Kala Cinta Melanda

Kala Cinta Melanda
Minta kawin


__ADS_3

"Aku mencintainya demi Allah, Ma" ucap Shaka lagi.


"Aku gak yakin itu" bantah Bu Drabia tidak yakin jika anaknya itu tidak akan menyentuh Annisa setelah menikahinya.


Shaka berdecak,"Serius Mama ku sayang" rayu shaka.


"Oh ya, mana calon mantuku?" tanya Bu Drabia kepada Ustadz Bilal.


"Sebentar lagi Annisa akan ke sini" jawab Ustadz Bilal. Melihat kedua orang tua Shaka, Bilal semakin yakin untuk menerima Shaka sebagai menantunya.


"Siapa tadi nama menantuku?. Dia sekarang udah kelas berapa?" tanya Bu Drabia lagi.


"Kelas dua."


"Uhuk uhuk uhuk!."


Bukh Bukh Bukh!


Pak Ansel yang duduk di samping Bu Drabia, langsung memukul mukul pelan punggung istrinya yang terbatuk batuk karena keseluk air ludahnya sendiri.


"Ma, kok bisa keselek sih?" tanya pria yang masih terlihat tampan itu.


"Ehem! ehem! " Bu Drabia berdehem keras. Jadi masih lama dong aku bisa gendong cucu" ucapnya, manyun.


"Ehem!" Ustadz Bilal pun ikut berdehem mendengar wanita yang duduk di depannya itu, mengatakan sudah pengen gendong cucu. Ustadz Bilal tidak bisa membayangkan putri kecilnya itu hamil dan harus melahirkan dan mengurus anak di usianya yang masih sangat muda.


"Saya rasa, lebih baik kita tunda dulu rencana untuk menikahkan mereka" ucap Ustadz Bilal.


"Yah! kok gitu sih Ustadz" desah Shaka kecewa. Mama nya sih!.


Padahal tadi Ustadz Bilal sudah menerima lamarannya, ini balas bilang di tunda.


"Putriku masih sangat muda, masih sekolah. Kalau mau punya anak, nanti! minimal Annisa lulus SMA" ujar Ustadz Bilal.


"Kalau itu gak masalah Ustadz. Itu nanti kita serahkan sama anak anak" balas Pak Ansel mengulas senyumnya.


Dapat besan seorang Ustadz. Dari keluarga terpandang dan terkenal. Apa lagi kurangnya, coba?. Dan juga calon menantunya di jamin cantik dan juga Soleha.


"Assalamu alaikum!"


Seruan suara nyaring itu berhasil mencuri perhatian Shaka dan ke tiga orang tua di ruangan itu.


"Walaikum salam!" balas mereka serentak.


Annisa yang datang bersama Salwa dan Hasna melangkahkan kaki mereka masuk ke ruangan itu, dan langsung menyalam tangan ketiga orang tua itu.


"Mama, Papa" Salwa langsung mendudukkan tubuhnya di tengah tengah Pak Ansel dan Bu Drabia.

__ADS_1


"Salwa, Hasna!, kembali ke kelas kalian" suruh Ustadz Bilal, melihat sahabat putrinya itu kesempatan meninggalkan pelajaran di kelas. Ketiga sahabat itu selalu seperti itu, kemana mana selalu bergandeng tiga.


"Kami lagi jam kosong. Ustadz Furqon belum datang, gak ada yang gantiin" ujar Annisa pada Ayahnya.


"Mana guru yang lain?" tanya Ustadz Bilal pada putrinya. Mana tau putrinya itu dimana guru yang lain. Yang mengelola sekolah kan Ayah nya itu sendiri. Baru juga dua kali nikah, sudah mulai pikun, pikir Annisa sambil memutar bola mata malas.


"Jadi ini calon menantu kami?" tanya Bu Drabia tanpa melepas netranya dari Annisa yang duduk di samping Ustadz Bilal.


Annisa yang di sebut calon menantu, mengulas senyumnya, menunduk malu malu.


"Gak usah malu malu kali, Annisa" tegur Shaka tersenyum.


Jelas Annisa malu, pertama kali bertemu calon mertua.


"Emang kamu, gak punya malu, hm!." Bu Drabia yang gemas dengan anaknya yang meminta menikah muda itu, menjewer telinga bocah itu lagi.


Ya ampun! kenapa anaknya itu sangat berbeda sifatnya dengan sang Papa?. Dulu saja, waktu masih muda, Papanya tidak berani mendekati cewek. Ini malah anaknya masih kecil sudah minta kawin.


"Sakit Mama" keluh Shaka. Sudah cerewet Mama nya itu suka menjewer telinga lagi.


