
Sampai di parkiran, Annisa langsung masuk ke dalam mobil Ibunya, dan duduk di kursi penumpang depan. Tak lama menunggu Aqeela datang menyusul, duduk di kursi pengemudi dan langsung melajukan mobilnya.
"Kita langsung ke rumah Mama ya" ucap Aqeela.
Annisa menganggukkan kepalanya,"Annisa lapar" ucap gadis manis itu.
"Ya udah, kita cari makan di luar dulu, sekalian kita belanja bahan makanan." Aqeela mengulas senyum sambil tangannya mengusap kepala Annisa.
Aqeela pun membawa Annisa ke sebuah mall. mengajak putrinya itu makan di sebuah restoran cepat saji.
"Ayo, duduklah, kamu mau makan apa?" tanya Aqeela sambil menarik kursi untuknya dan langsung duduk.
"Ayam bakar dan minumnya air putih" jawab Annisa.
Pelayan restoran yang berdiri di sampingnya, langsung mencatat pesanannya. Aqeela pun menyebutkan makanan yang diinginkan ya beserta minumannya.
"Itu aja Bu?, atau masih ada yang lain?" tanya si Pelayan restoran itu.
"Itu aja" jawab Aqeela.
"Silahkan di tunggu ya Bu, Kak" ucap ramah Pelayan restoran itu dan langsung undur diri.
Sepeninggal Pelayan restoran itu, Aqeela mengarahkan pandangannya ke wajah Annisa yang duduk di sampingnya.
"Annisa, kamu punya masalah apa, Nak?. Kata Ustadz Furqon tadi kamu sering brantam di sekolah, dan kamu tidak mau masuk di jam pelajarannya." Aqeela bertanya lembut dan meneduhkan pandangannya ke arah putrinya itu.
"Kenapa sih Mama harus bercerai dengan Ayah?. Apa Mama sama Ayah tidak saling mencintai?. Kenapa Mama sama Ayah gak rujuk aja, supaya Annisa bisa tinggal bersama dengan kedua orang tua kandung Annisa" cerca Annisa tanpa menjawab pertanyaan Ibunya.
Aqeela langsung menarik napasnya dalam. Ternyata putrinya itu belum menerima sepenuhnya perceraiannya dengan Ustadz Bilal. Aqeela juga tau jika saat ini Annisa sedang menghindar dari pertanyaannya.
"Ayah bahagia dengan istri barunya, begitu juga dengan Mama. Lalu bagaimana dengan Annisa dan Kak Yasmin?. Mama sama Ayah tidak memikirkan kebahagiaan kami" cerca Annisa lagi memandang Aqeela dengan mata berkaca kaca.
"Mama minta maaf" lirih Aqeela."Mama yang bersalah, Mama yang menggugat cerai Ayahmu. Tapi Mama punya alasan untuk meminta cerai dari Ayahmu."
"Apa?" Annisa semakin menajamkan penglihatannya ke wajah Ibunya. Annisa penasaran, apa sebenarnya yang membuat kedua orang tuanya harus berpisah. Padahal dulu, rumah tangga orang tuanya terlihat harmonis.
"Ayahmu tidak begitu mencintai Mama. Ayahmu pernah menyebut nama wanita lain di dalam tidurnya" jawab Aqeela, memberitahu alasan kenapa ia meminta cerai dari Ustadz Bilal, yang selama ini ia sembunyikan dari kedua putrinya.
"Umi Hani" ucap Annisa.
"Ayahmu gak salah Annisa. Ayahmu juga menyayangi Mama. Dia adalah suami yang bertanggung jawab. Hanya saja, Mama yang gak tahan terus di bayang bayangi nama wanita yang pernah terucap dari bibir Ayahmu saat dia tidur." Aqeela menjeda kalimatnya saat pelayan datang meletakkan makanan dan minuman di meja mereka. Setelah pelayan itu pergi, Aqeela melanjutkan bicaranya lagi." Katakan sama Mama, sayang. Ada apa?. Kenapa kamu tidak masuk saat jam pelajaran Ustadz Furqon?."
__ADS_1
Annisa terdiam tanpa memutuskan pandangannya dari wajah Aqeela.
'Apa Ustadz Furqon mengatakan kepada Mama, kalau aku menyukainya?. Aduh, bagaimana ini, kalau Ayah tau, Ayah pasti memarahiku' batin Annisa.
Aqeela mengulurkan tangannya menyentuh tangan Annisa dengan lembut.
"Mama janji, tidak akan marah sama Annisa" bujuk Aqeela supaya Annisa mau terbuka. Tidak memendam sendiri apa yang di rasakan putrinya itu.
