
"Assalamu alaikum!"
"Walaikum salam Ustadz!" seru semua siswi di kelas itu.
Furqon yang berjalan di depan kelas menoleh ke arah bangku yang biasa di duduki Annisa.
'Kemana dia?' batin Furqon melihat Annisa to tidak ada di bangkunya, ataupun di bangku lain. Padahal tadi pagi Furqon sempat melihat Annisa datang ke sekolah.
"Hasna, tolong kumpul PR kalian" suruh Furqon kepada siswi yang duduk satu meja dengan Annisa.
"Siap Ustadz" Setelah mengeluarkan buku PR nya, Hasna berdiri dari bangkunya untuk mengumpul PR teman temannya, lalu mengantarnya ke meja guru.
"Trimakasih" ucap Furqon saat Hasna meletakkan tumpukan buku di tangannya.
"Sama sama Ustadz!" Hasna mengulas senyumnya ke arah Furqon. Furqon langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak ingin terpesona dengan senyum manis muridnya itu.
Setelah Hasna kembali duduk ke bangkunya, Furqon pun memulai pelajaran hari ini, sampai bel terdengar berbunyi, pertanda waktu sudah habis, Furqon langsung keluar dari dalam kelas itu dengan membawa tumpukan buku PR di tangannya.
Sedangkan Annisa yang mengintip di balik dinding lorong sekolah. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas, setelah melihat Furqon keluar. Annisa sengaja tidak mengikuti pelajaran Furqon, karna tak ingin melihat pria yang membuat dadanya sesak itu, ketika mengingat kenyataan, kalau Furqon sudah di jodohkan dengan Kakaknya. Annisa tidak mau hatinya bertambah sakit, karena tak mungkin mendapatkan Furqon.
"Annisa, kamu dari mana?. Kenapa kamu bolos saat pelajaran Ustadz Furqon?" cerca Hasna. Tadi saat bel pergantian mata pelajaran, Annisa pamit ke toilet, namun sampai pelajaran yang di bawakan Furqon habis, Annisa baru kembali.
"Tidak bagus untuk kesehatan jantung dan hatiku, jika sering sering melihatnya" jawab Annisa santai.
"Kenapa kamu sekarang malah kelihatan seperti membenci Ustadz Furqon?" bingung Hasna.
"Aku tidak membencinya. Aku malah membenci diriku" Jawab Annisa sambil mengeluarkan buku dari dalam tasnya, lalu membukanya.
Hasna dan Salwa hanya bisa menghela napas mereka. Cinta benar benar sudah menghancurkan perasaan sahabat mereka itu.
Sedangkan Furqon yang baru mendudukkan tubuhnya di kursi mejanya di ruangan guru, langsung mengambil satu buku yang di bawanya dari kelas Annisa. Untuk memeriksa tugas tugas anak didiknya itu.
Tugas yang diperiksanya itu, benar semua. Membuat Furqon penasaran dengan nama pemilik buku itu.
'Annisa' batin Furqon saat membaca nama si pemilik buku yang tertulis di sampulnya.
Furqon pun menghala napasnya, bisa menebak jika Annisa sedang menghindarinya .
__ADS_1
**
Hari berikutnya, lagi lagi Annisa tidak masuk untuk mengikuti pelajarannya. Tapi tugas rumah Annisa selalu ikut terkumpul bersama tugas tugas temannya. Membuat Furqon tidak bisa membiarkan itu.
"Hasna!" panggil Furqon setelah selesai menjelaskan pelajaran di dalam kelas.
"Iya, Ustadz" jawab Hasna.
"Bilang kepada Annisa, jika dia masih tidak ingin mengikuti pelajaran saya. Saya akan mengirim surat panggilan kepada orang tuanya" ucap Ustadz Furqon.
"Baik, Ustadz. Nanti saya akan sampaikan" patuh Hasna.
Furqon menghela napasnya.
Annisa yang bersembunyi di dalam toilet sekolah, turun dari atas washtapel yang di duduki nya setelah mendengar bel pertanda istirahat berbunyi. Annisa keluar dari dalam toilet langsung menuju kantin sekolah untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.
Brukh!
"Awu!" keluh Annisa yang terjatuh sendiri di lantai sekolah.
"Hahahaha...!"
Sedangkan Annisa yang bersusah payah berdiri, mengarahkan pandangannya ke lantai licin yang di pijaknya saat lewat. Ternyata lantainya basah, tapi sepertinya itu bukan air, melainkan minyak. Tapi Annisa tidak tau itu minyak apa.