"Ya Allah!. Benar Nak, Kamu mau menikah?." Bu Drabia memeluk anaknya itu dan menangis terharu.


"Mama, Shaka minta nikah Ma, bukan sakit. Mama kok menangis?" ucap Shaka, malu diperlakukan seperti anak Mama di depan Annisa dan Hasna.


Pluk!


"Sakit Mama! ya ampun!. Kenapa sih Mama gak bisa lembut dikit?." Shaka meringis kesakitan sambil mengusap usap lengannya.


"Kamu sih!" Bu Drabia memanyunkan bibirnya, kesal.


"Ehem!."


Deheman Ustadz Bilal, berhasil menyadarkan Bu Drabia dan mengembalikan bentuk bibirnya ke semula.


"Maaf, Ustadz" ucap Bu Drabia.


"Jadi bagaimana soal anak anak kita?" ucap Pak Ansel setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Dia adalah orang sibuk, tidak bisa jika harus berlama lama.


"Anak anak sudah oke. Kita juga sudah oke. Kita tinggal menentukan waktunya saja" jawab Ustadz Bilal.


"Kalau bisa secepatnya Pa" celetuk Shaka tak sabaran pengen bisa pegangan tangan dengan si pujaan hati. Biar bisa berpacaran tanpa harus berdosa.


"Mau kamu!." Lagi lagi Bu Drabia menjewer gemas telinga anak nya itu.


"Maaf Pak Ustadz, bagaimana untuk menentukan harinya, kita atur waktu pertemuan. Dan sebelum menikahkan mereka, kami sebagai pihak laki laki, sebaiknya kami datang ke rumah Pak Ustadz, melamar secara resmi calon menantu kami ini" ujar Pak Ansel terlihat buru buru.


"Melihat Pak Ansel sepertinya sedang buru buru. Baiklah, kami akan menunggu kedatangan kalian di rumah."Ustadz Bilal mengulas senyumnya.

__ADS_1


"Semua demi masa depan anak anak." Pak Ansel juga mengulas senyumnya.


"Assalamu alaikum!"


"Walaikum salam!" balas mereka semua yang ada di ruangan itu serentak menoleh ke pintu.


"Ada apa?" tanya Ustadz Bilal kepada bocah tampan dan imut yang berdiri di ambang pintu itu.


"Gak ada Paman Ustadz. Mau ngajak Shaka ke kantin" jawab Ferel tersenyum manis dengan mata melirik ke arah Salwa yang bergelayut manja di lengan Pak Ansel.


Ustadz Bilal yang melihatnya, mengikuti ke arah mata lirikan mata keponakannya itu.


"Ferel, mata" tegur Ustadz Bilal menatap horor ke arah Ferel.


"Ehem! Shaka, kantin yuk!" aja Ferel setelah berdehem.


"Kalau begitu, saya dan istri saya pamit dulu, Ustadz. Maaf, tidak bisa berlama lama." Pak Ansel pun berdiri dari tempat duduknya setelah berpamitan.


"Saya memahaminya Pak Ansel." Ustadz Bilal pun ikut berdiri dari tempat duduknya.


Setelah mereka semua bersalaman, Pak Ansel dan Bu Drabia pun keluar dari ruangan itu, di ikuti Salwa dan Shaka dari belakang. Ferel yang menunggu di luar, langsung merangkul leher sahabatnya itu dari belakang, mengiringnya ke arah kantin sekolah.


**


Di tempat lain.


Furqon terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ia harus bisa cepat menyelesaikan masalah restoran Indonesia yang di bangunnya di Negara itu. Supaya ia bisa cepat pulang ke Indonesia untuk melamar Annisa secara resmi. Meski sebenarnya Furqon sudah meminta ke dua orang tuanya untuk menemui orang tua Annisa, menyampaikan niatnya untuk mempersunting si gadis yang berhasil mencuri hatinya.


"Furqon!"


Furqon langsung menoleh ke arah pria yang masuk ke ruangan khusus restoran itu.


"Walaikum salam!" ucap Furqon dengan wajah berbinar ke arah sahabatnya itu.


"Assalamu alaikum!" ucap pria yang lupa mengucap salam saat masuk ke ruangannya itu.


"Walaikum salam!" balas Furqon.


" Ada apa?" tanya pria itu memperhatikan wajah Furqon.


"Apanya yang ada apa?." Furqon mengerutkan keningnya tidak paham dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Wajah mu terlihat berbeda dari biasanya" ucap Ibra.


Ibra adalah sepupu Furqon dan sekaligus sahabatnya.


*Bersambung

__ADS_1


__ADS_2