
Annisa memutar pandangannya keluar jendela kaca mobil, saat Mr Boy menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah rumah sederhana. Kemudian Annisa menatap wajah Mr Boy yang duduk di sampingnya, meminta penjelasan dari pria lajang yang sudah lapukan itu.
"Turunlah, Shaka tinggal di sini sekarang" ujar Mr Boy menjawab pertanyaan isyarat yang tertulis di kening Annisa.
"Maksud Bang Boy?." Jelas Annisa bingung mendengar apa yang di katakan pria di sampingnya. Bagaimana ceritanya Shaka suaminya bisa tinggal di rumah sederhana?. Mengingat mereka sudah punya rumah dari pemberian orang tua Shaka sendiri.
Trenn!
"Lihat itu" Mr Boy menunjuk ke arah suara nyaring motor yang terparkir di depan rumah.
Annisa langsung menoleh.
"Apa kamu tidak mengenal bocah itu lagi?" tanya Mr Boy melihat Annisa diam saja dengan kening mengerut.
Tentu Annisa tidak mengenal cowok yang sedang sibuk memutar mutar gas motornya itu. Karena cowok itu membelakangi mereka. Namun dari bentuk tubuh cowok berambut pirang gondrong itu, Annisa seperti mengenalinya.
"Shaka" gumam Annisa lirih.
Dugdugdug!
Jantung Annisa seketika berdetak kencang saat berhasil mengenali tubuh cowok itu dari belakang. Tubuh yang sangat Annisa rindukan kehangatannya.
"Turunlah, temui dia" ujar Mr Boy mengusap lembut ujung kepala Annisa.
Annisa kembali menoleh ke arah Mr Boy. Mata Annisa berkaca kaca dan perlahan meneteskan cairan beningnya.
"Dia bukan Shaka yang dulu lagi. Tapi kamu harus bisa mengembalikannya menjadi Shaka yang dulu."
"Apa yang terjadi?" tanya Annisa. Selama setahun ini tidak ada satu pun yang menceritakan tentang Shaka padanya. Baik orang tuanya, mertuanya dan juga Salwa.
"Sana temui dia. Bukankah kamu sangat merindukannya" suruh Mr Boy sekali lagi tanpa ingin menjelaskan apa pun pada Annisa.
"Kenapa Shaka menjadi seperti itu?." Annisa menghapus air matanya lantas membuka pintu di sampingnya dan langsung berlari ke arah Shaka.
"Shaka!"
Dugdugdug!
Detak jantung Shaka sontak berkejar kejaran saat mendengar suara yang sangat ia kenal dan rindukan memanggil namanya. Shaka pun mengarahkan pandangannya ke arah gadis berhijab yang berlari ke arahnya.
'Annisa' batin Shaka.
__ADS_1
Sakit, entah kenapa hatinya terasa sakit dan perih melihat gadis itu. Seperti merasakan lukanya menganga lagi karena di tinggal tanpa kabar berita sama sekali.
Bruk!
"Shaka" ucap Annisa saat berhasil menubruk tubuh Shaka dan memeluknya.
Refleks Shaka langsung melepas pelukan Annisa dan mendorong tubuh gadis itu sampai terjatuh ke tanah.
"Annisa!" seru Salwa, Ibu Drabia, Ustadz Bilal dan Umi Hani bersamaan. Berhasil mengalihkan pandangan Shaka pada mereka semua.
"Shaka, apa apaan kamu? Ha!" bentak Ibu Drabia bergegas mendekati Annisa yang terduduk di tanah sambil menangis.
"Ada apa dengan kalian?. Untuk apa kalian datang beramai ramai ke sini. Aku sedang tidak membuat acara di sini" balas Shaka. lantas naik ke atas motornya dan langsung melajukan nya. Namun, Shaka terpaksa menghentikan lajunya karena Mr Boy menghadang jalannya.
"Kau memang tak pantas untuk Annisa" ujar Mr Boy, melihat langsung dengan jelas penampilan urakan Shaka.
"Menyingkir" ucap Shaka menatap tajam ke wajah Mr Boy.
Mr Boy mendengus dan menatap remeh pada bocah ingusan yang sok jadi jagoan itu. Tentu Mr Boy tidak takut sama sekali dengan bocah itu. Kalau Mr Boy mau, dia bisa mematahkan kaki dan tangan Skala hanya sekali pukulan saja.
"Menyingkir!" bentak Shaka emosi.
Shaka berdecih dan menarik satu sudut bibirnya ke samping."Aku bisa mencari banyak wanita seperti apa yang ku mau. Jadi aku tidak butuh mendengarkan penjelasan apa pun dari istri durhaka seperti Adik mu itu. Dan... kamu sudah membawanya bukan? kenapa mengembalikannya lagi. Makan itu Adik mu." Setelah mengatakan itu, Shaka langsung menancap gas motornya dengan kecepatan tinggi, sehingga Mr Boy terpaksa menyingkir dan memberinya jalan.
Mr Boy langsung mengeluarkan handphonnya dari saku celananya dan langsung melakukan panggilan kepada nomor seseorang. Memberi perintah kepada orang itu untuk menangkap Shaka dan membawanya segera.
"Shaka" tangis Annisa melihat Shaka sangat marah dan bahkan tidak menerimanya lagi.
