilah untuknya.


Furqon mengulas senyumnya, lalu mengangguk.


Selesai sarapan, Ustadz Furqon langsung berangkat ke sekolah, untuk mengajar. Meski perjodohannya dengan Yasmin di batalkan. Dan lamarannya untuk Annisa di tolak. Bukan berarti hubungan keluarga mereka menjadi tidak baik. Dan juga keputusan yang di ambil Ustadz Bilal itu sudah benar. Kalau di pikir pikir, jika perjodohan itu tetap di lanjutkan, belum tentu di dalam pernikahan mereka akan mendapat kebahagiaan. Kembali lagi, tujuan menikah itu untuk apa. Jelas ini untuk beribadah menggapai ridho ya Allah. Jika kebahagiaan di dalam rumah tangga tidak ada, bagaimana bisa suami atau istri mendapat ridho nya Allah.


Dan untuk masalah perasaannya kepada Annisa. Biarlah Furqon menyimpannya di lubuk hatinya yang paling dalam, seperti yang di lakukan Furqon selama ini. Allah itu maha membolak balik hati manusia, cukup Furqon pasrahkan kepada Allah. Ikhlas dengan ketentuan yang akan dikehendakinya. Jika memang jodoh, Allah punya banyak cara untuk menyatukan cinta mereka. Furqon tidak perlu harus galau memikirkan yang belum menjadi haknya.


Sampai di sekolah, Furqon langsung memarkikan motornya di parkiran khusus untuk guru di sekolah itu.


"Annisa! tunggu."


Refleks Furqon menoleh ke arah sumber suara itu.


"Setelah kita menikah, aku akan mengantar jemputmu ke sekolah" ucap Shaka, mengambil tas Annisa dari punggung gadis itu, lalu membawanya.


"Shaka, kamu gak perlu melakukan itu."Annisa meraih tasnya dari tangan cowok itu. Tas itu tidak terlalu berat, punggung Annisa masih kuat menopaknya.


"Gak apa apa, bidadari surgaku gak boleh capek capek" ujar Shaka.


"Bidadari surga dari mana?. Kita belum sah menjadi suami istri" balas Annisa dengan wajah berbinar.


"Bidadari surga dari dalam hatiku, cinta" jawab Shaka mensejajarkan langkahnya dengan Annisa, berniat mengantar Annisa ke depan kelasnya.


'Annisa, apa begitu mudah kamu berpaling dariku?. Sampai saat ini, aku tidak pernah putus berzikir dan berdoa memintamu kepada Allah' batin Furqon melihat kedekatan Annisa dengan Shaka. Setelah menghela napasnya, Furqon pun melangkahkan kakinya ke arah ruang guru.


Setelah sampai di depan kelas Annisa, baru Shaka memberikan tas Annisa.


"Selamat belajar sayang. Nanti istirahat mau makan apa, biar Abang pesanin?" tanya Shaka.

__ADS_1


"Bakso tiga, jus jeruk tiga. Baksonya yang pedas. Terus kripiknya juga tiga."


Bukan Annisa yang menjawab, melainkan Salwa yang datang bersama Hasna.


"Gak ah!, kalian berdua pesan sendiri aja" tolak Shaka.


"Untuk Ayang Salwa, biar Babang Ferel yang pesanin" ucap Ferel tiba tiba datang bersama Dzaki dan Dafi.


"Untuk yayang Hasna, aku yang akan memesannya" sambung Calix yang baru datang juga.


"Ini wilayah siswi perempuan, ngapain kalian ke sini?. Kami lagi gak menerima tamu" cetus Hasna menarik Annisa dan Salwa masuk ke dalam kelas, kemudian menutup pintu kelas itu, supaya kelima cowok tampan yang selalu menjadi pusat perhatian itu pergi ke kelas mereka.


"Ih ! galak amat ya calon bini lo!" ujar Dafi pada Calix.


"Kalau udah halal, ntar ku bungkam deh paket bibirku" ujar Calix.


Pluk!


"Jangan bicara mesum, dosa tau" tegur Dzaki memukul lengan Calix.


"Kalau suami istri mah! gak dosa" bela Calix.


"Kan kita buka suami istri"balas Dzaki.


"Oh iya, aku lupa" Calix menepuk keningnya sendiri." Emang kalau cium bibir itu, termasuk mesum ya."


Pluk!


"Malah di tanya" gemas Ferel sambil memukul lengan Calix.


"Aduin Mama ku loh!" Calix cemberut sambil mengusap usap lengannya yang tidak sakit.


"Orang kalau ngadu itu sama Bapak, ini kok sama Mama. Emang Mama mu bisa melawan kita?" tanya Shaka geleng geleng kepala.


"Papa ku udah tua." Calix semakin mengerucutkan bibirnya.


Teeeet teeeet.....!


"Lariiiiiiii !"

__ADS_1


Mendengar bel berbunyi, kelima anak remaja itu pun langsung berlari ke arah kelas mereka.


*Bersambung


__ADS_2