Annisa menggeleng, berkeras hati tidak akan memberitahu keluarganya tentang perasaannya yang mencintai Furqon. Annisa tidak mau keluarganya marah padanya, apa lagi kecewa. Annisa juga gak mau Yasmin Kakaknya sakit hati padanya.
"Annisa"
"Ayo makan Ma. Annisa sudah lapar banget" ucap Annisa, mengambil sendok yang tersedia di atas meja, dan langsung menyuapkan makanan di depannya ke dalam mulutnya.
Melihat itu, berhasil membuat Aqeela menghela napasnya kasar.
"Nanti Mama masakin Annisa batagor ya. Buatan Mama sangat enak, Annisa sudah kangen dengan masakan Mama" ucap Annisa sambil mengunyah makanan di mulutnya, sehingga suaranya terdengar kumur kumur.
Lagi lagi, Aqeela hanya bisa menghela napasnya melihat Annisa yang menghindari pertanyaannya.
Selesai makan siang di restoran yang berada di dalam Mall itu. Aqeela pun membawa Annisa berbelanja bahan makanan ke super market di dalam mall. Aqeela juga membawa Annisa membeli pakaian untuk putrinya itu. Setelah itu baru mereka pulang ke rumah.
**
"Annisa, mencari siapa?."
Annisa yang di tanya langsung menoleh ke arah Ibu Bulan, salah satu guru di sekolah itu.
"Ustadz Furqon ya belum datang ya Bu?" tanya balik Annisa.
"Ustadz Furqon hari ini lagi ijin. Mungkin sampai dua Minggu ke depan. Kata beliau, hari ini dia akan berangkat ke Mesir" jawab Ibu Bulan.
Annisa langsung terdiam, lalu mengangguk anggukkan kepalanya sembari tersenyum masam.
"Kalau begitu saya permisi Bu" pamit Annisa, melangkahkan kakinya keluar dari ruang guru itu.
'Apa Ustadz Furqon akan menemui Kak Yasmin?.'
Dukh!
"Awu!" tiba tiba Annisa mengeluh kesakitan di keningnya, saat merasakan ada benda keras yang membentur keningnya.
__ADS_1
"Mikirin apa? Hm!"
"Sakit!" teriak Annisa saat cowok yang berdiri di depannya itu, menarik telinganya.
"Aku tau, kau mencari Ustadz Furqon" Cowok itu memicingkan matanya ke wajah Annisa.
"Emang kenapa?" cetus Annisa.
"Kamu menyukainya kan?" tanya balik cowok itu.
"Kenapa emang?."
"Jawab Annisa, bukan balik bertanya" gemas cowok itu menarik telinga Annisa kembali.
"Ikh ! Ferel, sakit tau!" Annisa menarik tangan Ferel dari telinganya.
"Nanti ku aduin sama Paman Ustadz, tau rasa kamu kena marah" ujar Ferel.
Ferel adalah anak dari paman Annisa bernama Daren. Di sekolah itu, Ferel menjabat sebagai ketua OSIS.
"Coba aja kalau berani. Kamu pikir aku gak tau, kalau kamu menyukai Salwa" ancam Annisa.
"Ssst! jangan bilang bilang, cup!." Satu kecupan pun mendarat di kening Annisa saat Ferel merangkul lehernya, mengiring gadis itu berjalan ke arah kelasnya.
"Tapi Ustadz Furqon ternyata sudah di jodohkan dengan Kak Yasmin." Saat berbicara Annisa merubah raut wajahnya menjadi sedih.
"Masa sih?."
Annisa menganggukkan kepalanya lemah ke arah Ferel.
"Kamu sih, naksirnya kok sama yang tua tua" cibir Ferel.
"Apa hubungannya?."
"Pasti sudah ada pemilik hatinya. Nanti pulang sekolah kita jalan yuk!. Ajak Salwa, nanti aku akan menjemput kalian."
Annisa langsung mendengus, dan melepas lengan Ferel dari lehernya. Ternyata sepupunya itu ada maunya, maka mendatanginya, manis banget lagi, pake kecup kecup di kening.
"Aku traktir makan sepuasnya deh!" bujuk Ferel.
"Gak ah, kalau cuma makan doang, di rumah mah! banyak makanan" tolak Annisa, menunggu umpan yang lebih besar.
__ADS_1
"HP baru."
"Okeh!, pulang sekolah kita langsung cus!." Annisa yang sudah sampai di depan kelasnya, langsung masuk dan mendudukkan tubuhnya di bangkunya.