"Sudahlah Annisa. Lebih baik kalian bercerai. Dia bukan Shaka yang dulu lagi. Semenjak kepergian mu, bukannya dia memperbaiki diri, malah dia semakin tidak beraturan. Bahkan dia berani melawan Papa dan Mama. Shaka sudah tidak menganggap kami keluarganya. Makanya kami selama ini tidak mau menceritakan apa pun tentang Shaka pada kamu" ujar Salwa sambil mengusap usap pinggang Annisa dari belakang.
"Aku sudah melakukan kesalahan. Seharusnya aku gak ninggalin dia. Seharusnya aku segera kembali" tangis Annisa menyesali apa yang sudah ia lakukan. Pergi meninggalkan Shaka tanpa permisi dan ijin dari Shaka dan bahkan tidak memberi kabar Shaka.
"Kamu jangan menyalahkan diri kamu sayang. Shaka yang melakukan kesalahan duluan" ucap Ibu Drabia menghapus air mata Annisa dari pipinya.
"Sekarang aku harus bagaimana, Ma?. Apa yang harus kulakukan supaya Shaka tidak marah?" tanya Annisa dalam tangisnya.
"Nak, Ayo kita pulang dulu. Kamu pasti lelah melewati perjalanan jauh. Besok kamu bisa ke sini lagi" ajak Ustadz Bilal. Percuma juga mereka bertahan di tempat itu. Shaka nya sendiri sudah pergi dan tidak peduli dengan kedatangan mereka.
Annisa menggelengkan kepalanya. Dia gak mau pergi. Annisa ingin tetap menunggu Shaka di rumah itu dan mulai sekarang ingin memulai hidup baru dengan Shaka. Annisa harus bisa meredam amarah Shaka padanya.
"Nanti kamu sakit, Nak. Kamu harus istirahat dulu" bujuk Ustadz Bilal.
__ADS_1
"Iya Annisa. Ayo kita pergi" Salwa ikut membujuk.
"Aku harus menunggu Shaka di sini, Yah" lirih Annisa menatap Ustadz Bilal memohon. Ia sudah sangat merindukan Shaka, bagaimana dia bisa pergi.
"Tapi, Nak. Kita gak tau kapan Shaka pulang. Rumahnya juga di kunci. Nanti kita ke sini lagi ya" bujuk Ustadz Bilal lagi.
"Iya sayang, kita pulang dulu. Kamu harus istirahat. Nanti atau besok kita bisa ke sini lagi" bujuk Ibu Drabia.
Annisa mengarahkan pandangannya ke wajah Ibu Drabia yang memeluknya, menatap Ibu mertuanya itu kecewa.
"Kenapa Mama gak memberitahuku kalau Shaka berubah seperti itu?" tanya Annisa.
Ibu Drabia yang di tanya tidak bisa menjawab.
"Kenapa Mama membiarkan Shaka menghancurkan dirinya?. Kenapa Mama gak memberitahuku?. Aku pasti akan segera pulang" tanya Annisa lagi karena Ibu Drabia diam saja dengan wajah bingung dan sedih.
"Annisa, sayang" Umi Hani mendekati Annisa dan Ibu Drabia. Umi Hani menurunkan tubuhnya setelah Salwa menyingkir dari samping Annisa." Kamu sering sakit sakit, itu sebabnya kami tidak berani memberitahu bagaimana keadaan Shaka. Kami ingin kamu fokus dengan kesehatan mu di sana." Umi Hani berkata lembut sambil mengusap lembut kepala Annisa.
Ya, selama setahun ini, Annisa mengami sakit. Dia harus menjalani operasi dan kemoterapi untuk kesembuhan kanker ovarium yang di deritanya.
Dan selama ini keluarga Annisa dan mertuanya sering mencoba mengajak Shaka berbicara, untuk memberitahu keadaan Annisa yang sakit di luar Negri selama ini. Namun Shaka yang sudah terlanjur marah pada mereka semua, tidak mendengarkan mereka bicara dan bahkan menghindar dan langsung pergi saat mereka temui.
Annisa semakin menangis terisak. Annisa sangat merindukan Shaka, namun pria itu sangat marah padanya.
"Annisa, berhentilah menangis. Shaka akan segera kembali ke sini" ujar Mr Boy setelah mendapat laporan dari anak buahnya.
**
'Kamu jahat Annisa. Aku sangat membencimu. Aku sangat membenci mu, Annisa. Aku sangat membenci mu. Kenapa Annisa, kenapa kamu datang kembali setelah rasa cinta ini berubah benci?. Aku sudah tidak membutuhkan mu. Kenapa? Kenapa kamu kembali setelah aku terbiasa tanpa kamu?. Pergilah, jangan pernah kembali lagi. Aku sudah tudak membutuhkan mu. Tidak membutuhkan cinta mu lagi. Biarkan aku hancur, Annisa. Pergi lah.'
Shaka membatin sambil melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
Jika Annisa perginya tidak lama, atau tetap memberinya kabar. Mungkin Shaka tidak sesakit ini dan sampai menghancurkan dirinya sendiri. Shaka akan memaklumi kemarahan dan kecemburuan Annisa. Tapi selama ini Annisa pergi seolah olah di telan Bumi, tanpa kabar sedikit pun. Dan keluarganya pun tidak ada yang mau memberi tahu dimana alamat Annisa tinggal.
Dan sekarang, setelah semua perasaan Shaka hancur sehancur hancurnya. Tiba tiba Annisa hadir kembali di depan matanya. Apa maksudnya coba?.
Ciiiiittt!
Shaka terpaksa melakukan rem mendadak melihat sebuah mobil dan motor tiba tiba berhenti menghalangi jalannya.
*Bersambung
__ADS_1