"Siapa yang sengaja menumpahkan minyak di sini ?" tanya Annisa geram. Berpikir tidak mungkin ada minyak di lantai sekolah itu, kalau bukan di sengaja ditumpahin. Apa lagi tempat Annisa jatuh, jauh dari kantin sekolah.
"Hahahaha....!"
Semua murid yang berada di sekitar tempat itu, masih tertawa terbahak bahak, menghiraukan pertanyaan Annisa.
"Siapa?" bentak Annisa dengan suara kencangnya. Berhasil menghentikan tawa orang orang di sekitarnya.
Melihat Monica ada di antara siswa siswi yang menertawakannya itu. Annisa melangkahkan kakinya ke arah Monica dan langsung menarik jilbabnya, tapi tidak sampai lepas.
Monica yang tidak terima, pun langsung membalasnya.
"Hei! ada apa denganmu?. Kenapa kamu menarik jilbabku?. Kau yang terjatuh sendiri, kenapa kamu seolah olah menyalahkan ku?."
__ADS_1
Aku tau kamu mengerjai ku" geram Annisa. tangannya berpindah menarik rambut Monica dari belakang.
"Aaakh!" jerit Monica kesakitan.
"Apa masalah mu denganku?. Kenapa sepertinya kamu selalu menguji kesabaran ku?" tanya Annisa, semakin menarik kuat rambut Annisa.
Annisa yakin, Monica sedang mengerjainya dengan menumpahkan minyak di lantai saat dia akan lewat.
"Jangan menuduh sembarangan, kau saja yang suka berjalan gak lihat jalan" bantah Monica, sengaja tidak melawan Annisa. Untuk mencari simpati teman teman sekolah mereka dan guru guru di sekolah itu. Karna Monika cemburu melihat Annisa yang selalu mendapat juara satu, dan menjadi idola no satu sekolah itu. Monica ingin bisa menyaingi Annisa dalam segala hal.
"Oh Ya!" Annisa menarik satu sudut bibirnya ke samping." Jangan pikir aku gak tau dengan kebusukan pikiranmu. Kau iri melihatku kan ? Karna banyak laki laki yang menyukaiku. Dan kamu ingin menjadi juara satu di sekolah ini."
"Aku tau itu!" ucap Annisa lagi, setelah sempat menjeda kalimatnya. Kemudian menghempaskan tubuh Monica sampai terjatuh ke lantai.
"Annisa!"
Suara keras itu, berhasil membuat Annisa terlonjak kaget.
"Ikut saya ke kantor guru!" perintah Furqon langsung membalik badannya. Namun, sesampainya Furqon di dalam ruangan guru, ternyata Annisa tidak mengikutinya, dan Annisa tidak datang menyusulnya sama sekali.
"Astaqfirullohal 'azim!" gumam Furqon, menghela napasnya.
"Ada apa Ustadz Furqon?" tanya seorang guru wanita yang berada di ruangan itu.
"Annisa, apa selama ini dia murid yang bandel?. Sudah dua kali saya menemukan dia berantem dengan Monica" jawab Ustadz Furqon dengan pertanyaan.
"Dia murid teladan, meski anaknya memang sedikit rada rada gimana gitu. Selama ini dia tidak pernah punya masalah di sekolah ini. Dia juga selalu dapat peringkat satu. Bahkan dia adalah perwakilan dari sekolah ini untuk memenangkan lomba matematika tingkat nasional" jawab guru wanita itu.
Furqon langsung terdiam.
"Annisa juga seorang hafizoh, dan pernah memenangkan Tilawatil qur'an tingkat remaja di Turki. Dia kebanggaan sekolah ini" ungkap guru wanita itu lagi.
"Lalu apa yang membuat anak itu berubah?" tanya Furqon. Padahal sudah jelas tau jawabannya.
"Masa sih Annisa seperti itu?. Saya wali kelasnya di kelas satu. Saya tidak pernah melihat Annisa dengan Monica ribut ribut" jawab Guru yang biasa di panggil Ibu Bulan itu.
"Kemarin di kantin, mereka berantem sampai melepas jilbab. Dan barusan, Annisa menarik rambut Monica. Saya menyuruh Annisa ikut ke kantor guru, tapi Annisa tidak mau ikut" desah Ustadz Furqon.
__ADS_1
"Masa sih Annisa seperti itu?" Salah satu guru yang ada di ruangan itu, menyambung pembicaraan Furqon dan Ibu Bulan.
*Bersambung